Selasa, 21 Juni 2011

Percakapan batin di Coban rondo


Kendaraan kuning tampak memasuki gerbang kampus kami, pertanda perjalanan yang kami rencanakan kemarin hari akan segera terjadi. Beberapa dari kami telah siap-siap dengan perbekalan yang seadaanya, Nampak tubuh mereka yang berbeda dengan pakaian tebal yang mereka kenakan. Belum pernah kurasakan perjumpaan manis disaat teman-teman kami berbondong-bondong pulang meyambut hari libur. mereka telah menyepikan kampus dengan kepergian mereka dalam lahan masing-masing, ada yang berdalih kebahagiaan, ada pula yang berdalih kerinduan. Semuanya terbingkai di hari itu, hari ketika kami akan melepas penat sekaligus memupuk persaudaraan diantara kami. Mereka yang pulang mempersembahkan kebahagiaan untuk keluarga mereka, adapun mereka yang akan ikut bersamaku, telah memberikan kebahagiaan dalam jiwaku, disaat kepulangan harus kubingkai dalam kerinduan.
Hari itu, kami berencana untuk sejenak merampas pengat yang bergelantungan di dahan pemikiran kami, yang tentunya semakin hari akan semakin menumpuk dengan perkuliahan yang ada. Acara itu rencananya akan diikuti oleh satu kelas kami ketika semester satu, namun karena hari itu adalah awal untuk libur yang berlangsung lumayan panjang, maka kami pergi hanya seperempat dari jumlah yang ada. Kenyataan itu tidaklah membuat semangat kami surut untuk mengadakan acara ini, acara ini tetapa kami laksanakan dengan bermandikan persaudaraan yang telah melingkar dalam jiwa kami, kendati ada yang harus melingkarkan cinta yang muncul seiring pertemuan yang berlangsung lama. Perasaan-perasaan itu telah mengembangkan rasa kepemilikan satu sama lain, pertemanan kami seperti sekumpulan kupu-kupu di taman bunga, menyergap madu dari bunga-bunga yang indah dan harum. Ada yang menerjemahkan harum sebagai persaudaraan ada pula yang menerjemahkan harum atas sesuatu yang tak dipahami, satu kata yang begitu fenomenal untuk digunakan, “cinta”.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas  siang, isyarat keberangkatan telah di ujung mata, kini tubuh-tubuh tadi telah siap menaiki kendaraan kuning yang sempat molor itu. Karena keadaan kendaraan yang memaksa, maka kami menaiki kendaraan itu dengan bahu-membahu, satu sama lain mengangkat dengan uluran tangan yang seperti dalam lahan pertempuran. Hal itu semakin menambah suasana keakraban yang terlingkar dalam jiwa-jiwa kami.
Dalam relung jiwa aku membaca satu-persatu kejadian yang terekam dengan alat penglihatanku itu, ku goreskan tinta warna kesejukan untuk menambah pesona mereka yang begitu anggun dalam perbincangan antara pandanganku dengan tingkah mereka. Mereka telah mengukir diri mereka sendiri dengan tinta keabadian di batu jiwaku. Kenyataan itulah yang membuatku bersukur atas anugerah Tuhan yang telah mengenalkan aku dengan mereka.
Rencananya, kami akan mengunjungi salah satu tempat wisata di Kota Batu, sebuah kota yang terkenal dengan suansana dingin yang menusuk urat. Tempat yang teramat popular di kota kami, yakni sebuah tempat wisata yang menawarkan air terjun sebagai obyek utama, dan juga beberapa lokasi outbond untuk orang-orang pecinta alam sebagai objek tambahan.
Selang beberapa waktu, kini kami telah sampai pada gerbang taman wisata tadi, tertulis diatasnya, “selamat datang di coban rondo”, kalimat coban rondo sejenak menyita perhatianku, kalimat yang begitu asing dalam kamus pemikiranku, karena aku bukan orang jawa asli, maka tentunya aku tidak mengerti arti kalimat itu. Pertanyaanku segera terjawab ketika mataku menangkap sebuah papan pengumuman yang mana di papan pengumuman tersebut tertulis legenda tetang kronologis tempat itu disebut coban rondo.
Dalam bahasa jawa, rondo itu janda dan coban itu air terjun, jadi jika kita terjemahkan kalimat coban rondo kurang lebih kita akan mendapatkan pengertian, “air terjun janda”. Kenapa demikian, berdasarkan legenda yang saya baca tadi, konon dulu ada sepasang pengantin yang baru melangsungkan pernikahan, pengantin wanita yang merupakan keturunan raja itu namanya Dewi Anjarwati dari gunung Kawi, akan menikah dengan sesama darah birunya yakni Raden Baron Kusuma dari gunung Anjasmoro.
Ketika sampai pada suatu waktu, hasrat putri ingin berkunjung ke gunung Anjasmoro, namun karena adat yang tidak membolehkan, maka orang tua putri tersebut tidak mengizinkan keduanya kesana, karena masih dalam masa larangan. Namun keduanya bersikeras untuk mengunjungi gunung tersebut, kendati harus menerima resiko yang mungkin bisa membahayakan mereka.
Benar saja apa yang ditakutkan oleh ayah sang Putri. di tengah perjalanan, seorang pemuda yang bernama Joko Lelono menghadang mereka dengan hasrat ingin merebut sang putri, hasrat itu segera direspon dengan kemarahan oleh sang suami, maka perkelahianpun tak dapat dihindarkan. Karena kekuatan yang sama diantara kedua lelaki yang berkelahi tersebut, maka merekapun akhirnya membuang tubuh mereka dalam goa kematian yang telah menganga saat pertempuran kecil itu terjadi. Akhirnya menjadi mawar yang sepilah Putri Dewi Anjarwati yang pada pertempuran tadi telah diselamatkan terlebih dahulu oleh seorang pendampingnya.
Rintihan demi rintihanpun kini tengah menjamah jiwanya yang seharusnya bahagia itu, ia telah merasakan belati menusuk keras dalam jiwanya atas kepergian suaminya yang saat itu baru mengembang dalam jiwanya dengan harum yang semerbak. Hingga sampai dalam sebuah coban milik suaminya, maka ia melepaskan nestapanya disana, kemudian dengan keyakinan yang tak berdasar, ia duduk di atas batu di air terjun yang saat itu menjadi lambang kesedihan yang pekat. Kemudian ia sandarkan seluruh harapannya pada air terjun itu, berharap akan kembalinya sosok pujaan hatinya dalam jiwa yang tengah berbisik dengan kematian itu.
Begitu mengharukannya kisah sang dewi yang aku rekam dalam jiwaku, telah mengantarkan aku pada kenyataan yang terkulai dalam kuburan masalalu, maka sejenak aku berbisik didepan papan legenda tadi, “wahai dewi, kau telah berpisah dengan kekasihmu atas nama cinta persis seperti kau telah menemukannya dulu atas nama cinta. Namun aku telah bertemu atas nama cinta dengan kekasihku namun berpisah atas nama sesuatu yang tidak aku pahami, ia menghilang begitu saja atas nama kebahagiaan yang ia artikan jalan hidup itu”. Maka salam sejahtera untukmu wahai yang telah berhasil menghidupkan cinta setelah kematiannya. Kekasih bisa saja mati tapi tidak demikian dengan cinta.
Setelah puas berbicara dengan dewi itu lewat alam pemikiranku sendiri, maka perjalananpun aku teruskan menuju lokasi coban (air terjun), Nampak embun air terjun yang diterbangkan angin menyambut tubuhku, kurasakan dingin yang menusuk namun begitu nikmat, sepertinya kesejukan itu adalah air mata sang Dewi yang hingga saat ini masih mengalir di pipi indahnya. Tiupan angin yang mengeras karena deru air yang terjun dari ketinggian sana, semakin terasa saat tubuhku mulai mendekati air terjun tersebut, kini aku dalam pelukan air terjun tersebut, kulihat batu yang konon katanya adalah tempat sang Dewi melepaskan nestapanya dan menyerahkannya kepada takdir. Ku cium bau peristiwa masa lalu itu yang semakin nyata dengan bentang alam yang kusaksikan. Perlahan tubuhku memasuki genangan air yang cukup mendalam karena terpaan air dari atas sana, kurasakan jiwa sepenuh hati meraung keras menyaksikan kisah Dewi yang aku bandingkan dengan kisahku, lantas dalam bisingnya gemuruh air yang memudarkan pendengaran aku berbisik, “kau telah menjadi saksi atas ketulusan cinta, berbeda denganku yang telah menjadi saksi atas peristiwa tentang kebusukan cinta”. Lantas akupun berteriak sekuat hatiku, hingga Nampak keluarlah kegersangan dalam jiwaku yang telah bermukim beberapa hari setelah kepergian kekasihku dalam awan pekat yang memilukan, perlahan kegersangan itu diganti dengan kesejukan dari mata air itu.
Selang beberapa waktu aku duduk di sebuah pinggiran di coban itu, ku perhatikan gerak air dan angin yang berkelahi dalam titah Tuhannya, perkelahian itu telah menciptakan keindahan yang begitu menawan di bentangan wajah air terjun itu, sepertinya itu adalah buah pertengkaran sang Raden (Raden Baron Kusuma) dalam menjaga kekasih hatinya (Dewi Anjarwati). Pertengkaran dia di waktu silam, telah diganti dengan kesejukan yang tersedia bagi siapapun yang mengunjungi tempat ini, sepertinya ruh kedua pasangan kekasih itu tetap berdiam dalam lahan surga yang berbentuk air terjun ini.
Waktu bergerak cepat, tanpa terasa kini kami telah berada di ujung senja, Nampak wajah hutan yang mulai dimakan gelap, rabaan cahaya matahari tak sampai ke wajah hutan itu karena dihalang tebing yang menjaga tempat itu, suara burung-burung hutan mulai memanggil satu sama lain seolah saling mengingatkan akan datangya mahluk yang berjubah hitam, isyarat malam akan segera memasuki lahannya.
Akhirnya setelah puas menikmati sajian alam, kamipun pergi meninggalkan dunia cinta itu, iya… sejak percakapanku dengan Dewi tadi, aku jadi merasa jika tempat itu adalah tempat cinta, yakni tempat seorang kekasih mengubur cintanya atas nama kesetiaan yang dilambangkan dengan kesejukan yang senantiasa menjamah tempat itu. Dengan bentang alam itu aku mengenal cinta, dengan bentang alam itupun aku mengenal peristirahatan dari rasa sakit yang menggerogoti jiwa. Cinta adalah kelihaian dalam penderitaan diasaat jutaan anak panah menerkam keras menusuk ulu hati.
Malang, 28 mei 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz