Minggu, 06 November 2011

Ibadah Qurban


Berkurban Sebagai Bentuk Ketaatan Kepada Tuhan Dan Kepedulian Terhadap Sesama
Belakangan ini, adalah saat-saat suara mbeakan kambing terdengar di mana-mana, mulai dari rumah orang-orang yang tegolong kaya, sampai di jalanan-jalanan yang menjajakan hewan yang biasanya dipakai berkurban. Orang-orang pada berbondong-bondong mengkampanyekan keutamaan berkurban dengan menyetir beberapa firman Allah atau hadits nabi, kemudian ditulis di banner besar yang dipasang di papan-papan reklame di tepi jalanan kota yang biasanya padat lalu lintas.
Pemandangan ini merupakan hal yang lumrah mendekati hari raya Idul Adha. Hari raya yang disebut juga hari raya qurban ini, merupakan momen luar biasa terkhusus bagi kaum muslimin. Bagaimana tidak, pada hari itu ajaran islam memerintahkan ummatnya untuk berqorban (memotong hewan) di samping sebagai bentuk ittiba’ lisunnati rasulillah (mengikuti sunnah rasul) juga sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Berkurban adalah
Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk menyingkap tabir hikmah dari perayaan hari raya qurban. Hari raya ummat islam ini, memang terkhusus bagi kaum muslimin, akan tetapi jika kita telusuri lebih jauh, perayaan ini bukan terbatas sebagai sebuah ritual keagamaan, namun merupakan bentuk rasa kemunasiaan dan tenggang rasa terhadap sesama. Kenapa demikian? Salah satu pantangan bagi seorang yang berqurban adalah tidak boleh memakan daging hewan yang diqurbankan. Dalam artian, semua daging hewan yang dikurban harus diserahkan ke para kaum fakir miskin dan dhuafa’. Dari sana kita bisa belajar tenggang rasa, yakni berbagi nikmat yang dititipkan Tuhan kepada kita, sehingga kaum miskin dan dhuafa setidaknya dapat merasakan rasa empuk daging yang pada kesehariannya merupakan hal yang luar biasa dalam hidangan mereka.
Ketika saya lewat dijalanan kota batu, saya melihat tulisan di sebuah pom bensin (pertamina) dengan banner yang lumayan besar bertuliskan, “qurban di kota manfaat di desa” kemudian tertera di bawahnya nama lembaga yang siap menyalurkan daging qurban. Sekilas jika kita melihat tulisan ini, tulisan ini hanya sebatas mengkampanyekan tentang sebuah instansi yang siap bertugas sebagai penyalur daging qurban ke desa-desa terpelosok, akan tetapi jika kita lihat dari makna hermeniutiknya, kalimat ini merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan yang berbentuk tenggang rasa, yang peduli akan keberadaan orang-orang yang dari segi ekonomi belum beruntung, hal ini tentunya akan lebih meningkatkan hubungan baik antara masyarakat kota dan masyarakat desa, yang pada kenyataannya, dua kelompok masyarakat ini merupakan dua kelompok yang duet keduanya sangat dibutuhkan dalam keseimbangan produk-produk pangan, yang mana masyarakat desa sebagai penyedia bahan baku, kemudian masyarakat kota sebagai pengolah bahan baku, sehingga kerjasama keduanya sangat dibutuhkan. Dengan adanya perayaan kurban, simbiosis antara masyarakat desa dan masyarakat kota bisa semakin mesra, dalam artian lebih mengharmoniskan hubungan bilateral keduanya.
Jika kita meninjau sejarah, hal seperti di atas juga merupakan metode rasulullah saw dalam merangkul masyarakat yang kurang mampu, sehingga masyarakat hidup harmonis dalam naungan nabinya, begitu juga para kaum kaya lebih ikhlas memberikan hartanya di jalan Allah karena mengharap ridha Allah.
Sangat disayangkan, jika hari raya kurban menjadi ajang saling pamer kekayaan oleh para kaum konglomrat, yang pada kelanjutannya akan menghilangkan esensi dari berkurban itu sendiri, begitu banyak sekarang kita lihat, para pemimpin berbondong-bondong melaksanakan kurban, para caleg (calon legislatif) menjadikan momen hari raya kurban sebagai ajang mengkampanyekan diri, dan mengambil hati masyarakat menengah ke bawah untuk memilih dirinya, tentunya hal ini sangat bertentangan dengan tujuan kurban pada hakikatnya sebagaimana firman Allah dalam Al quran surat al hajj ayat 37, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.  Dengan demikian perlu pembersihan jiwa sebelum melakukan kurban, dengan cara mengikhlaskan diri sepenuhnya karena Allah.
Hari raya kurban, semestinya juga jangan menjadi ajang penyombongan diri oleh para pengurban kepada orang-orang yang menerima kurban, karena itu sama saja menghapus amal ibadah kurban, salah satu yang akan menghapus sedekah seseorang adalah karena ia mengatakan sesuatu yang melukai hati penerima sedekah, demikian disebutkan dalam hadits rasulullah saw.
Untuk itu, marilah kita menjadikan hari raya kurban sebgai bentuk solidaritas social kita terhadap sesama dan meningkatkan tenggang rasa di antara kita, karena pada dasarnya tujuan berkurban adalah membentuk manusia yang social dan tangga terhadap keadaan sesama yang mungkin masih kurang beruntung dalam masalah ekonomi. Di samping itu pula, penting untuk menjaga hati penerima kurban, agar ia (penerima kurban) menerima dengan penuh kebahagiaan, yakni dengan cara tidak mengatakan sesuatu yang membuat luka hatinya.  Semoga hari raya kurban tahun ini membawa kita kepada kedekatan kepada Tuhan secara vertikal dan terhadap manusia secara horizontal.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz