Jumat, 27 Juli 2012

Sudah Tidak Ada Lagi


Kemana lagi kita akan berjalan? Tanya seorang adek kepada kakaknya. Bukankah kita telah berjalan puluhan kilo untuk menempuh tempat yang engkau maksudkan?. Atau mungkin tempat itu tidak ada, kau hanya terbawa firasat yang tidak jelas dan menghabiskan waktu saja. Sang kakak hanya diam dan terus melanjutkan langkah gontainya. Matahari tetap menyelimuti mereka dengan panas yang menyengat. Kegersangan alam yang tandus mencekik leher mereka dengan rasa haus.
Sudah satu bulan ini kedua anak menusia itu melakukan perjalanan tanpa tujuan. Sejak ibunya mati tertelan bencana dan bapaknya hilang saat ditawan polisi negaranya. Dia putuskan untuk berhijrah dari tempatnya. Berharap mendapatkan tempat yang damai dan tenang.
Kedua kakak beradik itu telah menyusuri jalanan panjang yang berdebu. Membawa mimpi dan luka masa yang telah mengambil kedua orang tuanya untuk selamanya. Mereka bahu membahu menaklukkan sebuah padang pasir yang terbentang luas di belahan negerinya.
Mereka menginginkan negeri yang damai dengan pemimpin yang bijaksana. Mereka sudah cukup lelah menghadapi pemimpin yang arogan seperti presidennya. Yang akhirnya mengambil nyawa ayahnya. Dan ia ingin mencari negeri yang aman, tidak seperti negerinya yang rawan bencana. yang telah mengambil nyawa ibunya.
Mereka tak ingin lagi negeri akan menjadi neraka baginya, tak ingin lagi memuaskan nafsu pemimpinnya dengan mengorbankan rakyat sebagai tumbal. Persis seperti yang dialami bapaknya. Rakyat yang telah menukar hidup dengan kematian karena mencoba mengangkat tangan kiri kepada pemimpinnya.
Dalam benak kedua lelaki itu, negerinya itu hanyalah bangunan mati yang menampung hantu-hantu dan kengerian dari harapan-harapan semu yang dijanjikan pemimpinnya. Negeri itu bak lautan darah yang tertampung di dalamnya darah-darah rakyat tertindas yang mencoba bangkit dan melawan dari keadaannya. Seperti peti kematian yang membawa jasad rakyat yang tertelan bencana.
Mereka tidak menyalahkan bencana yang telah mengambil ibu mereka untuk selamanya, namun mereka meyakini bahwa bencana itu terjadi karena ulah pemimpin di negerinya yang tak menghargai hak-hak dan kemanusiaan orang lain yang menjadi rakyatnya. Dia memipin seolah menjadi tuhan.
Kini kedua lelaki itu menapaki jalanan panjang yang terbentang di muka bumi, mereka tak mengerti apa telah keluar dari batas negerinya. Mereka tak peduli. Mereka hanya ingin mencari sebuah negeri yang damai dan aman sehingga mereka bisa hidup tanpa bayangan kematian yang melayang-layang di atas kepalanya. Seperti negerinya itu.
Namun sungguh aneh, mereka tak mengetahui di mana negeri yang dimaksudkan oleh salah satu yang lebih besar di antara keduanya. Mereka menelusuri bumi dengan praduga dan bayangan gelap tentang negeri itu. “negeri itu seperti surga”, kata kakaknya. “Kita bisa hidup damai di sana”. Adeknya hanya mengangguk bingung dan tak memiliki hasrat untuk mendebat kakaknya. Dia sudah cukup banyak luka untuk menambah luka perjalanannya.
Sesampainya di sebuah negeri, tempat yang sedikit menjanjikan kedamaian, nampak beberapa lambang keharmonisan bergelimpangan di titik penting di kota-kota negeri itu. orang-orangnya ramah-ramah dan menghargai keadaan orang lain. Beberapa di antara mereka sibuk mengerjakan infrastruktur umum yang menjadi fasilitas bersama. Mereka hidup rukun dalam aturan-aturan yang mungkin dihargai.
Ini adalah negeri yang damai” kata sang adik.
Bukan, timpal sang kakak.
Lantas apa kurangnya negeri ini? Bukankah kita telah menyaksikan kedamaiannya dengan mata kepala kita sendiri?
Kau akan mengetahuinya beberapa saat lagi.
Wajah bumi suram, gelimpangan bayangan gelap memeluk langit dan memborgol kicau burung, beberapa saat kemudian turun hujan yang lebat. Saking lebatnya mata tak bisa memandang lebih dari dua meter. Air pun melimpah ruah dan menelan seluruh daratan di negei itu. sontak keindahan itu menjadi rata dengan tanah coklat yang terhampar karena terbawa badai.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, matahari bersinar seperti biasa memandikan bumi dengan cahaya. Udara panas, sesekali mental karena mendung yang menghampiri. Kini ,mereka telah berjalan setengah tahun mencari negeri impiannya. Setelah bertemu negeri yang terlihat kedamaiannya sesaat, mereka tak menemukan lagi wajah bumi yang indah seperti itu.
Sepanjang perjalanan, mereka banyak menghabiskan waktu dengan diam dan langkah gontai. Sang adek tak ingin lagi berbicara dengan kakaknya. dia memandang kakaknya sebagai sosok yang aneh. Dia perfikir bahwa kakaknya telah gila karena kepergian kedua orang tua mereka, meski tak bisa ia pungkiri bahwa kakaknya memiliki kekuatan ajaib yakni mengetahui hal yang akan terjadi. Itu terbukti dari kemampuannya mengetahui bencana yang akan terjadi pada negeri pertama yang mereka lalui.
Waktu terus berlalu, bumi berputar dalam gerak yang tak disadari manusia dan Tuhan tetap memantau tingkah dan prilaku umatNya. Kedua anak manusia itu tetap berjalan mengikuti azam dan gerak nurani. Mereka tetap yakin bahwa tempat yang mereka dambakan itu benar-benar ada, dan suatu saat nanti akan sampai padanya.
***
Di sebuah belahan bumi yang menjadi pusat peradaban manusia. Hidup disana jutaan manusia dengan kesejahteraan yang mungkin telah merata. Bentang alam yang indah dan flora dan fauna yang beraneka ragam. Hutan terbentang hijau. udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Biru laut masih jernih memancarkan keindahan melengkapi kemolekan negeri itu.
Pagi sekali kedua lelaki itu memasuki negeri indah itu. sang adek tersenyum lebar. Ia berfikir mungkin inilah negeri yang dimaksudkan kakak satu-satunya itu. kemudian ia bertanya kepada kakaknya tentang negeri itu. kali ini sang kakak tidak menjawab maupun memberikan isyarat kepadanya. Dia hanya terdiam dan melangkahkan kaki memasuki negeri itu.
Sesampai di sebuah tempat perkumpulan masyarakat, tempat yang merupakan kebanggan masyarakat di negeri itu. itulah tempat musyawarah para menteri jika terjadi sebuah permasalahan atau jika akan ada sosialisasi terkait kebijakan pemerintah. Di sana masyarakat tengah berkumpul mendengarkan sesuatu.
Keduanya ikut berbaur dengan masyarakat disana, mereka mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh salah seorang yang dituakan di antara mereka. Orang itu berpidato dengan sangat bersemangat. Penampilannya sangat berwibawa. Busana yang dikenakannya sangat berbeda dengan yang lainnya. Kepalanya tertutup mahkota kebesaran yang menjadi lambang bahwa dia adalah orang yang terpandang di negeri itu. belakangan keduanya mengetahui bahwa orang itu adalah raja di negeri yang mereka lihat sangat damai itu.
Mendengar penyampaian sang raja, rakyat bertepuk tangan antusias mendengar kata-kata yang terurai dari pemimpin mereka. Nampak wajah berseri-seri tercuat dari muka sang raja, seolah ia berbisik pada langit yang di atasnya “inilah aku sang penguasa”.
Peristiwa tersebut semakin meyakinkan sang adek bahwa negeri itu benar-benar negeri yang mereka cari, yakni negeri yang dimaksudkan oleh kakaknya. Namun kali ini dia tidak ingin menanyakan pada kakaknya tentang kebenaran hal itu. dia ingin kakaknya sendiri yang akan mengatakan padanya bahwa negeri itu memang benar-benar negeri yang mereka dambakan.
Namun sungguh aneh, sang kakak hanya terdiam selama di negei itu, entah apa yang ia fikirkan atau ia rencanakan. Mungkinkah ia akan merencanakan segera keluar dari negeri itu, negeri indah yang damai dengan kesejahteraan yang menjanjikan. Adeknya hanya diam tidak mau mengomentari tingkah kakaknya.
Suatu malam, pada hari ke sepeluh keduanya di negeri itu. malam itu adalah malam yang dimuliakan oleh masyarakat disana. orang-orang menyiapkan banyak dulang untuk dipersembahkan pada sang penguasa. Arakan-arakan telah disiapkan untuk mengusung sesembahan yang akan dipersembahkan.
Orang-orang berkumpul di tempat biasa mereka melakukan pertemuan. Hingga pada pukul yang telah ditentukan sang pemimpin itu berdiri di depan kumpulan masyarakatnya. Kemudian ia menyeru, “keluarkan tumbalnya!”
Kedua orang yang asing itu kini terheran-heran menyaksikan tradisi di negeri ini, apa yang akan dilakukan pemimpin yang beberapa hari lalu sangat kelihatan bijaksana itu dan sekarang hanya dengan menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada serta mengacungkan pedang yang sangat tajam?
Beberapa saat kemudian pengawal membawa seorang tua yang sangat kurus dan tak terawat didekatkan kepada sang raja tadi yang siap dengan pedang tajamnya.
Untuk Dewa kita yang mulia, yang telah memberikan kita kesejahteraan dan kedamaian di negeri ini, dengan ini aku persembahkan orang ini kepadanya”. Dengan membaca beberapa mantra yang tidak jelas kemudian ia mengambil segelas air kemudian meneguknya dan menyemburkannya ke tumbal yang berupa manusia tua itu. sesaat kemudian ia menebas leher orang itu, seketika kepalanya terpelanting dan disambut teriakan menggema dari orang-orang yang berkumpul disana.
Sang kakak langsung keluar dari kerumunan orang-orang itu dengan wajah memerah, yang kemudian diikuti oleh adeknya. Langkahnya gontai dan tidak peduli. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan adeknya yang memanggil karena tertinggal langkah olehnya. Sang kakak terus menebas malam hingga pagi pun mulai menyeruak dari batang pepohonan di sebuah hutan di negeri seberang. Dia benar-benar terpukul menyaksikan pemandangan bodoh dan konyol di negeri itu.
Di hutan itulah sang kakak menghentikan langkahnya. Sesaat adiknya langsung berhenti mengikutinya. Kemudian ia membalikkan badan menghadap ke adiknya.
***
Udara di pagi buta yang membawa serpihan embun dari langit yang menempel di dedaunan memberikan kesejukan di tempat itu, sepoian angin melibas tubuh kedua anak manusia itu beserta pepohonan yang ada di hutan tersebut.
Disanalah sang kakak berbicara. Itu untuk pertama kalinya ia membuka mulut setelah memasuki negeri seberang tadi.
Wahai adikku, aku telah mengajakmu berkelana mencari negeri yang damai dan sejahtera. Negeri yang tidak lagi seperti negeri kita yang telah mengambil kedua orang tua kita dan menjadikan kita yatim piatu tanpa sudara atau manusia lain yang peduli. Dan kau telah menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri bahwa setiap negeri yang kita lalui adalah negeri yang tidak bisa kita menilainya sebagai negeri yang damai”.
Adapun negeri yang pertama itu. itulah negeri yang ditimpa bencana karena kerakusan sebagian masyarakatnya atas sebagian yang lain.
Dan negeri yang tidak aku ajak engkau untuk berhenti singgah disana adalah negeri yang penuh dengan pertumpahan darah.
Dan yang terakhir kemarin itu adalah negeri yang mengorbankan masyarkatnya untuk sesuatu yang pemimpinnya katakan kesejahteraan bersama namun itu hanya kambing hitam untuk memenuhi kepuasaan nafsunya belaka.
Sehingga tahukah engkau kedamian yang engkau saksikan itu?. itu adalah kedamaian semu yang sebentar lagi akan dimusnahkan oleh Tuhan.
Wahai adikku, demi Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta, yang telah menghidupakan kita di dunia ini dan semoga menyelamtakan kita dari peti kesesatan yang berterbangan mencari mangsa di zaman ini. Aku berwasiat kepadamu, hiduplah dalam jiwamu, karena tidak ada lagi negeri yang bisa kita ajak berdamai dengan nurani dan titah Tuhan. Hati manusia telah beku dengan kecintaan pada dunia. Kepemimpinan hanya menjadi alat perusak dan pengambil hak-hak orang lain”.
Sang adik hanya tediam mendengarkan sang kakak, dia merasa bersalah telah mengaggap kakaknya gila.
Dan sekarang aku ingin menuju negeri yang aku maksudkan itu”. matanya memanjat menggapai langit seolah menahan sesuatu keluar dari matanya. “tapi bukan di dunia ini. Negeri nun jauh di sana. Tempat yang akan menjadi balasan bagi siapapun yang menghargai dan tidak mengambil hak-hak orang lain”.
Setelah mengatakan banyak hal kepada adiknya, lelaki itu mengambil sesuatu dari balik kain bajunya. Kemudian ia tancapkan sesuatu itu tepat diperutnya. Sejurus kemudian tubuhnya terkapar dan pandangannya mengabur karena bayangan maut. Adeknya langsung menyergap tubuh kakaknya. Sejenak kemudian ia dapatkan tubuh kakaknya dingin tak bernyawa.
Sambil gemetar sang adik mengambul belati yang berlumuran darah dari tangan kakaknya. Air matanya tak terbendung, Kini ia mengerti dengan negeri yang dimaksudkan oleh sang kakak. Itulah negeri damai dan sejahtera yang hanya bisa dilewati melalui gerbang kematian.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz