Jumat, 25 Maret 2011

Ada Apa dengan Negaraku?


Suatu hari saya membaca berita di Koran. Berita itu berjudul, “Bupati Bagi Mobdin Rp 1,4 M”. ada apa lagi nih? Tanyaku dalam hati sebelum membuka dan membaca isi Koran itu. Sepertinya tentang fasilitas wakil rakyat yang tak pernah kunjung cukup, ditambah dan terus di tambah, namun ironis sekali ketika sebuah tunjangan dinaikkan tidak diikuti dengan naiknya kualitas moral mereka sebagai wakil rakyat yang bertugas sebagai pengemban aspirasi rakyat dan penyambung keinginan rakyat kepada pemerintah. Justru mereka menari di atas penderitaan rakyat, bagaimana tidak, ketika masyarakat kebingungan dengan kerisis global yang menimpa dunia, mereka justru memanfaatkan jabatan mereka untuk mengayakan diri, terlihat dari berita yang saya kemukakan diatas, betapa angkuhnya wakil rakyat kita, disaat mobil tersendat sedikit harus di ganti yang baru, rumah yang kurang mewah harus dimewahkan, dan akhirnya hidup yang tidak bisa sempurnapun dipaksa sempurna dengan menggunakan tangan kekuasaan yang di zalimkan, haruskah kita menangis dengan semua itu atau harus mengikhlaskan untuknya? Yang jelas keduanya adalah opsi yang tidak bermakna, sama saja akan menyempitkan perasaan rakyat dan membunuh harapan mereka dengan kezhaliman. 

Mengutip pendapat Kantowijoyo dalam bukunya Budaya dan Masyarakat, bahwasannya Indonesia dewasa ini telah teracuni dengan budaya “kapitalisme”, karena menurut beliau, kapitalisme tidak hanya menyerang Negara maju namun Negara berkembangpun harus menaggung derasnya arus kapitalisme, karena sumber daya alam yang banyak akan memicu terbentuknya sikap memuaskan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain, sehingga  masyarakat akan berlomba-lomba untuk menyuguhkan diri mereka dengan kemewahan yang ada, sehingga sebagaimana yang di katakana bang Roma dalam lagunya, “yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin”. Huhhh… sepertinya terlalu jenuh kita mendengar tentang semua itu namun apalah daya, saya adalah masyarakat Indonesia, maka sayapun harus memperhatikan Negara ini. 

Lebih lanjut tentang hal itu, menurut Bapak Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Imam Suprayogo sebagaimana yang saya baca dalam sebuah artikel beliau di status jejaring sosial facebook, kemiskinan yang terjadi di Indonesia adalah karena adanya otorisasi dari orang-orang yang lebih tiggi tingkatannya dalam bidang ekonomi yang menindas perekonomian masyarakat lemah. Dalam hal ini beliau mengistilahkan hal itu dengan ikan-ikan yang hidup di dalam laut, dimana yang besar akan memangsa yang kecil dan yang kecil hanya bisa menanggung derita dari kekejaman sepihak dari sang penguasa.  Sehingga beliau mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya bukan Negara miskin, tapi Negara yang perekonomiannya belum merata.

Jika kita melihat di media masa, banyak sekali kita lihat daerah-daerah yang tidak terperhatikan atau sengaja tidak di perhatikan oleh Pemerintah, sehingga masyarakat banyak yang menderita dan terpaksa harus menekam dalam penjara kemiskinan tanpa ada kepastian kapan mereka akan dibebaskan. Seperti misalnya yang kita lihat di Kampung Apung, yang terletak di Jakarta barat, dimana keadaaan wilayah itu sangat memperihatinkan. Sebagaimana namanya Kampong Apung adalah kampung yang terapung di pinggiran Kota Jakarta, keterapungan kampung itu bukanlah kebetulan namun berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para Mahasiswa Aktivis LSM, ada indikasi-indikasi bahwa kasus itu merupakan permainan para petinggi pemerintah dengan perusahaan perusahaan besar yang ingin menempati tempat itu, sehingga modus menenggelamkan kampung itu di lakukan untuk memperlicin harga, dalam artian dapat memperoleh haraga yang murah dari masyarakat, bahkan mungkin kampung itu akan di tinggalkan dengan sukarela oleh penduduknya. Namun yang luar biasa dari permasalahan ini, Nampak begitu tegarnya masyarakat Kampung Apung menghadapi semua itu, mereka begitu semangat untuk menjalani hidup mereka meskipun dalam keadaan yang mencekik itu, mereka tetap berdiam di kampung mereka. Ironisnya, keadaan mereka telah berlangsung selama 20 tahun, bisa dibayangkan betapa perihnya penderitaan mereka yang tak kunjung berakhir. selama itu pula, pemerintah hanya bisa memberikan janji tanpa ada kepastian yang menentu.

Dengan melihat kedua permasalahan di atas, telah cukup merusak citra pemerintahan, pemerintah yang seharusnya melayani masyarakat, justru mengenyangkan diri mereka sendiri, pemerintah yang merupakan samudra aspirasi, hanyalah samudra kering yang tak berisi dan tak bertepi, penuh dengan kebusukan dan penghianatan. Masyarakat seperti mahluk pemimpi yang tak terealisasi, dibuatnya masyarakat seperti boneka yang di mainkan anak-anak, tak peduli kena kotor atau nakjis, yang ada hanya rintihan, yang ada hanya kebencian. Revolusi seperti sebuah langkah yang tak bertuju, tangisan seperti sungai debu yang sia-sia, tinggallah mata meratap kasta dan angan menjaga mimpi. 

Melalui tulisan yang singkat ini, saya ingin menangis bersama mereka yang kini dalam ratapan dan jajahan Negara mereka sendiri. Wahai pemerintah, inilah jiwa-jiwa yang telah mendukungmu ketika engkau menjadi calon legislatif, inilah raga-raga yang telah meneriakkan namamu ketika engkau dulu membutuhkan dukungan. Ingatlah janjimu, bukankah engkau telah berjanji bahwa jika engkau menang, engkau akan membuat surga untuk rakyatmu? Namun kini rakyatmu tengah kepanasan atas yang kau katakan surga namun seperti surya yang memanggang. Negaraku, negaramu adalah bayangan yang engkau telan dalam kegelapan. Kenyataan adalah mimpi dan kebijakan adalah keedanan. Idonesiaku, aku ingin menangis diatas kuburanmu. 

Dengan demikian, sepertinya perlu ditinjau kembali moral dan spiritualitas pemimpin Negara kita, sehingga akan menyadarkan mereka dari mimpi terbuka atas kekayaan yang di bangun di atas tangisan masyarakat. Internalisasi nilai-nilai budaya sepertinya perlu dirintis untuk membangun kembali moral yang kini seperti di ujung tanduk. Peran tokoh agama harus lebih kuat dalam memandu kepemimpinan di Indonesia ini, karena pada dasarnya yang menyebabkan keedanan ini adalah agama yang telah ditutupi dengan kepentingan duniawi, sehingga membuat mata buta dan mati terhadap menyikapi permasalahan penduduk. wallahu a'lam   

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz