Sabtu, 05 November 2011

sang wanita pemikat

Wanita pemikat, kemanakah gerangan kau membawaku? Kemana aku harus mengikutimu di atas jalan yang tak rata dan berliku di antara karang-karang ini? Di atas jalan yang diliputi duri-duri kita mendaki ke atas puncak-puncak gunung dan sendirian turun menuju kedalaman.
Aku melekat dalam kurunganmu dan mengekor di belakangmu seperti bocah bergayut pada ibunya, melupakan mimpi-mimpiku sendiri dan menatap kecantikan di dalam dirimu. Kubutakan diriku untuk prosesi setan yang berputar-putar dalam kepalaku, terpesona dalam kekuatan tersembunyi yang bersemayam dalam tubuhmu.

Hari-hari ini, aku mulai berputar dalam lingkaran kebisingan yang terlahir dari kemunculan seorang gadis dengan wajah berbinar. Keelokan paras dan sikap menjadi magnet tunggal yang menarik jiwa dan seluruh kerinduanku kepadanya, namun tetap saja terhempas di ujung pantai yang menjadi gerbang pulau jiwanya.
Aku pahami bahwa memilikmu seperti memiliki bumi dan seluruh isinya, sehingga setiap harapan yang terbangun pasti telah tergantung di batang pohon kemustahilan. Namun kemustahilan itu telah menjadi candu bagiku, hingga air mata pun seperti tanda kebahagiaan bagiku. Goresan tinta kepedihan di lubuk jiwa adalah hal biasa ketika aku mulai menggendong cintamu yang tak aku pahami kapan engkau akan mengetahuinya.
Wahai jiwa pemikat,
Lolongan angin malam yang selalu menemaniku melukismu di udara depan wajahku adalah instrument handal yang membawaku menuju peraduanmu, peraduan yang seperti berjarak antara bumi dengan langit, namun aku selalu menjadi cahaya di atas cahaya yang berlari kencang menembus seluruh petala bumi dan langit hingga aku sampai di wajahmu, wajah yang tak pernah berhenti tersenyum namun selalu menyimpan tanda Tanya dan misteri.
Jika pagi menyapa, maka wajahmulah yang membangunkanku, membasuh mukaku dan menendang seluruh hasrat untuk melipat tubuh dalam selimut lagi. Hingga aku sering bertanya, apa gerangan yang telah melipat jiwaku dalam hazanahmu? Sehingga aku seperti pintu tunggal menuju singgahsanamu? Dimana aku saksiakan jutaan pangeran membawa tahta dan hartanya untuk melamarmu? Sementara aku hanya menggendong jiwa dan cinta yang telah meneguk racun dari dirimu yang aku rasakan manis itu.
Inilah aku wahai jiwa pemikat,
Seorang laki-laki yang tak memiliki sesuatu untuk dibanggakan, namun bagaimana pendapatmu tentang pohon cinta yang dibangun Tuhan di istana yang luasnya seperti bumi dan langit? Dengan jutaan mahligai emas dan perak di dinding-dindingnya? Ketahuilah wahai jiwa pemikat, bahwa pohon itu adalah jiwaku dan istana itu adalah singgahsanaku.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz