Senin, 19 September 2011

Senja di pelabuhan kenangan


Balutan angin laut menyergapku ketika ku mulai melepaskan pandangan di perataran pantai yang dulu tempat aku curahkan sluruh rindu dan kasih sayangku pada cinta.
Kusampaikan salam hangat dari sebuah memori yang terekam satu tahun lalu, saat cinta membalut rasa dan rindu membalut jiwa.
Angin laut seakan masih ingat wajahku yang kini tengah kering karena tertampar luka masa yang membuatnya merana, ia heran karena dulu ia melihatku dalam bahagia yang mengalahkan keceriannya bermain dengan pepohonan di pantai itu.
Sesaat setelah itu, aku lepaskan pandanganku pada mulut pantai tempat aku dan kekasihku dulu melepas rindu, sepontan jutaan aroma tubuhnya bangkit dari kuburan masa lalu, menyergap jiwaku yang memanggilnya, kuperhatikan wajah-wajah mereka yang kusam diendapan lautan, mereka bersemayam atas sebuah benturan yang terjadi di pelabuhan cinta.
Ada yang menangis menyaksikan jiwaku,,,, kemudian aku bertanya: apakah gerangan yang membuatmu menagis wahai kenangan? Bukankah hari ini aku menjengukmu atas nama masa silam yang dulu membahagiakan kita? Ia menjawab: dulu kau hadir di pantai ini mengukirku dengan seorang gadis yang sangat membahagiakanmu waktu itu, namun kini kau hadir sorang diri di depan kami, memanggil kami dengan nestapa yang menjulang ke langit, mencari keberadaan cinta yang tertelan masa, jujur aku prihatin kepadamu. Lantas aku tersenyum dan berkata: kita telah abadi dalam kenangan dan telah mempersembahkan yang terbaik dengan cinta, yang terjadi hanyalah sebagian kecil dari takdir Tuhan yang mesti kita lalui.
Sunyi menyergap suasana itu, aku mematung di depan wajah pantai yang mulai di raba senja dan perlahan Nampak cahaya kemerahan pertanda malam akan segera tiba,
Ku ambil beberapa lembar wajahnya di saku dekat jiwaku, kemudian kupisahkan bentuknya dengan tangan yang semakin berat dengan kenangan yang menyungging, ku lepas semua beban, ku lantunkan curahan hati dalam desahan nafas pantai yang menemani, ku kumpulkan satu demi satu luka untuk mengarung wajahnya,,, kulemparkan satu persatu lembaran wajahnya yang telah terpisah-pisah itu, gelombang pantai Nampak begitu segera menyergapnya seakan sangat mengerti bahwa itu adalah luka.
Kini wajah itu telah diendap lautan membungkusnya dalam hazanah masa lalu yang abadi, menangis dalam lolongan ombak pantai yang diselimuti senja. Ku diam tak peduli dengan tangisan setan itu..
Satu persatu wjahnya telah aku buang, kini tinggallah sebuah cincin yang dulu pernah melingkar di jariku karena cinta, begitu berat rasanya dengan benda yang satu ini, ku kumpulkan lagi kekuatanku untuk mempersembahkan benda itu pada lautan,
Sejenak setelah perkelahian jiwa yang terjadi ketika aku ingin menghardik wajah kekasihku, akhirnya benda itu telah pergi dengan sendirinya, terlempar keras dari tanganku oleh kegeraman yang muncul seiring dengan berkumpulnya luka masa lalu yang tercipta dari pertengkaran mendalam dan rahasia antara sahabat dan cinta.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz