Minggu, 20 November 2011

Untuk Kepastian Cinta


Setelah lama berjalan dalam terowongan cinta, ketika udara panasnya telah kurasakan sejuk, air mata telah kuanggap nikmat, dan sosoknya dalam jiwaku tetap kuanggap sebagai sebuah anugerah…
Kini aku sampai pada sebuah sketsa pengaduan, pengaduan ketulusanku kepada Tuhan.
Tuhan….
Dalam nestapa ini, saat hamba merasakan nikmatMu yang hamba harap itu adalah rahmatMu..
Kesejukan dirinya telah melambaikan tanda-tanda kekuasaanMu, aku mulai melirik dirinya sebagai takdir yang Engkau tuliskan untukku. Tapi setiap kali aku hempaskan rasaku dalam ruang jiwanya, jiwanya selalu tersipu dalam kelam pengetahuannya tentang cinta, sambil mengutarakan cerita jiwanya yang menganggap sesorang telah memilikiku,
Aku tak tahu atas dasar apa ia utarakan kata yang selalu menjadi hijab abadi untuk ku merangkulnya, kata-kata yang selalu membuangku dalam diam dan kelu yang memaksa.
Antara diriku, jiwanya dan jiwa kedua miliknya…
Ku mulai menerka satu persatu barisan kehidupan yang aku jalani, sambil menerka haluan hidup yang menjadi jalurnya. Aku berbisik dalam gerak waktu yang membawaku dalam pengelanaan panjang sejak aku mulai mengenalnya.
Waktu itu, ketika hamparan Tuhan menjadi sebuah lapangan pertemuan antara dirinya dan diriku, aku melihat dia sebagai seorang yang baik. Meski aku tak tahu karakternya yang sesungguhnya, namun sikapnya telah menunjukkan sifat nabi yang ia rekam dalam tingkahnya.
Roda zaman melibas kebersamaanku dengannya, hingga kami sampai pada gerbang perpisahan, namun apakah sebab cinta atau persahabatan yang telah melekatkan ia dalam jiwaku dan melukis ia dalam alam pikiranku hingga perpisahan seperti awal sebuah perasaan yang mengintip dalam jiwaku dan mengibaratkan ia sebagai seorang yang angung dalam kacamata jiwaku? Hingga kini ia menjadi sebuah jubah kehidupan yang membungkusku dalam setiap langkah dan pengelanaan.
Apakah salah aku memilikinya? Merangkulnya dalam bahasa jiwa yang manusia katan cinta, namun bagiku itu adalah anugerah, anugerah dariMu yang maha cinta yang Engkau percikkan untukku dan untuk pasangan jiwaku. Aku ingin menjadi gemerlap cahaya yang menerangi langkahnya, menjadi air kesejukan yang ia teguk saat dahaga berbisik di kerongkongannya. Akan tetapi ketulusanku hanya akan menjadi tanah basah yang melambangkan kematian jika ia tetap berdiri di kedalaman jiwanya, tanpa mencoba melihat sepercik saja dari bayanganku.
Tuhan, apakah telah berlebihan rasa ini? Rasa yang muncul dari garis kehidupanku yang kini mulai meranjak dewasa, lantas ku saksikan ia sebagai sesuatu yang menarik dariMu dan ku harap menjadi bagianku dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
Percikan luka masa silam mungkin akan menjadi hijab buram dalam langkahku, namun ku yakin itu akan berlalu siring dengan datangnya rahmatmu yang berbentuk wanita dan mengambil tempat terindah dalam jiwaku.
Tuhan…. Jika penolakannya merupakan penolakanMu, maka biarlah rasa ini menjadi penyejuk sesaat yang kuharap akan Engkau ganti dengan air yang lebih sejuk. Namun jika penolakannya justru menjadi langkah yang harus aku lalui dalam memenuhi jalan takdirMu, maka kuatkan aku dalam menghadapinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz