Sabtu, 02 Juli 2011

Mengunjungi rumah duka


Sesampai di rumah tua, kami disambut dengan tangisan, orang tua itu menangis untuk sesuatu yang sudah bisa ia terjemahkan. Dalam lereng penuh api ia memburu jejak anaknya yang kemarin di mangsa serigala. Kadang ia harus memberontak kadang pula ia harus menahan sakit. Namun kenyataan sebenarnya adalah kesunyian tanpa cahaya. Anak orang tua itu telah mati dimakan waktu.
Dalam desahan nafas-nafas kesedihan ia selipkan senyum untuk menyapa kami, Nampak seperti percampuran dua zat yang sulit di gabungkan, mimik orang tua itu sulit sekali menyembunyikan kesedihan yang terukir dalam hatinya sejak kepergian anaknya untuk selamanya.
Kesedihan sepertinya telah menggoncang kedamaian keluarga kecil di ujung kabut bebukitan, meratapi takdir yang sepertinya mencekik mereka. Mereka menderung dalam perjalanan panjang karena kepergian kerunya. Sementara cahaya mentari mengintip dari celah dedaunan menyaksikan rumah tua itu yang tengah di balut kesedihan.
Kedatangan kami waktu itu, untuk menggelitik suasana senyap, kami datang untuk menghibur keluarga kecil itu, setidaknya bisa menaruh senyuman di hati mereka yang tengah bertempur dengan keikhlasan. Benar saja, kedatangan kami memang begitu menghibur mereka, wajah suram itu kini sudah mulai tersenyum, meski kami tidak mengerti kesedihan yang sesungguhnya.
Kesedihan orang tua itu sebenarnya telah bersarang dalam jiwa kami, karena bagi kami kepergian anaknya adalah seperti kepergian cahaya bagi kami, karena ia telah terpahat oleh waktu dalam jiwa-jiwa kami, sehingga ia telah menjadi satu kesatuan dalam diri kami.
Syafa’ namanya, wajah sayu yang senantiasa tersenyum menggendong cita-cita, melawan kerasnya batu kehidupan untuk menyalakan lentera yang diberikan orang tuanya. Ia selalu melangkah dalam gelapnya jalan, kadang ia merasa risih dengan beberapa kerikil jalanan yang sering menggangu kaki mungilnya. Namun ia tidak pernah menyerah kepada gelapnya malam, ia tetap kuat dalam badai kehidupan yang senantiasa menjamahnya. sepertinya ia begitu mengerti arti perjuangan.
Namun kini semangat itu telah melebur bersama raganya, sejak waktu memisahkan ia dengan cita-citanya.
Perbincangan yang terjadi antara kami dengan orang tua itu telah membuka sisi lain dari seorang sahabat kami, banyak hal yang tidak kami ketahui tentang sosok syafa’ yang sebenarnya. Sungguh sayang kami mengetahui kemuliaannya setelah tidak ada lagi kesempatan untuk merangkulnya. Sperti cinta yang muncul di ujung senja, sebentar merekah dan mati tertelan kegelapan. Namun kami pastikan azam itu akan senantiasa bersarang dalam jiwa kami. sahabat kami itu telah menitip pelajaran yang berharga dengan kepergiannya.
Di ujung senja dihari itu, kami sempatkan untuk mengunjungi peristirahatan terakhirnya, menitipkan ia kepada Tuhan. Menelusuri persawahan untuk sampai kepada kerajaannya tidaklah menyurutkan jiwa kami untuk menyapanya.
Sampai di sebuah tempat gundukan-gundukan tanah basah yang melambangkan batas antara kenyataan dan rahasia Tuhan, kami menghentikan langkah. Mata kami tertuju pada sebuah gundukan yang masih Nampak bunga kesedihan di atasnya. Kami pastikan itu adalah singgahsananya, singgahsana sahabat kami yang terbaik. Kemudian kami melingkari kuburan baru itu memanjatkan doa untuk kebaikannya di alam sana, semoga Allah menempatkan ia disisiNya dengan derajat yang tinggi sebagaimana janjiNya. Kemudian aku ambil segenggam tanah dan meletakkannya di atas kuburan suci itu sambil menyetir kata-kata Tuhan.
Pergolakan hari menuju kegelapan telah memaksa kami meninggalkan sahabat kami, matahari telah kembali keperaduannya, jubah kegelapan telah Nampak dikenakan sang malam. Kami tinggalkan kuburan itu dengan kesedihan yang pekat.
Setelah beberapa jam di rumah tua itu, tiba saatnya untuk kembali merajut semangat, bangkit dari kesedihan itu, setelah menyantap hidangan dengan nasi putih bercampur santan yang membanjiri piring, namun lauk yang sebenarnya adalah kekuatan yang terlihat di wajah orang tua itu.
Kemudian kamipun beranjak menuju mobil yang tadi sempat nyasar mencari rumah sahabat kami, hamparan nyanyian kesedihan yang tadi menyambut kami telah berubah perlahan menjadi senyuman hangat, membuat jiwa-jiwa kami seperti tumbuhan yang mendapat siraman air dari yang maha kuasa.
 Dengan kepergiannya,
kami belajar cinta, kami belajar perjuangan.
(12 April 2011)

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz