Rabu, 23 November 2011

Penjara Jiwa

Di sebuah belahan bumi, seorang pemuda hidup dengan penuh semangat, pemuda yang tak pernah takut bermimpi, selalu oftimis dalam hidup, wajahnya berbinar, badannya tegap, ia begitu lepas menjalani hidup, tanpa kungkungan penderitaan atau gangguan manusia tak bermoral. Ia mengisi hidupnya dengan bekerja dan belajar dari alam kehidupannya. Hidup di desa tidaklah membuat ia harus takut bermimpi, namun justru gunung, hutan, sungai menjadi saksi bisu semangat membara sang pemuda untuk menaklukkan hidup. Akan tetapi sebuah malapetaka merampas semangatnya, melemahkan tubuh kekarnya, melupakan mimpi-mimpinya. Hal itu setelah jiwanya tertabrak sesosok wanita pemikat yang memisahkan raga dan jiwanya, jiwanya meninggalkan dirinya mencari sosok wanita dengan wajah berbinar yang ia jumpai saat berkungjung ke sebuah tempat yag merupakan hamparan Tuhan.
Sejak saat itu, hari-hari pemuda itu menjadi mendung, rintihan dan harapan tak pernah putus dari ucapannya dalam berkelana di desanya, ia tak memperhatikan lagi keadaan tubuhnya, ia tak peduli lagi dengan rencana hidupnya, kini ia telah tergantung di jiwa seorang wanita yang telah memenjarakan hidupnya dan seluruh perangkat jiwanya. Hingga gerak waktu seperti tak terekam sejarah. Hari-harinya berlalu begitu saja, tanpa makna, tanpa kepastian. Kebimbangan terus saja menyelimuti jiwanya, berbicara sendiri kepada sungai, gunung dan seluruh penduduk alam kecuali manusia, ia berceloteh seperti orang gila. Hingga sampailah pada sebuah maqom waktu, hingga ia temukan batu besar di pinggir sungai setelah ia berjalan beberapa minggu sejak cengkraman singa jiwa sang wanita itu, kemudian karena rasa lelah dan kekosongan perut yang mulai mencekik, ia sandarkan tubuh lemahnya di batu itu, kemudian berbisik kepada alam dengan suara parau dari tenggorokannya:
Seperti lentera yang padam diterpa badai, begitulah aku rasakan saat kau memintaku untuk mengapani keinginanku memilikimu. Awan pekat seakan menyerbu ubun-ubunku, memaksaku menenggelamkan perahu kehidupanku pada lautan darah dan nanah atas keinginanku menyebrangi selat yang menhubungkan jiwaku dan jiwamu.
Aku mengerti, tiada satupun ruang dalam jiwamu untukku, bahkan hanya sekedar untuk mengetuk pintu jiwamu aku harus berkelahi dengan jutaan singa beringas di halaman rumah jiwamu.
Disini, antara keinginanku dan takdirku, seperti dedauanan bernyanyi lembut yang terombang-ambing angin di sebuah lahan kehidupan, pasrah dalam bisikan kerinduan yang dihembuskan Tuhan kepadanya. Betapa hatiku rindu pada sosok dirimu, sosok yang telah memenjarakan jiwaku dalam goa cinta yang dikelilingi oleh  jutaan hewan buas.  Namun tidak sedikitpun membuatku surut dalam medan juang, sehingga membuat kerinduan sebagai sebuah candu yang tiada mati.
Kerinduanku untukmu, antara rasa cintaku dan kesetiaanku atas kebahagiaanmu. Aku mulai goyah dengan kata-katamu di sebuah kesempatan waktu itu, ketika kau sampaikan kepadaku bahwa rasa cintaku hanyalah prosesi setan yang terbentang di kepalaku, ketika kau katakan, bahwa aku hanya mencintai bayangan. Aku tak peduli, apakah aku sedang mencintai bayangan atau mengikuti prosesi setan, yang jelas cinta telah berbisik kepadaku, dan bisikan itu menuju kepadamu.
Lelaki mana yang mampu membuang pikirannya menuju sesuatu, ketika seluruh jalan pikirannya ditutupi oleh bayangan cinta? Sehingga setiap nafas yang keluar adalah nafas-nafas cinta, dan setiap langkah yang tercipta adalah langkah-langkah cinta, sementara setiap lisan yang tergerak adalah kata-kata cinta? Akankah aku membuang seluruh nafasku menuju kuburan masa dan menghentikan seluruh gerakku dalam peti kematian, dan lidahku mulai kelu dan tak bisa berkata apapun kecuali seperti celotehan orang gila di sebuah padang pasir?
Dosa apa yang telah aku lahirkan sehingga kini aku terhempas oleh siksa yang mulai aku nikmati ini? Mencintaimu, seperti berdiri di antara dua aral ketika gempa terjadi, perlahan gempa menyeret aral menuju pijakanku, dan tubuhku mulai melapuk seiring melapuknya kedua aral itu. Mataku mulai berair saat pintu kemustahilan kau ciptakan di hadapanku, ku berdiri terpaku dalam desahan nafas yang tersengal, antara keberanian dan rasa lelah yang menyelimuti tonggak pernafasanku, mencekik hebat kerongkongan yang memindahkan seluruh udara yang menuju paru-paruku. Sekali lagi, aku tetap menikmati penderitaan ini.
Kini, memasuki beberapa langkah sejak penderitaan itu menjadi candu, aku mulai berusaha mengubur wajahmu dan menanam karaktermu. Tapi tangan Tuhan telah mengikat jiwaku dengan keberadaanmu, sehingga setiap wajah yang aku kubur, selalu berganti dengan wajahmu yang berbinar seperti rembulan dan setiap karakter yang aku tanam, selalu berbuah dengan buah yang lebih banyak dan mengikat kerinduanku pada sosok dirimu.
Aku harus berjalan, aku tak mungkin terjebak di gerbang jiwanya, perjalananku masih panjang, hamparan karunia Tuhan masih luas di seberang sana. Namun seluas apapun bumi, jika hati terasa sempit, apakah tubuh ini bisa berjalan tegap? Atau harus memaksa tubuh meski dengan secuil jiwa atau mungkin lebih kecil? Tidak, tidak…. Aku tidak bisa.
Wanita itu, siapa gerangan yang telah membasuh jiwaku sehingga setiap nafasku adalah dirinya dan setiap langkahku adalah langkahnya? Tuhan…. Inikah penjara jiwa? Penjara yang tak berterali namun seperti tembok api yang terus membakar jiwaku?

Sunyi menyergap suasana itu, angin gunung turun menyapa lolongan anak muda itu, riukan sungai makin tenang dalam lantunan musik Tuhan, sementara pepohonan bergoyang mengikuti irama sungai, sepertinya alam sedang menunjukkan empatinya pada pemuda itu, yang mana hal itu dikomandai oleh Tuhan. Suara batin pemuda dan suara alam waktu itu, mengantarkan pemuda itu pada perasaan yang tak ia mengerti, udara di atas kepalanya mulai ia rasakan berputar, sekilas matanya yang mulai memandang remang  melihat sesosok cahaya mengahampirinya, namun tak bisa ia terjemahkan hal itu, karena begitu cepat menghampirinya dan memeluknya serta mengambil sesuatu di atas kepalanya. Seketika tubuh pemuda itu terjerembab ke tanah, sesosok cahaya itu menekuk pemuda itu dalam alam bawah sadar yang menjadikannya melipat matanya dan menutup seluruh pandangannya kepada dunia, kini ia telah berhadapan dengan alam keduanya, alam selepas mata terpejam.
Beberapa saat kemudian, Sesosok bayangan hitam menghampiri tubuh pemuda yang tak sadar itu, menutup sinar matahari yang menghampirinya. Cahaya matahari membawa wajah bayangan itu terpantul ke air jernih sungai, sejurus kemudian, muncullah wajah berbinar di kejernihan air itu, seperti putri yang bersolek di hadapan cermin kecantikannya. Sejenak kesunyian menyergap hutan itu, angin perlahan menyepoi di antara rambut pirang wanita dengan wajah berbinar itu. Tergores kecantikan sesaat yang lebih agung dari pergerakan rambut indahnya.
Wanita itu adalah mimpi pemuda itu, kini ia datang karena panggilan jiwa sang pemuda itu, meyambut pikiran pemuda dengan penuh senyuman, dan mempersembahkan kecantikannya hanya untuk pemuda itu, pemuda yang telah terpenjara karena wajah dan karakter wanita itu, kemudian wanita itu duduk dan mengambil kepala pemuda itu dan menaruhnya di pangkuannya. Dengan suara setengah berbisik, wanita itu memanggil pemuda itu, mencoba memisahkan alam bawah sadarnya dengan kehidupannya, namun sunyi tetap menjadi jawaban tunggal dari panggilan sang wanita.
Sementara ia menunggu pemuda itu terbangun, ia perhatikan lekuk tubuh pemuda itu, wajah sayu yang tak pernah memejamkan matanya untuk beberapa hari setelah wanita itu menolak cintanya, tubuh kurusnya begitu memprihatinkan karena waktu yang dijalani tanpa mengisi perut mungilnya, itu semua karena permintaan gadis itu kepada pemuda itu untuk tidak mencintainya, karena hal itu merupakan kemustahilan abadi bagi dirinya. Kata-kata wanita itu, ternyata tidak memberikan udara segar bagi pemuda itu, namun justru menjadi udara sesak yang mencekik keras dikerongkongannya. Hingga hari-haripun pemuda itu isi dengan rintihan dan harapan untuk memiliki cinta pujaan hatinya.
Ia ingat akan keinginan tulus pemuda itu untuk memilikinya, mempersembahkan dirinya untuk hidup sang wanita itu, ia pun berlari kemasa itu dengan wajah yang perlahan berubah, terbersit sesal dalam mimik wanita itu. kemudian wanita itu melanjutkan memegang wajah pemuda itu, berharap dengan segera bangun dari tidurnya dan memeluk dirinya, karena dialah yang pemuda itu inginkan, wanita itulah cinta mati pemuda itu, hingga ia lupa akan hidup dan mimpi-mimpinya.
Senja mulai berbisik menyapa hari itu, pemuda itu tetap dalam pejaman matanya, sementara wanita itu masih dalam posisi memangku kepala sang pemuda yang kini sudah ia anggap kekasih itu, perlahan suara gadis itu mulai naik dari sebelumnya yang bernada setengah berbisik, “cintaku, bangunlah! Ini aku yang engkau inginkan, jiwa pemikat yang sering engkau dengungkan, kekasih yang selalu kau nantikan”, namun hanya riukan air sungai yang masih jelas di pendengarannya, sementara sahutan dari pemuda itu masih tertutup pejaman matanya.
Malam mulai berbisik, jubah kegelapan telah Nampak  dikenakan malam, menutup gunung, pohon dan bentangan sungai dihutan itu, namun tak menghilangkan riukan air sungai yang tetap menjadi teman wanita itu di pedalam hutan itu. Suara wanita itu semakin meninggi membangunkan kekasihnya, kini dengan mata yang berair, “kekasihku, bangunlah! Malam telah tiba, kita harus pulang, menikmati pemandangan malam ini”, namun sekali lagi kesunyian malam lebih hening menjawab, sepertinya pemuda itu sudah tidak lagi mempedulikan wanita yang begitu ia kagumi, jiwa yang telah memenjarakannya dalam penderitaan yang maha panjang.
Akhirnya wanita itu sadar, bumi ia rasakan menghimpitnya, jiwanya seperti tertawan jutaan bala tentara, membuat ia merasakan sesak di dada, Ia sadar, bahwa orang yang sangat tulus mencintainya itu sudah tiada, meninggalkan seluruh penghormatan pemuda itu kepadanya, atas wajah yang berbinar dan karakter yang telah menggantung kerinduan pemuda itu padanya. Ternyata sesosok cahaya itu adalah malaikat penjabut nyawa yang telah memisahkan pemuda itu antara cinta dan penderitaannya. Cinta pemuda itu telah diangkat Tuhan menjadi sebuah keagungan, sementara penderitaan itu telah dialihkan Tuhan ke wanita itu. Kini hari-hari wanita itu menjadi mendung, semangat hidupnya memudar, jiwanya tergantung di jasad pemuda yang telah meregang nyawa karena kezholimannya. Wanita itu hidup dalam penderitaan dan kegelisahan yang pekat.
Malang, 7 november 2011. Pukul: 10.20 WIB  

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz