Selasa, 26 April 2011

contoh makalah observasi


BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Pendidikan merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari diri manusia, karena tabiat manusia adalah senantiasa ingin mengetahui, di samping juga manuisa adalah mahluk yang berbudaya. Dewasa ini system pendidikan kita telah banyak dirubah, mulai dari bagian awal dari sebuah prosedur pendidikan kita yakni tahun ajaran baru, telah banyak system yang digunkan, seperti jalur masuk yang berbeda-beda. Kalau dulu kita hanya mendengar siswa masuk tentunya dengan mendaftar ke kantor sekolah atau yayasan tertentu dalam pendidikan, sekarang jalur masuk untuk mahasiswa baru begitu beragam kita lihat, seperti jalur mandiri, bidik misi jalur khusus, dan lainnya, yang pada intinya untuk menerima mahasiswa baru.
Paradigma di atas sudah begitu popular pada masa kita sekarang ini, karena hal itu telah diatur oleh pemerintah. Namun demikian, ada beberapa dampak yang dimunculkan dalam ranah kehidupan yakni dalam bidang sosial. Sekilas jika kita perhatikan dalam lingkungan perkampusan Nampak suasana-suasana harmoni yang sarat akan pengetahuan, seperti kegiatan-kegiatan mahasiswa berdiskusi bareng di pinggir jalanan kampus di atas taman rumput yang hijau. Semuanya telah menjadi pemandangan yang lazim kita temukan di kampus-kampus. Seperti yang terlihat di UIN Maliki Malang, sebuah universitas di jawa timur.
Di antara permasalahan permasalahan sosial yang muncul dari keseharian yang indah itu, adalah diferensiasi sosial yakni perbedaan status sosial. Lhoo kok?? Hemmm,, jangan salah, karena ini adalah penelitian jadi segalanya mungkin saja ada dan terjadi di sekitar kita. Dari beberapa kasus yang saya temukan, begitu terlihat jelas diferensiasi tersebut ketika mereka dalam komunitas-komunitas mereka. Misalnya, mahasiswa-mahasiswa jalur bidik misi berkumpul dalam sebuah asosiasi yang bernama Keluarga Besar Bidik Misi yang sering disingkat KB2M.
Adapun mengenai penjelasan lebih lanjut, akan pembaca temukan di Bab-bab selanjutnya, karena ini hanya pendahuluan.
Akhirnya saya memohon kepada Allah untuk memudahkan saya dalam penyelesaian observasi ini, untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar.
B.      Rumusan masalah.
Dalam tulisan ini, kami rumuskan beberapa masalah berkenaan dengan tema yang kami angkat, yakni,”Dampak Status sosial pada Mahasiswa dengan adanya jalur masuk yang berbeda-beda”.
Masalah-masalah itu adalah:
1.    Memahami pengertian status sosial di kalangan mahasiswa dan jalur masuk mereka.
2.    Mengidentifikasi benih-benih diferensiasi sosial di kalangan Mahasiswa.
3.    Kemungkinan adanya kecurangan dalam pengurusan jalur masuk atau kepentingan golongan.
4.    Dampak status sosial yang akan terjadi dengan adanya jalur masuk yang berbeda-beda.
C.     Lokasi Observasi
Adapun lokasi observasi dalam tulisan ini adalah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur.
D.    Objek
Ada beberapa kelompok mahasiswa yang akan kami jadikan objek dalam observasi ini yaitu:
1.    Mahasiswa jalur Bidik Misi
2.    Mahasiswa jalur PMDK
3.    Mahasiswa jalur Khusus
4.    Mahasiswa jalur Mandiri
5.    Beberapa Staf Kemahasiswaan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.
Dalam tulisan ini, kami berasas pada beberapa teori tentang kehidupan sosial, seperti teori kepribadian atau yang dikenal dengan psikoanalisa yang dikemukakan oleh seorang sarjana berkebangsaan jerman yang bernama, Sigmund freud (1856-1939). Di samping itu juga teori tentang relasi individu dengan komunitas yang dikemukakan oleh poplin (1960)[1]. Kami juga merujuk kepada beberapa buku sosial yang kami anggap berkaitan dalam menggarap tulisan ini, diantara buku-buku tersebut adalah, Ilmu Sosial Dasar karangan Dr. M Munandar Sulaeman, Diferensiasi Sosial karangan Kaare Svalastoga dan lain-lainnya. Di tambah juga dengan data-data dari internet untuk mendukung teori-teori dan buku-buku yang ada.
BAB III. METODE OBSERVASI
Sebagaimana kita ketahui, ada banyak metode dalam melakukan penelitian atau observasi tersebut, sebagaimana pada buku-buku, Namun untuk penelitian bidang sosial, ada beberapa metode yang ditawarkan Hadari Nawawi dalam bukunya Metode Penelitian Bidang Sosial. di antara metode-metode tersebut adalah: Metode Filosofis, Metode Deskriptif, Metode Historis dan Metode Eksperimen. Adapun metode yang akan kami gunakan di sini adalah metode Deskriptif. Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya[2].
Untuk dimaklumi, bahwa metode deskriptif ini memiliki beberapa kelemahan sehingga tentunya nanti akan memunculkan kelemahan dalam tulisan ini, namun demikian saya pribadi akan menggarap tulisan ini dengan sungguh-sungguh untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut. Adapun kelemahannya adalah tugas kita bersama untuk terus memperbaikinya guna menghasilkan karya-karya yang lebih baik untuk masa yang akan datang.
BAB IV. PAPARAN DAN ANALISA DATA.
Ada yang unik ketika saya mulai melakukan observasi tentang masalah ini, yakni adanya sebuah rasa kebanggaan dari masing-masing Mahasiswa atas diri mereka, dimana mahasiswa merasa bangga dengan jalur masuk yang mereka lewati, meskipun kebanggaan mereka dalam aspek dan sudut pandang yang berbeda-beda. Observasi ini saya mulai dengan mewawancara dua orang, yakni mahasiswa jalur Bidik Misi dan mahasiswa jalur Mandiri. Mahasiswa jalur bidik misi tersebut dengan wajah berseri-seri menyatakan kebanggaannya sebagai mahasiswa yang masuk dengan jalur Bidik Misi, karena itu berarti di telah memiliki kemampuan khusus dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain. Disisi lain mahasiswa jalur Mandiri yang saya wawancari juga tidak kalah antusiasnya menyatakan kebanggaan terhadap jalur masuk yang ia lewati. Ternyata ada sudut pandang yang berbeda yang terjadi waktu itu, si mahasiswa jalur bidik misi memandang hal itu dari segi skill, sehingga ia bangga. Sedangkan si mahasiswa jalur mandiri memandang dari sudut ekonomi, karena dengan masuknya ia melalui jalur mandiri, itu menunjukkan orang tuanya mampu untuk membiayai kuliahnya.
Jika kita lihat cuplikan di atas, kita menemukan sebuah relasi yang terjadi di kalangan mahasiswa tersebut, yakni relasi individu dengan dirinya dan relasi antara individu dengan keluarganya. Relasi individu dengan dirinya maksudnya, hubungan seseorang dengan dirinya, diri disini memiliki tiga system keperibadian yakni Id (jiwa), Ego (pelaksana dorongan id) dan Superego atau uber ich (kata hati) berhubungan dengan lingkungan sosial. Adapun bentuk relasi antara individu dengan keluarganya maksudnya, hubungan antara si mahasiswa tadi (jalur mandiri) yang bangga karena bisa dibiayai oleh orang tua, disana ada relasi antara dirinya dengan orang tuanya. Dengan orang tua, dengan saudara-saudara sekandung, terjalin relasi biologis yang disusul oleh relasi psikologis dan sosial pada umumnya[3].

Memahami Pengertian Status Sosial di Kalangan Mahasiswa dan Jalur Masuk Mereka.

Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Ini penegertian menurut Ralph Linton[4]. Sedangkan jika dalam konteks pembahasan kita sekarang ini, maka status sosial disini adalah dalam kontes lingkungan kampus, namun tidak menutup kemungkinan jika status sosial dalam perkampusan akan terbawa dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana kita ketahui sebuah aturan itu akan masuk dengan dua cara, yakni internalisasi dan institusionalisasi.
Adapun mengenai pengertian jalur masuk, adalah sebuah prosedur atau cara yang dilalui oleh mahasiswa untuk memasuki sebuah perguruan tinggi. Jalur masuk disini bereaneka ragam, seperti: jalur masuk BIDIK MISI yakni Bantuan Pendidikan Mahasiswa Miskin Berperstasi merupakan program Mentri Pendidikan Nasional, PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan) yakni jalur masuk yang dilakukan dengan cara mengirim nilai rapot ke Universitas yang bersangkutan, KHUSUS yakni jalur penerimaan mahasiswa baru yang khusus diadakan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, disini mahasiswa minimal harus menghafal 8 jus, SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), SPMB PTAIN (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Islam Negeri), MANDIRI yakni jalur masuk perguruan tinggi dengan cara mengikuti tes langsung di Universitas yang bersangkutan[5].
Jadi status sosial pada mahasiswa yang terjadi dengan adanya jalur masuk yang berbeda adalah status sosial yang muncul dikalangan mahasiswa yang disebabkan karena adanya jalur masuk yang berbeda-beda. Hal ini dikenal dengan istilah status informasional, yang ukuran paling umum dari status informasional adalah pendidikan, baik diukur menurut lamanya menempuh pendidikan formal, atau menurut derajat kesukaran ujian yang dilalui[6].

Mengidentifikasi benih-benih diferensiasi sosial di kalangan Mahasiswa.

Dalam mengidentifikasi benih-benih status sosial, disini tentunya dengan observasi, dan disini saya akan memaparkan benih-benih yang pada dasarnya sudah ada dalam diri mahasiswa, sebelum memasuki sebuah perguruan tinggi. Sebagaimana hasil wawancara-wawancara yang saya lakukan dengan beberapa mahasiswa, sebagaimana yang saya paparkan di awal pembahasan ini.  
Adapun benih-benih deferensisi tersebut dapat kita lihat pada background mereka, dimana mereka (para mahasiswa) datang dari berbagai daerah yang berbeda-beda, dengan letak geografis yang berbeda dan tingkat perekonomian yang berbeda-beda pula[7]. Sehingga dengan hal itu diferensiasi telah ada jauh sebelum mahasiswa mengikuti tes ujian masuk dengan jalur yang berbeda-beda. Dan setelah mereka memasuki sebuah perguruan tinggi dengan jalur yang berbeda-beda, maka hal itu semakin memperparah diferensiasi sosial yang terjadi di kalangan mahasiswa. Dan dampaknya pada status sosial, para mahasiswa akan berlomba-lomba untuk membanggakan diri dengan jalur masuk yang mereka lalui yang pada akhirnya akan membentuk status sosial yang tentunya berbeda-beda, meskipun masih dalam konteks relasi diri dengan lembaga.


Kemungkinan adanya kecurangan dalam pengurusan jalur masuk, atau kepentingan golongan.

Pemabahasan dalam bagian ini hanya sebagai tambahan, hal ini karena banyak kami temukan keluhan-keluhan dari para responden yang kami wawancarai, banyak di antara mereka yang merasa dibohongi oleh pihak kampus, seperti para mahasiswa jalur KHUSUS, yang dijanjikan akan digratiskan kuliah selama empat tahun bahkan sampai S2. Namun kenyataan yang mereka lihat hingga saat ini, tidak ada apa-apa yang diberikan dari pihak kampus, mereka kecewa bahkan mereka memvonis bahwa kampus telah menipu mereka.
Demikian tadi dari kasus jalur khusus, berbeda lagi dengan Jalur BIDIK MISI, banyak keluhan yang kami dengar dari para Mahasiswa, terutama mereka yang masuk dengan jalur mandiri, mereka menganggap bahwa ada kecurangan yang terjadi dalam perekrutan mahasiswa, itu terbukti dengan adanya mahasiswa yang meskipun kaya dan tidak begitu pintar mendapatkan beasiswa ini (Bidik Misi). Hal ini memunculkan kecemburuan sosial yang pada akhirnya nanti akan memberikan dampak status sosial yang semakin terkikis.
Banyak lagi kasus lain yang kami temukan. Namun kami cukupkan saja sampai disini, karena ini bukan inti dari tulisan ini, ini hanya sebagai gambaran kecil saja, yang mungkin nanti bisa direspon dengan yang lebih bijak dari pihak kampus UIN sendiri, dan mungkin kasus-kasus diatas hanya kesalah pahaman saja. Allahu A’lam. Namun demikian hal ini setidaknya memberikan guncangan kehidupan sosial dalam ranah kehidupan kampus.

Dampak status sosial yang akan terjadi dengan adanya jalur masuk yang berbeda-beda.

Setelah menyimak pemaparan diatas maka kita akan menukan bahwa status sosial yang ada di mahasiswa itu dipengaruhi oleh jalur masuk mereka yang berbeda-beda. Dimana mahsiswa yang masuk dengan jalur Bidik Misi lebih merasa tinggi dari pada yang lainnya karena mereka masuk dengan kemampuan yang bisa dikatakan luar biasa. Itu karena mereka melihat dari sisi kemapuan atau kepintaran mereka. Namun disisi lain Mahasiswa yang lainnya juga akan membanggakan dirinya yang masuk dengan jalur yang mereka lewati karena memandang dari sisi yang berbeda. Misalnya mahasiswa jalur Mandiri akan mengatakan bahwa saya masuk ke perguruan tinggi ini melalui jalur mandiri, itu berarti saya memiliki kemapuan ekonomi di atas rata-rata. Lain halnya dengan Mahasiswa yang masuk dengan jalur SNMPTN akan mengatakan kebanggaannya pada diri mereka sendiri karena dengan alasan yang berbeda lagi, begitu seterusnya. Sehingga akan membentuk individualisme, dalam hal relasi individu dengan dirinya, yang hal ini akan berkembang menjadi relasi dengan keluarga, kemudian relasi dengan lembaga sampai akhirnya nanti relasi dengan nasion. Pembahasan lebih lanjut tentang interaksional individu bisa di baca di buku Ilmu Sosial Dasar karangan Dr. M. Munandar Soelaeman.[8]
 Perbedaan status sosial yang terjadi semakin diperparah dengan sebuah komunitas mahasiswa yang dibentuk pada 2010 lalu yaitu keluarga besar bidik misi atau yang sering disingkat KB2M kelompok atau asosiasi ini muncul untuk mewadahi mahasiswa-mahasiswa bidik misi. Ketika saya konfirmasi tentang hal ini kepada salah seorang staf kemahasiswaan, ia mengatakan bahwa hal ini penting dilakukan untuk melihat kemampuan mahasiswa-mahasiswa yang secara tidak langsung telah diberikan kepercayaan oleh Negara dengan cara di biayai seluruh perkuliahannya dari biaya kuliah sampai biaya hidup mereka, tuturnya sambil menyunggingkan senyumnya sedikit.
Lebih lanjut Bapak Hudi (salah seorang Staf kemahasiswaan tadi) mengatakan bahwa pengorganisasian Mahasiswa Bidik Misi ini penting untuk mempermudah dalam pencairan dana beasiswa nantinya. Namun masalah yang saya jumpai tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan Bapak Hudi tadi, ketika saya berbincang-bincang dengan beberapa Mahasiswa jalur Bidik Misi mereka mengaku kecewa, karena pencairan dana yang molor dari pihak kampus bahkan sampai tiga bulan berjalan, para mahasiswa Bidik Misi ini belum juga mendapatkan hak mereka. Ketua Organisasi inipun ketika saya menanyakan hal ini sedikit emosi karena ia sebagai ketua merasa dijadikan bola oleh para Staf Kemahasiswaan dan para pembantu Rektor. Beberapa kali ia harus bolak balik dari kantor kemahasiswaan ke kantor rektorat, namun tidak ada realisasi dari para dosen, bahkan hanya memberikan solusi yang tidak begitu membantu.
Dari permasalahan di atas, Nampak seperti masalah diatas masalah, komunitas yang ada bukan justru menjadi alat mempermudah namun semakin memberikan kesempatan kepada paramahasiswa untuk bersatu dan sedikit saja para dosen “khilaf”, maka akan diintimidasi curang lah, penipu lah dan lainnya. Jadi penerimaan mahasiswa dengan jalur yang berbeda-beda tidak hanya menimbulkan status sosial yang berbeda, namun juga masalah-masalah ketimpangan sosial yang lainnya. Sehingga mungkin hal ini perlu untuk diperhatikan oleh para dosen dan seluruh jajaran pengurus yang ada untuk memperbaiki system yang ada, agar hal-hal seperti ini bisa dihindari. Saya tidak mengkeritik, saya hanya meneliti dan inilah yang saya dapatkan dari penelitian saya.





BAB V. KESIMPULAN
Setelah menyimak teori dan observasi diatas kami berkesimpulan bahwa adanya perbedaan jalur masuk pergruan tinggi akan memberikan dampak diferensiasi sosial dan perubahan status sosial yang akan muncul dengan hal tersebut, karena pada dasarnya para individu mahasiswa telah membawa karakteristik yang berbeda-beda dari daerah masing-masing yang tentunya disana mencakup kebudayaan, adat istiadat dan status sosial mereka di daerah masing-masing. Jadi perlu adanya pengkajian system untuk menanggulangi keadaan ini, agar kampus tidak menjadi ajang pembanggaan status sosial namun bagaimana kampus menjadi perantara menuju kesatuan status sosial, yakni sama-sama seorang mahasiswa, sama-sama memiliki cita-cita dan dalam satu ideology yakni agama islam.
Mungkin hanya inilah hasil dari penelitian atau observasi yang kami lakukan yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan, yang hal itu adalah tugas kita bersama untuk memperbaikinya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para mahasiswa-mahasiswa yang telah merelakan waktunya untuk menjawab pertanyaan saya dan telah menjadi responden yang baik, jazakumullahu khoirol jaza’. Dan akhirnya semoga tulisan observasi ini bermanfaat untuk kita semua.



[1] Ilmu Sosial Dasar, Munandar Soelaeman. Cetakan Ke tigabelas: Februari 2008.
[2] Metode penelitian bidang sosial, Hadari Nawawi. Cetakan juli 2007.
[3] Munandar Soelaeman, 2008: 124
[4] http://organisasi.org
[5] Jalur masuk disini adalah jalur masuk yang ada di UIN Maliki Malang tahun 2010. Bisa jadi berbeda dengan universitas-universitas lain, atau untuk tahun selanjutnya.
[6] Diferensiasi Sosial, Kaare Svalastoga. Cetakan pertama, februari 1989. Hlm 43.
[7] Munandar soelaeman,2008: 147.
[8] Ilmu sosial dasar. Munandar soelaeman, cetakan 2008 penerbit PT Refika Aditama. Bandung.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz