Senin, 23 April 2012

Kritik Matan Hadits


PENDAHULUAN
Latar belakang
Hadits merupakan sumber ajaran utama kedua setelah Alquran. Hal ini mencakup segala aspek kehidupan dan lapangan keilmuan, baik dalam bidang ilmu fiqih, tasawuf, tauhid dan lain sebagainya. Posisi hadits yang sedemikian pentingnya ini merupakan sumber agama yang harus dijaga kemurnian dan keotentikannya, hal ini untuk menghindari kesalahpahaman dalam memaknakan atau menafsirkan perkataan rasul ini.
Dalam realitasnya, hadits yang dalam hal ini adalah seluruh ucapan, perbuatan dan ketetapan nabi Muhammad saw sering kali didapati didalamnya kerancuan dalam memaknakannya ataupun menafsirkannya. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada sebuah hasil jika digunakan untuk mengistinbathkan hukum misalnya.
Dalam literatur-literatur kelasik banyak kita temukan hadits-hadits yang seakan isinya bertentangan dengan Alquran ataupun dengan hadits yang lainnya. Seperti hadits tentang siksa kubur bagi seseorang yang keluarganya menangis, meratapi kematiannya di atas kuburannya[1]. Hal ini tentunya membutuhkan kajian lebih mendalam untuk meluruskan hal tersebut. 
Kritik hadits merupakan salah satu metode yang ditawarkan banyak para pengkaji hadits ataupun para muhadditsin dari kalangan sahabat ataupun tabiin secara tidak langsung dalam mengolah sebuah hadits yang terkesan memiliki pertentangan di dalamanya. Wal hasil metode ini seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, terus berkembang dan berkembang sehingga kini menjadi sebuah disiplin keilmuan yang cukup luas.
Kritik matan hadits merupakan salah satu bagian dalam
ilmu kritik hadits, karena sebagaimana kita ketahui, hadits memiliki tiga komponen inti yaitu: sanad, matan, rowi. Masing-masing komponen ini memiliki keritik masing-masing. Di antara kritik komponen hadits ini, adalah kritik matan hadits termasuk kajian yang jarang dilakukan oleh muhadditsin, jika dibandingkan dengan kegiatan mereka terhadapa sanad hadits. Hal ini karena mereka lebih condong menekankan pada kajian sanad dengan asumsi bahwa tidak akan pernah dikatan sebuah hadits jika tidak ada silsilah yang membawanya kepada rasulullah Saw[2].
Berangkat dari hal di atas, kiranya penting untuk kita mengadakan penelitian-penelitian ataupun kajian-kajian yang terkait dengan matan hadits untuk memperkaya hazanah keilmuan islam terutama dalam bidang ilmu kritik matan hadits tersebut. Allahul musta’an
Rumusan masalah
Apa yang dimaksud dengan kritik matan hadits?
Bagaimana kronologi munculnya kritik matan hadits?
Apa ruang lingkup pembahasan kritik matan hadits?
Seperti apa contoh-contoh kritik matan hadits?
Tujuan pembahasan
Untuk mengetahui segala aspek yang berkenaan dengan kritik matan hadits, yang mencakup pengertian, histori, bidang kajiannya, dan beberapa contohnya. 




PEMBAHASAN
A.  Pengertian
Sebelum membahas lebih jauh tentang kritik matan hadits, kiranya penting untuk kita memahami dahulu beberapa kata kunci dari permasalahan kita ini. Yang pertama adalah tentang kritik, dan kedua adalah matan dan selanjunya adalah hadits.
1.    Kritik
Secara etimologis kritik berasal dari bahasa Yunani, kritikós tang bermakna "yang membedakan", kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuno, krités, artinya "orang yang memberikan pendapat beralasan" atau "analisis", "pertimbangan nilai", "interpretasi", atau "pengamatan"[3].
Dalam kajian ilmu hadits, kritik dapat dibagi ke dalam dua bagian: kritik dakhiliyah dan kritik khorijiyah[4]. Kritik dakhiliyah disebut dengan naqdus sanad. Sedangkan yang kedua adalah kajian yang membahas tentang unsur yang ada dalam hadits, hal itulah yang kita bicarakan disini yakni naqdu matnil hadits atau kritik matan hadits.
2.    Matan
Secara etimologi matan berarti punggung jalan[5], tanah yang tinggi dan keras[6]. Adapun matan menurut ilmu hadits adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad Saw yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Matan hadits adalah isi hadits. Matan hadits terbagi tiga, yaitu ucapan,perbuatan, dan ketetapan nabi Muhammad saw[7].
3.    Hadits
hadits secara etimologi adalah yang baru, warta berita.
Adapaun secara terminologi ada beberapa pengertian hadits[8]:
     Menurut ahli hadits
أقوال النبي صلى الله عليه وسلم وأفعاله و أحواله
Seluruh perkataan, perbuatan dan keadaan nabi Muhammad saw.
Menurut ulama’ ushul
أقواله وأفعاله وتقريراته التي تثبت الأحكام و تقرّرها
Segala perkataan, perbuatan dan takrirnya nabi saw yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya.
Lebih luas, Imam At Tirmidzi memberikan pengertian hadits sebagai berikut:
Bahwasannya hadits itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad Saw, melainkan bisa juga untuk sesuatu yang maukuf, yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan yang maqtu’ yaitu yang disandarkan kepada tabi’in[9].
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hadits bisa dipahami secara sempit dan secara luas. Secara sempit disini tentunya terbatas pada segala bentuk perkataan dan perbuatan Nabi Saw sementara dalam pandangan yang luas mencakup ke generasi pertama dan kedua dalam perjalanan agama islam yakni masa sahabat dan masa tabi’in.
Adapun pengertian kritik matan hadits adalah mengkaji, menganailsa maupun mengevaluasi hadits yang memiliki kerancuan dalam matan karena memiliki unsur-unsur pertentangan dengan Alquran maupun hadits-hadits nabi yang lainnya, sehingga membutuhkan penjelasan-penjelasan dengan metode-metode yang sudah ditentukan.
B.  Sejarah kritik matan hadits
Bila kritik hadits yang dimaksud adalah usaha untuk membedakan yang benar dari yang salah maka dapat dikatakan bhwa kegiatan kritik hadits sudah ada sejak masa nabi Muhammad Saw. Dalam arti pengecekan kebenaran kepada nabi apabila ada yang disandarkan kepada beliau.
Kritik matan hadits yang berjalan pada masa awal islam yakni pada masa nabi Muhammad sendiri, lebih mudah dan sederhana karena sistim kritik matan hadits adalah dengan langsung mengkonfirmasikan hadits yang bersangkutan kepada nabi jika terjadi kerancuan dan kekurangpahaman. Sebagaimana yang dilakukan Dimam ibnu Sa’labah yang menanyakan kepada rasulullah saw tentang kebenaran berita yang disampaikan kepadanya oleh seorang utusan yang mengkau diutus nabi. Maka nabi membenarkan hal itu[10]. Adapun pada masa sahabat proses kritik matan hadits tidak bisa dilakukan secara cek dan ricek dari rasulullah, maka para sahabat waktu itu membuat tiga pilar utama untuk menilai suatu matan hadits. Yaitu, tidak bertentangan dengan Alquran, tidak bertentangan dengan hadits lain, dan menggunakan akal sehat untuk menghasilkan ijtihad yang benar.
Pada masa tabi’in kritik matan hadits mulai berkembang, selain melakukan penelitian matan sebagaimana yang dilakukan sahabat. Para tabi’in melakukan penelitian matan dengan cara mua’aradah. Cara ini efektif untuk mencocokkan konsep yang menjadi muatan suatu matan hadits agar tetap terpelihara kebenarannya. Selain itu digunakan media Alquran dengan pendekatan historis dalam artian pencocokan dengan sejarahnya. Kenyataan tersebut terus berkembang dalam periode berikutnya[11].
Memasuki masa ulama’ hadits, kritik matan hadits mulai disistematiskan, ulama’ hadits telah berupaya  untuk mensistematisasikan penelitian matan dengan baik yakni dengan cara mempermudah langkah-langkah dalam melakukan penelitian matan hadits. Musfir Azmillah Al damani, seorang guru besar memberikan gambaran tentang metode ulama’ muhaditsin dalam menilai suatu matan hadits. Metode tersebut antara lain tidak bertentangan dengan Alquran, tidak bertentangan dengan satu hadits dengan yang lainnya, tidak bertentangan dengan sunnah yang satu dengan yang lainnya, tidak bertentangan dengan kejadian yang sesungguhnya dan fakta sejarahnya dan sebagainya.
Melihat alur perkembangan ilmu kritik hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu kritik matan hadits dari masa ke masa terus mengalami perkembangan, yang hal itu menghasilkan teori-teori baru dan melebar, sehingga kritik matan hadits menjadi sebuah lapangan keilmuan yang sejajar dengan ilmu-ilmu hadits lainnya. Akan tetapi kajian kritik matan hadits masih dikalahkan oleh kajian kritik sanad hadits.
Prof. Ahmad Amin menyebutkan dalam kitabnya Fajrul Islam, bahwa ulama’ telah banyak meletakkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu hadits. Akan tetapi kajian tentang kritik matan hadits masih kurang ditemukan karena kebanyakan ulama’ lebih condong ke kritik sanad hadits[12].
C.  Ruang lingkup pembahasan ilmu kritik matan hadits
Secara umum kajian kritik matan hadits dapat disebutkan bahwa lingkup pembahasannya adalah terkait dengan matan hadits.  Matan hadits disini memiliki beberapa kriteria untuk dilakukan kritik matan terhadapnya. Yang pertama, terkait dengan lafaznya, jika dalam lafaz hadits terdapat pertentangan dengan Alquran, maka kritik terhadap matan hadits harus dilakukan sebagaimana apa yang pernah dilakukan oleh Saydatuna Aisyah tentang sebuah hadits yang menurutnya bertentangan dengan sebuah ayat alquran[13]. Yang kedua adalah terkait maknanya, jika makna satu hadits bertentangan dengan hadits yang lain maka harus dilakukan kritik terhadap matan hadits. Hal ini dilakukan dengan membandingkan redaksi matan antara para ahli hadits dengan mendengarkan hafalannya masing-masing.
Dalam menentukan keshohian matan hadits, Sholahuddin bin Ahmad memberikan dua syarat[14]:
1.      Hadits tersebut terlepas dari syad, dengan arti bahwa hadits tersebut mencakupi syarat hadits shohih.
Syadz pada matan didefinisikan dengan adanya pertentangan atau ketidaksejalanan riwayat seorang perowi yang menyendiri dengan seorang perowi yang lebih kuat hafalan/ ingatannya.[15]

2.      Hadits tersebut terbebas dari illat,
Illat pada matan hadits didefinisikan sebagai suatu sebab tersembunyi yang terdapat pada matan hadits yang secara lahir tampak berkualitas shahih. Sebab tersembunyi di sini dimaksudkan bisa berupa masuknya redaksi hadits lain pada hadits tertentu.[16]
Kriteria untuk mengungkap ‘illat pada matan sebagaimana dikemukakan oleh al-Salafi adalah[17]:
1.      Mengumpulkan hadits yang semakna serta mengkomperasikan sanad dan matannya sehingga diketahui ‘illat yang terdapat di dalamnya
2.      Jika seorang perawi bertentangan riwayatnya dengan seorang perowi yang lebih tsiqah darinya, maka perawi tersebut dinilai ma’lul
3.      Mengetahui penyeleksian seorang syaikh bahwa pernah menerima hadits yang diriwayatkannya itu sebenarnya tidak pernah sampai padanya
4.      Seorang perawi tidak mendengar (hadits) dari gurunya langsung
5.      Adanya keraguan bahwa tema inti hadits tersebut berasal dari Rasulullah
6.      Hadis yang telah umum dikenal oleh sekelompok orang (kaum), namun kemudian datang seorang perawi yang hadisnya menyalahi hadis yang telah mereka kenal itu, maka hadis yang dikemukakan itu dianggap memiliki cacat.
Jika perowi meriwayatkan hadis dari seorang perowi tentang itu, maka hadisnya dihukumi bersambung (muttashil) dan shahih, namun jika mereka meriwayatkan dari perowi lainnya maka hadisnya dihukumi mursal atau munqathi’karena tidak ada pertemuan langsung (all-liqa’) dan pendengaran langsung (as-sima’)[18]. Itulah criteria yang dikemukakan al-salafi, hingga benar jika dikatakan bahwa penelitian terhadap ‘illat pada matan itu sangat sulit krcuali oleh peneliti yang benar-benar terlatih melakukan penelitian hadis.
Jadi secara singkat, kritik matan hadits khusus berbicara pada matan sebuah matan hadits saja. Akan tetapi jika ditinjau dari sisi yang lebih luas dengan melihat metode dalam kritik matan hadits, maka kritik matan hadits merupakan bidang kajian ilmu hadits yang membutuhkan kajian-kajian pendukung lain dalam kajian ilmu hadits, seperti Ilmu Rijalul hadits, Jarh wa ta’dil dan sebagainya untuk menentukan metode maupun syarat melakukan kritik matan hadits.
Kajian kritik matan hadits yang bisa dikatan secara bidang keilmuan yang utuh adalah  kajian yang kontemporer dalam bidang ilmu hadits merupakan kajian yang termat sulit ditemukan literature yang khusus mengkaji tentang hal tersebut. Hal ini tentunya menjadi kendala tersendiri untuk kemandirian bidang keilmuan ini. Ada beberapa kendala maupun kesulitan yang sering dialami pengkaji kritik matan hadits, hal tersebut disebutkan dalam kitab Manhaj Naqdil matni ‘inda Ulamail hadits Annabawy:
1.      Sedikitnya literatur yang membahas tentang topik ini.
2.      Sulitnya pembahasan kritik matan hadits.
3.      Ketakutan pengkritik hadits terhadap hadits yang dikritisi atas kesalahan dalam interpretasi.
Demikianlah pembahasan tentang ruang lingkup kajian kritik matan hadits, semoga hal ini dapat dipahami dengan baik bagi semua yang ingin menambah pengetahuan tentang kritik matan hadits.
D.  contoh kritik matan hadits
Contoh kritik matan hadis yang dilakukan pada masa sahabat:
Dari ‘Aisyah tatkala mendengar sebuah hadis yang disampaikan oleh Ibn Abbas dari Umar, Rasulullah SAW bersabda:
إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه[19]
“ Mayat itu akan disiksa karena ditangisi keluarganya “
Dengan serta merta Aisyah membantah hadits tersebut dengan berkata semoga Umar dirahmati Allah. Rasulullah tidak pernah bersabda demikian melainkan beliau bersabda:
إن الله يزيد الكافر عداباً ببكاء أهله عليه
“ Sesungguhnya Allah akan menambah siksa orang kafir karena ditangisi keluarganya”.
Hadits di atas menunjukkan bahwa kritik matan hadis sudah dimulai sejak masa sahabat. Aisyah telah mengkritik matan hadis yang didengar dari Ibn Abbas tersebut dengan cara membandingkan dan mengkonfirmasikan dengan hadis yang bertema sama yang pernah didengarnya sendiri dari Rasulullah dan juga nash al-Quran.



[1] Lihat Abdullah bin Ali. Musykilatul ahadits annabwiyyah wa bayanuha. Darul Qolam, Birut (1985)., hlm 147
[2] Bustamin dan Muhammad Isa. Metodologi kritik hadits (2004):59.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Kritik
[4] Mabany Naqdi Matnil Hadits, hlm: 13 (file pdf)
[5] Zeid B. Smeer. Ulumul hadits, pengantar studi hadits praktis. (2008) UIN Malang Press: hlm 59
[6] Ibnu Manzur dalam Bustamin, hlm 59
[7] Ibid., hlm 59
[8] Munzier suparta. Ilmu hadits (2002) hlm 2
8 Ibid., hlm 3
[10] Hadits Al bukhori no 13 dalam Suryadi dan Muhammad Al fatih: metodologi penelitian hadits. Hlm 144
[11] Ibid., hlm 144-145
[12] Lihat, Manhaj Naqdhil Matni ‘Inda Ulamail Hadits Annabawy. Sholahuddin bin Ahmad. Hlm 10-12. Darul afaq Al jadidah. Birut 1983.
[13] Lebih jelas tentang kasus ini lihat, Musykilatul Ahadits Annabawiyyah wa Bayanuha. Karangan Abdullah bin Ali Annajidy (1985). Darul qolam Birut, Libanon.
[14] Op.cit., hlm 32-33
[15]  Umi Sumbulah, Kritik Hadits ( Malang: UIN Press, 2008) hlm 103
[16]  Ibid, hlm: 107
[17]  Ibid, hlm: 108
[18] Ibid, hlm: 110
[19] Shahih Al- Bukhari juz II, hlm: 79

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Subhanallah. Ilmu yang sangat bermanfaat. Jazakallah khair....

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz