Sabtu, 01 September 2012

Menghargai Proses

Belajarlah dari pohon, menghargai proses, tidak tumbuh tergesa-gesa. Demikian yang ditulis Yus R. Ismail dalam sebuah bukunya. Pohon merupakan mahluk Tuhan yang padanya Dia titipkan ibrah bagi manusia. Betapa tidak, manusia yang meski diciptakan sebagai mahluk paling sempurna di muka bumi ini, sekaligus diberikan titel khalifah Tuhan, terkadang lupa dan mengabaikan tugas-tugas “kekhalifahannya”.
Pohon tumbuh tidak tergesa-gesa. Sepertinya hal itulah yang perlu direnungkan oleh kita. Kita telah menyaksikan diri kita yang tak lagi menghargai peroses. Anarkisme yang mengganas, pembunuhan, pencurian, pergaulan bebas, aborsi dan berbagai menu kejahatan yang belakangan semakin menjamur dan tak terkendalikan.
Jika kita merenungkan lebih dalam, sebenarnya kita pun tumbuh tidak tergesa-gesa. Kita dituntun untuk menghargai proses, kita dilahirkan, kemudian tumbuh perlahan dengan bisa duduk, kemudian bisa berdiri dan berjalan sehingga kitapun bisa berlari riang kesana kemari. Dari sana kita akan dibawa dalam pemahaman pula, bahwa Tuhan pun tidak bekerja tergesa-gesa meski Dia mampu melakukan segalanya dengan sekehendak-Nya.
Tuhan menciptakan bumi tidak tergesa-gesa, dari sebuah gumpalan gas yang kemudian melakukan proses panjang hingga menemukan bentuknya menjadi bumi seperti sekarang ini. Dari sana kita pun memahami bahwa Tuhan telah melimpahkan kemampuan berproses pada diri mahluk yang diciptakan, termasuk manusia.
Jika kita menghargai proses, mungkin kita tidak akan terbawa pada keadaan yang kacau balau seperti sekarang ini. Keberadaan manusia sebagai tangan Tuhan di muka bumi,  seharusnya bisa memimpin bumi dengan baik, menebarkan sikap saling menghargai dan menyangi sesama mahluk Tuhan. Alangkah indahnya jika kita saling mencintai dan menghargai dalam rotasi kehidupan ini. Menghargai proses kehidupan kita, pun jua menghargai peroses kehidupan orang lain.

Betapa banyak kita saksikan. Masyarakat kita yang hanya gara-gara mengantri terlalu lama di loket-loket umum, sering berujung bentrok dan pertikaian sesama pengantre. Ada pula yang karena masalah hutang yang tidak dibayar tepat pada waktunya, berujung aksi pembunuhan. Dan kasus luar biasa lainnya yang semakin hari semakin mengganas dan seolah menjadi hal lumrah dan biasa-biasa saja.
Seorang yang terpelajar, harus sudah berlaku adil dalam hatinya apalagi dalam perbuatannya. Demikian kata pramoedya. Keadilan seyogyanya adalah sifat wajib bagi Tuhan, namun Dia mengilhamkan pula kepada manusia agar bisa mendamaikan dunia. Sikap adil itulah yang pada ujungnya akan melahirkan sikap bijak. Bagaimanakah sebuah kebijakan akan tumbuh jika kita tidak belajar dan belajar? Namun yang menjadi keanehan kini, kenapa begitu banyak orang tepelajar tapi semakin sedikit orang yang adil dan bijak?
Sepertinya memang karena tidak menghargai proses, hingga orang-orang terpelajar menjadi liar dan tidak bijak. Kita sering mendengar tentang pelajar-pelajar mulai dari tingkat mahasiswa sampai yang tingkat SD terlibat tauran antar pelajar. Pelajar-pelajar yang hamil di luar nikah serta para pejabat yang suka bisik-bisik (kita tahu itu korupsi). Bukankah mereka semua adalah orang-orang yang terpelajar? Setiap hari mereka bergelut dengan buku, mengisi kepala dengan ilmu.
Barangkali, kata-kata Aristoteles penting untuk kita memahami permasalahan di atas, “orang yang pandai, dengan sendirinya akan bijak dalam perbuatan”. Seperti apakah orang yang pandai, yang dimaksudkan olah filosof tersebut? tentunya kita memahami orang yang pandai seperti itu adalah orang yang pandai akal dan jiwa. Tidak hanya pandai beretorika namun pintar pula mengolah jiwa. Hal yang seperti itulah yang akan menuntun kita menuju pandai yang bijak.
Seorang psikolog timur tengah, Murthada Mutahhari mengatakan, “psikologi dasar dalam manusia adalah hatinya, jika hatinya baik maka akan baik pula segala tingkahnya”. Demikian pula yang disebutkan imam Al ghozali.
Menyimak beberpa statemen ahli di atas, kita dapat membaca bahwa perpaduan antara akal dan jiwa akan melahirkan sebuah proses berfikir, proses yang akan membawa kita menghargai proses hidup. Sebuah jalan menuju kebijakan dalam bertingkah laku.
Ada beberapa langkah agar kita lebih bisa menghargai proses, yang pertama adalah percaya. Kepercayaan haruslah dimiliki oleh semua manusia, percaya terhadap diri dan orang lain. Percaya bahwa kita bisa melewati segalanya dengan mudah dan percaya bahwa orang lain akan bisa menunaikan amanhnya dengan baik dan bijak. Dengan kepercayaanlah kita akan bisa menghargai proses diri dan orang lain. Terkadang orang lain butuh waktu yang lama untuk berporses menuju sikap yang baik tidak seperti kita. hal itu harus tetap dihargai dan percaya ia akan mampu melakukannya.
Yang kedua adalah memahami. Yang muda harus bisa memahami sikap orang tua, dan yang tua harus bisa memahami karakter remaja. Karena secara psikologis orang tua dan muda memiliki karakter yang berbeda. Jika orang tua sudah bisa dipastikan sikap kedewasaannya maka yang muda terkadang masih labil dan membutuhkan bimbingan dalam bertingkah. Sepantasnyalah yang tua menyayangi yang muda, membimbing mereka dan mengajarkan mana yang baik dan buruk. Kadang kita menyaksikan orang-orang tua menginginkan kebaikan dari para pemuda, namun mereka tidak pernah membimbing yang muda, hal inilah yang sebagaimana R Riantiarno katakan adalah seperti rumah pasir.
Jika kita telah menghargai proses, tentu segalanya akan mudah. Dengan memahami dan menghargai jalan hidup orang lain, kita akan belajar untuk menjaga hak-hak orang lain. Yang tua akan menyayangi yang muda serta yang muda akan menghormati yang tua. Segalanya, jika kita menghargai proses.

3 komentar:

Dongeng Yus R. Ismail mengatakan...

Sebuah renungan yang menggugah dan inspiratif. Seribu halaman buku, selalu dimulai dari satu KATA.

Dongeng Yus R. Ismail mengatakan...

http://www.dongengyusrismail.blogspot.com/

warok akmaly mengatakan...

menyukai Yus R. Ismail

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz