Jumat, 30 Desember 2011

Waktu dan Cinta

Saat pergolakan waktu bergulir di masaku, ketika Tuhan untuk pertama kalinya meletakkanku di lahan kehidupan. Ketika tangan Tuhan melepas jasadku dari peraduanku yang hening, kemudian meletakkanku ke sosok perkasa yang tak pernah lelah merangkul jasad dan seluruh keluh kesahku. Sosok yang tak pernah mengeluh memenuhi seluruh permintaan dan kekanak-kanakanku, sosok yang tak pernah menunjukkan sikap jenuh dalam memenuhi seluruh permintaan dan renkehanku, sosok yang jalan spiritualnya tak pernah putus untuk menitipkanku kepada Tuhan.
Adalah ibu yang selalu menanam bibit cinta untuk anak-anaknya, menciptakan danau kesejukan untuk kehausan yang akan menghampiri buah hatinya. Ibu yang selalu galau ketika menyaksikan penderitaan yang terlukis di wajah anak-anaknya. Dan yang selalu tak tak kuasa menahan tangis ketika derita menimpa buah hatinya.
Hari ini, aku ingin berjalan dipelataran kisah indah yang pernah kita semua jalani dalam kehidupan ini, yaitu masa-masa indah dengan ibu yang selalu mencintaimu. Masa-masa indah dengan orang-orang yang serumpun dengan pohon jiwa kita, masa-masa indah dengan orang yang kita cintai. Masa-masa yang tak kan pernah kembali yang hanya akan terulang saat kau mencoba untuk mengetuk gerbang memori masa lalu.
Di ujung tahun ini, ketika
langkah hari semakin mendekati gerbang pembatasnya, aku menulis ini sebagai cahaya perenungan terhadap jalan hidup yang telah kita lewati, jalan hidup yang telah menayangkan suka, duka dan luka di perjalanan maha panjang ini. Jalan hidup ini seperti gelombang lautan yang terhampar di tengah samudra, ia akan tetap tenang ketika di tengah lautan, dan kemudian akan bergelombang ketika akan mendekati pantai, lalu sejurus kemudian akan terhambar dalam pelukan pantai. Begitulah hidup, ketenangan goncangan dan kedamaian.
Ketika kita lahir di muka bumi ini, Tuhan menitipkan kita pada malaikat kita, kemudian mengenalkan kita dengan orang-orang di samping kita, kemudian terus melangkah menuju hubungan yang lebih luas sampai kita bertemu dengan orang-orang asing yang kemudian beberapa orang darinya akan menjadi seseorang yang begitu dekat dengan kita, menjadi sahabat-sahabat kita, menjadi kekasih hati kita. Semua itu lahir karena keberadaan cinta yang selalu menyelimuti setiap langkah masa yang kita lewati.
Waktu yang Tuhan ciptakan untuk jalan hidup yang kita lalui adalah mahluk yang tak pernah menutup apapun dari kita, dia diciptakan untuk selalu berkata jujur, ia sepertinya mahluk satu-satunya yang bisa memberikan jawaban tanpa mengurangi atau melebihkannya. Waktu tak pernah berbohong, ia akan menjawab keluh kesah kita di suatu saat dengan senyuman di saat yang ditentukannya, demikian juga ia akan menjawab kegirangan, kebanggaan, kesenangan kita pada suatu saat dengan penyesalan dan penderitaan di saat yang ia tentukan. Benarlah Tuhan berkata: “bisa jadi kau mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu, dan bisa jadi kau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu”.
Memori masa yang telah terekam dalam batang waktu entah itu kepiluan ataupun kebahagian, akan begitu sangat indah ketika disikapi dengan kedewasaan dan kematangan spiritual. Cinta yang tak memihak ataupun perasaan yang tak sempat kau sampaikan kepada seseorang yang engkau cintai akan menjadi permata berharga dalam hazanah waktu yang tersimpan di ruangan khusus kehidupan kita yang suatu saat bisa kita tengok dan menciumnya dengan penuh penghargaan dan rasa bangga, karena itu adalah hadiah terindah yang Tuhan titipkan pada perjalanan waktu.
Begitu pula, jika hari ini engkau merasakan kesejukan cinta, kemesraan yang berasas nafsu, ataupun kegirangan yang tak pada waktunya, jangan pernah lupa bahwa suatu saat bisa jadi waktu akan membalikkan semua itu, sehingga merubah kata cinta menjadi hujatan dan kasih sayang menjadi selaksa penyesalan. Saat itupun engkau akan berkata, “dasar penghianat”, Atau kata-kata kekecewaan lainnya.
Banyak sekali kita temukan orang-orang, dalam hal ini kaum muda, begitu antosiasnya menjalani hubungan lawan jenisnya, ia begitu yakin akan cinta yang ia tanam, serta berharap sampai kepada waktu panen. Mereka berikan seluruh cintanya untuk kekasihnya, mereka penuhi seluruh ruang jiwanya untuk sesorang yang saat itu memenuhi alam pikirannya. Bahkan permata paling berhargapun rela dipersembahkan oleh wanita kepada seseorang yang telah ia anggap segalanya dalam hidup, Ia tak peduli dengan segala kesucian yang seharusnya ia jaga. Jika sudah seperti itu maka cinta akan menjadi alat perusak untuk pasangan itu sendiri. Sepertinya mereka lupa akan kenyataan terbalik yang mungkin waktu tampilkan setelah kehangatan yang mereka nikmati.
Di sini aku tak bertindak sebagai seorang yang bijak ataupun sebagai sesorang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, akan tetapi aku di sini bertindak sebagai seorang manusia yang pernah sangat bahagia karena cinta dan menjadi orang yang sangat menderita pun karena cinta, itu karena waktu yang membuka tabirnya. Sejak saat itu aku serahkan hidupku kepada waktu, karena setelah pertempuran masa yang terjadi antara kekeliruan dan pemahaman yang dangkal tentang makna cinta itu, aku serahkan seluruh kebaikan cinta kepada waktu, karena waktulah yang bisa menghidupkan cinta yang sesungguhnya, tanpa menambah dan menguranginya.
Waktu dan cinta adalah dua kata yang tak kan pernah terpisah. Waktulah yang menciptakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, karena hal itu pada hakikatnya tak ada, kecuali waktu yang saat itu membentangkan tabirnya, sehingga mata rantai jiwa terpupus dalam nestapa yang bergejolak. Akan tetapi ia akan muncul pada waktunya, meskipun saat itu mungkin cinta telah terkubur dalam relung yang tertancap pada liang kebosanan. Cinta akan tetap bersandar pada waktu, “jika hari ini engkau menjadi orang yang mencintai dan dicintai, berdoalah agar waktu menjaga cinta kalian selamanya. Dan jika hari ini engkau menjadi orang yang mencintai tanpa dicintai, yakinlah bahwa suatu saat nanti hati orang yang kau cintai akan luluh pada waktunya, yang kemudian akan mencintaimu dengan sebenar-benarnya cinta”. Terlepas dari apakah waktu itu engkau masih mencintainya atau tidak. “Jangan pernah sia-siakan cinta yang pernah tumbuh di hatimu, karena waktu tidak akan pernah kembali”, demikian tutur seorang filosof yunani.
Ada beberapa orang yang harus kita tancapkan cinta baginya di dunia ini, pertama adalah orang yang pertama kali merangkulmu, yaitu Ibu, dialah mata air kasih sayang dan cinta di muka bumi ini, karena jika tanpa keberadaan dia, engkau tak kan pernah mengenal cinta dan kasih sayang dalam hidup ini. selanjutnya adalah orang-orang yang mengambil sumber cinta dari malaikatmu, dalam hal ini saudara-saudaramu, karena merekalah orang-orang yang serumpun dengan cintamu, cinta yang bersumber dari malaikat yang satu. Merkalah orang-orang yang sangat bangga jika suatu saat engkau menjadi sosok yang menaungi umat manusia karena jasa-jasamu.
Kemudian adalah guru-gurumu, karena merekalah yang mencintai dengan ilmu-ilmu yang ia ajarkan, ia mencintaimu dengan nasihat-nasihat yang ia sampaikan dan kasih sayang yang tak pernah engkau lihat, karena kasih sayang sesungguhnya adalah kasih sayang yang mengangkatmu dari kebodohan dan ketidaktahuan. Guru adalah lambang ketulusan yang terukir dalam batang sejarah yang tak kan pernah kering dan selalu abadi sebagai pahalwan kita semua, pahlawan tanpa tanda jasa.
Selanjutnya adalah sahabat-sahabatmu, karena merekalah yang akan selalu hadir ketika engkau jauh dari malaikatmu dan jiwa-jiwa yang serumpun denganmu, sahabat seperti matahari kedua bagimu, karena ia akan selalu menyinari masa-masamu, dengan senyuman hangat ataupun guyonan untuk mengusir kesedihanmu. Letakkanlah ia pada jiwa terindahmu, karena ia menemanimu tanpa ingin mengambil dan berharap apapun darimu, ia hadir murni atas sebuah kesadaran jiwa dan kesenangan yang tercipta dari ikatan yang telah Tuhan ciptakan antara jiwamu dan jiwanya.
Berikutnya, adalah sesorang yang mencintaimu. Terlepas dari apakah engkau mencintainya? Karena “lebih baik mencintai orang yang mencintai kita, dari pada mencintai orang yang kita cintai”. Karena orang yang mencintaimu, tak kan pernah berharap apapun darimu, kecuali perasaannya yang bahagia melihat kebahagiaanmu dan menderita melihat penderitaanmu. sementara orang yang engkau cintai bisa jadi ia sedang mencintai orang lain, sehingga cinta seakan menjadi kesatuan uang logam, yang mana satu sisinya emas dan sisi lainnya besi berkarat. Tentunya yang ia cintai adalah emas dan cintamu adalah besi berkarat. Ia hanya akan memandang emas. Mencintai orang yang seperti ini, janganlah berlebihan, karena kembali lagi waktu tak pernah berhenti untuk membuka dan menutup tabir. Bersiaplah dengan segala konsekuensi yang akan muncul ketika tabir waktu terbuka ataupun tertutup.
Di ujung batas waktu ini, marilah kita mengunjungi orang-orang yang pernah singgah di hati kita, mereka yang telah memupuk kita dengan cinta sucinya, mereka yang telah menam pohon hijau di kebun jiwa kita. Mungkin di antara mereka ada yang sudah mendahului kita dengan batu nisan yang membatasi ruang gerak kita dengan rahasia Tuhan, kepada mereka kita berdoa untuk kelapangannya.  Dan kepada mereka yang mendahului kita dengan senyuman pengabdian yang terlambang dengan lengkungan janur karena tuntutan takdir, kepada mereka kita berdoa untuk kebahagiaannya. Dan kepada mereka yang pernah melukai dan mencabik ketenangan jiwa, kepada mereka, kita bukakan pintu maaf.  Semoga di awal tahun ini, kita memahami waktu sebagai guru hidup yang selalu menuntun kita kepada kedewasaan. dan segala bentuk belenggu jiwa dan luka masa yang tercipta dalam lipatan waktu terbungkus dalam hazanah hidup untuk memperkaya kebijaksanaan jiwa.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz