Jumat, 19 Agustus 2011

Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia (Antara labelitas dan rutinitas)


Begitu banyak kita mendengar orang mendendangkan kemerdekaan, menggebu dalam semangat proklamasi yang mereka triakkan, tak ada satu tempat di bumi Indonesia kecuali terbentang dua warna yang saling memasuki, merah dan putih. Warna bendera itu seakan warna yang paling disenangi oleh seluruh masyarakat bangsa Indonesia, terutama di hari ini, tanggal 17 agustus 2011, merupakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang kini memasuki gerbang waktu yang ke 66.
Bangsaku…. Rintihku dalam jiwa ketika menyaksikan di semua stasiun Televisi, memuat acar pengibaran bendera pusaka yang diadakan di istana Negara, Jakarta. Begitu merinding kurasakan ketika warna merah putih memeluk tempat itu, kurasakan kekuatan maha dahsyat yang tersirat dari kedua warna tersebut yang mengisyaratkan tentang darah dan tulang.
Aku mulai berjalan mundur, terbawa dengan beberapa kisah yang menceritakan perjuangan para pahlawan tanah air bangsa Indonesia yang tidak hanya mengorbankan tenaga dan kekuatan mereka, namun mengorbankan seluruh jiwa raga yang mereka miliki. Tak pernah ada putus asa yang dalam benak mereka, meski setiap waktu dalam hidupnya merupakan cekaman masa yang menyita seluruh ketenangan hidup mereka. Namun hal itu tak pernah membuat mereka merintih dalam nestapa dan putus asa, mereka justru menjadikan hal tersebut sebagai cambuk motivasi untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu berdaulat dan penuh ketenangan, hingga Tuhan pun memeluk cita-cita luhur mereka dan akhirnya terwujudlah kemerdekaan bangsa Indonesia pada hari ke tujuh belas dari bulan agustus. Yang saat ini tengah aku nikmati hari itu dengan sejuta pemandangan nasionalisme yang tergambar di bumi Indonesia.
Akan tetapi sejauh mana kemerdekaan yang pernah di perjuangkan mati-matian oleh para pahlwan kita begitu dimaknakan dengan penuh penghargaan oleh bangsa ini. Mungkin secara simbolis iya, kita menghargai namun bagaimanakah dengan di dalam lahan jiwa?, karena begitu sering manusia mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan jiwanya. Mungkin mereka mengatakan dalam sebuah selogan mereka, “melalui hari kemerdekaan Indonesia kita tingkatkan jiwa nasionalisme dan patriotisme bangsa”. Namun sejauh mana kesadaran jiwa ketika mengungkapkan hal tersebut? Mari kita lihat realitas bangsa ini!
Dewasa ini, Negara kita memiliki begitu banyak permasalahan, mulai dari permasalahan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, hingga permasalahan yang tak pernah kunjung selesai, “korupsi”. Negara kita memang luar biasa, meski tak pernah kita temukan kesejahteraan yang merata di masyarakat, namun di pemimpin kita, pemandangan begitu subur, mulai dari mobil mewah, rumah mewah sampai gaji yang terus dinaikkan. Ditambah lagi dengan kunjungan kerja keluar negeri yang mengorek banyak uang rakyat, namun tak pernah memberikan hasil apapun di negeri ini.
Belakangan juga kita dengan Nazaruddin dengan kepolosannya mengakui kesalahannya ata beberapa sekandal kasus korupsi yang kemudian menyeret beberapa tokoh Negara lainnya, membuat kita semakin bingun sebagai masyarakat. Jika apa yang dikatan orang yang bernama Nazaruddin itu benar, maka dimanakah keadilan itu? Dimanakah rasa tanggung jawab sebagai seorang pemimpin? Kemudian kita akan dibawa menuju lautan kebimbangan atas ulah pemimpin kita, maka rasa nyaman hidup di Negeri sendiripun akan hilang, kebijkan hanya makanan basi yang tak layak konsumsi, tunjangan hanya untuk mereka yang memiliki pengaruh secara langsung. Dan sisanya, yang sebagian besar mereka adalah warga miskin yang semestinya diberikan hak-haknya, terbengkalai begitu saja, bahkan begitu banyak mayarakat Indonesia yang tidak boleh sakit dan sekolah hanya karena mereka memiliki status yang begitu hina di pendengaran pejabat kita, “miskin”.
Dengan demikian kemerdekaan kita perlu dipertanyakan lagi, karena sejauh ini esensi sebuah kemerdekaan masih mengambang dalam mimpi-mimpi kita, kemerdekaan hanyalah label dalam bagsa kita, yang diperingati setiap tujuh belas agustus hanya rutinitas belaka yang tak memili pengaruh apa-apa dalam jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Kita semua mendamaikan kemerdekaan, kemerdekaan yang mencakup segala bidang dalam hidup kita, bukan kemerdekaan yang sebatas labesitas namun kemerdekaan yang mencakup jiwa dan raga. Merdeka dari kekangan, merdeka dari penindasan, merdeka dari campur tangan Negara lain. Kita harus merdeka, merdeka dalam kenyataan yang sebenarnya bukan hanya label atau mimpi. Merdeka atau mati!!!  

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz