Sabtu, 11 Juni 2011

Meluruskan Kembali Visi Misi Pondok Pesantren

Degradasi Fungsi Pondok Pesantren
(Terbengkalainya Hak-hak Minoritas Dalam Kebijakan Pondok Pesantren)
Oleh: Muhammad War’i* 

Dalam kancah pendidikan, dewasa ini di Negara Indonesia telah banyak bemunculan lembaga-lembaga yang menyediakan jasa-jasa pendidikan, ada yang berupa lembaga pendidikan negeri ada pula yang berbentuk lembaga pendidikan swasta. Keudanya telah menyerap dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga keberadaan mereka telah memunculkan persaingan dalam orientasinya, terkadang persaingan tersebut sehat dan tentunya akan memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan di Indonesia ini, kadang pula bahkan sering kita temukan persaingan yang kurang sehat, sehingga pada ujungnya bukkan justru mengembangkan pendidikan di negeri kita namun malah menggerogoti tiang-tiang penyangga pendidikan itu sendiri berupa persatuan dan kebersamaan dalam mengembangkannya.
Ada banyak kasus yang kita temukan dewasa ini, terutama pada sekolah-sekolah swasta yang menyangkut masalah dana. Memang ironis sekali, lembaga pendidikan swasta yang mayoritasnya menggunakan background islam selalu tersandung skandal kasus keuangan, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Lembaga Pendidikan Swasta dewasa ini? Di tengah menjamurnya keberadaan mereka namun bayang-bayang pekatnya awan semakin tebal menutupi kubah gemilangnya. Mari kita menelisik isi dalam dalam sebuah lembaga pendidikan swasta (Pondok Pesantren).
Pondok pesantren mulai tumbuh di indonesia cukup lama, bahkan jika kita tinjau dari segi historisnya, pondok pesantren muncul sebelum kemerdekaan Indonesia, sehingga tak ayal lembaga pendidikan swasta ini menjadi alat perjuangan menuju kemerdekaan bangsa di daerah-daerah. Hal ini menimbulkan konflik antara pihak kiyai yang biasanya memegang pondok, dengan pihak kolonialis.
Dalam perkembangannya pondok pesantren telah melewati masa-masa sulit tersebut yakni berupa intimidasi dari pihak kolonialis. Dulu ketika masih dalam penjajahan, pondok-pondok pesantren sering mengalami ancaman untuk dibubarkan oleh kaum kolonialis, namun karena kekuatan yang dimiliki pimpinan lembaga (berupa spiritual religiusitas), hal-hal seperti itu dapat dicegah bahkan membuat para kolonialis ciut, contohnya saja seperti apa yang dilakukan oleh Syeikh Zainuddin, seorang Ulama’ karismatik dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang beberapa kali mendapat tekanan dari Belanda untuk membubarkan Lembaganya (Nahdlatul Wathan) namun beliau tetap eksis berjuang bahkan melakukan perlawanan. Tidak hanya dalam bentuk perlawanan fisik namun lebih jauh dengan menggunakan perlawanan spiritual berupa kekuatan ghaib yang biasanya dimiliki oleh orang-orang soleh. Dan tentu saja belakangan diketahui bahwa Syeikh Zainuddin adalah seorang pendiri tarikat, yang bernama Tarikat “Hizib Nahdlatul Wathan”. Lebih jelas tentang hal ini, baca “Wasiat Renungan Masa” karangan Syeikh Zainuddin.
Demikian tadi adalah gambaran pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan swasta yang telah cukup banyak memberikan kontribusi dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Namun demikian, dewasa ini kita mulai prihatin dengan keadaan lembaga swasta ini yang terus menerus dideru rongrongan masalah dari pelajar maupun mahsiswa yang bernaung di bawahnya. Mereka berbondong-bondong mengeluarkan aspirasi mereka berupa keluhan yang berupa selalu melambungnya uang SPP, sementara transparansi dari dana yang ada, tidak ada, ditambah pula dengan sarana dan prasarana yang itu-itu saja, sehingga menimbulkan intimidasi dari pihak ternaung.
Catatan kelam yang mulai tertorehkan oleh Pondok Pesantren meninggalkan efek negatif dalam orientasinya, sehingga sekarang banyak sekali Ormas-ormas atau Organisasi-organisasi mahasiswa yang tidak segan untuk mendemo bahkan menghujat pondok pesantren atau lembaga tertentu yang dulu hal ini merupakan hal yang sangat tabu.
Ada beberapa faktor yang kami rasa menjadi faktor dalam skandal yang sering melibatkan pondok pesatren atau lembaga pendidikan swasta dalam pengembangan tugas-tugas kependidikan.
1.        Lembaga pendidikan swasta adalah lembaga yang berdiri sendiri dan membiayai dirinya sendiri tanpa ada bantuan dari Negara. Meski kadang-kadang mendapat tunjangan dari Negara, namun hal itu tidak cukup untuk membendung kebutuhan yang semakin membengkak seiring dengan membengkaknya jumlah anak didik. Sehingga jalan menaikkan uang SPP merupakan jalan satu-satunya. Itulah sebabnya juga jarang kita temukan sekolah-sekolah swasta yang menyediakan beasiswa, bahkan info tentang beasiswa sendiri sangat jarang terdengar.
2.        Lemabaga pendidikan swasta biasanya bernaung di bawah yayasan, dimana nantinya lembaga-lembaga yang bernaung di bawah yayasan tersebut harus menyetorkan konfensasi berupa keuntungan dalam pengembangan pendidikan, sehingga hal ini sering menimbulkan lubang-lubang penggelapan dana yang sering menjadi suatu hal yang menarik bagi siapapun.
3.        Adanya sikap hedonisme dari lembaga terhadap yayasannya, dimana hal ini didasari oleh ideologi yang telah melekat dalam jiwa berupa tidak boleh membangkang terhadap pimpinan, hal ini kita kenal dengan istilah Sami’na Wa Atho’na, sehingga apapun yang diintruksikan oleh atasan bawahan hanya bisa menganggukkan kepala tanda sedianya.
4.        Persaingan yang semakin sengit antara lembaga pendidikan negeri dan pendidikan swasta, yakni berupa perekrutan peserta didik, hal ini terlihat tatkala tahun ajaran baru tiba. Sehingga satu lembaga dengan lembaga yang lain saling sikut-sikutan dalam memperoleh hati masyarakat dengan media massa yang ada, sementara masyarakat hanya bisa melihat keindahan di media tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya. sehingga muncullah kekecewaan dari masyarakat ketika apa yang mereka lihat di media dengan kenyataan yang ada tidak sepadan, akhirnya akan muncul konflik antara lembaga dan masyarakat, baik itu berupa konflik fisik ataupun dalam bentuk konflik batin.
5.        Lunturnya nilai-nilai moral yang diwariskan pendiri lembaga. Biasanya seorang pemimpin yayasan yang merupakan seorang kiyai, sebelum akhir hayatnya, mewasiatkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama, jangan sampai termakan hawa nafsu. Jangan sampai mencari uang lewat lembaga, karena lembaga pada hakikatnya adalah lahan perjuangan bukan untuk mencari makan dan kedudukan (lihat Wasiat Renungan Masa, karangan KH. M Zainuddin Abdul Majid).
Dengan menyimak beberapa hal di atas, kita bisa melihat bahwa kasus yang dewasa ini menimpa pondok pesantren lebih disebabkan karena sikap “lupa diri” dari pemegang lembaga, seharusnya nilai-nilai luhur dari pemukanya tetap dijadikan landasan dalam mengembangkan lembaganya, bukan justru merombak aturan-aturan itu dan tendang sana tendang sini, yang pada ujungnya nanti bukan kemajuan yang didapatkan namun justru mendapatkan kehancuran.
Ada beberapa kasus yang saya pribadi dapatkan tentang skandal dalam lembaga pendidikan swasta atau sering menyangkut pondok pesantren, seperti kasus terbaru yang terjadi di sebuah Madrasah Tsanawiyah di Malang, yang mana MTs tersebut diduga menggelapkan dana BOS. Kita semua mengetahui bahwa dana BOS diberikan cuma-cuma kepada peserta didik, namun yang terjadi di lembaga tersebut, dana BOS tidak jelas, dan transparansi dari kebijakan lembaga tidak ada, hal itu kontan membuat salah satu tenaga pengajar di lembaga tersebut geram dan melakukan backout, yakni mogok ngajar. Namun yang ironis dari hal itu, ketika tenaga pengajar tersebut melakukan hal itu, yang mana hal itu merupakan sebuah tindakan protes dari guru tersebut untuk menegakkan keadilan. Sikap yang diberikan lembaga tersebut sangat tidak terpuji, SK guru tersebut digantikan dengan orang lain, sementara hal itu tidak diketahui oleh guru tersebut. Dalam artian guru tersebut dipecat tanpa pemberitahuan.
Dari contoh kasus tersebut dapat dilihat bagaimana sikap otoriter yang dilakukan oleh Lembaga tersebut, yang mana mereka tidak mau memerhatikan hak-hak minoritas ketika kepentingan mereka telah menjadi mayoritas. Sehingga Pondok Pesantren yang pada dasarnya merupakan lahan mencari ilmu agama, kontan menjadi lahan pertumbuhan kapitalisme yang merajalela, karena tentunya hal itu telah menjadi konsfirasi dalam lembaga tersebut. Innalillah….
Dalam menyikapi hal ini, sepertinya penting bagi para pengurus Lembaga Pontren untuk mengkaji ulang kebijakan yang nantinya akan merusak citra lembaga tersebut, yang pada kelanjutannya akan merusak citra agama sendiri. Dan yang terpenting lagi adalah nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan oleh sang pendiri pondok harus tetap dihidupkan, tidak hanya di atas kertas ataupun dalam sebuah buku, namun dalam kebijakan dan perbuatan sehari-hari, dan itulah ilmu yang sesungguhnya. Sehingga dengan demikian kita harapkan Lembaga Swasta dalam hal ini Pondok Pesantren tidak merusak citra agama dengan hal-hal seperti ini, kita harapkan Pondok Pesantren kembali dalam koridornya sebagai alat perjuangan dan merupakan basis pengembangan keilmuan agama islam. Allahu a’lam.
    

*penulis tulisan ini bukan seorang Guru ataupun Dosen, namun hanya seorang Mahasiswa semester dua, yang tentunya kapasitas ilmu yang dimiliki masih sangat terbatas. Tulisan ini hanyalah pengamatan penulis sejak dulu ketika masih mondok, karena penulis adalah orang yang sudah cukup lama di pondok pesantren, sekitar tujuh tahunan. Syeikh Zainuddin adalah pendiri pondok pesantren Nahdlatul Wathan yang sekaligus guru penulis  Jika ada kesalahan silahkan berikan kritikan anda di defenderislamic@yahoo.com.   

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz