Senin, 10 Oktober 2011

Memposisikan Kembali Mahasiswa Sebagai Kelas Menengah

Pada sebuah acara diskusi yang diadakan pada hari selasa 4 oktober 2011, di “Rumah Perubahan” di Jakarta, dengan tema “Krisis Kepercayaan Pada Penguasa”, yang salah satu pernyataan pada diskusi itu, mengatakan bahwa salah satu yang diharapkan untuk mencegah keterpurukan bangsa yang sekarang tengah di ujung senja adalah peran kelas menengah untuk bergerak, turun ke jalan menyampaikan aspirasi masyarakat, akan tetapi dewasa ini sudah tidak pernah terlihat lagi aksi mereka, spertinya mereka tengah tertidur lelap, sudah tidak peka lagi dengan keadaan disekitar mereka yang memanggil-manggil mereka untuk membantu meredakan peristiwa demoralisai pemimpin yang kian melambung.
Tidak lain dan tidak bukan, kelas menengah yang dimaksud disini adalah mahasiswa yang sebagaimana perannya adalah Agent of change, sudah seharusnya mereka memekakan diri mereka terhadap arus kebobrokan yang sekarang tengah memporak-porandakan negeri ini, tugas mereka untuk menghentikan arus tersebut harus segera dan efektif, karena jika dibiarkan hal itu berlanjut, berarti membiarkan Indonesia menuju ujung peradabannya.
Keadaan Indonesia yang sekarang tengah terbelit beragam permasalahan yang menampar seluruh aspek kehidupan, mulai dari agama, social, politik dan kebudayaan. Ditambah dengan ketiadaan solusi yang kongkrit, sangat memprihatinkan kita semua. bruntung memang bangsa Indonesia tidak terekspose masyrakat dunia, karena jika hal tersebut terjadi, berarti akan memberikan ancaman serius dalam ketahanan kesatuan Negara, karena bisa jadi hal itu idimanfaatkan Negara-negara maju untuk menghancurkan keutuhan Negara melalui politik berpura-pura memberikan bantuan, padahal dibalik semuanya terselip rencana mematikan untuk mengubur Indonesia dalam kehancurannya, sebagaimana yang telah kita saksikan di Negara-negara di dunia, seperti unisoviet, dan lainnya.
Teriakan masyarakat untuk tidak lagi terbelit masalah hidupnya hanyalah teriakan kosong yang tak bermakna, seperti teriakan orang yang tersesat di kedalaman hutan, berteriak namun suaranya hanya dipantulkan ruang hampa ke pendengarannya sendiri, sunyi dalam lolongan tangisan penuh kepedihan. Sepertinya teriakan masyarakat hanya lantunan music di tengah-tengah kesibukan wakil mereka. Suara itu hanya pengantar mereka menuju tidur nyenyak mereka.
Siapa yang peduli dengan teriakan tangisan mereka, ketika kebimbangan merebah di seluruh lapangan jiwa mereka, bingung karena janji dan konsep yang dipersembahkan tanpa ada bukti kongkrit dari semuanya, masyarakat hanya berharap dan berharap, seperti mimpi abadi yang tak pernah usai,
Wiliam James mengatakan bahwa, “Ide, gagasan dan konsep tanpa didukung oleh konstruksi intelektual yang kokoh, hanya akan menimbulkan kebimbangan yang merebah kemana-mana. Bertolak dari pernyataan wiliam di atas, jika menyaksikan pemandangan kehidupan dan pemerintahan bangsa Indonesia dewasa ini, mungkin ide,gagasan serta konsep kenegaraan di bangsa ini masih belum di topang oleh konstruksi intelektual yang kokoh, sehingga kebijkan hanya memberikan suasana hambar dan kebimbangan yang merebah kemana-mana.
Begitu banyak amanat undang-undang yang menunjuk untuk kesejahteraan rakyat, akan tetapi tak pernah rakyat terseka dari penderitaan mereka, boro-boro mau sejahtera, menyeka kemiskinan pun seperti memindahkan batu besar dari lubang yang teramat dalam. Undang-undang hanya konsep basi, yang keberadaannya hanya sebagai label dan formalitas kenegaraan.
Kembali ke pokok permasalahan, mahasiswa yang dari awal kelahiran bangsa ini telah memberikan peran yang sangat luar biasa kepada Negara ini, mulai dari perjuangan kemerdekaan sampai pembebasan bangsa ini dari pemimpin otoriter yang telah mengekang bangsa ini dalam masa krisis yang sangat pelik. Membuat kita yakin akan potensi mahasiswa yang sangat besar dan kuat itu.
Akan tetapi dewasa ini, tak pernah lagi kita mendengar suara mereka, tak permah lagi kita menyaksikan mereka memperjuangkan aspirasi masyarakat bangsa. Meski masih ada sebagaian, namun itu hanya sebagian kecil yang pengaruhnya tak berbekas jika kita melihat kenyataan hari ini, suara segelintir mahasiswa yang turun ke jalan tak mampu menghentikan kezholiman pemerintah terhadap rakyatnya. Harus saya katakan bahwa sebagaian besar mahasiswa dewasa ini tengah tertidur pulas, sepertinya mereka tengah terlihai dengan fasilitas hidup yang kini merka miliki. Mahasiswa hanya sibuk dengan hand phone mereka, mahasiswa hanya sibuk memainkan laptop mereka, mahasiswa banyak disibukkan dengan hal-nal tak beguna, bahkan sampai hal-hal yang menghancurkan mereka, yang mana hal ini akan berujung pada istilah demoralosasi mahasiswa.
Oleh sebab itu, saya mengajak kepada seluruh rekan-rekan mahaswa yang dewasa ini mungkin masih tertidur, bangunlah!! Bangkitlah dari ranjang kemalasan dan individualisme kalian, rakyat tengah mengharapkan langkah kalian untuk memperjuangkan hak-hak mereka, tangisan mereka masih menjulang ke angkasa, tak ada yang mendengar mereka. Hanya kalianlah wahai kaum pemuda, sebagai mahasiswa yang gagah untuk bangkit memperjuangkan rakyat Indonesia, karena kalianlah kaum intelektualis yang dibutuhkan Negara ini untuk menjalankan seluruh ide, gagasan dan konsep serta amanat undang-undang Negara yang bertujuan untuk kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Posisi mahasiswa sebagai kaum menengah harus tetap dieksistensikan, mahasiswa harus bebas dari pihak-pihak yang berniat busuk, mahasiswa harus bisa membedakan mana yang putih dan mana yang hitam, mahasiswa harus reflektif dalam menanggapi permasalahan sosial masyarakat, sehingga diharapakan keberadaan mahasiswa benar-benar sebagai Agent of change, yang mengayomi dan memperjuangkan hak-hak masyarakat, semoga!   

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz