Kamis, 06 Oktober 2011

islam bukan teroris

Kasus terorisme belakangan ini semakin menjamur dan menjadi sumber ketakutan dan kepanikan seluruh masyarakat dunia, mulai dari Negara-negara maju termasuk Negara adi daya amerika, sampai Negara-negara yang berkembang seperti bangsa Indonesia yang bahkan semakin hari semakin merajalela aksi terorisme di bumi pertiwi ini.
Sejak aksi terorisme yang terjadi di pulau bali yang kemudian diikuti oleh daerah-daerah yang lain di pulau jawa sampai yang beberapa waktu lalu di Cirebon jawa barat, menjadikan nusantara sebagai lahan ketakutan. Miris memang menyaksikan bumi pertiwi yang dibom bardir seperti daerah perang ini. Bukan bom dari Negara lain seperti palestina yang dibombardir Israel akan tetapi seperti bom otomatis yang meledak sewaktu-waktu di daerah yang dikhendaki. Sebuah polemik yang begitu panjang yang tak diketahui ujungnya.
Ironisnya, setiap aksi terorisme yang terjadi di belahan bumi ini, yang selalu kena tuduhan adalah agama islam, entah mengapa agama yang dibawa Muhammad ini selalu menjadi kambing hitam setiap ada aksi terorisme, padahal apa yang dibawa agama islam tidaklah seperti apa yang dipersembahkan terorisme kepada umat manusia, islam membawa kedamaian, mebawa toleransi antar umat beragama dan sangat menjunjung hak asasi manusia. Sementara terorisme memberikan 180 derajat bertolak dengan apa yang dibawa islam. Hal ini memunculkan pertanyaan, benarkah islam itu teroris?
Di saat yang sama ketika ummat islam di hujat sebagai agama teroris, pemeluknya terdiam terpaku, tetap berselimut di ranjang mereka, seakan tak peduli dengan angin topan yang memporak-porandakan halaman rumah mereka. Inilah permasalahan besar umat ini yang jiwa refleksitismenya telah mati terhadap ajaran-ajaran agama.
Begitu banyak organisasi-organisasi yang menjadikan islam sebagai payung mereka, akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang bangkit melawan ketika payung mereka disobek dan dicampakkan begitu saja. Islam seolah monument besar di persimpangan jalan, yang diagungkan bentuknya namun dicampakkan ajaran-ajarannya. Dengan demikian apakah kita benar-benar memperjuangkan islam? Atau jangan-jangan islam yang kita harapkan memperjuangkan kita!
Berangkat dari segala polemik yang terjadi dewasa ini, saya berpikir bagaimana solusi yang tepat untuk permasalahan yang mencari solusinya ini seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Saya mulai curiga akan kekuatan besar yang sebenarnya dimiliki islam. Islam di sini tentu yang saya maksud bukan benda matinya, akan tetapi penggerak-penggeraknya, orang-orang yang telah Allah titipkan kepada mereka amanah berupa iman.
Jumlah umat islam yang menjadi mayoritas di muka bumi ini, tidak semerta-merta menjadikan ia begitu disegani, akan tetapi justru sebaliknya, islam menjadi monument besar yang keberadaannya untuk ritual penghinaan, mulai dari tuduhan, bahwa sebagaian besar penghuni lembaga permasyarakatan (LP) itu adalah beragama islam, sampai iamage busuk yang mesti dikantongi oleh ajaran Tuhan ini, yakni sebagai teroris.
Ketika tuduhan-tuduhan busuk mereka kepada islam begitu gencar, sampai hal tersebut bisa dikatakan berhasil, dimana kita ketahui bersama bahwa setiap aksi terorisme yang terjadi pasti yang paling dahulu disebutkan sebagai pelakunya adalah umat islam. Hal ini kontan membawa-bawa nama pesantren yang menjadi sentral pendidikan agama islam menuai banyak justifikasi dari elemen masyarakat. Hal ini membuat banyak pesantren-pesantren didatangi densus 88 anti terror, dan anehnya setiap operasi mereka, pasti diikuti oleh stasiun-stasiun televise yang siap menayangkan hal tersebut ke seluruh penjuru dunia. Sepertinya islam sedang digerogoti pijakannya, dan jika penghuni yang di dalamnya tetap acuh tak acuh, maka tentunya kehancuran tak bisa terelakkan.
Mari kawan, mulai dari yang bersatu, yang berhimpun sampai yang bergerak, satukan langkah dan tekad kalian, jangan biarkan payung kalian dihina dan dicampakkan oleh musuh-mush kalian. Pergerakan adalah salah satu langkah yang mesti kita lalui, karena jika kita hanya berdiam di atas ranjang, itu sama saja mengubur islam di kebodohan kita.
Tak ada perjuangan tanpa pergerakan, karena kunci dari perjuangan adalah bergerak, akan tetapi pergerakan pun tak akan ada artinya, tanpa didasari oleh kesadaran akan nilai-nilai luhur yang telah agama ajarkan. pancasila yang menjadi dasar Negara pun harus semakin ditegakkan guna membentuk insan yang berjiwa nasionalisme. Sehingga diharapkan, kolaborasi antara jiwa keislaman dan nasionalisme akan melahirkan generasi bangsa yang membawa kedamaian, tidak dibelenggu oleh sifat panatisme buta dari ajaran-ajaran yang mereka anut. Karena disadari atau tidak, salah satu faktor munculnya aksi terorisme yang selalu membawa nama islam adalah karena beberapa sekte dari umat islam sendiri yang pemahaman mereka masih setengah-tengah dengan konsep jihad kemudian dibalut dengan kefanatikan.
Islam bukanlah teroris, akan tetapi agama yang membawa kedamaian dan mengajarkan toleransi dan kasih sayang diakalangan umat manusia dan seluruh alam. Islam adalah permata yang tidak tertandingi harga dan kemuliannya. Akan tetapi jika penganutnya hanya bangga tanpa memperjuangkannya, tentu permata akan menjadi besi karat yang tak ada harganya. Mampukah kita menepis tuduhan mereka tentang islam yang mereka katakan teroris?  Tentu tidak hanya dengan kata-kata, akan tetapi dengan perjuangan dan tingkah laku.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz