Minggu, 29 Mei 2011

Menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme melalui monumen-monumen nasional


Siapa yang tak mengenal  monument nasional atau Monas? Monument kebanggaan Negara yang satu ini, amat megah berdiri di tengah-tengah Jakarta pusat. Ia merupakan lambang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. kenyataan yang terpahat tentang perjuangan bangsa Indonesia terlukis dalam bentangan patung-patung pahlawan di tempat ini. Semua merasuk dalam pikiran kita jika kita menyaksikan monas secara nyata. Monas adalah salah satu contoh monument dari monument-monumen peninggalan masa silam bangsa Indonesia yang ada di Jakarta.
Mengunjungi Jakarta, rasanya belum lengkap jika tidak mampir menuju tempat yang satu ini, pemandangan yang indah dengan taman-taman yang membentang mengelilingi monument ini memberikan nuansa lain dalam kota Jakarta. Di tengah-tengah kegersangan dan kepadatan kota Jakarta, akan tersa seperti melihat oase di tengah gersangnya padang pasir jika menyinggahkan mata di taman nasional ini.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk menelusuri makna di balik monument nasional ini. Tulisan ini terinspirasi dari kunjungan saya beberapa waktu lalu ke Jakarta dan Alhamdulillah dapat mapir di tempat bersejarah ini. Semoga nantinya dapat memeberikan manfaat kepada kita semua, terutama kepada generasi muda yang penting sekali rasanya menyarangkan kepahlawanan dalam dada-dada mereka, lebih-lebih ditengah kegersangan jaman yang perlahan mengikis nilai-nilai nasionalisme bangsa ini.
Aroma perjuangan bangsa Indonesia begitu pekat merasuk dalam penciuman jiwaku, disaat kakiku perlahan memasuki gerbang taman nasional Monas, terasa seperti bercengkrama dengan roh-roh para pahlawan yang dulu telah mengorbankan seluruh jiwa raga mereka hingga nama-nama mereka kini bersandar dalam keabadian melalui monumen suci ini.
Ku perhatikan bagian demi bagian dari tempat ini, di utara monas terdapat patung Diponegoro dengan Kuda Jantan yang menjadi tunggangannya, persis seperti ketika ia dalam pertempuran sengit. terlukis dalam jiwaku tentang perjuangan pangeran Diponegoro melawan penjajah belanda, perlahan dadaku tergetar dan merasuk halus jiwa-jiwa tenang dalam jiwaku seolah berbisik, “engkau harus mengikuti semangatnya”. Merespon ajakan jiwaku, aku perlahan menganggukkan kepala. Nampak pula lidah api yang membara di ujung tertinggi bangunan ini, Nampak seperti api obor yang menjilat-jilat angkasa. Api itu melambangkan semangat yang tidak pernah padam.
Dewasa ini keadaan kaum muda begitu memprihatinkan, disaat arus globalisasi yang semakin deras merasuk dalam kehidupan kita, begitu juga semakin lunturnya jiwa-jiwa spiritual dan kepahlawanan dalam dada mereka, ibarat arus badai yang mengikis dataran sungai dan membawa aliran yang deras bercampur lumpur yang pekat bahkan sampai merusak beberapa rumah penduduk di sekitarnya.
Kenyataan inilah yang membuat kita harus menahan perih dalam jiwa kita yang secara tidak langsung, merupakan tanggung jawab kita semua untuk menyelamatkan generasi muda kita. Di tambah lagi dengan semakin mahalnya biaya pendidikan sehingga minat sekolah yang sudah mau hilang ditindas lagi dengan biaya pendidikan, makin memperparah keadaan kita di jaman yang seperti dikatakan Ronggo Warsito adalah jaman edan ini.
Menanggapi permasalahan yang semakin rumit ini, penulis mencoba menawarkan solusi yang mungkin tidak begitu realistis, namun jika kita meninjau lebih lanjut, saya yakin ini adalah sesuatu yang bermanfaat untuk kita renungkan guna mengantisipasi kehancuran kaum muda di jaman yang serba salah ini.
Meminjam perkataaan Muhammad Hatta dalam sebuah sambutannya di Yogyakarta, “Agama dan sejarah memperluas pandangan agama”, kita menyadari betapa pentingnya nilai agama dan sejarah dalam kehidupan kita, terlebih dalam hidup bernegara, kita tidak bisa dikatakan bangsa yang besar jika kita tidak menghargai sejarah bangsa kita sendiri, demikian kata presiden pertama Indonesia Ir Soekarno.
Lantas sejauh mana sejarah telah merasuk dalam kehidupan kita? Sejauh mana kita mengkaji sejarah untuk membangun sesuatu yang lebih baik setelah belajar padanya? Kita harus meraba jiwa kita dalam-dalam dan menyaksikan posisi pendahulu kita dalam jiwa kita, guna meminjam kekuatan mereka dulu ketika mereka melawan penjajah untuk menegakkan bendera sang merah putih dalam lahan kehidupan yang tak terikat.
Mempelajari sejarah, tidak hanya melewati buku-buku sejarah. Misalnya ada teman-teman yang beralasan males baca, atau karena gk ada uang untuk beli buku dan sejuta alasan untuk mengikuti kemalasan yang bersandar dalam jiwa. Kita bisa saja menemukan sejarah dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau seperti musium-musium kepahlawanan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya adalah monas di Jakarta.
Banyak sekarang kita lihat, pemuda-pemuda sibuk dengan kegiatan yang konon katanya untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat yang dizholimi oleh pemerintah, dan juga mahasiswa-mahasiswa yang yang sok aktivis, menyibukkan diri mereka dengan sesuatu yang sangat sia-sia, hingga mereka lupa pada tujuan yang sebenarnya yakni cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana yang tertera jelas hingga sekarang dalam pancasila.
Mereka melakukan aksi demo, dengan turun jalan, berkumpul di lapangan bahkan sampai acara rusak merusak gedung-gedung pemerintah seperti yang sering terjadi dewasa ini. Dimana letak sila kedua? Dimana letak sila ketiga? Dan sekarang juga kita melihat orang-orang berlomba-lomba saling mengkafirkan, menganggap golongan diri yang paling benar, bahkan sampai main hakim sendiri untuk menutup eksistensi ajaran yang mereka nilai telah menyimpang dari jalur yang mereka lewati. Dimana letak sila pertama?
Bukti-bukti di atas adalah sebagian kecil dari kenyataan masyarakat kita yang kini telah mulai meninggalkan ajaran pokok bangsa mereka yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan adanya peninggalan-peninggalan sejarah bangsa, mari kita gali nilai-nilai luhur yang tertanam di monumen-monumen bersejarah bangsa ini, guna menyentuh kembali jiwa-jiwa masa lalu yang kini telah bertanah namun kekuatannya masih memancar menggapai langit memberikan cahaya dalam jiwa-jiwa yang mau menggalinya.
Semoga jalan-jalan setapak yang menghubungkan dunia kita dan dunia mereka bisa kita perjelas guna menembus keberadaan mereka untuk mengambil semangat dan jiwa luhur mereka guna memperbaiki moral bangsa yang kini sudah mulai rapuh.

1 komentar:

muazzin al yaman mengatakan...

kak i minta no pelinggih

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz