Kamis, 10 Februari 2011

akal dalam perspektif islam

kali ini, dalam artikel ini saya ingin menulis tentang akal. iyaa... kemarin tanggal 10 februari 2011, saya mendapat sms dari salah seorang temen saya, iya menanyakan tentang akal, tepatnya pertanyaan itu berbunyi: "jika semua aturan datang dari Allah, bagaimana islam memandang peran akal?".

sebelum saya menjawab pertanyaan itu, saya ingin mempermaklumkan kepada para pembaca, bahwa disini saya akan menjawabnya menurut kadar kemampuan saya, karena disamping saya kuliyah, saya ingin belajar nulis. dan melalui blog ini saya ingin belajar bagaimana menulis yang baik dan bagaimana mengkaji sebuah permasalahan yang ada. meskipun begitu, insya Allah apa yang saya muat dalam tulisan ini tidaklah bertentangan dengan sumber utama hukum islam yakni Al quran dan al hadits, sambil menambahkan sedikit dari analisis kritis saya. hehehe, maklum mahasiswa..

baiklah... berangkat dari firman Allah, tepatnya pada surat ali imran ayat 190, yang artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. dalam ayat ini, Allah menyebutkan objik yang mesti dipikirkan oleh manusia dalam menuju orang-orang yang berakal (ulul albab).
sebelum kita lebih jauh berbicara tentang ayat diatas, perlu saya permaklumkan bahwa saya disini menulis sebagai seorang ahlussunnah, tentunya dalam membahas permasalahan ini, saya akan tetap mengacu dalam koridor-koridor ahlussunnah. menurut imam asyariah, bahwa kedudukan akal itu dibawah wahyu, akal sifatnya konfirmasi. berbeda dengan imam syariah, kaum mu'tazilah berpendapat bahwa akal adalah segalanya, sedangkan wahyu bersifat konfirmasi, dalam artian, jika sesuai akal akan diterima jika tidak, maka ditolak.  dalam hal ini saya lebih condong kepada asyariah, karena sebagaimana yang saya katakan tadi bahwa saya orang asyariah atau ahlussunnah.

kembali kepada permasalahan yang diatas, kita bisa mengkaji tentang ayat Al qura yang telah saya sebutkan diatas. dari ayat tersebut sepertinya kita bertanya siapa yang dimaksud Allah ulul albab itu. pertanyaan ini, bisa kita lihat jawabannya dalam ayat selanjutnya yang berarti: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

jadi, jika kita bertolak dari kedua ayat diatas, bahwa akal memang menjadi anugerah tuhan yang maha kuasa yang dikaruniakan kepada manusia untuk digunakan berfikir, hanyasannya ada beberapa tempat ketika manusia harus memainkan imannya bukan akalnya, seperti keberadaan  Allah ataupun mahluk halus lainnya.
sejalan dengan hal itu pula, Rasulullah sendiri membatasi gerak akal dalam sabdanya: tafakkaru fi kholqillah wala tafakkaru fillah. yang berarti: pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan jangan engkau pikirkan tentang dzat Allah. lantas jika ada pertanyaan seperti pertanyaan diatas dimana jika segala aturan datang dari Allah, lantas bagaimana islam memandang akal? tentu jawabannya sudah cukup jelas jika kita menyimak ayat ataupun hadits rasulullah tersebut. pada intinya fungsi akal dalam perspektif islam (ahlussunnah) adalah sebagai pendamping wahyu Allah. dalam hal ini sama dengan orang-orang yang beristinbath hukum yakni para mujtahid. Allahu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz