Rabu, 31 Oktober 2012

Kritik Sastra Masa Abbasiyah


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, kemajuan segala sisi kehidupan mengalami puncaknya. Hal tersebut mencakup bidang social, politik, pendidikan, kebudayaan dan sastra. Sejarawan secara meyakinkan menulis bahwa puncak kejayaan ummat islam terjadi pada masa kekuasaan bani abbasiyah.
Ada banyak factor yang menyebabkan keberhasilan dinasti ini mengukir namanya yang abadi dalam sejarah. Di antaranya adalah sikap cinta ilmu pengetahuan, situasi politik, hubungan sosialitas dan lainnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan misalnya, kedudukan tinggi itu didapat melalui kerja keras ulama pada waktu itu, yakni berupa aktifitas penerjemahan buku-buku luar arab seperti yunani dan romawi.
Hal ini menyebabkan daya nalar generasi ini secara umum luar biasa. Tak heran jika mereka menjadi generasi-generasi yang cemerlang.
Kemajuan ilmu pengetahuan membawa pada proses dinamisasi ilmu, yakni proses pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam bidang fiqih, diciptakan alat untuk menuju kesana yakni usul fiqih., demikian juga dalam ilmu hadits maupun tafsir, pada masa ini sudah mulai disusun buku-buku yang menjadi alat menuju ke lapangan keilmuan tersebut.
Demikian pula dalam bidang sastra, para tokoh sastrawan maupun penyair pada masa ini telah mulai melakukan pembaharuan-pembaharuan. Melakukan kritik-kritik terhadap para sastrawan sebelumnya maupun sastrawan sezamannya. Hal ini semakin mewarnai proses pengembangan intlektualitas pada masa tersebut.
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai bentuk kritik sastra pada masa Bani Abbasiyah, yang mana hal ini tidak terlepas dari beberapa rutinitas kaum intelektual waktu itu.
Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan diri pemakalah sendiri utamanya.


Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bentuk karya sastra pada masa Bani Abbasiyah?
2.      Bagaimana model kritik sastra pada masa Bani Abbasiyah?
3.      Seperti apa kritik sastra pada masa Bani Abbasiyah?
Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui bentuk-bentuk karya sastra pada masa Bani Abbasiyah.
2.      Mengetahui model kritik sastra pada masa Bani Abbasiyah.
3.      Mengetahui beberapa contoh keritik sastra pada masa Bani Abbasiyah.















PEMBAHASAN
Keadaan Sastra Pada Masa Abbasiyah
Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai Masa Keemasan Islam[1], pada masa ini geliat intelektual dan perkembangan peradaban Islam mencapai puncaknya termasuk kajian tentang sastra pada masa ini juga mengalami perkembangan, hal itu dikarenakan beberapa factor, diantaranya adanya dukungan dari pemerintah untuk mengembangan kegiatan intelektual, salah satu bentuk apresiasi pemerintah adalah dengan di dirikannya lembaga penerjemahan Darul Hikmah[2]. Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ‘Ajam (non Arab).
Faktor Perkembangan Sastra
Terdapat beberapa factor yang menyebabkan terjadi perkembangan dunia sastra pada masa dinasti abbasiyah, meskipun bahasa pada masa ini mengalami kemunduran karena secara social terjadi kemajemukan dalam struktur masyarakat, sehingga gharizah (watak) kebahasaan bangsa arab mengalami kemunduran, namun secara global sastra pada masa ini juga mengalami kemajuan sebagaimana keilmuan lainnya, terdapat beberapa factor yang mempengaruhi perkembangan tersebut[3], yaitu :
1.        Politik
Ketika Daulah Abasiyah memegang tampuk kekuasaan tertinggi islam, terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, pada porsi tertentu antara politik dan sastra saling mempengaruhi. Pergeseran paling fundamental terjadi ketika pusat kekuasaaan dipindahkan dari Damaskus dengan tradisi arab kental ke Baghdad dengan tradisi Parsinya. Pada masa ini seluruh sistem pemerintahan dan kekuasaan politik dipengaruhi peradaban Sasaniyah Parsi dimana khalifah berkuasa mutlak dan memimpin seluruh struktur pemerintahan mulai dari menteri, pengadilan, sampai panglima prajurit.
Puncak kekuasaanpun tidak lagi terbatas pada keturunan arab. Kondisi politik seperti ini sangat mungkin memepengaruhi perkembangan aktivitas sastra ketika itu, karena para syua’ra adalah orang terdekat khalifah di lingkungan istana setelah menteri dan struktur pemerintah lainnya.
2.        Sosial kemasyarakatan
Di saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah, wilayah geografis dunia islam membentang dari timur ke barat, meliputi Mesir, Sudan, Syam, Jazirah Arab, Iraq, Parsi sampai ke Cina. Kondisi ini mengantarkan terjadinya interaksi intensif penduduk setiap daerah dengan daerah lainnya. Interaksi ini memungkinkan proses asimilasi budaya dan peradaban setiap daerah. Nyanyian dan musik menjadi tren dan style kehidupan bangsawan dan pemuka istana era Abbasiyah. Anak-anak khalifah diberikan les khusus supaya pintar dan cakap dalam mendendangkan suara mereka. Seniman-seniman terkenal bermunculan pada masa ini diantaranya Ibrahim bin Mahdi, Ibrahim al Mosuly dan anaknya Ishaq. Lingkungan istana berubah dan dipengaruhi nuansa Borjuis mulai dari pakaian, makanan, dan hadirnya pelayan-pelayan wanita. Dalam sebuah riwayat disebutkan Harun ar-Rasyid memiliki seribu pelayan wanita di istananya dengan berbagai keahlian.
3.      Intelektualitas dan pengetahuan
Faktor politik, sosial dan arus intelektualisme yang tumbuh dan berkembang pesat sudah tentu mempengaruhi aspek-aspek penting dalam kehidupan sastra masa ini. Khususnya dalam Syair, setidaknya dikenal dalam literatur Adab Abasiyah bermacam-macam Agrad (tujuan/orientasi) syair, seperti al Madah (pujian), al Hija’ (sindiran), al Fakhr (pengagungan), ar Rasa’ (ratapan), al Ghazal (rayuan), al Wasfy (pensifatan), az Zuhd (zuhud), al ‘Itab wa al ‘Itizar (teguran dan pembelaan), as Syi’ry al Ta’limy (sya’ir pengajaran), as Syi’ry al Fakahy (sya’ir humor). Pengaruh kebudayaan asing yang hadir dan masuk dalam sastra arab diantaranya buku al Maydan karya Ulan as Sya’uby al Faris, sebuah karya sastra hasil asimilasi dua peradaban besar Arab dan parsi.
Diantara Syu’ara’ terkenal yang dilahirkan dari rahim peradaban besar ketika itu diantaranya Basyar bin Bard, Abu Nawas, Marwan bin Abi Hafshah, Abu ‘Atahiyah, Muslim bin Walid, Abdullah bin Marwan bin Zaidah, Muhammad bin Hazim al Bahily dan ribuan sastrawan lainnya.
Lingkungan sosial dan intelektual yang dinamis dalam peradaban dan khazanah keilmuwan islam telah mengantarkan perkembangan pesat dalam dunia sastra, tidak saja Syair yang menjadi konsentrasi para aktivis sastra namun juga retorika dalam pidato kenegaraan maupun khutbah Jumat. Pendeknya semua aktivitas intelektual mendapatkan posisi strategis dan berkembang sangat baik dan dinamis pada masa itu.
Genre Sastra Masa Abbasiyah
Secara garis besar sastra arab dibagi atas dua bagian yaitu prosa dan syair. Prosa terdiri atas atas beberapa bagian, yaitu:
1.        Kisah (Qisshah), Kisah adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik. Kisah meliputi Hikayat, Qissah Qasirah dan Uqushah. Kisah yang berkembang pada masa abbasiyah tidak hanya terbatas pada cerita keagamaan, tetapi sudah berkaitan dengan hal lain yang lebih luas, seperti kisah filsafat.
2.        Amsal (peribahasa) dan Kata mutiara (al-hikam) adalah ungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk pembinaan kepribadian dan akhlak. Amsal dan kata mutiara pada masa abbasiyah dan sesudahnya lebih menggambarkan pada hal yang berhubungan dengan filsafat, sosial, dan politik. Tokoh terkenal pada masa ini adalah Ibnu al Muqoffal.
3.        Sejarah (tarikh),atau riwayat (sirah) Sejarah atau riwayat mencakup sejarah beberapa negeri dan kisah perjalanan yang dilakukan para tokoh terkenal karya sastra yang terkenal dalam bidang ini antara lain: adalah mu’jam al Buldan (ensiklopedi kota dan negara) oleh Yaqut al Rumi (1179-1229). Tarikh al hindi (sejarah india) oleh al Biruni (w.448 H/ 1048 M). Karya Ilmiah (Abhas ‘Ilmiyyah) Karya ilmiah mencakup berbagai bidang ilmu. Karya terkenal yang berkenaan dengan hal ini adalah kitab al Hawayan (buku tentang hewan).
Pada masa ini, muncul genre prosa pembaruan (النثرالتجديدي) yang dinakhodai oleh Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang ditokohi oleh antara lain Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah Kisah Seribu Satu Malam (ألف ليلةوليلة). Dalam dunia puisi juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu Nuwas dan Abul Atahiyah.
Selain prosa dan puisi, seni korespondensi juga mengalami peningkatan, hal ini karena luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah dari timur ke barat yang tentunya membutuhkan konsolodasi antar wilayah dengan surat-menyurat. Tokoh-tokoh yang terkenal antara lain Abu Al Fida Muhammad bin Al Amid (w 360 H/ 970 M), Abu Ishaq Al Shabi (w 384 H/ 994 M), Al Qadli Al Fadhil (596 H/ 1200 M).
Pada masa ini pula mulai muncullah ilmu balaghoh (badhi’, bayan dan ma’ani) dan “ilmu ‘arudh wal qawafi” yang pertama kali diciptakan oleh Khalil bin Ahmad  bahkan ia meringkas wazan-wazan arab dalam 15 bahar, dan kemudian muridnya yakni imam Akhfash menambahkan 1 bahar lagi menjadi 16 bahar.
Ciri Umum Sastra Pada Masa Abbasiyah
Terdapat beberapa perbedaan yang mendasar antara masa abbasiyah dengan masa-masa sebelumnya khususnya masa umawi, diantaranya adalah :
1. Tujuan pengungkapan sastra dan orientasi syair mengalami perluasan.
2. Bahasa, pada masa ini mengalami kemunduran karena asimilasi bangsa arab dengan ajam yang berpengaruh terhadap kualitas kebahasaan serta sering terjadi kesalahan bahasa.
3. perluasan wilayah kajian sastra yang tidak hanya pada wilayah syair tetapi juga prosa sehingga memunculkan karya-karya novel, buku-buku sastra, riwayat dan hikayat, serta munculnya genre baru النثرالتجديدي.




Keadaan kritik sastra
Adapun perkembangan pemikiran, meluasnya pengetahuan, bercampurnya kebudayaan-kebudayaan orang arab dan non arab yang adanya penerjemahan dari bahasa persia, india dan yunani memberikan pengaruh yang besar pada perkembangan sastra dan kritik sastra secara bersamaan. Sejak akhir abad ke-2 H kritik sastra mengalami kemajuan baru yakni pendalaman, ketelitian dan analisis yang jelas serta penafsiran secara terperinci, hingga meningkat pada kritik sastra minhaji yang dilakukan berdasarkan dasar-dasar dan aturan-aturan yang telah ditetapkan[4].
Mengenai kritik sastra pada masa ini, konsep kritik sudah bisa dibilang cukup matang. Hal ini karena perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat pada masa ini. Pengaruh sosial, budaya dan filsafat juga mengambil andil dalam proses pematangan kritisisasi di masa ini[5]. Segala aspek dalam bidang kehidupan mengambil peran dalam proses kritisisasi.
Salah satu bentuk kematangan dalam bidang kritik sastra pada masa ini adalah para ahli bahasa mengklasifikasikan para penyair menurut kwalitas keseniannya[6]. Para penyair juga mensistematisasikan karya mereka dalam pembahasan dan deskripsi yang rapi, seperti contohnya karya Ibnu Almu’taz dalam bukunya al Badi’, yang di dalamnya membahas keteraturan kalam.
Proses kritik sastra pada masa ini juga tak terlepas dari aktifitas penerjemahan yang gencar dilakukan oleh ulama’ Bani Abbas. Di antara kitab-kitab luar negeri yang diterjemahkan adalah buku-buku karangan filosof yunani seperti Aristoteles dan Plato. Hal inilah yang mulai mendasari munculnya ilmu kritik, karena secara teoritis ilmu kritik dicetuskan oleh para pemikir yunani terdahulu[7].
Dari masa abbasiyah inilah kecemerlangan generasi islam menyerbak keseluruh dunia. Hal ini dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Termasuk di dalamnya adalah ilmu sastra. Banyak sekali muncul para sastrawan di masa ini yang membangkitkan dan ikut mewarnai dunia kesustraan islam.
Seiring perkembangan kegiatan penulisan sastra inilah yang menimbulkan kritik sastra muncul. Bidang kritik pada masa ini sudah banyak ragam, mulai dari sistemisasi penulisan karya sastra juga pengklasifikasian antara sastra lama dan sastra modern.
Salah satu kitab kritik sastra adalah yang dikarang oleh Qudamah yakni Naqdu as-Syi’ri. Dan ia juga mengarang kitab Naqdu an-Natsri. Hal ini juga dilakukan oleh penulis-penulis yang lain. Namun demikian bau-bau pemikiran Aristoteles maupun Plato masih tercium dalam karya-karya mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa betapa aktifitas penerjemahan buku-buku yunani begitu besar mempengaruhi proses kreatifitas sastrawan pada masa ini.
Selain itu, factor-faktor social politik juga ikut mewarnai kebangkitan sastra pada masa ini, kritik-kritik terhadap para khalifah via karya sastra banyak digencarkan sehingga tidak jarang khalifah risih dan mengambil tindakan untuk meminimalisir aktifitas sastrawan itu. tindakan politis yang diambil khalifah untuk menjaga tahtanya dari rongrongan para  sastrawan adalah dengan mengumpulkan para sastrawan dan meminta mereka untuk menulis syair yang indah, dan nantinya karya terbaik akan diberikan hadiah oleh khalifah. Dengan adanya aktifitas ini, sastrawan atau penyair mulai jarang menyerang kekhalifahan[8].
Secara umum kritik sastra pada masa bani abbasyiah sudah tergolong matang dan teratur, dikarenakan kemajuan ilmu pengetahuan yang disebabkan seperti di atas. Namun demikian menjelang akhir kekuasaan abbasyiah, proses kritisisasi mengalami stagnasi yang disebabkan oleh stagnannya rasionalitas dan kesenian[9].
Contoh Kritik Sastra Masa Abbasiyah.
Salah satu kritik sastra yang dilakukan pada masa ini adalah kritikan para nuqqad terhadap karya Aby Tamam, seperti syair berikut:
صاغه ذو الجلال من جوهر المجيد # وصاغ الأنام من عرضه
Syair Aby Tamam di atas dinilai para nuqqad dengan syair yang mufradatnya syarat muatan filosofis, sehingga mengaburkan makna yang sebenarnya. Akan tetapi Aby Tamam sendiri menggunakan mufradat seperti itu karena ia sangat memperhatikan makna dalam sebuah syair sehingga ketika dia ditanya oleh para kritikus, “kenapa engkau tak mengatakan apa yang sekiranya bisa langsung dipahami? Dia menjawab: kenapa engkau tak bisa memahami apa yang dikatan sastrawan?[10].
Contoh lain adalah karya sastra al Mutanabbiy yang dikritik oleh ibnu al Atsir. Ibnu al Atsir memandang bahwa al Mutanabby hanya menulis hal-hal baik yang terjadi pada masa peperangan sehingga dia lupa untuk menulis permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat seperti masalah akhlak dan nilai-nilai pada masanya[11]. Namun demikian al Mutanabbiy merupakan salah satu sastrawan yang membuat karya sastra dengan ciri yang khas sehingga berbeda dengan sastrawan sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan al Mutanabbiy dinilai berbeda dengan para sastrawan Abbasiyah sebelumnya[12].












PENUTUP
Kesimpulan
Setelah melihat uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegitan kritik sastra pada masa Abbasiyah sudah cukup matang. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mencakup sosial, budaya, politik dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian kritik sastra pada masa ini sudah bisa dikatan kritik sastra yang sudah tersistematiskan.
















Daftar Pustaka
Dhoif, Syauqi. Fi An-Naqdil Adabiy. 1988. Kairo: Darul Ma’arif.
Hitty, Philip. History of The Arabs. 2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
Ibrahim ali. Fi Muhithi Annaqdi al Adabiy. _________
Juzif dkk. Al Mufid fi al Adaby al Arobiy.1968. Birut: al-Maktabah at-Tijariy
Muzakki, Ahmad. Pengantar Teori Sastra Arab. 2011. Malang: UIN Maliki Press
Sunanto, Musyrifah. Sejarah islam klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. 2003. Jakarta: Prenada Media






[1] Philip K Hitty, History of The Arabs (2003) hal. 375
[2] Musyrifah Sunanto, hal. 35
[3] Ahmad Muzakki, teori sastra arab (2011). Hal. 95-105
[4] Ibrahim Ali, Fi Muhithi An-Naqdi Al-Adabiy_______ hal. 79.
[5] Syauqi dhoif, fi an-Naqdil Adabiy (1988): 30
[6] Ibid. hal 30.
[7] Op. cit, hal. 9.
[8] Lihat Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik (2003) :82-83. Lihat juga Ahmad Muzakki, Teori Sastra Arab (2011) hal: 100.
[9] Syauqi Dhoif, Fi an-Naqdil Adabiy (1988): 31.
[10] Jurif al Hasyim dkk, al Mufid fil Adabil Araobiy (1968): 572
[11] Ibid, hal. 573
[12] Syaoqi Dhoif, Op.cit hal. 30

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz