Sabtu, 05 Maret 2011

Selamatkan Budaya Lokal

Arus modernisasi yang sekarang melanda kehidupan manusia telah menghilangkan banyak nilai-nilai yang seharusnya di pertahankan, seperti budaya dan adat istiadat. arus itu tidak memandang kebudayaan lokal atau nasional, yang jelas, ketika modernisasi di komunikasikan dengan budaya, maka sepertinya budaya di hadapkan dengan sebuah keadaan yang sulit sekali sehingga membuat dia tidak bisa bergerak bahkan bisa membunuhnya.

saya ingin mengajak pembaca untuk membahas sekilas tentang sebuah budaya di pulau kecil nan jauh disana, namanya lombok, tanah kelahiranku, tulisan ini terinspirasi dari bedah buku, yang baru saja selesai saya ikuti, buku itu berjudul Bumi Gora yang di karang oleh M Hasan Sanjuri, dalam buku kumpulan puisi itu, beliau tidak hanya melukiskan lombok dengan bentang alamnya yang memukau, namun lebih jauh dari itu, beliau memaparkan nilai-nilai budaya yang ada padanya, sehingga membuka mata para peserta yang sebagian besar mahasiswa lombok untuk mencintai budaya sendiri.

Kehebatan beliau memetakan kata-kata dan imajinasinya dalam buku itu patut di acungkan jempol, bagaimana tidak, buku kumpulan puisi itu ternyata masuk 15 besar terbaik nasional, yang secara tidak langsung telah membawa nama pulau Lombok muncul dalam ranah nasional yang selama ini masih belum tembus dalam ranking itu. di samping beliau hadir juga dua orang pembanding, masing-masing, M halimy zuhdi M.Pd dan Husen Arifin, beliau berdua adalah sastrawan semua, karena telah cukup banyak karya beliau dalam dunia sastra.

Bedah buku itu berlangsung hidmat, karena antusias dari para peserta bedah buku untuk mengikuti acara tersebut, Acara bedah buku tersebut berkesimpulan yang intinya, bahwa budaya itu harus selalu di jaga karena merupakan kebanggaan yang di miliki oleh daerah masing-masing.
kembali mengenai pulau lombok, pulau lombok adalah daerah yang memiliki banyak budaya dan adat-istiadat, seperti prisian, kawin curigendang beleq, dan sebuah adat sekali setahun yang di adakan dalam rangka mengenang putri mandalika yang di kenal dengan acara bau nyale, yang di adakan di pantai selatan lombok. saya akan menjelaskan satu persatu dari sebagian kecil adat yang ada di lombok tersebut, untuk sebagai contoh saja dalam tulisan ini.

Yang pertama mengenai prisian, prisian adalah acara adu tanding antara dua orang pemuda dengan menggunakan rotan sebagai pemukul dan sebuah tameng untuk menangkis serangan musuh, biasanya di adakan di lapangan atau lahan sawah yang kosong.  filosofi dari acar ini adalah bagaiman seorang pemuda itu harus kuat karena sebagai pelindung bagi kaum hawa, di samping itu pula prisian akan memberikan nilai kemasyarakatan yang luar biasa, kenapa demikian? karena tentunya dengan acara seperti ini, oran-orang akan kumpul untuk menyaksiakan adu tanding, sehingga nilai humanisasi itu begitu sangat terasa.

Yang kedua mengeani kawin curi. sekilas mungkin pembaca mengira bahwa kawin curi berarti perkawinan yang di laksanakan dengan diam-diam, tapi tidaklah demikian, kawin curi sesungguhnya adat asli dari lombok, yang merupakan prosedur yang biasa di lakukan oleh para anak muda yang ingin menikahi pujaan hatinya, dikatakan kawin curi, karena sebelum acara akad, mempelai wanita akan di curi oleh pihak mempelai laki-laki, saya mengatakan pihak, karena tidak di perbolehkan mempelai laki-lainya langsung yang mengambil calon istrinya melainkan harus dengan perantara orang lain, dalam hal ini teman atau kerabat terdekatnya. jadi hal ini tidaklah bertentangan dengan ajaran agama sebagaiman yang banyak di langsir oleh pihak-pihak tertentu yang pada dasarnya belum mengkaji tentang hal ini.  kemudian gendang beleq, adalah alat musik yang biasa di mainkan oleh suatu kelompok tertentu dalam rangka acara pernikahan atau sunatan,, gendang beleq adalah kebanggaan masyarakat sasak waktu dulu, maaf saya mengatakan dulu, karena keyataan sekarang berbeda dengan keadaan yang lalu, karena sekarang sebagaimana yang saya katakan di muka, budaya telah perlahan di makan oleh arus modernisasi, sekarang masyarakat lebih condong pada alat-alat musik modern, padahal budaya gendang beleq merupakan kebudayaan asli lombok yang harus di pertahankan.

Kemudian yang terakhir adalah mengenai acara bau nyale, bau nyale merupakan istilah untuk memperingati hilangnya putri mandalika yang hilang di telan lautan, kata bau nyale merupakan bahasa sasak yang berarti menangkap nyale, nyale sendiri adalah bintang laut yang mirip cacing yang sering berada di pinggir-pinggir karang pantai, keluarnyapun sekali setahun. masyarakat lombok percaya bahwa nyale adalah perubahan wujud putri mandalika yang hilang di telang lautan. namun saya pribadi tidak terlalu senang dengan acara yang satu ini, karena konon katanya, orang yang mau menangkap nyale itu harus mengeluarkan kata-kata kotor, dalam istilah bahasa lombok nyumpaang. maka dari itu saya memiliki inisiatif untuk merubah paradigma itu, adapun caranya saya masih memikirkannya, hehehe...
keempat budaya lombok diatas adalah sebagian kecil dari budaya lombok yang kini perlahan mulai dikikis arus modernisasi, dan mungkin hal ini juga terjadi di ratusan daerah lain di bumi nusantara ini.

Namun demikian budaya yang pada dasarnya adalah kebaikan harus tetap di pertahankan dan di jaga nilai kesempurnaannya. sorang Ahli estetika mengatakan, "pemahaman yang setengah tentang kebudayaan, akan menghilangkan nilai-nilai estetika dalam budaya itu sendiri". oleh sebab itu saya berharap acara bedah buku Bumi Gora dan sangkep budaya Sasak yang diadakan oleh teman-teman mahasiswa Lombok (FORSKIMAL) dapat menjadi langkah awal menuju peradaban baru budaya Lombok yang lebih agung dan berdaya saing, serta akan memotifasi yang lain untuk mengikuti jejak sastrawan lombok yakni penulis buku Bumi Gora itu sendiri. 

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz