Selasa, 21 Juni 2011

Memahami Kegagalan



Ketika kesunyian malam mulai berbau dengan munculnya cahaya kemerahan, adalah isyarat kenyataan yang terbuai dalam pelukan waktu, perlahan mengejewantah dalam lantunan suara kereta.
Ku berdiri di salah satu daun pintu kereta, kulihat alam sedang sibuk di luar sana karena kedatangan kereta. Beberapa dedaunan tebu milik petani menyisir badan kereta. Suara gemuruh krikil yang terlindas kereta berteriak tanpa ada yang memahami kesakitannya. Aku tetap menyimak alam dengan pendengaran jiwa yang kini tengah terkulai lemas. Seperti angin yang bergerak cepat menabrak muka kereta, segalanya terjadi. Segalanya tiada yang saling memahami. Karena tiada jiwa yang memahami dan tiada kuping yang mendengarkan. Segalanya dalam desahan nafas alam yang tak terbaca.
Sore itu, angin menari-nari di pendengaranku, membisikkan isyarat alam yang tengah terganggu dengan laju kereta yang aku naiki. Sementara di luar sana, beberapa orang harus terperangkap menunggu laju sang biang keributan yang mengganggu jalur mereka, beberapa diantara mereka dengan wajah ketulusan ada pula yang memasang wajah kejengkelan. Mereka tidak sadar telah tunduk terhadap sesuatu yang mereka benci.
Sementara dalam kereta itu, orang-orang silih berganti menjajakan barang mereka, ada yang menjajakan makanan, ada yang menjajakan minuman, ada pula yang menjajakan nasip yang tengah mereka lalui dengan segenggam rasa benci terhadap diri mereka untuk mengaih kasih dari para penumpang. Aku tetap merekam kejadian itu dalam alam pikiranku sambil mencoba menorehkannya dalam bentuk sajak sebagaimana yang sering aku lakukan. Sesekali aku harus meludah kedalam jiwa karena kebosanan yang menjamah dada. Namun jiwa berkata dalam kenyataan, bahwa mereka bergelintir seperti rel kereta mencari stasiun tempat orang akan menaikinya dengan secarik uang yang terwujud dalam kertas ungu yang kecil.
Menerawang Jakarta dalam pikiranku dengan sejuta wajah yang terekam saat dulu melihat ibu kota di layar kaca, sejuta Tanya dan sekian jawaban yang saling menimpali terhadap bayang-bayang ibu kota yang tak pernah terpikir aku akan mengunjunginya. Namun kini aku di tengah perjalanan menuju tempat metropolitan itu. Suara gemuruh malam dalam pekatnya goa sesekali menyelimuti kereta membuat gelap dalam penglihatan.
Suasana pekat yang terjadi di dalam kereta adalah pengalaman yang luar biasa yang ditorehkan oleh ribuan manusia yang mengisi kereta itu, kenyataan itulah yang memaksaku harus menerjemahkan sejuta karakter yang terbawa dalam kereta itu. Mulai dari tangisan anak kecil yang tak tau apa-apa, sampai sosok pereman yang kadang harus menjadi manusia paling lemah untuk memperoleh kasih berupa logam-logam putih dan kuning. Ada pula lelaki yang harus menjajakan kewanitaan yang terbungkus dalam penampilannya, ia membeli karakter wanita untuk mencari uang. Ia tidak mengerti ancaman Tuhan, bahkan mungkin tak mengerti keadilan Tuhan.
Malam semaking larut, kereta itu seperti tidak peduli dengan malam, ia tetap meunaikan tugasnya untuk menyampaikan tujuan penumpangnya, ia merekam malam untuk dititipkan kepada sang masinis yang tak mengenal badai gemuruh dari kendaraannya. Orang-orang mulai menyandarkan kepalanya pada kursi duduk kereta yang tidak begitu empuk, namun mereka menikmati kenyataan yang sengaja mereka beli. Ada yang terlentang di jalanan sempit antara dua barisan kereta, mereka tidak peduli orang yang akan melintasi jalan itu, yang ada hanya keinginan untuk menitipkan rasa kantuk pada tidur malam yang sepertinya sangat sulit dilakukan dengan duduk di kursi coklat yang membuat badan mereka sakit.
Aku tetap terjaga,,, merahasiakan mereka dalam pikiranku, kenyataan yang aku lihat adalah gambaran manusia yang hidup dari berbagai dimensi, mereka berkumpul dalam gerbong-gerbong berjalan menapaki jejak-jejak hidup yang beberapa waktu lalu mereka rencanakan.
Waktu di Hpku menunjuk jam setengah dua, isyarat pagi telah mulai menyapa, ku ambil air wduhu’ di kamar mandi kereta yang begitu sempit. Kulakukan solat duduk yang agama ajarkan kepadaku. Sesaat kemudian aku dalam percakapan dengan Tuhan, merabaNya dalam gerakan-gerakan kecil yang melambangkanNya. Kemudian aku antarkan pagi itu kepada mentari dengan ayat-ayat suci di mushaf kecil milikku. Suara manusia yang begitu banyak itu sepi… yang terdengar hanya kata-kata Tuhan yang keluar dari mulutku.
Pagi pun mulai menyunggingkan senyum isyarat kegelapan malam telah tertelan, kini mega merah memegang kendali lagi menyapa ummat manusia dengan senyuman indah yang Tuhan titipkan padanya.
Setelah delapan belas jam dalam gerbong itu, kini kami telah sampai di kota metropolitan Jakarta, kota yang sudah tidak asing lagi dalam pendengaranku, namun baru kali ini aku akan meletakkan kakiku di kota ini. Senen, adalah stasiun di ibu kota yang menjadi saksi bisu kedatangan kami di Jakarta ini, kota yang kata orang-orang sangat panas, namun karena beruntung, kami bersalaman dengan kota Jakarta dalam suasana hujan, sehingga keringat yang meleleh di tubuhku tadi di kereta kini tengah di hapus oleh udara dingin yang hujan titipkan dalam geraknya yang menyejukkan itu.
kami ke jakarta untuk membawa nama lembaga kami membungkusnya dalam ajang lomba yang diadakan di universitas Indonesia. Kami pergi bersama tujuh orang, tujuh orang tersebut di bagi menjadi dua kelompok yang mana satu kelompok terdiri dari tiga orang, sehingga terbentuklah dua tim yang mewakili kampus kami. Adapun yang satu orang adalah official, yakni pendamping bagi kami karena beliau tahun kemarin telah ikut dalam ajang ini. Kami terdiri dari empat laki dan tiga perempuan, semuanya terbagi dalam dua kelompok secara acak tadi, dan pria yang satunya sebagaimana yang saya katakana tadi adalah official kami. Official kami ini berciri-ciri: putih, ganteng, pinter, dan tentunya memiliki kemampuan berbahasa arab yang bagus, yang kurang hanya postur tubuh yang kurang tinggi, hehe… Meski dulu ia harus mengubur harapannya dalam babak perenam belas, namun kini ia datang kembali dengan membawa tim yang akan meraung di arena lomba itu, memangsa mereka dan menampar mereka dengan sentuhan pemikiran yang tersusun. Lomba yang akan kami ikuti adalah lomba debat bahasa arab, yang mana tema yang diusung sangat beragam yakni mengenai isu-isu kontemporer yang pada hakikatnya memang menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat. Kami berangkat atas sebuah perjuangan yang telah terselip dalam jiwa kami demi membawa nama baik kampus kami. Beberapa persiapan telah kami persiapkan sebaik mungkin hanya untuk mengukir satu kata nantinya, yakni satu kata yang akan menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya, “juara satu”.
Semangat yang membara-bara itu kini masih bersarang dalam jiwa kami, meski terpaan cuaca yang sesekali merobek rasa penat, tidak membuat surut jiwa kami untuk menyusun sebuah kemenangan nantinya. Kami terus berpacu, karena letak lokasi acara yakni Universitas Indonesia masih jauh dari stasiun Senen, kami naik angkutan kota, yang dalam bahasanya sih mini bus. Setelah beberapa menit di mini bus tersebut, kini kami sampai di sebuah tempat, sempat terbersit dugaan bahwa kami telah sampai, namun ternyata perjalanan masih tinggal satu angkutan lagi, mungkin karena pengaruh mabuk dan pusing yang menyelimutiku dari sejak turun dari gerbong yang berantai itu.
Ada gadis berjilbab yang menyambut kedatangan kami, ia begitu ramah menyambut kedatangan kami, entah karena kami adalah orang baik, atau mungkin karena kami disangka baik atau justru jiwa gadis itu yang mulia. Salam hangat langsung ia lontarkan dari mulut manisnya itu, perlahan membuka belenggu kepenatan yang telah menumpuk di ubun-ubunku. Kami sambut salam hangatnya dengan perasaan lelah sambil menyunggingkan senyum yang dipksakan itu. Sejurus kemudian kamipun telah berada di metro mini untuk melanjutkan perjalanan menuju lahan “pertempuran”.
Ketika mobil berwarna merah yang kami naiki itu berhenti, seperti pada waktu pertama tadi, aku merasa telah sampai pada tujuan, namun ternyata kini kami akan menuju rumah gadis tadi itu, siapa sih gadis itu? Tanyaku menyimpan penasaran, setelah bertanya-tanya dengan teman-teman yang lain, ternyata gadis itu adalah teman official kami. Tapi ada yang aneh dalam pemikiranku, kenapa ia sebegitu rela ia meluangkan waktu dan tempat tinggalnya hanya untuk menyambut kami? Emang kami siapa? Gumamku mencandai jiwaku, perlahan tersungging senyum dari mulutku yang hanya aku yang mengerti. Dari sana aku mulai meraba-raba tentang sesuatu yang aneh yang disimpan perempuan berjilbab itu, entah apa itu, spertinya sesuatu yang kita kenal namun selalu asing.
Malam pun tiba, kenyataan yang harus aku dapatkan waktu itu adalah menginap di rumah gadis itu, iya… kami melepas “malam pertama” di Jakarta di rumah gadis itu (jangan salah ya nerjemahinnya!). karena lelah yang telah begitu membebani, maka malam itu kami semua bgitu cepat dihampiri kantuk, maka beberapa saat setelah menyantap makan malam, kami telah pulang kerumah mimpi masing-masing, sementara malam tetap menyanyi lembut dengan cuaca panas yang tidak bisa ia bendung, meski malam hari, panas masih melilit di tubuh malam sehingga menemani tidur, kami di temani oleh kipas yang terus bergerak mengusir panas untuk membabat panas yang menyentuh kulit kami demi menjaga kami dalam tidur malam yang menyenyakkan. Sepertinya gadis itu sangat pengertian.
Keesokan harinya, kami tengah menyambut pagi, ku rasakan cuaca yang sangat berbeda antara Jakarta dengan malang tempat kampus kami berada, jika di Malang cuaca begitu sejuk, adapun di Jakarta cuaca begitu menusuk, begitu panas kami rasakan. Namun itulah perjuangan yang sesungguhnya, dimana cuaca bukanlah alasan untuk tidak menjadi yang terbaik.
Jam 8 pagi, kami bersiap untuk berangkat, kali ini menuju kampus UI. Setelah sarapan secukupnya dan mempersiapkan barang-barang, kamipun menuju tepI jalan menunggu metro mini, sejurus kemudian mobil merah itu berhenti di depan kerumunan kami dan secara perlahan kami naik dan menduduki kursi yang tersedia. Kemudian berangkatlah mobil itu menyisakan jejak dan bau tubuh kami di rumah gadis berjilbab itu.
Sesampai di kampus UI, kami disambut dengan pemandangan hijau yang cukup mengobati kepenatan kami ketika di jalanan tadi, perlahan merobek kelesuan yang timbul sejak berjejal dengan orang-orang di dalam metro mini itu. Kusampaikan salam kenal pada kampus itu dengan mulut kamera yang mencium pemandangan itu, lantas sesaat kemudian terjadilah pengukiran oleh kamera HP atas suasana yang baru kami temui itu. Untuk penginapannya, kami di tempatkan di asrama UI.   

bersambung.......



0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz