Jumat, 01 Juni 2012

Kritik dan Penolakan Ibnu Madha' Terhadap Ahli Nahwu


PENDAHULUAN
Latar belakang
Dalam perjalanannya, Ilmu Nahwu memiliki perkembangan yang sangat luar biasa, sehingga kita mengenal beberapa aliran-aliran dalam ilmu nahwu, seperti: aliran Bashrah, Kuffah, Mesir, Andalusia, Baghdad dan lainnya. Uniknya, setiap aliran memiliki karakteristik tersendiri yang darinya kita bisa membedakan aliran yang satu dengan yang lainnya.
Setiap aliran-aliran tersebut memiliki tokoh-tokoh tersendiri yang banyak memberikan kontribusi terhadap aliran tersebut. Misalnya saja aliran Andalusia misalnya memiliki tokoh yang bernama ibnu madha’. Pemikiran ibnu madha’ cendrung memiliki banyak controversial karena tidak sesuai dengan aliran yang dipahami seblumnya. Sehingga wajar saja sehingga beliau terkenal dengan pendapatnya yang nyeleneh.
Kritik dan penolakan ibnu madha’ terhadap para nuhat banyak ia gencarkan, baik secara langsung maupun melalui kitab-kitab beliau, misalnya saja kitab fenomenal beliau ar raddu ala annuhat. Dalam kitab tersebut Ibnu madha’ banyak mengkritik pendapat para ulama’ nahwu bahkan jumhur ulama’ sekalipun.
Dalam makalah ini kami akan memaparkan beberapa kritik dan penolakan Ibnu madha’ terhadap para nuhat. Penting untuk diketahui, bahwa permasalahan ini sebenarnya permasalahan yang cukup luas dan rumit, sehingga dibutuhkan banyak referensi dan kajian yang mendalam terhadapnya.
Untuk itu, dalam mekalah ini kami memuat beberapa kritikan dan penolakan ibnu madha’ pada beberapa hal penting dan mendasar yang menjadi pokok pemikiran beliau, yang semuanya itu kami nuqil dari kitab ar raddu ala annuhatnya beliau dengan didampingi oleh beberapa kitab lain yang senada dengan hal itu.
Akhirnya, semoga penyusunan makalah ini menuai manfaat, mengingat literatur, khususnya yang berbahasa Indonesia masih minim kita temukan yang membahas tentang Ibnu Madha.

Rumusan masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup Ibnu Madha?
2.      Bagaimana kritik dan penolakan Ibnu Madha’ terhadap para nuhat?
3.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemikiran Ibnu Madha’?
Tujuan
1.      Mengetahui biografi singkat ibnu madha’
2.      Mengetahui beberapa pemikiran ibnu madha’ (kritik dan penolakan beliau).
3.      Mengetahui beberapa factor yang mempengaruhi pemikiran beliau.















PEMBAHASAN
Biografi Singkat Ibnu Madha’
Nama lengkap Ibnu Madha’ adalah Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Saad bin Harits bin Ashim Ibnu Madha’ al-Lakhmi[1]. Dalam kitab Nasyaatun nahwi karangan Muhammad At-tontowi disbutkan nama Ibnu Madha’ adalah Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman al Lakhmi al Qurthuby[2]. Lebih lengkap tentang nama Ibnu Madha’ disebutkan dalam kitab Ushul Annahwi al-Aroby adalah Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Sa’ad bin Harits bin ‘Ashim bin Madha’ al-Lakhmy Qodhil jama’ah[3]. Diantara nama-nama panggilan beliau yang paling terkenal adalah Ibnu Madha’ disamping  abul Abbas, abu Ja’far, abu Qosim.
Beliau lahir di Qurthubah (Cordova) pada tahun 512 dan meninggal di Asybiliyah (Seville) pada 17 Jumadil Ula 592 H. sekitar 80 tahun dari usianya dihabiskan untuk belajar dan mengajar[4].
Di antara guru-guru beliau adalah beberapa ulama’ bahasa arab, Abu Bakar bin Sulaiman bin Sahnun, Ibnu Ramak, yang darinya beliau belajar kitabnya Sibawaihi dan Ibnu Bisykawal.
Sebagai seorang lahir dari keluarga mampu, Ibnu Madha’ melanglang buana berguru kepada para ilmuwan pada zamannya. Demi tujuan pengetahuan, Ibnu Madha’ mula-mula meninggalkan Cordova menuju Seville. Di sana, ia berguru ilmu nahwu kepada Ibn al-Ramak. Dari Seville, ia melanjutkan karir keilmuwannya menuju Ceuta dengan berguru kepada Qadhi Iyadh untuk mendalami hadis. Sementara dalam bidang fiqh, Ibnu Madha’ menimba ilmu dari Ibn al-Araby, al-Bathuhy, al-Rasyathi dan Abu Muhammad bin al-Nashif.
Keseriusan Ibnu Madha’ dalam mendalami ilmu pengetahuan diakui oleh ilmuwan muslim yang lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Suyuthi dengan menukil komentar Ibnu Zubair, bahwa Ibnu Madha’ termasuk sosok yang memiliki concern luar biasa dalam hal ilmu kebahasaan Arab. Ia telah mempelajari berbagai buku tentang nahwu, kebahasaan dan kesusastraan Arab, termasuk mendalami Kitab Sibaweih dengan sangat cermat dari gurunya, Ibnu Ramak.
Ibnu Madha’ hidup sezaman dengan Ibnu Rusyd. Hanya saja, Ibnu Madha’ lebih dikenal ketokohannya dalam bidang ilmu kebahasaan, yaitu sebagai nuhat, sementara sosok Ibnu Rusyd dikenal sebagai filosof. Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Ibnu Madha’ memiliki hubungan baik dengan Ibnu Rusyd. Hubungan ini terjalin sejak mereka berdua sama-sama berguru kepada Abu Bakar bin Sulaiman bin Samhun al-Anshari al-Qurthubi, seorang ilmuwan besar yang menjadi rujukan dalam hal bahasa Arab dan sastra. Samhun pernah berguru kepada Ibnu Tharawah yang memiliki pemikiran-pemikiran ”nakal” di bidang ilmu nahwu. Pemikiran-pemikiran nakal ini disinyalir telah disebar dan ditularkan oleh Samhun kepada Ibnu Madha’ dan Ibnu Rusyd.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika antara Ibnu Madha’ dan Ibnu Rusyd memiliki kesamaan pikiran tentang nahwu yang cukup kontroversial. Keduanya sama-sama menyoal teori ilmu nahwu yang dipakai oleh para nuhat pada saat itu khususnya di belahan Timur, yang dirasa memberatkan dan berlebihan bagi penduduk Andalusia yang akan belajar bahasa Arab sehingga pemikiran-pemikiran keduanya menjadi pandangan dan aliran tersendiri.
Meskipun memiliki pandangan dan pemikiran yang kontroversial, Ibnu Madha’ tetap diakui sebagai sosok yang baik dan berpengetahuan yang luas. Di samping menguasai ilmu kebahasaan Arab, hadits dan fiqh, Ibnu Madha’ juga mahir dalam ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu ushul, kalam, kedokteran, ilmu hitung dan ukur (arsitektur). Karena kecerdasan dan kecermatan pikirannya, Ibnu Madha’ juga dikenal sebagai seorang penyair dan bahkan penulis ulung[5].

Sebagaimana diketahui, bahwa di masa keemasan Islam seorang ilmuwan memiliki concern luas terhadap berbagai ilmu pengetahuan, sehingga ia sangat mungkin menguasai berbagai disiplin keilmuan. Dan seperti inilah yang dapat ditemukan pada sosok Ibnu Madha’. Yakni, ia menjadi sosok yang multi talenta di berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Dalam literatur-literatur sejarah disebutkan, bahwa Ibnu Madha’ memiliki beberapa buku. Yang paling terkenal adalah buku ar-Radd ala an-Nuhat, al-Masyriq fi an-Nahwi,  Tanzih al-Qur’an amma la Yaliqu bi al-Bayan dan al-Masyriq fi al-manthi[6].
Berbicara kritik dan penolakan yang digencarkan Ibnu madha’ terhadap para ulama’ nahwu, hal itu merupakan karakteristik beliau yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh aliran az-zahiriyah yang menjadi mazhab resmi daulah almuwahidun yang menjadi dinastinya[7].
Kritik dan Penolakan Ibnu Madha’ terhadap Ahli Nahwu
Dalam bukunya ar-Rodddu ‘ala annuhat, Ibnu Madha’ mengajak kepada membatalkan tiga kaidah dalam ilmu nahwu
1.      Menghilangkan kaidah amil dari ilmu nahwu
Pemikiran ibnu madha’ tentang hal ini sebenarnya merupakan bentuk perluasan dari apa yang pernah dikemukakan Ibnu jinni[8].
Ibnu madha’ berpandangan bahwa adanya konsep amil akan merusak makna dari teks asli si penutur.
Misalnya dalam surat maryam ayat 12:
يَيَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَءَاتَيْناَهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
Menurut konsep para nuhat dalam bentuk munada sebagaimana dalam ayat tersebut terdapat amil yang dibuang, sehingga takdirnya menjadi:
أدْعُو يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَءَاتَيْناَهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
Ada perubahan redaksi, yaitu dari bentuk ya yahya menjadi ad’u yahya. Sedangkan bentuk strukturnya juga berubah menjadi khabariyah (berita). Perubahan ini menurut Ibnu Madha’ merupakan campur tangan yang tidak bisa diterima, karena memang tidak dikehendaki oleh si penutur. Lebih-lebih, jika si penutur teks itu adalah Allah SWT. Ini merupakan tindakan berbahaya, dan dengan demikian konsep amil terlalu mengada-ada dan tidak dapat diterima[9]  
Amil dalam ilmu nahwu bisa digolongkan sebagai pilar utama. Biasanya, dikenal ada dua jenis amil, yaitu lafzhi dan ma’nawi. Amil lafzhi berbentuk lafazh secara nyata, sedangkan amil ma’nawi biasanya tidak berwujud lafazh dan tidak memiliki pengaruh secara nyata terhadap keberadaan kata yang lain.
Di samping itu, para nuhat juga memandang adanya dua jenis amil. Yaitu, amil yang memiliki pengaruh secara nyata berupa harakat atau syakal dan atau huruf yang terdapat di akhir kalimat. Sedangkan yang kedua adalah amil yang kehadirannya bersifat tidak nyata karena alasan keserupaan atau kedekatan[10].
Ibnu Madha’ menolak jenis amil yang pertama. Menurutnya, yang paling berperan dalam merubah maksud ucapan tidak lain adalah si penutur (mutakallim) itu sendiri, bukan amil. Hal ini karena amil itu mengisyaratkan adanya waktu saat melakukan sesuatu dan mestinya si amil itu melakukannya dengan kehendak atau secara alami[11]
Salah satu contoh ketidak-rasionalan para nuhat dalam menggunakan konsep amil adalah penerimaan amil ibtida’ yang diyakini ada pada jumlah mubtada’-khabar. Yaitu, bahwa mubtada’ itu dirafakan oleh adanya amil ibtida’. Yang merafakan mubtada’ tidak lain—menurut Ibnu Madha’—adalah si mutakallim itu sendiri dan bukan amil ibtida’, karena tindakan merafakan itu menyertai si mutakallim dan bukan amil ibtida’ seperti yang diyakini oleh para nuhat[12].
2.      Menolak takwil Taswani dan Tsawalits
Ibnu Madha’ berpendapat bahwa illah dibagi menjadi dua macam. Pertama, illah ula (illah lapisan pertama) dan illah tsawani (illah lapisan kedua, ketiga dan seterusnya). Illah ula merupakan alasan yang dengannya seseorang dapat memahami perkataan atau ucapan orang Arab[13]. Seperti berhukum bahwa setiap mubtada’ adalah marfu’[14]. Illah ini dapat dikategorikan sebagai dasar untuk menetapkan struktur dasar yang dipakai dalam bahasa orang Arab. Sementara itu, illah tsawani menurut Ibnu Madha’ tidak diperlukan (Ibnu Madha’, 1979:124).
Menurut ibnu madha’ rafa’nya zaidun dalam kalimat qoma zaidun karena zaidun itu adalah fail dan fail itu marfu’. Dan jika ditanya kenapa fail itu dibaca marfu’, beliau menjawab karena itu adalah perkataannya orang arab.
Hal tersebut berbeda ketika pertanyaan itu ditanyakan kepada para nuhat maka mereka pasti memberikan jawaban: kata zaid dibaca rafa’ karena fa’il dan fa’il itu harus rafa’ (illah ula); kenapa harus rafa’? karena untuk membedakan antara fa’il dengan maf’ul (illah tsaniyah); kenapa fa’il tidak dibaca nashab saja dan maf’ul dirafakan? Karena fa’il itu sedikit, sedangkan maf’ul itu bisa banyak (illah tsalitsah).
Cara pandang para nuhat yang seperti ini (membuat illah tsawany ataupun tsawalits) ditolak oleh Ibnu Madha’.
Ibnu Madha’ juga membagi illah tsawani kedalam tiga macam[15]:
a.       maqthu’ bih adalah illah yang harus dihilangkan melalui pemutusan pertanyaan. Dengan arti Setelah illah pertama tidak diperbolehkan lagi mengajukan illah kedua.
b.      ma fihi iqna’ adalah illah yang didalamnya terdapat perasaan puas demi kepentingan pencarian persamaan di antara dua hal (asal dan cabang)
c.       maqthu’ bi fasadihi adalah sebagai illah yang memang tidak memiliki manfaat dan arti apa-apa ketika diungkapkan atau bahkan tidak dapat memuaskan akal dan memang benar-benar tidak memiliki signifikansi bagi penalaran.
3.      Menggugurkan Tamarin (timbangan yang merubah bentuk asli dari sebuah fiil)
Timbangan disini adalah timbangan dalam I’lal sharaf. Ibnu madha’ menolak proses I’lal dalam ilmu sharaf
Misalnya pada kata بيع  para nuhat mengatakan بوع karena dipandang lebih mudah diucapkan (tidak berat) sebagaimana orang arab mengatakan موقن dimana aslinya kata itu adalah ميقن. Hal ini ditolak oleh beliau karena beliau tidak ingin mengganti sebuah huruf dalam bahasa arab.
sebagai solusinya beliau menawarkan untuk merubah hanya barisnya seperti: kata بيع di atas tidak dengan mengganti ya’ dengan wawu namun dengan membariskan ba’ dengan berbaris bawah untuk mengikuti huruf ya’ di depannya[16]. Menurut beliau, mengganti baris sebelum ya’ dengan kasrah yang sesuai dengan huruf ya’ itu sendiri lebih utama dari pada mengganti huruf ya’ dengan wawu untuk mengikuti baris sebelumnya.
Untuk lebih jelasnya perhatikan table:
Para nuhat
Fiil
Mashdar
باع
بُوع
أيقن
موقن
Ibnu madha’
Fiil
Mashdar
باع
بِيع
أيقن
ميقن

Ada pula beberapa teori yang ditolak oleh Ibnu madha’, misalnya qiyas yang jumhur ulama’ nahwu menggunakannya sebagai metode untuk menentukan kaidah nahwu, namun beliau berpendapat bahwa qiyas adalah menghukum sesuatu dengan yang tidak ada dalilnya. Pemahaman qiyas Ibnu madha’ dalam ilmu nahwu ini sama dengan pemahaman beliau tentang hal itu dalam ilmu teologi[17]. Dan kita tahu bahwa Ibnu madha adalah salah seorang tokoh az-zahiri.







Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Ibnu Madha’
Ada beberapa hal yang membentuk pemikiran ibnu madha’ berbeda dengan ahli nahwu lain. Namun sebelumnya pemikiran ibnu madha’ bukanlah sesuatu yang semuanya baru, banyak diantara kalangan ahli nahwu sebelumnya yang memiliki pemikiran yang berbeda dengan para nuhat, akan tetapi hanya ibnu madha’lah yang melakukan kritik dengan pedas dan terbuka.
Di antara faktor-faktor tersebut adalah:
1.      Pengaruh pemikiran sibawaih yang didapat melalui kajian intens terhadap kitabnya sibawaih di bawah guru beliau Ibnu ramak
2.      Banyak juga terpengaruh pemikiran ibnu jinni. Misalnya mengenai teori amil. Teori yang dikemukakan Ibnu madha’ merupakan perluasan dari teorinya ibnu jinni[18].
3.      Aliran az-Zahiriyyah. Aliran inilah yang menjadi paham Ibnu madha’ dalam hal ideology. Dan sebagian besar pemikiran beliau dipengaruhi oleh paham ini. Seperti penolakan terhadap qiyas yang tidak menggunakan dalil, ta’wil dan sebagainya[19].
4.      Kebanyakan kritik dan penolakan Ibnu madha’ banyak didasarkan kepada beberapa ayat al-Quran maupun hadits yang menurut beliau hal itu harus diperhatikan dan siapapun yang melanggarnya harus bertaubat[20].
5.      Keinginan Ibnu madha’ untuk mengembalikan kemurnian ilmu nahwu yang bersumber dari kalam orang arab yang fashih dan para ahli nahwu yang terjaga. Kemudian dengan hal itu akan lebih mendekatkan kepada pemahaman yang sesuai dengan masanya begitupun dengan masa yang setelahnya.
Dengan demikian pemikiran Ibnu madha’ bukanlah pemikiran yang baru secara keselurusan namun banyak pula pemikiran-pemikiran kritikus nahwu seblumnya yang beliau ikuti dan mengembangkannya.


KESIMPULAN
1.        Ibnu Madha’ mengajak untuk menggugurkan tiga perkara dalam ilmu nahwu:
a.     Nazhariyyatul amil
b.    Illat tsawany wa attsawalits
c.     Tamarinu attashrif (I’lalu as-Shorfi)
2.        Pemikiran Ibnu madha’ banyak yang merupakan perluasan dari pemikiran yang sebelumnya  dan banyak merupakan pengaruh dari ajaran teologi yang dia ikuti yakni madzhab az-Zahiri.
















DAFTAR PUSTAKA
Abi Abbas Ahmad Ibnu Madha’. Ar-raddu ‘ala an-Nuhat. Darul I’tisham (1979 M)
At-tanthawy, Muhammad. Nasyaat an-nahwi wa tarikh asyharu an-Nuhat. Tanpa tahun dan penerbit
Dhoyf, syaoqy. Almadaris an-Nahwiyyah. Mesir: Darul Ma’arif. 1968
Ied, Muhammad. Ushul annahwi al Arabi, fi Nazhri an-Nuhat wa ra’yu Ibnu Madha’ wa dhaw-u ‘ilmi al-lughoh Alhadits. Alimul Kutub (1989)
Mubarak, mazin. An-nahwu al’arabi, al-Illatu an-Nahwiyyah: Nasya-atuha watathowwiruha. Libanon: Darul Fikr. 1981




[1] Assuyuthi dalam Jurnal Lingua edisi 2009 vol I
[2] Nasyaat an-nahwi wa tarikh asyharu an-nuhat. Muhammad at-tontowi. Hlm. 197
[3] Ushul an-nahwi, Dr. Muhammad Ied cetakan 1989 hlm. 37
[4] Ibid hlm. 38
[5] Assuyuthy dalam jurnal lingua.
[6] Op.cit hlm. 38
[7] Lihat Ushul an-nahwi al-Arabi. Hlm 49-55.
[8] Annahwu al-arabi, al-Illatu an-Nahwiyyah. Dr. mazin Al mubarok. Cetakan III hlm. 153
[9] ibid
[10] ibid
[11] Arroddu ala annuhat, ibnu madha’ hlm 87
[12] Op.cit
[13] Ibnu madha’, 1979: 128
[14] Madaris annahwiyyah. Dr. syauqy doyif. Hlm. 293
[15] Op.cit hlm. 128
[16] Ibnu madha, 1979 hlm. 135
[17] Dr. mazin al-Mubarak, an-Nahwu al-Araobi 1981 hlm. 155
[18] Ibid, hlm 153
[19] Lihat Ushulu an-Nahwi al-Arabi. Hlm 49
[20] Op.cit hlm. 155

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz