Sabtu, 05 Maret 2011

Kuliyah dan Berorganisasi


Perjalanan Mahasiswa dalam menuntut ilmu pengetahuan memang tidak akan pernah terlepas dari persoalan-persoalan kampus yang mirip dunia perpolitikan, sehingga wajar saja jika kita banyak mendengar asumsi bahwa kampus adalah miniatur Negara yang memiliki perangkat kepengurusan persis seperti Negara, misalnya kalau di Negara kita mengenal istilah MPR, di kampus kita mendengar istilah MPM, istilah DPR dalam Negara, dalam kampus kita mengenal DPM. Oleh karena itu wajar pula jika mahasiswa dikatakan Agent of Change atau calon pemimpin untuk masa selanjutnya.

Namun demikian Mahasiswa tidak boleh lupa dengan kewajiban yang sebenarnya yakni menutut ilmu, karena banyak kita temukan kasus, Mahasiswa yang aktif di organisasi tidak terlalu memperhatikan pelajaran mereka sehingga studinya terlantar dan tidak dapat lulus tepat waktu. Ini di akibatkan, kalau dalam istilah ilmu psikologi karena sifat extravert[i] yang telah tertanam pada mahasiswa tersebut. Hal itu tentunya menjadi keprihatinan kita bersama, karena pergantian generasi tetap berjalan sementara penggeraknya masih tertinggal di belakang.

Yang unik dari pergerakan Mahasisiwa adalah mereka belajar bagaimana membuat taktik, wacana dan propaganda dalam menyusun sebuah pergerakan, misalnya dalam rangka melakukan orasi, baik dalam ranah kampus atau dalam tatanan masyarakat sosial. Bahkan ada mahasiswa yang pemikirannya politik terus karena sudah “kecanduan berorganisasi”. Memang luar biasa, hanyasannya tidak perlu terjadi kasus keterlambatan lulus nantinya.

Disini, saya sebagai seorang aktivis salah satu oraganisasi ekstra kampus ingin menawarkan solusi kepada para Mahasiswa yang masih berat sebelah, banyak Mahasiswa yang hanya aktif di organisasi saja dan tidak memperhatikan pelajarannya, dan ada pula Mahasiswa yang hanya memperhatikan pelajarannya saja, tanpa mau tau kehidupan berorganisasi atau apatis. Hal yang pertama akan menyebabkan keterlambatan lulus kuliyah, bahkan jika terlalu lama, akan kena mansukh[ii] dari kampus. Sedangkan yang kedua akan memberikan efek pada kejumudan mahasiswa menyikapi persoalan persoalan masyarakat nantinya, karena di sebabkan oleh ketiadaan pengalaman yang dimiliki.

Lantas bagaimana agar tidak menjadi yang pertama dan tidak menjadi yang kedua? Tentunya dengan mengambil jalan tengah di antara keduanya. Pertama kita harus menyeimbangkan keduanya yakni dengan cara membuat komitmen untuk aktif di organisasi serta membuat target mendapatkan IPK yang tinggi, dengan demikian tidak akan ada lagi berat sebelah diantara keduanya karena sudah terforamat dalam komitmen dan tertuang di atas kertas. Yang kedua dengan mengkombinasikan apa yang kita dapatkan waktu belajar di kampus dan waktu diskusi di organisasi, karena pada dasarnya keduanya saling melengkapi, misalnya saja pada pelajaran PKN, kita akan mendapatkan realisasi dari pelajaran tersebut pada tata cara berorganisasi, karena sejauh ini, organisasi-oraganisasi yang berkembang di kampus-kampus berorientasi pada pancasila, karena biasanya mereka memiliki Visi Misi untuk mengabdi kepada Negara. Nah dengan demikian tidak ada alasan untuk berat sebelah dalam menjalani keduanya karena rasa saling butuh yang akan timbul nantinya antara pelajaran kampus dan organisasi.

Namun tidak bisa di pungkiri juga, bahwa dalam menjalani semua itu, tentunya di tengah jalan kita akan menemukan masalah-masalah, entah itu yang mencakup individu atau kelompok, hal-hal yang menyangkut individu misalnya seperti stres, bosan, jenuh dan lainnya. Biasanya hal ini muncul secara tiba-tiba, orang yang terkena masalah ini dapat dikenali dengan caranya yang berubah drastis, seperti dia hanya ingin sendiri tidak mau bersama teman-temannya yang lain. Dalam istilah psikologi hal ini disebut introvert[iii]. Atau permasalahan kelompok, misalnya seperti pertengkaran dalam organisasi atau perebutan pacar diantara anggota, hehe…. namun hal ini merupakan kewajaran, karena semuanya adalah bumbu-bumbu dalam merajut sebuah organisasi, hal itulah yang membuat organisasi itu seru dan mendewasakan kita yang berkecimpung di dalamnya.

Dengan demikian marilah kita sama-sama berjuang untuk meraih cita-cita kita dengan cara bersungguh-sungguh dalam belajar tanpa meninggalkan pengalaman yang mendukung hal itu, dalam hal ini adalah organisasi itu sendiri, karena biar bagaimanapun tidak ada dikotomi antara keduanya. Keduanya adalah “duet” yang harus tetap di pertahankan dalam mempersiapkan diri menjadi generasi yang handal dan berdaya saing.    



[i] Sifat seseorang yang sikap perhatiannya di arahkan kepada yang di luar dirinya, seperti lingkungan fisik maupun sosial dari pada kearah fikiran dan perasaan dirinya sendiri.
[ii] Di hapus namanya atau di keluarkan.
[iii] Sifat seseorang yang dalam keadaan stres berkecendrungan untuk bersembunyi ke dalam dirinya sendiri, dan menghindari orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz