Senin, 02 Januari 2012

fenomena tahun baru

Tentang sepasang burung merpati
Ketika roda waktu berhenti pada sebuah batas yang dibentangkan manusia, jutaan aksi ditunjukkan manusia untuk merayakan perulangan zaman, meski hakikatnya waktu tak pernah berulang. Adalah manusia yang tak pernah berhenti untuk bertingkah, segala sesuatu dilakukan dengan penuh kebebasan dan kerakusan. Pada malam pergantian Tahun, begitu banyak manusia mendendangkan kesenangannya dan penyambutannya akan pergantian zaman. Penduduk-penduduk antusias merayakan perguliran waktu yang pada hakikatnya melambangkan berkurangnya umur mereka. Hujan api tersebar diseluruh pelosok bumi, seakan bumi tengah terbakar.
Di balik ritual rutin yang manusia lakukan setiap pergantian tahun, begitu banyak hak-hak mahluk yang dirampas manusia hanya untuk kesenangan sesaat yang terefleksi dengan tiupan terompet dan kembang api. Perayaan pergantian Tahun itu, telah menjadi rutinitas manusia turun-temurun. Perayaannya pun kini tak hanya di kota, manusia telah menyebarkan sayap kehura-huraan sampai ke desa-desa, bahkan hutan yang menjadi tempat paling tenang yang dimiliki bumi.
Saat jubah kemerahan malam terhampar di penghujung waktu menjelang gerbang baru, Penghuni hutan yang tediri dari tumbuh-tumbuhan dan beberapa ciptaan Tuhan lainnya, tetap tenang menjalani aktifitasnya, sangat berbeda dengan apa yang dilakukan manusia. Mereka tak peduli akan pergantian masa, ia cukup menjalani hidupnya dengan penuh rasa syukur kepada Tuhannya atas karunia yang dipersembahkan kepada mereka. Bagi mereka hutan adalah segalanya yang dengannya cukup bagi mereka untuk menjadi hamba Tuhan sepanjang masa.
Waktu itu, malam semakin larut, buaian nafas Tuhan telah membelai seluruh mahlukNya kecuali manusia. Detik-detik pergantian masa pun semakin di depan mata. Manusia telah bersiap dengan perayaannya. Sementara mahluk Tuhan lainnya tetap bersemayam dalam pelukan gelap di dahan pohon yang ia senangi atau di balik semak-semak halus yang menidurkan mereka. Air mata langit terus menetes ke muka bumi, melambangkan duka yang mendalam di wajahnya.
Arah jarum jam, tepat menunjuk ke arah utara. Sontak bunyi terompet bergema di seluruh petala bumi, kembang api terhampar di muka langit, manusia bersorak sorai akan peristiwa itu, mereka nikmati semua itu dengan penuh kesenangan, sebagian mereka terlihat tertawa sambil menggengam botol yang berlambang topi miring, sebagian juga terlihat asyik bercumbu dengan pasangannya, saling menempelkan tubuh satu sama lain. Seluruh tempat penginapan penuh dengan muda-mudi yang ingin menikmati pergatian tahun dengan kebersamaan mereka. Tak tahu apa yang mereka lakukan, apakah hanya sebuah kesenangan merayakan pergantian tahun, atau hanya kambing hitam untuk menodai diri. Lalu lintas padat, jiwa pun banyak yang kehilangan kendali karena terselimut mabuk, kecelakaan tak terhindarkan, bayangan kematianpun begitu dekat dimana-mana, bahkan beberapa yang harus menutup mata untuk selamanya di ujung Tahun itu.
Suasana tempat yang tenang pun tak luput dari tangan manusia, beberapa orang menuju tempat-tempat mahluk Tuhan yang tak tahu apa-apa itu. Mereka yang hanya tahu ketenangan hutan itu dikenalkan oleh manusia akan kerakusan diri manusia, mereka mengenalkan pada penduduk hutan akan benda mereka yang bisa memancurkan api, tentang benda-benda mereka yang bisa mengeluarkan bunyi-bunyian dengan ditiup. Juga tentang keangkuhan dan kehuru-haraan mereka yang terbungkus pada tingkah dan keinginan mereka, akan tetapi mereka memandang semua itu sebagai kebanggaan dan ketinggian diri.
Penghuni tempat-tempat itu gempar dengan suasana yang sangat berbeda itu. Dengan penglihatan jiwa, aku menemukan sepasang burung merpati dengan warna putih bersih, berdiri di sebuah batang pohon yang darinya keduanya menyaksikan peristiwa yang terjadi di sebuah tempat yang penuh dengan lampu dan bangunan yang menjulang ke angkasa. Mata mereka menatap penuh perhatian dan penghayatan terhadap tempat itu. Kesunyian malam telah menenangkan jiwaku, kemudian sepoian angin mengantarkan percakapan yang dilakukan sepasang burung itu menuju pendengaran batinku. Berkata salah satu darinya: “saksikanlah tempat itu, penuh dengan warna warni lampu, terhujani dengan cahaya merah, berkerlap-kerlip membumbung ke langit. itulah ritual busuk manusia, ritual yang selalu ia lakukan untuk menyembah nafsu. Ritual itu kini tak hanya di tempat itu, di lahan kita ini sekarang telah dihuni manusia hanya untuk meluncurkan benda anehnya kelangit, dan membangunkan kita dengan tiupan benda-benda berkerucut mereka. Mereka telah merampas ketenangan kita hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan kuhuru-haraan mereka”. Kemudian berkata burung di sampingnya, “manusia memang memiliki kuasa untuk melakukan hal itu, begitu juga untuk memporak-porandakan tempat kita. Tapi Tuhan lebih tau dan lebih perkasa dari apapun bentuk ritual mereka, temasuk untuk memporak-prandakan tempat mereka”. Kemudian salah satu dari burung itu terbang kelangit dengan kesedihan yang pekat, sementara pasangannya diam dalam kelu yang memaksa.
Apakah itu pergantian Tahun, jika menyisakan derita untuk penghuni bumi lainnya? apakah itu pergantian tahun, jika seorang gadis harus kehilangan perawannya? apakah itu pergantian tahun, jika menjadikan anak kehilangan bapak atau ibunya? apakah itu pergantian tahun jika hanya sebagai lambang kerakusan dan kehuru-haraan manusia? Apakah itu pergantian tahun, jika untuk mengganti Tuhan?.
Tahun baru, seharusnya menjadi ajang introsfeksi diri atas tahun sebelumnya dan mempersiapkan rencana-rencana hidup untuk tahun yang akan datang. Pun juga tahun baru semestinya menjadi ajang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan ketakwaan kepadaNya. dan juga untuk menebarkan rasa cinta kasih terhadap sesama dan mahluk Tuhan lainnya.




0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz