Rabu, 07 Desember 2011

Untuk suksesnya sebuah kegagalan cinta

Katup kehidupan terbuka di ujung senja, menceritakan kepada dunia akan makna hidup yang terjewantah dalam rekaman zaman. Hatiku dingin dalam kelu yang memaksa, seolah kekang zaman mengunci erat rongga leher untuk berbicara, membangun prahara gelap dalam sebuah ruangan kehidupan.
Aku berlari dari masa petang itu, mencari keberadaan cahaya yang mulai sangat aku rindukan. Ketika aku sampai pada suatu tempat, ku saksikan tebing tinggi yang menjulang menuju muka langit, Nampak wajah langit yang murung dalam kegeraman yang pekat. Aku bertanya, ada apa langit, kenapa kau tak pernah tersenyum kepadaku?
Bahkan hanya untuk melirikku dengan sebuah percakapan hangat enggan kau lakukan.
Langit diam, angin kegelapan memberontak dari ufuk barat, memporak-porandakan tempat yang sudah tak indah itu lagi. suasana semakin aneh, sementara jiwaku masih sibuk menerjemahkan semua.
Di balik keganasan alam yang tiba-tiba itu, mataku menangkap sebuah mahluk yang bertengger di sebuah pohon kehidupan, aku menyaksikan ia terpenjara dalam kegelisahan yang bergejolak, sementara di belakangnya, tepat di atas kepalanya, burung gagak berputar-putar, isyarat bayangan kematian mengintip dari jarak yang tak jauh. Aku menghampirinya, kemudian melemparkannya senyum yang masih bisa aku paksakan untuk menghormati sosok yang aneh dan tak aku pahami itu.
Kuucapkan kata pembuka untuk membuka percakapan dengannya, akan tetapi suasana seperti digantung kesunyian, sehingga setiap kata yang aku keluarkan selalu disergap sunyi yang lebih bergema, sepertinya aku hidup hanya seorang diri di lahan itu, sementara sosok itu adalah bagian alam yang hanya bisa terdiam menyaksikan penderitaan alam yang mulai menjadi bagian kegelisahanku.
Seiring kebisuan yang meneminani suasana gundah alam yang tak terbentang, aku mulai menerka satu persatu dari peristiwa itu, namun hatiku tak bisa berkomunikasi dengan semua itu, bahkan dalam jiwaku tetap mengalir sungai kesedihan yang tercipta dari luka masa. Di ujung sebuah perjumpaan, antara jiwaku dan takdirNya, mengalir deras air mata dewi cinta yang menggambarkan penghormatan yang mendalam atas kepergian cinta dari ranjang kesetiaan. Atau kepergian cinta sebelum singgah di permadani yang sudah aku ciptakan dari sisa-sisa kehidupanku saat mulai mengenalnya.
Semua sudah sirna, alam telah memberontak dalam keheningan yang memilukan jiwa, sementara cahaya mentari mengabur karena tabir kematian yang membentang sejak goncangan dahsyat cinta dalam lahan kehidupan yang tak sampai dalam peraduan surga yang Tuhan ciptakan untuk dua insan yang saling mencintai.
Saat itu, aku mulai sadar jika peristiwa itu adalah persembahan alam yang berduka atas kegagalanku merajut cinta dengan sesorang  yang hampir mengambil tulang rusukku. Dan seorang dalam bayang-bayang kematian itu adalah jiwaku yang berada di ujung tanduk kepedihan. Menunggu waktu menguburnya, atau menghidupkannya,? karena cinta yang telah terluka, mungkinkah akan sembuh dari luka, atau mati untuk selamanya? Cinta dalam jiwaku tetap dalam badai yang mengoncang kehidupan, namun tetap berpegang pada tangan Tuhan, sehingga penderitaan menjadi hal biasa untuk terus menggali diri, membentuk monumen sejarah dalam jalan hidup. Aku mulai meliriknya sebagai sebuah pelajaran. Pelajaran yang Tuhan bungkus untukku dan untuk masa depanku.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz