Selasa, 28 Juni 2016

Puasa Untuk Membangun Mentalitas Kebercukupan

By Muhammad War'i, S.S., M.Hum. | At 21.14 | Label : | 0 Comments
Secara bahasa puasa berasal dari kata Arab yaitu shaum yang berarti menahan. Dalam hal ini bisa dimaknakan menahan sebagai menahan diri dari lapar dan haus, menahan diri dari berbuat buruk, menahan diri dari keinginan menggauli istri pada siang hari. secara umum puasa adalah menahan diri untuk tidak berlebih-lebihan pada sesuatu. Misalnya dalam hal makan yang biasanya kita makan tiga kali sehari, dalam puasa kita hanya makan dua kali yakni pada berbuka dan sahur. Namun demikian, berbeda dengan yang kita saksikan akhir-akhir ini, fenomena melonjaknya harga bahan pokok selalu menjadi fenomena umum menjelang bulan puasa. 

Orang-orang berebut membeli bahan pokok untuk kepentingan bulan ramadhan. Anehnya, menu-menu yang dihidangkan pada bulan ramadhan entah mengapa selalu adalah menu-menu yang spesial. Menu-menu yang pada hari biasa jarang ditemukan pada keluarga-keluarga menengah bawah. Mereka seolah memiliki kewajiban untuk menghadirkan masakan yang enak dalam menjalani bulan puasa. 

Keadaan pasar yang demikian pada gilirannya menjadi masalah ekonomi, politik dan sosial. Secara ekonomi hal tersebut mendorong terjadinya kenaikan berbagai kebutuhan bahan pokok. Kemudian dari sisi politik menuntut untuk diberlakukan peraturan pemerintah yang mengatur pasar dan membuka kran impor. Adapun secara sosial euforia menyambut ramadhan dengan gaya hidup yang berkelas menyisakan persoalan sosial berupa semakin tercuatnya jarak antara yang mampu dan tidak mampu dalam konteks konsumerisme ramadhan. 

Telah terjadi semacam reduksi makna ramadhan, dari yang seharusnya bersifat spiritual menjadi ritual yang sangat materialistis konsumeristis. Makna ramadhan yang pada dasarnya berarti “menahan” menjadi sebaliknya, yaitu memuaskan keinginan diri, mewujudkan kebutuhan nonprimer seperti pemaksaan kehendak, berbelanja lebih dari budget biasanya, hingga rela berhutang untuk mewujudkan ramadhan yang “berkelas”.

Ramadhan dengan demikian tidak lagi membuat pelakunya menjadi lebih produktif tetapi justru menjadi lebih konsumtif. Para pelaku puasa dalam menyambut ramadhan bukan justru disibukkan dengan mempersiapkan fisik atau spiritualitas diri tetapi justru mengumpulkan bahan-bahan pokok untuk kepentingan perut semata. 

Ada dua kemungkinan, mengapa masyarakat akhir-akhir ini seolah begitu bersemangat untuk mempersiapkan bahan pokok yang lebih berkelas di setiap memasuki bulan ramadhan. Pertama adalah karena eksvansi pasar. Yaitu komodifikasi bulan ramadhan dalam berbagai iklan di media massa yang seolah menggambarkan bahwa tradisi berpuasa harus menghadirkan produknya guna kesempurnaan ibadah puasa. Dalam kacamata hermeneutik, citra yang dibuat media ini sangat memungkinkan menjadi dasar dari bangunan paradigma masyarakat tentang hakikat puasa itu. 

Kedua, masyarakat memiliki paradigma balas dendam saat menjalani berbuka puasa. Artinya pelaku puasa menjadikan momen berbuka adalah ajang untuk melampiaskan keroncongnya perut dan dahaganya tenggorokan. Akhirnya terjadilah sikap ingin memuaskan diri dengan menghadirkan menu-menu yang tidak biasanya (lebih mahal). Kenyataan ini juga semakin mengakar ketika sudah menjadi rutinitas kolektif masyarakat. Dengan kata lain paradigma tersebut mendeterminasi sikap masyarakat yang lain (yang sebelumnya mungkin belum terkontaminasi) untuk mengikuti gaya tersebut. 

Jika kita melihat kembali kepada makna puasa yang sesungguhnya, maka dua hal yang disebutkan di muka sangatlah jauh dari esensi ramadhan yang sesunggunya. Ramdhan pada dasarnya hadir untuk membangun mentalitas yang tidak berlebihan dan menumbuhkan spiritualitas diri dengan pengkajian nilai-nilai keagamaan di dalamnya. Apa yang disebutkan Rasulullah dalam haditsnya tentang kewajiban untuk berbahagia setiap memasuki bulan ramadhan bukanlah bereuforia dalam hal-hal yang bersifat materi, tetapi justru mempersiapkan mentalitas dan ketentraman batin untuk menghadapinya. 

Ramadhan bukanlah momen untuk meliarkan keinginan bergerak bebas dan memuaskannya pada momen berbuka puasa. Bukan lahan iklan yang dipaksa direduksi maknanya untuk kepentingan pasar. Ramdhan memiliki makna yang justru berkebalikan dengannya. Dia adalah momen untuk membangun spiritualitas diri, membangun kepekaan sosial, mewujudkan tatanan yang lebih baik melalui pengendalian diri serta ajang untuk membangun mentalitas yang berkecukupan.

Semoga ramadhan kali ini, kita tidak terjebak dalam pemaknaan yang sempit bahkan jauh dari hakikat sesungguhnya dari bulan suci. Seyogyanya kita membangun paradigma yang lebih spiritual dari hanya sekedar kebutuhan-kebutuhan duniawi yang menipu.

HAM Versus HAM

By Muhammad War'i, S.S., M.Hum. | At 21.10 | Label : | 0 Comments



Beberapa hari yang lalu, pemerintah Indonesia secara resmi telah mengesahkan hukuman kebiri untuk pelaku kejahatan seksual pada anak. Keputusan tersebut sontak mengundang pro dan kontra dari berbagai kalangan. Paradoksnya, baik yang pro maupun yang kontra sama-sama mengatasnamakan hak asasi manusia. Kenyataan ini membuat kita bertanya, apa sesungguhnya Hak Asasi Manusia (HAM) itu? disini telah terjadi diversitas pemaknaan HAM yang membuat tatanan sosial menjadi rancu.

Sebelumnya, kelompok yang mendukung disahkannya Undang-Undang berupa hukuman kebiri untuk pelaku kejahatan seksual berpandangan pentingnya hukuman berat bagi pelaku pelanggaran hak asasi kemanusiaan. Dalam hal ini ada banyak kasus yang bisa disebutkan, misalnya kasus Yuyun yang diperkosa dan dibunuh oleh beberapa anak muda. Kemudian seorang perempuan belia yang diperkosa oleh delapan pemuda di kota Surabaya, serta berbagai kasus serupa yang membuat miris hati. 

Berbagai kasus kekerasan seksual membuat pemerintah didesak untuk merevisi undang-undang perlindungan anak dan meningkatkan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual. Hal ini direspon pemerintah dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang berisi salah satunya tentang hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual anak. Namun disisi lain beberapa kelompok yang juga mengatasnamakan hak asasi manusia menolak disahkannya peraturan tersebut. Mereka mengemukakan rasionalisasi bahwa kebiri bukanlah solusi. Itu bahkan melanggar hak asasi manusia berupa penghilangan hasrat seksual. 

Menanggapi wacana ini, penting untuk kita menelusuri kembali beberapa konsep tentang hak asasi manusia. Dalam Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia pasal tentang Hak Asasi Manusia (pasal 28 A)berbunyi: setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Pasal selanjutnya menerangkan tentang jenis kebebasan yang dimiliki masing-masing orang yang berkaitan dengan hak asasi mereka berupa: pernikahan, beragama, hak di hadapan hukum dan sebagainya. 

Keberadaan pasal-pasal tentang HAM dalam Undang-Undang negara kita sepertinya belum mampu mengalternasi model HAM yang bisa disepakati oleh masyarakat umum. Adanya pro dan kontra penetapan hukum kebiri yang berakar dari pemaknaan yang beragam tentang HAM menjadi salah satu indikatornya. 

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, mari kita lihat pandangan beberapa filsuf moral tentang HAM. Dalam bukunya, The Rules of Moral Fhilosofi, James memetakan pola tindakan manusia. Dari pemetaan tersebut bisa dimunculkan pemaknaan hak asasi manusia. Immanuel Kant, menilai hak asasi sebagai qodrat yang sudah ada dalam diri seseorang. HAM dalam terminologi ini bersifat teologis. Dari pendapat tersebut HAM sepertinya hanyalah masalah individu yang tidak terikat dengan orang lain maupun lingkungannya. 

Berseberangan dengan pandangan tersebut, kaum Utilitarianismenilai bahwa hak asasi manusia itu tidak ada, yang ada hanya hak orang lain. Aliran filsafat ini menilai bahwa eksistensi kehidupan seseorang di dunia ini hanyalah dalam rangka memberikan manfaat kepada orang lain, tidak peduli dengan dirinya sendiri. Lawan dari kelompok ini adalah Egoisme Psikologisyang mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini hanya tentang memuaskan kebutuhan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. 

Kedua padangan terakhir juga sepertinya tidak cocok untuk memaknakan HAM dalam konteks saat ini. Untuk itu mari kita lihat bagaimana pandangan kelompok intelektual yang mencetuskan konsepKontrak Sosial(social contrac) dalam memandang moralitas. Bagi kelompok ini setiap orang hidup dalam aturan yang tak tertulis yang ada dalam setiap komunitas mereka. Seorang warga Indonesia misalnya, secara langsung ketika dia mengatakan diri berkewarganegaraan Indonesia, tunduk pada setiap aturan yang ada di dalamnya. 

Pengertian terakhir ini cukup mengalternasi model hak asasi manusia yang mungkin bisa dikhendaki bersama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hak asasi manusia sejatinya adalah milik setiap orang yang bergantung pada aturan dan kesepakan sosial yang berlaku dalam komunitas orang tersebut. Beranjak dari konsep ini, kita bisa menentukan sikapdari pro dan kontra terkait pengesahan hukuman kebiri.Oleh karena itu, untuk menentukan sikap hendaknya menelusuri alasan di balik kejahatan yang dilakukan oleh penerima hukuman tersebut.

Menurut saya paradigma kontrak sosial cukup menjadi landasan kuat untuk memberlakukan hukuman kebiri bagi para pelaku kejahatan seksual dengan alasan yang bahkan cukup kompleks dan kuat, yaitu: mereka secara sosial telah melanggar kontrak yakni kontrak bernegara yang menjunjung tinggi moralitas kemanusiaan. Pelanggaran ini juga termasuk dalam pelanggaran konstitusional dimana pasal 28J menyatakan bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Disamping pelanggaran tersebut, kejahatan yang paling tidak bisa dimaafkan dari pelaku kejahatan seksual adalah pembunuhan mental yang secara tidak langsung dilakukannya secara bersamaan terhadap korban kejahatan seksual.

Yang paling penting dalam pemaknaan kita tentang HAM adalah tidak memandang secara parsial pada individu tapi dalam kacamata individu sebagai anggota masyarakat sosial. Dalam kacamata sosial, individu di samping memiliki hak juga memiliki kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan terhadap sesamanya.

Jumat, 16 Oktober 2015

MEMILIH YANG BAIK, MENCERAHKAN MASA DEPAN BUMI

By Muhammad War'i, S.S., M.Hum. | At 20.14 | Label : | 0 Comments

Masih sangat mengkhawatirkan kabut asap yang hingga saat ini menyelimuti beberapa kota di Kalimantan dan Sumatera. Korban nyawapun sudah ada yang melayang. Perdebatan demi perdebatan untuk mendapatkan solusi semakin gencar dilakukan. Namun demikian manusia sudah terlanjur rugi dengan telah hilangnya ribuan hektar hutan yang seharusnya berfungsi sebagai paru-paru dunia dan habitat mahluk hidup selain manusia.

Selain persoalan kesehatan dan geologi, kabut asap juga telah memicu ketegangan politik antara negara Indonesia dengan beberapa negara tetangga. Hal ini tentu saja patut dibicarakan serius agar komunikasi internasional tetap terjaga dengan baik serta agar masa depan bumi tetap cerah di masa yang akan datang.

Hal yang sudah umum diketahui menjadi penyebab terjadinya kabut asap saat ini adalah adanya pembakaran hutan secara sengaja oleh beberapa korporasi sawit yang ingin membuka lahan untuk menambah jumlah lahan produksi. Hingga saat ini di Kalimantan ada empat (dari sepuluh terduga) perusahaan besar yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembakaran lahan tersebut (Kompas, 15/10/15). seluruh perusahaan itu bergerak dalam bidang  produksi kelapa sawit.

Kenyataan ini membuat kita prihatin, bahwa beberapa orang dalam upaya melakukan produksi kebutuhan manusia, telah memilih jalan yang instan sehingga lupa pada keberlangsugan ekosistem yang lebih baik dan stabil. Untuk itu dibutuhkan solusi kongkrit untuk mengantisipasi dan mencegah berlangsungnya “kerakusan” korporasi tersebut. terkait hal ini ada beberapa langkah yang cukup penting dilakukan dalam upaya melawan “perusakan” bumi melalui modus produksi bahan pokok.

Langkah konstitusional
Pemerintah dalam hal ini wajib menindak secara tegas korporasi yang melanggar aturan berupa pembakaran hutan. Sanksi yang berat sangat diperlukan agar menimbulkan epek jera, bahkan jika perlu korporasi yang sudah jelas melakukan kejahatan itu dicabut izin operasionalnya secara permanen. Di sisi lain upaya penekan korporasi “nakal” itu hendaknya diikuti dengan memberikan dorongan konstitusional terhadap korporasi yang mengusung prinsip go green. Yakni perusahaan-perusahaan produksi yang memiliki kepedulian lingkungan hidup sehingga dalam produksinya tidak justru merusak dan mengganggu stabilitas habitat mahluk hidup yang lain.

Sanki sosial
Selain hukuman secara konstitusional, sanksi sosial juga penting diberikan kepada korporasi terkait. Sanksi semacam ini bisa dilakukan oleh masyarakat sebagai konsumen barang-barang yang diproduksi oleh korporasi-korporasi tersebut. Bagaimana caranya? Yakni dengan menyeleksi merek-merek dagang mereka dan memblack list-nya sehingga menekan mereka secara sistem ekonomi. Terkait hal ini pemerintah perlu untuk mempublikasikan korporasi–korporasi yang sudah jelas bersalah secara terang-terangan agar masyarakat mengerti mana perusahaan yang baik dan yang “nakal” dalam melakukan produksi.

Dengan mengetahui merek dagang mereka, konsumen haruslah cerdas dalam memilih mana produk yang pantas dibeli dan yang tidak. Sebagaimana dikatan oleh Kotler (sangadji dan sopiah, 2013: 323), bahwa merek merupakan identitas perusahaan yang memiliki fungsi budaya dan karakter dimana hal tersebut bertujuan untuk menarik konsumen. Jika merek yang baik bisa menarik konsumen untuk menggunakan produknya, maka demikian pula sebaliknya, merek yang buruk sudah seharusnya ditolak dengan tidak membelinya.

Dalam hal ini konsumen (pembeli) menjadi bagian penting sistem ekonomi dalam upaya menekan laju produksi perusahaan nakal. Artinya masyarakat harus cerdas dengan tidak membiarkan peluang kepada perusahaan bersalah untuk eksis dalam pasaran produksi bahan pokok dalam hal ini minyak kelapa sawit misalnya. Model ini semacam penoptican dalam konsep Michel Foucault, yaitu sebuah konsep dimana satu bagian dari sistem sosial menjadi pengawas “prilaku nakal” bagian-bagian sosial lainnya. Jika dalam masalah ini, maka pembeli menjadi pengawas terhadap prilaku para produsen nakal dengan menyeleksi barang mereka di pasaran.

Memilih produk yang baik
Setelah melakukan penolakan terhadap produk-produk yang tidak baik selanjutnya pilihan konumen dialihkan kepada produk-produk yang jelas memiliki sistem yang konservatif terhadap eko sistem serta yang memiliki konsep energi terbarukan. Dengan memilih produk perusahaan yang seperti itu kita telah berusahan untuk mencintai bumi dengan berhenti merusaknya untuk kepentingan perut semata.   

Salah satu cara untuk mengetahui mana produk yang berbasis konservasi lingkungan dengan yang tidak adalah dengan mengecek logo RSPO di merek dagang suatu prusahaan.  RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah  organisasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit, yakni: produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan, konservasi alam, dan sosial. RSPO berkomitmen untuk mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. Dengan demikian kini kita gampang saja untuk membantu pemerintah dalam upaya menekan dan memberikan sanksi sosial kepada para perusahaan nakal yakni dengan memilih produk yang baik.


Sekarang kita sudah mengerti bahwa untuk menjaga lingkungan hidup, kita butuh memakai produk-produk yang berbasis konservasi lingkungan dan mengusung prinsip energi terbarukan. Maka dari itu mari kita ganti produk kita dari produk perusahaan yang tidak mempedulikan lingkungan hidup ke produk yang lebih ramah lingkungan. Ini adalah langkah kongkrit untuk menjaga stabilitas bumi yang merupakan satu-satunya warisan abadi bagi manusia untuk masa-masa yang akan datang. 

Rabu, 27 Mei 2015

Proses Ilmiah Penciptaan Tanda Baca dan Penyusunan Kaidah Nahwu dan Sharaf

By Muhammad War'i, S.S., M.Hum. | At 11.27 | Label : | 0 Comments


Pendahuluan
Dalam perkembangan bahasa Arab, proses pemberian tanda baca dan penyusunan gramatika Arab menjadi tahapan perkembangan bahasa Arab yang penting untuk dikaji. Dalam proses tersebut, ada motif keagamaan, ada pula motif sosial budaya. Salah satu hal yang paling mempengaruhi proses pemberian tanda baca dan penyusunan gramatika Arab pada waktu itu adalah adanya lahn, yakni kekeliruan berbahasa orang-orang Arab pada waktu itu disebabkan adanya intraksi kebahasaan antara orang Arab dan non Arab.

Mengenai siapa peletak dasar pemberian tanda baca dan penyusunan kaidah berbahasa, memang sejarah mencatatnya berbeda-beda, sebagaian mengatakan Abu Aswad ad-Dualy, sebagian lagi mengatakan imam Ali bin Abi Thalib. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, proses kodifikasi kaidah bahasa Arab merupakan proses penting yang melibatkan banyak kalangan.

Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang proses ilmiah pemberian tanda baca dan penyusunan tata bahasa Arab. Proses ilmiah disini dimaksudkan pada tahapan pengumpulan bahasa melalui pendekatan-pendekatan (penelitian) untuk mendapatkan data-data yang akan terhimpun membentuk satu pernyataan.

Seperti apa proses tersebut dalam kronologi sejarah bahasa Arab? Itulah yang menjadi pembahasan pokok dalam tulisan ini. mengingat banyak sekali persi tentang siapa peletak dasar dan beragam kisah abu Aswad khusunya tentang alasan kenapa disusunnya kaidah bahasa Arab, maka penulisan tulisan ini menggunakan pendekatan kritis guna mendapatkan analisis dan kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua, dan semoga menjadi bahan tambahan dalam kajian dinamika bahasa Arab, maka dari itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan tulisan pada waktu yang lain.


A.    Penciptaan tanda baca
Secara kronologis, penciptaan tanda baca dipengaruhi oleh motif ideologis, yakni dalam rangka memudahkan ummat Islam untuk membaca Al-Quran. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari perkembangan agama Islam pada waktu itu. Artinya proses ekspansi ummat Islam dari jazirah Arab ke negeri-negeri di sekelilingnya membuat bahasa non Arab banyak berasimilasi dengan bahasa Arab. Sebagai kitab suci ummat Islam, maka al-Quran dibaca oleh seluruh umat Islam baik dari golongan Arab maupun lainnya. Kenyataan ini kemudian melahirkan persoalan baru, yakni beredarnya bacaan-bacaan al-Quran yang berseberangan dengan kaidah dalam penuturan bahasa Arab yang dibacakan oleh orang-orang non Arab karena lahjat yang berbeda (lahn).

Jika berbicara tentang penciptaan tanda baca dan penyusunan kaidah bahasa Arab, maka bisa dikatakan bahwa penyusunan kaidah bahasa Arab lebih dahulu muncul dari pada penciptaan tanda baca. Namun demikian, hal yang mempengaruhi proses penciptaan tanda baca mupun penyusunan gramatika Arab sama-sama dipengaruhi oleh faktor dinamika ummat Islam secara kuantitas. 

Di ceritakan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide tanda baca terhadap Al-Qur’an adalah Ziyad bin Abihi salah seorang gubernur yang diangkat oleh Muawiyah bin Abi Sufiyan untuk wilayah Basrah (45-53 H). Kisah munculnya ide itu diawali ketika Muawiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya Ubaidillah, untuk menghadapnya, Muawiyah terkejut bahwa anak muda itu banyak melakukan kesalahan dalam bahasa pembicaraannya, Muawiyah mengirim surat teguran kepada Ziyad. Lalu Ziyad mengirim surat kepada Abu Aswad Adwali dengan pernyataan bahwa sesungguhnya orang-orang non Arab itu semakin banyak telah merusak bahasa orang-orang Arab, maka cobalah anda melakukan suatu hal untuk memperbaiki bahasa orang itu dan membuat meraka membaca Al-Qur’an dengan benar, tapi kemudian Abu Aswad menolak permintaan Ziyad.[1]

Ziyad melakukan sesuatu untuk memenuhi kehendaknya yaitu dengan menyuruh seseorag untuk menunggu dijalan yang sering dilewati oleh Abu Aswad Aduali ini dengan pesannya, ketika Abu Aswad lewat bacalah satu ayat Al-Quran, orang inipun membaca firman Allah Q.S At-Taubah ayat 3. yang berbunyi: “Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuuluhu” (sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin). pada lafadz “Rasuluhu” di baca Rafa'/ Dommah Namun orang ajam tersebut membacanya dengan “Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuulihi” (sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musrik dan RasulNya).[2]

Pada lafadz “Rasuluhu” di baca rasuulihi (jer/ kasroh) Mendengar bacaan tersebut Abu Aswad terkejut, lalu mengucap:”Maha besar Allah: bagaimana mungkin Dia berlepas diri dari RasulNya?! Setelah itu ia langsung menemui Ziyad untuk menerima permohonan Ziyad. Abu aswad menunjuk seorang dari suku al-Qais untuk membantunya dari 30 orang yang di Ajukan Ziyad.

Abu Aswad kemudian memerintahkan juru tulis itu mengambil mushaf dan Zat pewarna yang berbeda dengan yang digunakan untuk berpesan kepada stafnya itu:” jika kau lihat bibirku terbuka waktu menyebut huruf bersuara A (fatah) letakanlah satu titik diatasnya, dan jika kesuan bibirku agak terkatup (bersuara i) letakkanlah satu titik di bawahnya, jika bibirku mencuat kemuka (bersuara U) maka letakkanlah satu titik ditengah huruf dan jika bibirku bersuara (Ghunnah) letakkanlah dua titik diatasnya”[3]. Dalam versi lain Abul Aswad pada masa Khalifah Muawiyah memberi tanda vokal (harakat) dengan tinta yang berlainan. Titik di atas untuk fat-hah, titik di bawah untuk kasrah, titik di sebelah kiri atas untuk dlammah, dan dua titik untuk tanwin. Sementara itu Abu Aswad membaca Al-Qur’an dengan perlahan dan stafnya pun sibuk bekerja sesuai dengan perintahnya.

Apabila mereka mendapatkan salah satu huruf halaq, mereka melatakkan salah satu titik lebih tinggi dari pada yang lain, sebagai tanda suara (nun) jelas, jika tidak jelas mereka meletakkan disamping, sebagai tanda apabila suara (nun) tidak terdengar (tersembunyi). Dan setiap kali usai satu halaman, Abu Aswadpun memeriksanya kembali sebelum melanjutkan kehalaman berikutnya. Oleh karena itu, Abul Aswad Ad-Duali mejadi sosok yang berkiprah sangat penting bagi kaum Muslimin. Dialah yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat.

Harkat yang diciptakan oleh Abu al-Aswad ini lalu disempurnakan Imam Kholil bin Ahmad al-Farakhidi pada masa dinasti Abbasiyah, hingga menjadi bentuk harkat seperti yang ada sekarang. Adapun titik yang terdapat pada huruf ba', ta', tsa', jim, ha', kha', dzal, za', dan lainnya, itu terjadi pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan Saat itu beliau memerintahkan gubernurnya di Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj bin Yusuf lalu menyuruh Nashr bin Ashim dan Yahya bin Ya'mur untuk merealisasikan keinginan khalifah Abdul Malik bin Marwan tersebut.

Dalam penulisan titik huruf tersebut, Nashr bin Ashim menggunakan tinta yang warnanya sama dengan tinta yang digunakan untuk menulis mushaf, agar tidak serupa dengan titik tanda harkat yang digunakan oleh Abu al-Aswad al-Dualy Sejak saat itulah dalam mushaf Alqur'an sudah ada titik huruf dan titik harkat. Titik yang diciptakan oleh Abu al-Aswad disebut Titik I'rab, sedangkan titik yang diletakkan oleh Nashr bin Ashim disebut Titik Huruf.

Pemberian titik dan baris pada mushaf Alquran ini dilakukan dalam tiga fase. Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abul Aswad Ad-dualy untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca[4].

Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa’ dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan Alquran bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan Alquran dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan Alquran baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab (‘Ajami).

Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada[5].

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Alquran adalah tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.

Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca Alquran. Ini semua berkat peran tokoh-tokoh di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca Alquran.

B.     Penyusunan tata bahasa (Nahwu dan Shorf)
Terjadi perbedaan pendapat tentang siapakah yang meletakkan asas kaidah ilmu nahwu pertama kali. Sebagaian ulama’ berpendapat bahwa peletak dasar ilmu nahwu adalah Abu Aswad Adduali. Sebagaian mereka berpendapat adalah Ali Bin Abi Thalib. Shohib Abu Janah dalam kitabnya mengungkapkan prihal kemunculan pertama penyusunan kaidah bahasa Arab.

Diceritakan ketika Abu Aswad berada di Basrah, seorang bernama said datang menemui Abu Aswad. Pada saat itu, Abu Aswad bertanya kepadanya, “يا سعيد ألاتركب؟  ما لك" kemudian said menjawab, “فرسي ضالع” maka tertawalah orang yang hadir pada waktu itu, karena sebenarnya said ingin berkata: “ظالع” kemudian abu Aswad berkata: “mereka adalah para budak yang mencintai agama islam dan memeluknya, dan kemudian menjadi saudara kita, maka seyogyanya kita mengajarkannya kalam yang benar.” Maka setelah itu dibuatlah kaidah untuk menentukan, fiil, Fail, maful[6].

Cerita yang lain menunjukkan bahwa konon Abu Aswad mengemukakan kegelisahannya kepada amir pada waktu itu, yakni Ziyad, dia mengatakan bahwa kaidah bahasa arab telah bercampur baur dengan bahasa ajam, kemudian dia menawarkan kepada Ziyad untuk dia menyusun sebuah kaidah yang bisa memperbaiki bahasa mereka, tapi Ziyad menolaknya. Beberapa hari setelahnya, Ziyad didatangi oleh rakyatnya kemudian menyampaikan sebuah kabar, “أصلح الله الأمير، توفي أبانا وترك بنون” kemudian Ziyad bertanya kembali penuh heran “apa, ayah mati dan anak-anknya meninggalkannya?”[7] pada kalimat tersebut, seorang itu ingin menyampaikan bahwa seorang ayah telah meninggal dunia dan meninggalkan anak-anaknya, tapi karena kesalahan harokat, maknanya menjadi keliru.

Setelah peristiwa tersebut terjadi, Ziyad kemudian meminta untuk dipanggilkan Abu Aswad Aduualy. Ketika Abu Aswad datang ke tempatnya, dia berkata: “Lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan kepada manusia (membuat kaidah bahasa) apa yang sebelumnya aku larang.” Maka sejak saat itu, Abu Aswad kemudian menyusun kaidah nahwu.

Dalam kitab kawakib addurriyah disebutkan kisah yang berbeda lagi, diceritakan disana bahwa suatu malam Abu Aswad duduk-duduk bersama anaknya di luar rumah kemudian memandang langit yang luas. Berkatalah sang anak, “maa ahasnu as-sama’ ” kemudian Abu Aswad menjawab, “Nujumuha.” Anaknya balik berkata: “aku ingin mengungkapkan ketaajubanku pada keindahan langit.” maka Abu Aswad berakata: “kalau begitu, katakanlah, ma ahsanassama’.”[8] Sejak saat itu Abu Aswad kemudian menyusun tata bahasa Arab.  

Beberapa golongan berpendapat bahwa yang pertama kali meletakkan dasar ilmu nahwu adalah imam Ali bin Abi Thalib. Hal tersebut beliau lakukan karena melihat terjadinya banyak sekali kekeliruan berbahasa pada waktu itu, yang kemudian memunculkan kekhawatiran pada kesalahan pembacaan al-Quran. Imam Ali kemudian berdiskusi dengan Abu Aswad tentang bahasa Arab, maka Ali menulis sebuah suarat kepada Abu Aswad yang berisi tentang pemaknaan kalam, bahwa kalam itu adalah isim, fiil, dan huruf.

Dari pernyataan inilah kemudian berkembang tata bahasa ilmu nahwu yang sejarah mencatat Abu Aswad sebagai tokoh utama dalam penyusunan kaidah ilmu nahwu. Namun jumhur ulama’ berpendapat bahwa tata bahasa Arab disusun pertama kali oleh Abu Aswad melalui usulan imam Ali bin Abi Thalib.

Jika kita membaca lebih kritis, maka kita akan menemukan satu persoalan lain, yakni apakah nahwu yang dicetuskan oleh Abu Aswad merupakan ilmu Nahwu yang belakangan dikenal oleh generasi selanjutnya? Dalam hal ini, Sohib Abu Janah mengungkapkan analisisnya yang kritis dalam kitabnya, beliau mengatakan bahwa Nahwu yang disebutkan oleh imam Ali pada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa peletak dasar ilmu nahwu adalah dirinya, bukanlah Nahwu sebagaimana yang dikenal pada generasi sekarang ini.

Menurut Abu Janah, proses lahirnya nahwu itu bertahap, adapun pemaknaan Nahwu secara terminologis baru terjadi pada masa Ibnu Siroj yaitu ketika pemaknaan isim sudah sangat kongkrit dan defintif secara standar ilmiah[9].

Jika berbicra proses ilmiah, maka proses penciptaan tanda baca maupun penyusunan tata bahasa Arab mengalami proses dinamika yang sangat panjang dan bisa dikatakan ilmiah. Misalnya saja apa yang dilakukan Abu Aswad ketika menentukan harokat fathah, dommah, dan sebagainya, itu menggunakan kesamaan tuturan, artinya disana ada analisis komfirmatif dalam kajian semiotika bahasa. Yakni proses pemberian nama atau kode sesuatu itu, didasarkan pada kesesuaian bunyi tuturan.

Demikian pula dalam proses penyusunan tata bahasa Arab, disana para peletak dasar ilmu nahwu misalnya melakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu, konon diceritakan bahwa ketika Ali berkunjung ke Bashrah pada saat perang siffin, dia tidak bermaksud untuk memerangi Muawiyah, juga tidak untuk memerangi kaum Khawarij, tapi hanya untuk melakukan survey kebahasaan untuk mengetahui realitas berbahasa disana guna menjadi acuan dalam penyusunan tata bahasa Arab pada waktu itu.[10]

Meskipun aktivitas penyusunan tata bahasa Arab pada masa Ali maupun Abu Aswad addualy masih bersifat defintif (meminjam agumentasi Abu junnah), namun usaha yang dilakukan keduanya sangat berpengaruh bagi penelitian bahasa pada masa selanjutnya. Misalnya saja apa yang dilakukan oleh murid-murid Abu Aswad Addualy seperti: Nashr bin Ashim, Abdurrahman bin Harmaz, Yahya bin Ya’mar dan lainnya, yang selanjutnya ketiga murid Abu Aswad ini diklaim juga sebagai pencetus ilmu Nahwu juga.

Inilah yang penulis sebut sebagai proses dinamisasi, bahwa penyusunan tata bahasa Arab memiliki tingkatakan perkembangan yang cukup signifikan. Dalam bukunya, al-Kitab, Sibawaih menunjukkan satu bentuk kaidah Nahwu yang cukup mendetail sehingga buku tersebut diklaim sebagai buku Nahwu yang paling lengkap dan berpengaruh terhadap generasi setelahnya, maka tidak heran jika buku tersebut disebut sebagai “Qurannya Nahwu.”

Namun demikian, menurut Abu Janah, pada masa Sibawaih pun pemaknaan ilmu Nahwu masih belum mapan, karena dalam buku tersebut, Sibawaih memberikan pernyataan bahwa isim itu adalah seperti lafaz: Ahmad, Zaid, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa Sibawaih pun, kaidah Nahwu masih belum berdiri secara keilmuan yang matang. Pemaknaan konten Nahwu memiliki bentuknya yang relevan dan terminologis yakni pada masa Ibnu Siraj.

Mengenai penyusunan ilmu Sharaf, penulis tidak menemukan banyak data tentang riwayat kodifikasi penyusunan ilmu tersebut, namun dalam kitab Hallul Ma’qud yang dikarang oleh Syaikh Muhammad Alisyh mengatakan bahwa peletak dasar ilmu Sharaf adalah Mu’adz bin Muslim al-Harra’.[11] Namun demikian ada juga ulama’ yang berpendapat bahwa peletak dasar ilmu Sharaf adalah imam Ali bin Abi Thalib.

Jika kita membaca sejarah kodifikasi tata bahasa Arab, kita bisa mengikuti pendapat yang kedua, bahwa peletak dasar ilmu Sharaf adalah Ali bin Abi Thalib karena sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Ali memiliki pengetahuan yang luar biasa luas dan sudah diakui oleh Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Ali merupakan salah satu tokoh peletak dasar ilmu Nahwu, maka jika kita bicara logika, sebagaimana dikatakan bahwa nahwu adalah bapak ilmu dan sharf adalah ibu ilmu, maka tentulah saat ilmu Nahwu muncul, secara bersamaan ilmu sharaf juga demikian. Allahu A’lam.






Referensi
Alisyh, Muhammad. Hallul Ma’qud min Nazhmil Maqshud fi Shorf. 1315. Makkah: al-Matba’ah al-Miriah al-Kainah
Dhoyf, Syaoqy. Madaris an-Nahwiyyah. 1978. Qairo: Darul Ma’arif
Janah, Sohib Abu. Dirasat fi Nazhoriyati Nahwil ‘Aroby wa Tathbiqotiha. 1998. Oman: Darul Fikr
Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bari. Kawakib Addurriyah. Mutammimah Limatnil Ajrumiah. Tanpa Tahun. Jeddah: al-Haromain
Musthafa al-Gholayaini. Jami’uddurus al-Lughotil Arobiyah. 2008. Birut: Darul Bayan.
www.republika.com Akses 31 Maret 2015
http://ow.ly/knicz.


[1] http://ow.ly/knicz. Akses tanggal 31 Maret 2015
[2] Syaoqy Dhoyf. Madaris an-Nahwiyyah (1978, Qairo: Darul Ma’arif). Hal. 15
[3] Ibid. Hal 16
[4] www.republika.com akses 31 maret 2015
[5] Syaoqy Doyf. Madaris an-Nahwiyah. H. 33
[6] Sohib Abu Janah. Dirasat fi Nazhoriyati Nahwil ‘Aroby wa Tahbiqotiha  (1998, Oman: Darul Fikr) h. 7
[7] Ibid. Hal, 8
[8] Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bari. Kawakib ad-Durriyah Syarh Mutammimah Al-jurumiah. (tanpa tahun, Jeddah: al-Haromain) hal. 3. Lihat juga pengantar kitab Jamiu ad-Durus al-Lughotil al-Arobiah, karangan al-Gholayaini.
[9] Abu Janah, ibid hal.19
[10] Syaoqy Doyf. Madaris an-Nahwiyah. Hal. 14
[11] Muhammad Alisyh. Hallul Ma’qud min Nazhmil Maqshud fi Shorf (1315, Makkah: al-Matb’ah al-Miriah al-Kainah) hal. 2
Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz