Minggu, 29 Mei 2011

Kongres PSSI


Keadaan persepakbolaan Indonesia dewasa ini telah menunjukkan perkembangan yang pesat dan telah menanamkan jiwa sportifitas dalam masyarakat kita, sebagaimana dengan apa yang telah kita lewati beberapa bulan lalu, yakni liga AFF SUZUKI CUP 2010, dimana Timnas Indonesia telah berhasil tembus final kendati harus puas dengan posisi runner up.
Akan tetapi belakangan hari ini, kita digiurkan dengan keadaan PSSI yakni organisasi terbesar di Indonesia yang khusus mengurus tentang persepakbolaan Indonesia yang kini tengah gempar-gemparnya tentang pengurus baru di tubuh PSSI sendiri. Perpecahan golongan yang disebabkan oleh perbedaan pendapat dikalangan masyarakat kita untuk menjadikan calon pemimpin baru PSSI, di antara mereka ada yang mendukung Nurdin, ada yang mendukung  Gorge Tuisutta dan lain sebagainya, berbagai macam pilihan masyarakat kita. Hal inilah yang menyebabkan konflik yang bisa dkatakan amat berkepanjangan ini. Yang menjadi masalah inti sebenarnya adalah ketidak bolehan beberapa calon yang diajukan masyarakat kita untuk menjadi ketua pssi karena adanya syarat dari organisasi sepak bola dunia, FIFA  yang tidak bisa dipenuhi oleh calon yang bersangkutan, sementara masyarakat bersikukuh untuk menjadikan kandidat mereka masing-masing.
Keadaan ini semakin parah dengan semakin bergulirnya waktu, bagaimana tidak, kasus yang Nampak sederhana ini penuh lika-liku yang lebih disebabkan oleh tarik-menarik keinginan dari berbagai kelompok pendukung masing-masing kandidat yang akan menjadi calon keua PSSI. Keadaan yang berlarut-larut ini telah mengundang perhatian FIFA, dan mau tidak mau harus ikut turun tangan karena sebagai  perannya adalah pengurus terbesar untuk persepakbolaan di dunia. Sehingga benar saja, beberapa kali Indonesia dikirimi surat langsung dari markas FIFA yang ada di Swiss, dalam pernyataannya FIFA telah menegur Indonesia dalam ketidak profesionalannya menangani persepakbolaan di negaranya.
Karena kasus yang terus berlarut-larut tanpa kepastian itu, FIFApun membentuk komite Normalisasi yang diketuai oleh mantan ketua PSSI sendri, Agum Gumelar. Dalam orientasinya, komite normalisasi bertugas untuk menormalkan keadaan di tubuh PSSI yakni dengan segera melaksanakan kongres.
Keterangan diatas hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang ada ditubuh PSSI. Yang pada dasarnya sangatlah luas karena kasusnya yang terus mengembang. Dalam tulisan ini saya akan meliput beberapa hal tentang kongres yang beberapa hari lalu telah diagendakan oleh Komite Normalisasi.
Kongres PSSI yang bertujuan untuk membentuk pengurus baru di tubuh PSSI diagendakan akan dilaksanakan tanggal 20 mei 2011. Meski sebelumnya telah diadakan beberapa kongres di beberapa daerah, seperti di Pekan Baru, Riau. Kongres yang bertujuan untuk menentukan komite pemilihan dan komite banding tersebut telah dilaksanakan pada bulan maret lalu, namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan, sehingga kasus inipun tidak terselesaikan hingga saat ini.
Kongres yang diadakan beberapa waktu lalupun harus gagal yakni kongres yang tanggal 20 mei di Jakarta, karena masih kurangnya kesadaran berjamaah dalam menangani kasus ini, bahkan kongres sebagaimana yang kami temukan di Koran kompas, terkesan semeraut, tidak mempedulikan intrupsi dari peserta lain, suara mereka saling bertabrakan begitu saja dalam ruang sidang yang dilaksanakan di hotel berbintang tersebut. Bahkan beberapa orang juga mengatakan bahwa kongres di Jakarta terkesan kekanak-kanakan.
Menanggapi hal tersebut menteri olah raga dan pemuda, Menpora Andi Malarangeng mengatakan bahwa butuh kesadaran hukum untuk menyelesaikan konflik ini. Komite normalisasi pun kini harus menggulung jerih payah sebelumnya karena itu berarti mereka telah gagal dalam menormalkan keadaan di tubuh PSSI, meski belum final.
Dalam beberapa pemberitaan dikatakan bahwa,”Gagalnya Kongres PSSI bukan karena ketidakmampuan Komite Normalisasi yang diketuai  Agum Gumelar, tetapi tidak berhasilnya kongres memilih ketua PSSI disebabkan Kelompok 78 sama sekali tidak paham dan tidak mengerti akan hokum”.
Seharusnya, kalau kelompok itu terus bertahan mengusung George Toisutta dan Arifin Panigoro, secara hukum jelas bukan di kongres forumnya. Sebab kedua calon itu oleh FIFA  sudah ikut pencalonan Ketua Umum PSSI.
"Secara hukum, sebenarnya kedua calon itu tidak harus dipaksakan lagi untuk muncul di kongres sebab kedua calon sudah di tolak oleh FIFA," ujar pemerhati hukum JS Simatupang SH di Jakarta, Selasa.
Dijelaskan Simatupang, kedua calon yang dicoret itu secara nyata dan fakta mengakui keberadaan FIFA, di mana ketika nama mereka tidak diperbolehkan maju sebagai calon, George Toisutta dan Arifin Panigoro, langsung mengajukan banding, tetapi FIFA lewat suratnya tertanggal 6 Mei 2011 menegaskan Komite Banding Pemilihan tidak boleh memproses banding calon ketua umum PSSI yang dinyatakan tidak eligible.
Dalam suratnya kepada KN itu, FIFA juga menegaskan adanya sanksi bila keputusan ini dilanggar. Dasar keputusan ini adalah surat Komite Darurat FIFA tertanggal 4 April 2011 tentang empat kandidat (Nurdin Halid, Nirwan D Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta) yang tidak boleh ikut pencalonan Ketua Umum PSSI.
Ketidakpahaman kelompok ini akan hukum makin terlihat saat Kongres di mana K-78 ngotot mengajukan Toisutta dan Panigoro sebagai bakal calon Ketum  PSSI. Dikatakan, mereka tetap saja memaksakan kehendak padahal keduanya sudah ditolak
"Jika mereka paham hukum, tentu  dengan penolakan resmi dari FIFA, Kelompok 78 ini tidak pantas lagi memperjuangkan orang yang tidak diakui FIFA di forum kongres. Ini kok ngotot mengajukan orang yang tidak diakui FIFA," ujar Simatupang.
"Kalau mereka mengakui FIFA dan hadir dalam kongres PSSI itu, seharusnya pendukung kedua calon yang sudah dilarang itu, menghormati kongres dan tidak memaksa kehendak,” jelas Simatupang.
Sebagai pecinta sepakbola, Simatupang meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret agar sepakbola Indonesia bisa diselamatkan dari ancaman FIFA.
Pelatih Tim Liga Super Indonesia (LSI) Daniel Rukito, menyayangkan kekisruhan yang terjadi pada kongres PSSI beberapa waktu lalu itu, ia memandang bahwa kekisruhan yang terjadi di tubuh PSSI akan memberikan dampak pada perkembangan persepakbolaan Indonesia, terlebih jika Indonesia mendapat sanksi dari FIFA akan semakin berat nantinya. Dia menambahkan jika sanksi FIFA dijatuhkan kepada Indonesia, maka pelatih dan pemain yang akan kena dampaknya, pelatih tidak bisa fokus pada target-target yang direncanakan. Pemain-pemain muda juga akan kehilangan motivasi, karena tidak adanya target internasional.
Jika keadaan terus berlanjut seperti ini, maka kemungkinan besar persepakbolaan kita yang akan menjadi korban, disamping karena tidak adanya kejelasan yang menghampiri mereka, juga hal ini akan memicu sangsi berat dari FIFA, sebagaimana keterangan di atas. sehingga agenda-agenda yang pada dasarnya harus dilaksanakan bulan ini, harus dialihkan  dan diganti dengan pembahasan permasalahan yang berlarut-larut ini.
Kita semua berharap akan solusi yang tepat dan cepat, karena semakin berlalrut-larut, maka akan semakin banyak pihak yang akan menorehkan mata pada kasus ini, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa dunia sudah mulai mencium perseteruan PSSI ini, bahkan di beberapa Negara kasus ini telah diperbincangkan dan diberitakan di stasiun-stasiun televisi asing seperti di Australia..
Dengan demikian, kasus PSSI tidak hanya akan memundurkan persepakbolaan kita, namun lebih jauh akan mengancam nama baik Indonesia sendiri. Maka dengan itu, kita semua berharap permasalahan ini terselesaikan dan segera membenahi tubuh PSSI yang kini mungkin telah di ujung tanduk. Tentunya dengan partisipasi semua elemen, mulai dari pemerintah,LSM dan masyarakat Indonesia umumnya.



Sumber:
Koran Harian Kompas
Koran Harian Jawa Pos.
Koran Harian Republika

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz