Selasa, 21 Juni 2011

Pelajaran di Monas


Menelusuri jalanan di ibu kota, mengintip kenyataan ibu kota yang sebenarnya, bau alam yang gersang begitu terasa, begitupun bau selokan kota yang busuk karena tertelan kekejian manusia, air selokan itu telah menghitam melebur dalam tingkah laku manusia yang tak mempedulikannya. Nampak pula rumah-rumah reyot penduduk di sekitar bangunan-bangunan megah, seperti sedang bergulat dengan penuh kelelahan, ia hanya bisa mengamuk, tanpa bisa menyentuh lawan. Bangunan-bangunan megah itu telah mengerangkeng mereka dalam kehinaan, melukis mereka dalam tempat paling rendah di muka bumi.
Jalanan-jalanan yang ditangkap penglihatanku penuh sesak. menghadapi persimpangan seperti menghadap ke lahan pertempuran, ramai bertabu kelakson kendaraan yang saling mengancam. Semua ingin mendahului, semua ingin merajai, semua ingin memaksa keinginan mereka. Mereka lupa akan kenyataan mereka yang tidak sendiri.
Di salah satu kendaraan-kendaraan itu, aku duduk, memperhatikan semuanya, begitu penat terasa ketika kendaraan memasuki lahan pertempuran itu. Sesekali kendaraan itu harus berhenti, mempersilahkan penumpang yang ingin menimpali. Beberapa orang masuk kemudian menyodorkan pantatnya pada muka kursi yang berjejer seperti pasukan berani mati, beberapa orang pula harus mematungkan diri berdiri karena tidak kabagian tempat duduk. Ada pula orang-orang yang menjajakan kemapuan yang ia memiliki dengan memainkan gitar kecil yang ia gendong seperti menggendong anak kecil, Nampak orang itu begitu nmencintai benda kecilnya, sepertinya ia begitu sadar kalau benda kecil itu adalah hidupnya. Segalanya terekam dalam jiwaku dengan alat yang namanya penglihatan.
Tujuanku membaur dengan kendaraan hari ini adalah untuk mengunjungi salah satu tempat bersejarah  Indonesia, yaitu monument nasional Monas. Tempat ini adalah tempat kedua setelah mengunjngi surganya binatang di ragunan park. Ini adalah kunjungan pertamaku ke tempat dimana perjuangan kemerdekaan Indonesia disandarkan sejak tujuhpuluhan tahun yang lalu.
Sesampai di taman monas, angin-angin kecil meraba halus tubuhku, ia begitu ramah menyambut kami, sepertinya ia sangat memahami keadaan kota Jakarta yang panas dan penuh polusi. Angin-angin itu menuntnku memasuki gerbang monas, gerbang yang begitu besar, terpahat jelas di gerbang itu akan peristiwa masa silam yang merobek dada-dada para pejuang dalam merebut kemerdekaan. Gerbang itu telah menjadi saksi bisu atas peristiwa yang kini orang-orang ramai memperingatinya setiap tanggal tujuh belas agustus, meski mereka tidak mengerti perjuangan yang sesungguhnya. Gerbang itu menyapa kami dan mengucapkan selamat datang.
Memasuki taman monas, seperti memasuki lorong waktu, dimana Nampak peristiwa-peristiwa lalu yang menjamah dada. Semuanya terputar secara otomatis dalam bioskop perasaan yang dikomandoi oleh sejarah tentang perjuangan Indonesia. Kurasakan tangisan mereka, kurasakan semangat mereka, ku perhatikan tombak-tombak yang bergerak berkeliaran mendramakan kejadian perang masa silam. Patung-patung pejuang berjejer mengelilingi monument itu, menggambarkan sejuta kisah masa lalu yang terbingkai dalam ilustrasi.
Sementara perasaanku terus menjamah kisah masa lalu yang ia kaitkan dengan apa yang ia lihat kini di hadapan matanya. Ia setengah tidak percaya akan kenyataan itu. Baginya, melihat monas hanya akan tersampai melalui layar kaca, atau Koran-koran yang tersebar dalam kesehariannya. Namun kenyataan hari ini benar-benar telah membahagiakannya, memuji Tuhan atas anugerah yang Ia berikan kepadanya.
Melihat monas adalah seperti melihat Indonesia dulu, merangkai satu demi satu peristiwa masa lalu dengan keberadaan patung-patung pejuang, adalah jalan yang baik untuk mengenang para pejuang. Karena meski mereka pergi, bukanlah mati, tapi mengajari generasi mereka tentang perjuangan. Mereka akan tetap hidup dalam jiwa-jiwa yang mau menghidupkannya. Smoga rahmat Allah tercurah kepada mereka.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz