Rabu, 11 Mei 2011

Mengubur Masa Silam


Mengantarkan masa silam menuju kuburan kenangan, melipat janji yang telah terbungkus jelaga, melempar botol ke tengah samudra.
Hari ini, aku menyanyi bersama jiwaku. Menelaah hidup untuk merapikannya. Perlahan aku mulai berjalan mundur menyusuri jalan setapak dalam masa silam, kulihat jutaan pohon mengering tertelan panas matahari, bau tanah begitu merasuk penciumanku yang gersang dalam pemikiranku. Rekayasa yang diciptakan panas seperti kesejukkan menipu jiwa yang tengah tergoda. Ku ingat jelas wajah orang yang begitu indah dulu ketika ia memanjakanku.
Memperhatikan tubuhnya seperti memandang matahari yang tertelan awan, menyinari namun terpendam diantara lipatan awan di muka langit. Ku singkirkan awan pekat itu dengan meminjam sapu Tuhan. Perlahan nampaklah wajah berbinar itu.
Ada yang aneh ketika aku sampai pada salah satu bagian tubuhnya, terpahat jelas dibagian itu kenyataan yang ia ukir kemarin, ia telah meninggalkan kegadisannya dengan lengkungan janur kuning yang memecah harapan.
Saat itu.. 
Malam menjamah lembut tubuhku, meraba relung jiwa yang tengah bercakap denganku. ku lepas peluh yang selama ini membungkus raga. kenyataan hari ini telah menghapus jejak-jejak cinta yang telah tercipta dari perjalanan panjang tentang hidup yang mendambakan kebahagiaan. Hembusan angin kebahagiaan yang bertiup setelah badai penderitaan adalah surga yang Tuhan titipkan kepadaku untuk mengejewantahkan rasa sakit.
Merasakan mata air cinta dari Tuhan, dengan secarik kebahagiaan yang ia bungkus dalam perjalanan suci, mengantarkan aku pada kesadaran yang membungkus mimpi dengan mata terbuka. 
Mata air itu kini telah mengalir menenggelamkan bebatuan busuk yang terpendar di sungai kenangan, membentuk aliran jernih yang terpahat dalam waktu yang membawa sejuta kedamaian.
Aku bahagia dengan cinta, namun aku tidak akan pernah lupa bahwa cinta telah meracuni tubuh yang bersandar dalam harapan. Kan kubuang harapan itu, kan kukuburkan tubuh wanita itu dalam kuburan masa silam yang aku tandai dengan garis cahaya matahari yang membias dalam dedauanan di pohon keabadian. 
Cahaya telah redup, matahari telah lemah, cinta telah mati. Yang ada hanya kenyataan membungkus mimpi dan harapan yang selalu tertanam untuk menumbuhkan pohon cinta Tuhan. Harapan yang bukan sekedar mimpi, namun lebih jauh, adalah harapan yang mengakar dalam pohon-pohon venus yang tertanam dalam hutan kerinduan.  

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz