Jumat, 23 Desember 2011

IJTIHAD BUDAYA

Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan, merupakan karunia Tuhan yang wajib disyukuri. Tuhan telah menganugerahkan akal yang dengannya manusia bisa merefolusi diri, Tuhan anugerahkan jiwa yang dengannya mereka bisa merasakan dan merenungkan segala ciptaan Tuhan.
Perjalanan kehidupan manusia dalam mengarungi titah Tuhan telah melewati begitu banyak dimensi ruang dan waktu yang disertai dengan silih bergantinya adat kebiasaan ataupun nilai-nilai yang bermunculan. Kebudayaan yang merupakan salah satu hasil dari pola pikir dan gaya hidup manusia pun tidak luput dari belaian glombang nilai-nilai baru yang terbawa dari budaya luar atau karena kemajuan pola pikir manusia itu sendiri. Sehingga masalah-masalah baru merupakan hal yang tak bisa dihindarkan dalam berbudaya itu sendiri.
Bertolak dari hal tersebut, dan melihat kenyataan masa kini, ketika nilai baru begitu banyak bermunculan, sehingga terkadang banyak kita temukan satu kebudayaan berbenturan dengan kebudayaan lain atau nilai-nilai baru yang muncul, hal tersebut tidak sedikit membuat perpecahan pada ujungnya, bahkan konflik berdarah. Sehingga solusi untuk hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga keselarasan hidup dan budaya yang pada hakikatnya tidak akan pernah mati, dengan artian akan selalu berkembang dan berefolusi.
Istilah ijtihad budaya merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh para pemikir atau budayawan dalam menyikapi keragaman budaya (culture diversty) dan kemajuan pola
pikir manusia yang tak akan pernah terbatas (selalu berkembang) yang tidak jarang berbenturan satu sama lain. Ijtihad budaya merupakan usaha untuk bagaimana menyikapi keberagaman tersebut agar perbedaan tidak menjadi sebuah perpecahan, akan tetapi justru menjadi wasilah perkembangan peradaban manusia melalui keragaman  budaya yang mereka miliki.
Pengertian
Secara etimologi, kalimat ijtihad budaya terdiri dari dua kata, yakni ijtihad dan budaya. Ijtihad berasal bahasa arab dengan asal kata, jahada yang berarti kadda yakni berusaha dengan sungguh-sungguh, berusaha sekuat hati. Adapun budaya sebagaiman banyak kita temukan dalam buku-buku kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta yakni budhi dan daya yang berarti budi dari daya yakni kekuatan berfikir. Adapaun secara terminology, ijtihad budaya dapat diartikan sebagai bentuk usaha memahami nilai-nilai baru yang menyangkut budaya yang lebih dulu, untuk membentuk nilai baru yang lebih kompleks.
Beberapa rintisan dan pentingnya Ijtihad Budaya
1.    Dalam Al quran banyak sekali ayat-ayat alquran yang menjelaskan tentang pola fikir manusia yang terus berkembang (berbudaya) dan juga ayat-ayat tentang hubungan manusia dengan sesamanya (intraksi social) dan mahluk-mahluk Tuhan lainnya. Seperti: Q.S Ali imran: 190, Q.S Alhujarat: 13, dan lainnya.
2.    Robert E. Park mengatakan bahwa dalam menyikapi perbedaan-perbedaan cultural kebudayaan mesti dibaca sebagai kerangka-kerangka social beserta hubungan-hubungannya bukan sebagai proyek individu semata.
3.    Bambang sugiharto, menegaskan bahwa, kemampuan utama khas manusia adalah bahasa, maka makna-makna hubungan komunikasi itu umumnya diartikulasikan  dalam konseptualisasi diskursif alias dalam wacana.
Ijtihad budaya adalah sebuah usaha memahami nilai-nilai baru yang menyangkut budaya yang lebih dulu yang muncul karena pola fikir manusia yang terus berkembang dan kebudayaan yang beragam, untuk membentuk nilai baru yang lebih kompleks.
Pentingnya ijtihad budaya karena dalam amplifikasi relasi setiap kebudayaan dapat berbenturan dengan beberapa hal:
1.        Setiap kebudayaan kerap terpaksa menghadapi politik representasi yang multifaset yang membentuk identitas secara hegemonik dan tak adil.
2.        Setiap kebudayaan berkemungkinan luas melakukan transaksi cultural, dan setiap kebudayaan tersedia untuk menjadi pilihan ataupun kiblat.
3.       Setiap kebudayaan berhadapan dengan serbuan relativisme kultural akibat intensifikasi proses komunikasi (asimilasi, akulturasi, dsbg)
4.        Setiap elemen kebudayaan digempur oleh pelbagai peluang transmisi dan difusi karena interelasi maupun intrarelasi jejaring.
Contoh ijtihad budaya
Ijtihad budaya yang dilakukan para wali di Jawa, tempo dulu, berhasil mendakwahkan agama Islam (sebagai bagian dari strategi Islamisasi) sampai ke dua jantung masyarakat sekaligus (kraton dan rakyat di pelosok desa). Nilai-nilai Islam dalam lapis-lapis budaya masyarakat, menurut sejarawan Taufik Abdullah, masih terasa ada sampai hari ini. Demikian pula jejak budaya Islam, sebagaimana dicatat Denys Lombart, memang diakui adanya. Melalui jalur akulturasi budaya, menurut Ahmad Tohari, para wali menyebarkan agama Islam di Indonesia. Mereka mencerahkan atau “meng-Islamkan” dengan menciptakan semacam pengisian-pengisian baru dalam seni budaya lokal yang sudah ada.

*tulisan ini merupakan hasil dari perkuliahan mata kuliah: “Pengantar Ilmu Budaya”. Mohon maaf jika tidak bisa menampilkan rujukan buku-buku yang kami gunakan.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz