Minggu, 13 Maret 2011

Menerawang Kenangan

Di sebuah peraduan dimana mimpi dan angan tentang kebahagiaan cinta aku sandarkan.
di iringi suara jangkrik dan belalang tua yang seakan sedang bernyanyi tentang sesuatu, tetapi mereka tidak mengerti cinta, tidak mengerti kebahagianaan, tetapi mungkin mereka merasakan penderitaan dari sisa-sisa badai semalam yang telah meluluh lantakkan semak-semak dan padi yang menjadi istana mereka, sperti raja yang kehilangan kekuasaannya, terdengar ratapan mereka olehku melalui udara yang berbisik melalui malam dan merasuk ke dalam pendengaran jiwaku.

Ku mulai merenungkan sebuah kisah masa lalu. sepertinya engkau ragu-ragu ketika aku menorehkan lagi kata masa lalu, iya... aku memang menulisnya. namun kali ini berbeda, jika kemarin aku menulis masa lalu dengan emosi dan keluh kesahku terhadap seseorang yang telah singgah dalam istana nostalgia yang telah menghancurkan keindahan taman istana itu, namun sekarang aku akan mengunjungi masa laluku dengan sebuah perasaan yang tulus, seperti madu yang mengalir dalam sungai surga.

Hmmm..... keheningan malam ini telah mengantarkanku ke suatu masa yang begitu indah dan sebuah tempat di surga. aku mulai langkahku secara diam-diam, berjalan di pantai kenangan memandang ombak yang dulu pernah menjamah tubuhku dan tubuhnya dalam selimut cinta, ku merajut kisah indah itu dengan tangan kosong dan pemahaman yang dangkal tentang arti cinta...
kedangkalan yang aku rasakan pada cinta, entah mengapa begitu terasa saat ini, dikala kesendirian menjamah jiwa dan keperihatinan menjaga raga. tdak ada yang mengerti atas apa yang aku katakan, karena ini adalah realitasku yang terjadi antara masa silam dan keadaanku saat ini. seperti sufi yang menari dalam pertemuan dengan kekasihnya, begitulah kekosongan jiwa yang aku rasakan, namun ada yang berbeda dari perumpamaan itu, jika sufi adalah kekosongan yang berisi sedangkan aku adalah isi yang kosong.... hmmm,, mungkin engkau akan semakin bingung,, sekali lagi hanya aku yang akan memahami.

Di pantai itu..... dikala jiwa dan raga yang aku miliki ku persembahkan untuknya. sesorang yang telah mengisi relung jiwaku dengan sesuatu yang dulu aku sebut cinta.. sepertinya aku harus berbicara cinta,, cinta.... meneyelinap dalam terotoar jiwa yang kadang mengambil lahan raga yang begitu sempit.
aku tidak mengerti, kenapa cinta begitu antosias memerangi ragaku dengan menyerang benteng jiwaku yang dulu ia manjakan. mungkin itu adalah tabiat cinta, menyerang setelah membelai... dengan kerumunan dan cemooahan sepi yang di sertai sedih semakin membuat pilu jiwa yang tengah merana.

Di pantai itu aku telah berbaiat kepada cinta untuk selalu menjaganya, tak peduli apa yang terjadi, kan ku ciptakan untuknya ranjang dari tulangku dengan bantal dari kulit yang melekat padanya, kan ku basuh setiap ujung dari ranjang itu dengan air surga yang aku kirim dari pegunungan yang aku daki dengan harapan.. semua itu untukmu cinta..... ku ingin bersamamu untuk selamanya, mengitari lagu kehidupanku sampai ujung waktu nanti...

Tetapi apa yang Aku sebut harapan tidak begitu di hargai oleh cinta, dengan angkuhnya ia campakkan harapan itu dan membuangnya di kolom jembatan kehinaan.
kurangkai kembali harapan yang telah ia rusak itu dengan kekuatan bertahan, ku rajut satu demi satu benang yang terputus pada kain harapan itu. berharap menjadikan cinta yang abadi untuk selamanya.
Namun akhirnya harapan itu harus terputus dengan jarak dan waktu yang memisahkan antara kami berdua, mungkin karena kehilangan nyawa,, atau karena runtuhnya sebuah komitmen.

Jika kamarin aku telah menghujat kekasihku atas sebuah kesalahan yang aku katakan dosa, maka hari ini izinkan aku meralatnya dengan sesuatu yang aku katakan ampunan. cinta adalah perjalanan di jalan setapak, kita bisa saja bertahan atau harus menanggung sakit karena terpeleset dan jatuh, semua adalah suratan dariNya untuk kita jalani.

Untuk kekasihku yang kini aku panggil sahabat, terima kasih telah menyangga hidupku di masa itu, biar bagaimanapun, keindahan itu akan tetap bersanding dalam keabadian. maafkanlah diri ini yang tak bisa menjaga semua itu, karena jujur, tanganku terlalu lemah untuk menggenggam bara api yang setiap waktu engkau nyalakan. biarkanlah kenengan itu tersimpan dalam hazanah cinta antara kau dan aku, kan ku jadikan hal itu sebagai bingkisan hidup untuk aku persembahkan di pesta pernikahanmu nanti.
selamat jalan kekasih, cukuplah dengan cintamu dan hatimu aku memilikimu.
(Warok Akmaly)

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz