Minggu, 13 Februari 2011

Perpisahan

Suatu hari dalam hidupku, disaat rasa dalam jiwaku mulai mengejewantah tentang sosok sahabat dalam hidupku.
hari itu, disebuah ruangan cinta yang dihiasi dengan ketulusan dan ilmu yang berkah, kami berkumpul dengan ikatan persahabtan yang telah melingkar dalam jiwa-jiwa kami.

semua tunduk dalam kekhusuuan dan kesedihan yang pekat. bagaimana tidak, sebuah ikatan yang telah tercipta dari keterasingan dalam pondok kenangan yang telah mengantarkan kita dalam balutan persaudaraan. Rintikan air mata perlahan menetes di pipiku menunjukkan perasaanku yang tak ingin melepas semua itu. dengan melodi lagu perpisahan yang mengiringi, semakin menambah kepiluan dalam jiwa kita.
akupun berlari ke sebuah masa dalam hidupku ketika kita masih bersanding dalam keterasingan, malu untuk menyapa. dan seiring berjalan waktu ternyata semua itu berubah menjadi sebuah ikatan yang kini tengah berada di depan gerbang perpisahan.

sahabatku... mungkin disaat kita dulu masih dalam genggaman kesatuan tidak bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu, maka maafkanlah aku, hari ini adalah hari dimana cinta dan persahabtan dalam jiwa kalian akan menghapus dosa dan khilaf selama bersua.
kesedihan itu semakin menjadi disaat mata guru-guruku semakin berbinar dan perlahan berubah berkaca-kaca sehingga meneteskan air mata kesedihan, kemudian ia katakan: "peganglah terus pelajaran yang kalian dapatkan, jangan pernah lupa pada nasihat yang guru-guru kalian berikan, selamat berjuang"
semakin terurailah air mata dalam jiwaku, atas sebuah nikmat ilmu yang mereka berikan tanpa pamrih, terima kasih guruku, kau akan senantiasa bersanding dalam jiwaku bersama selimut keabadian. nasihatmu akan senatiasa terngiang dalam jiwaku, dan aku berjanji akan terus memegangnya.

saat itu udara begitu tenangnya, seakan ikut merasakan kepiluan yang kami rasakan, rintikan air hujan menambah suasana batin yang meraung dalam tangis.
apalah daya kita sahabat, waktu telah mempertemukan kita, dan sekarang biarkanlah ia yang memisahkan kita, jadikanlah momen ini sesuatu yang mesti kalian kenang hingga kalian tua nanti, bahkan sampai akhir kalian menutup mata.

akhirnya suasana batinku mencapai puncak kepiluannya di sebuah pantai yang menjadi pijakan terakhirku bersama mereka, kala itu, mega merah begitu ramahnya menyemburkan cahayanya, ombak begitu lihainya menghampiri pantai, dan jiwaku menyambut semua itu masih dengan tangisan, ku lantunkan sebuah puisi dari sang maestro cinta, "dikala berpisah dengan sahabat, janganlah bersedih atau terluka, karena sesuatu yang paling kau banggakan darinya mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya"

akupun menarik nafas panjang dan perlahan membisikkan pada gelombang pantai tentang hal yang aku rasakan dan membiarkannya merekamnya dalam balutan keabadian, sehingga jika suatu saat nanti aku sudah tidak bisa berjumpa dengan mereka, kuharap pantai itu akan bisa menemaniku bernostalgia mengunjungi mereka dalam sisa-sisa nafas hidupku.

1 komentar:

warok akmaly mengatakan...

puisi ini terinspirasi dari acara perpisahan, angkatan XIII MAK NW pancor lombok tahun 2009.

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz