Senin, 27 Juni 2011

Manusia Sebagai Mahluk Berbudaya


Jika kita berbicara tentang manusia sebagai mahluk berbudaya, berarti kita akan memandang manusia dari kacamata budaya. Mengenai hal ini sepertinya sudah cukup banyak pendapat atau bukti manuisa sebagai mahluk yang berbudaya. Tulisan ini hanyalah sebagai kecil dari tulisa-tulisan yang menjelaskan manusia sebagai mahluk berbudaya, namun demikian dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan tentang permasalahan ini dengan mengaitkan dengan agama islam. tentunya dengan sumber-sumber yang saya pandang penting dalam menunjang tulisan ini.
Baiklah kita mulai permasalahan pertama dengan memahami kata manusia, karena pada dasarnya dalam permasalahan ini ada dua kata kunci yang perlu kita pahami yakni manusia dan budaya.
A.  Manusia.
Dalam sudut pandang etimologi banyak pendapat yang mengemukakan tentang kata manusia, seperti kata manusia itu berasal dari kata manu (sangsekerta), mens (latin) yang berarti berfikir, berakal budi atau mahluk yang berakal budi[1]. Dalam kamus besar bahasa Indonesia manusia diartikan sebagai mahluk yang berakal budi[2].
Adapun manusia dalam sudut pandang terminologi, kita bisa melihat dari berbagai macam bidang keilmuan. Misalnya dalam kacamata biologi manusia diartikan sebagai spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan[3].
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa manusia adalah suatu mahluk yang meiliki ciri tertentu dan memiliki keintelektualan yang tinggi dan membutuhkan kepada yang lainnya. Yang lainnya di sini entah kepada tuhan atau kepada sesama mahluk.
B.  Budaya.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia[4].
Dalam arti terminologi budaya adalah sebuah system yang memiliki koherensi[5].  Menurut E.B Taylor (1987) kebudayaan meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral hukum, adat istiadat, pembawaan lain yang di peroleh dari anggota masyarakat yang terbentuk dari anggota masyarakat yang terbentuk dari pemahaman suatu bangsa.
Menyadari bahwa budaya atau kebudayaan merupakan istilah yang di terjemahkan berbeda-beda oleh para ahli, saya hanya ingin mengatakan bahwa budaya adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Hal ini untuk tidak memperuncing permasalahan yang akan membuat tulisan ini tidak bisa selesai nantinya.
Setelah kita mengetahui tentang manusia dan budaya, sekarang kita akan mulai berbicara permasalahan inti,   yakni manusia sebagai mahluk berbudaya.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa budaya adalah sesuatu bagian dari manusia tidak akan pernah terpisahkan, karena tabiat manusia itu sendiri adalah berbudaya. Kenapa begitu? Jika kita melihat arti manusia secara bahasa, yakni dari kata manu, memiliki arti berfikir, berakal budi. Dan budaya sendiri dalam arti bahasa berarti akal atau budi. sehingga jika kita menarik garis lurus antara arti kata manusia dan budaya, maka kita akan mendapatkan dua kata kunci, yakni akal dan budi. hal ini menunjukkan keterkaitan diantara keduanya. Mengenai keterkaitan keduanya kita bisa memperhatikan gambar di bawah ini:
                             
Jika kita melihat keadaan di sekeliling kita banyak sekali contoh-contoh yang menunjukkan manusia sebagai mahluk yang berbudaya, misalnya, kebiasaan masyarakat untuk mengadakan sholawatan dalam rangka menyambut maulid nabi besar Muhammad SAW, mengunjungi makam para wali, budaya bau nyale[6] di wilayah nusa tenggara barat. Dan berbagai macam budaya lain di nusantara ini yang sampai sekarang masih tetap di laksanakan karena kepercayaan mereka kepada nenek moyang mereka, sekaligus sebagai bukti bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya.  
Dalam Al qur an sendiri ada beberapa ayat-ayat Al qur an, yang menunjukkan manusia sebagai mahluk yang berbudaya, misalnya dalam firman Allah: “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam  merupakan tanda bagi orang-orang yang berfikir. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dengan cara berdiri, duduk ataupun berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, maka mereka berkata, ya tuhan kami,tidaklah kau menciptkan semua ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka lindungilah kami dari api neraka”[7].
Pada ayat di atas kita menemukan kata berfikir pada ayat pertama yang merupakan arti manusia, dan pada ayat kedua kita menemukan kata mengingat Allah (akhlak/budi) yang merupakan arti kata budaya, sehingga dengan demikian nyatalah alas an kita kiranya jika kita mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya. Karena hanya orang yang berbudayalah yang bisa menggapai derajat yang telah Allah janjikan dalam surat Al mujadalah ayat 11. Dengan demikian marilah kita selalu memperbaiki diri kita sebgai mahluk yang berbudaya dan semakin bersemangat terus untuk mengembangkan budaya kita, tentunya budaya yang di pandang benar oleh syariat.  



[1] http://ridwan202.wordpress.com/2008/10/16/manusia-sebagai-makhluk-budaya/#_ftn1
[2] Kamus besar bahasa Indonesia, departemen pendidikan dan kebudayaan.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/budaya
[5] Kuntawijoyo (budaya dan masyarakat, 2006)
[6] Bau nyale adalah budaya masyarakat Lombok yang diadakan sekali setahun untuk mengenang hilangnya putri kerajaan mandalika, kerajaan Lombok selatan yang konon hilang ditelan ombak. Ia melompat ke laut karena tidak bisa memilih satu dari sekian banyak pangeran yang melamarnya. Masyarakat Lombok percaya bahwa nyale (sejenis cacing yang berwarna hijau keemasan) adalah jelmaan dari putri mandalika tersebut. Bau adalah bahasa Lombok yang berarti menangkap.
[7]  Ali ‘imron: 190-191

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Makasih infonya..

warok akmaly mengatakan...

iya sama2...

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz