Rabu, 27 Juni 2012

Amplop Hitam dari Negeri Jiran*


Deru mesin pesawat begitu nyaring memecah senja di Bandara Selaparang, matahari mengintip malu di antara gundukan gunung. Orang-orang sibuk melambaikan tangan kepada salah satu keluarga mereka yang berada di dalam pesawat. Dia meninggalkan mereka untuk sebuah tuntutan hidup yang memanggil, atau mungkin untuk kematangan ekonomi yang masih tergantung di tiang takdir. Mereka begitu bangga dengan kepergian salah satu anggota keluarganya. itu menjadikan Ia pahlawan bagi keluarga dan sanak saudaranya.  
Aku melambaikan tangan kepada kak Ipul yang akan menjadi TKI ke luar negeri, begitu pula adikku yang masih berumur dua tahun ikut melambaikan tangannya. Dengan kepongahannya adekku berteriak-teriak, “kak Ipul akan terbang”. Aku memandang diam bocah itu. untuk bocah seumuran dia, belumlah memumpuni untuk memahami hakekat kepergian kakak. Bapak dan Ibu terlihat beberapa kali mengusap sapu tangan ke mata, menyeka air yang  terurai darinya.
Di desa kami, kakak paling tua adalah tulang punggung keluarga yang harus menggantikan peran ayah dalam menangani perekonomian keluarga. Sejak bapak sakit-sakitan, maka tiada pilihan lain bagi Kak Ipul untuk meninggalkan kami demi orang tua dan keluarganya.
Sebenarnya desa kami bukanlah desa yang miskin lapangan pekerjaan, dari segi sumber daya alamnya, desa kami memiliki banyak SDA yang bisa dimanfaatkan untuk memusnahkan pengangguran di desa kami bahkan untuk tidak lagi mengandalkan luar negeri sebagai kunci untuk membuka pintu mimpi yang dibangun keluarga-keluarga di desa kami. Namun karena perusahaan-perusahaan tambang yang hanya bisa mengeruk kekayaan alam kami tanpa memberikan kami napas untuk menikmatinya, kekayaan itu seolah seperti patamorgana bagi kami. 


Masyarakat desa kami hanya bisa berperan sebagai buruh, itupun sampai kekayaan itu ada, setelah habis yang kemudian meninggalkan limbah dan kerusakan lingkungan mereka pun meninggalkan kami dengan nasib yang tak berubah sedikitpun.
Selain itu sumber daya manusia yang kami miliki memang belum ada yang matang, namun hal itu bukanlah karena kami bodoh, akan tetapi karena memang kami tak memiliki ekonomi yang matang untuk bersekolah, jadi potensi kami tak pernah diasah. Kami hanya memiliki satu sekolah di Desa, itupun hanya tingkat SD, bangunan SD itu pun kini sudah tak layak pakai.
Beberapa kali setiap musim Pemilihan Umum datang, kami selalu dijanjikan untuk dibuatkan sekolah tingkat SMP dan SMA oleh salah seorang kandidat, namun itu hanya janji belaka, setelah terpilih, mereka hilang, mungkin mereka lupa jalan ke Desa kami.
Sekian dari permasalahan-permasalahan yang ada di desa kami membuat kerja di luar negeri menjadi solusi yang dipandang tepat untuk bertahan hidup, untuk membanggakan keluarga atau mungkin untuk saling menjaga kehormatan keluarga yang telah cenderung diciptakan oleh garis tradisi di desa kami .
Pemuda-pemuda yang sudah dianggap matang dengan segera mengambil perannya menggantikan sang ayah. Begitu pulalah yang mendorong kak Ipul, Kakak kami yang perkasa itu harus berbaur dengan tenaga kerja lainnya di luar negeri sana, membawa harapan-harapan orang tua dan mimpi adik-adiknya.
Sebenarnya aku tidak setuju dengan keberangkatan Kak Ipul ke luar negeri, menurutku, masih banyak hal yang bisa dilakukan di desa ini, dan juga aku merasa tidak nyaman dengan  keberangkatan kak ipul, tak tau sebabnya, entah kenapa aku tak mengikhlaskan dia pergi, namun karena inilah tuntun keluarga dan juga tuntutan tradisi di desa kami, maka ia pun harus berangkat, berjejal melawan kegundahanku sendiri atau mungkin kegundahan orang tuaku.
***
Sebulan sudah Kak Ipul meninggalkan keluarga, selama itu Ibu jarang terlihat tersenyum begitupun Bapak, dan juga Aku, namun berbeda dengan adekku Ical, dia begitu semangat dengan kepergian Kak Ipul, mungkin karena dia selalu mendengar ucapan para tetangga bahwa kerja ke luar negeri itu akan membuat keluarga kaya.
Kata-kata itu, tak heran membuat adekku berharap banyak dari keberangkatan kak Ipul.
“Kak besok kalau kakak pulang, janji ya mau beliin Ical sepeda, Ical pengen banget punya sepeda”, pintanya dulu sebelum kak Ipul berangkat.
Waktu itu Dia mengiyakan dan bahkan berjanji akan menuruti permintaan adek bungsunya itu.
Hari-hari kami lalui tanpa kakak kami, Bapak sakit-sakitan dan jarang bisa kerja. Pekerjaan Bapak tidak menentu, mungkin bisa dikatakan seperti buruh tidak tetap gitu. Kini Ibu lah yang harus banting tulang sebelum pekerjaan kakak kami di luar negeri jelas. Karena ongkos kak ipul ke sana adalah pinjaman dari tetangga yang beberapa waktu lalu pulang dari sana. Untuk itu Ibu harus kerja kersa untuk mengembalikan uang pinjaman itu. Ibu bekerja apa saja yang bisa dikerjakan, mencari kayu di kaki gunung, atau menjadi buruh cuci di rumah-rumah orang-orang kaya (dari hasil ke luar negeri).
Aku sendiri tidak bisa berbuat banyak, kadang aku berpikir untuk menggantikan Ibu membanting tulang, namun dengan aktifitas sekolahku yang masih di tingkat dasar kelas empat, tentu engkau bisa membayangkan hal apa yang bisa dilakukan oleh seorang bocah kelas empat. Apa lagi dengan adekku yang masih berumur dua tahunan.
Aku mencoba membantu orang tua, seperti ikut mencari kayu kering di kaki gunung. Waktu untuk membantu ibu cukup sedikit, karena berangkat ke sekolah pagi dan pulang sore.
Bukan aktifitas belajar yang lama, namun karena jarak tempuh yang jauh membuatku harus kembali ke rumah sore hari. Dengan waktu yang seperti itu, sepulang dari sekolah aku selalu menyusul Ibu langsung ke kaki gunung untuk membantu membawa kayu kering yang diperoleh ke rumah.
***

Kebiasaan di desa ini, setiap pemuda yang berangkat ke negeri itu, ia akan mengirim amplop yang berisi uang secukupnya sebagai bukti ia sudah memiliki pekerjaan. Biasanya rentang waktu paling lama empat bulan. Namun hal itu berbeda dengan kak ipul, hingga memasuki bulan ke lima, jangankan amplop uang, kabarnya pun tak sampai kepada kami.
Sering ibu duduk-duduk di teras rumah sambil memandang jalanan di depan rumah dengan harapan akan munculnya petugas pos dari tikungan jalan sana membawa amplop putih yang berisi kabar maupun uang dari kak ipul, namun hingga petang merebahkan jubahnya tak kunjung pula yang diharapkan tiba.
Itulah yang membuat ibu mendapat tekanan batin, sementara Bapak satu bulan yang lalu diponis oleh dokter di puskesmas desa menderita penyakit rematik, itu semakin memperparah keadaan keluarga kami.
***
Satu tahun berlalu, omongan masyarakat telah menyebar mempertanyakan nasib kakak kami, disana-sini terdengar suara-suara bernada mengejek, “satu tahun kok belum ada hasilnya”, dan sekian kata-kata lainnya yang merupakan kebiasaan jelek masyarakat di desaku.
Aku merasa semakin tidak nyaman dengan keadaan itu, beberapa kali aku menanyakan apakah kak Ipul pernah menelpon ke Ibu, namun Ibu hanya diam tak menjawab apa-apa, kali ini mungkin beliau juga merasakan firasat yang kurang baik dengan anak sulungnya itu.
Satu bulan berjalan, tetap tidak ada kabar dari Kak Ipul, beberapa kali Ibu dan aku mengunjungi rumah tetangga yang baru pulang dari luar negeri sana, namun mereka menjawab tidak tahu, bahkan tak pernah bertemu katanya.
Kini Ibu bingung, akupun mau tidak mau memikirkan hal ini. Ibu sebisa mungkin menyembunyikan hal itu dari Bapak. Ibu tidak mau Beliau akan memiliki beban tambahan dengan keadaan itu.
***
Sampai pada pertengahan tahun kedua. Udara gunung berjejal dalam rongga keluarga kecil kami, debu jalanan merangsak menyendat di pernapasan kami. Kini kami benar-benar khawatir dengan Kak Ipul, mau tidak mau Bapakpun kini jejah dengan hal itu, Ibu, Bapak, dan Aku sudah sempoyongan mau mencari kabar Kak Ipul ke mana, sementara adek hanya bertanya kapan kak Ipul akan pulang.
“kak ipul tidak lupa kan dengan janjinya pada Ical?” Tanya adikku suatu hari. Aku hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
Kenapa kak Ipul tidak mengabari kami? Apa yang salah dengannya, kalau seandainya dia sudah memiliki pekerjaan dan sangat sibuk, apakah tidak sempat ia menitip setidaknya salam pada puluhan TKI lain yang pulang ke kampung ini? Atau mungkin ia telah lupa kepada kami, kepada orang tuanya, kepadaku dan kepada adek dengan janjinya? Serasa aku ingin berkelahi dengan kakak sulungku itu.
Kini aku benar-benar menyalahkan kakakku, sungguh aku sangat benci terhadap Dia, Dialah yang membuat penyakit Bapak semakin parah. Dialah yang membuat keluarga kami diperbincangkan disana-sini desa ini.
***
Suatu pagi di akhir tahun ke dua Kak Ipul di luar negeri. Waktu itu, Aku, Adek dan Ibu menonton tivi di rumah tetangga sebelah. Saat itu Breking news, dilaporkan bahwa 3 tenaga kerja asal indonesia tewas tertembak polisi negara. Negara itu adalah negara yang menjadi tujuan sebagian besar TKI di desa kami termasuk kakakku.
Hatiku gundah, perut terasa beku, dunia terasa begitu sesak. aku saling bertatapan dengan Ibu. Ibu berpaling dariku dan kemudian menengadahkan tangannya ke atas dengan air mata yang tak bisa ia bendung, “Ya Tuhan semoga bukan anakku”. Aku mengamini haru doa Ibu. Aku jadi teringat peristiwa tiga tahun silam dimana marwan salah satu pemuda desa kami meninggal karena penganiyayaan oleh majikannya. juga di negeri itu.
Takdir memang tak bisa dinegosiasi, ketika harapan kepada kakak Ipul begitu tinggi. Kami mengharap kesuksesan yang akan Ia bawa dari Negeri Jiran itu. Kami titipkan mimpi dan harapan kami kepadanya. namun kini kami harus berbenah, kami harus belajar ikhlas, dan orang-orang harus menutup mulutnya rapa-rapat, dan merenungkan hal ini, Bahwa jangan lagi ada kain kapan yang terurai dengan keberangkatan ke negeri itu, Karena ternyata kakakku adalah salah satu dari tiga orang yang meninggal kerena moncong senapan polisi negara itu.   
Apakah itu tenaga kerja jika hanya menjadi budak di negeri orang? Apakah itu tenaga kerja jika hanya menjadi sarang peluru polisi-polisi mereka? Apakah itu tradisi yang telah mencuri kakakku dan kini hilang untuk selamanya? Oh apakah itu tenaga kerja yang mengubah mimpi indah menjadi duka mendalam? Seakan harapan amplop uang diganti dengan amplop hitam yang melambangkan kematian. 

*pernah dimuat di harian koran malang post (edisi minggu 17 juni 2012)

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz