Minggu, 06 Januari 2013

Yang Terus Bercahaya


(Septong Kisah dari Bajulmati)
Teriakan riang anak-anak yang membahana menyaingi lautan. Harapan-harapan masa depan yang menjulang seperti pelangi. Padanya aku gantungkan tekad dan asa. Bahwa siapapun di dunia ini, berhak memiliki cita-cita dan harapan. Seterjal apapun jalur kehidupannya, sekeras apapun gelombang hidup, karena segalanya adalah kuasa-Nya. Dan Tuhan tak pernah melarang manusia untuk berharap.

Dibalik bebukitan ini, ada cinta dan harapan. Terjaring dalam pepohonan dan karang yang membentang. Meski tak ada aspal, tapi semangat tetap selalu terkepal. Barangkali dari jiwa-jiwa tulus mereka, gemuruh lautan pun akan menjadi sunyi. Tak ada kata menyerah. Di sini mereka menelaah. Mengarungi pantai dan sawah. Belajar dari alam. Menghafal ayat-ayat Allah.

Mereka tak peduli wakil rakyat yang tak kasih. Tak peduli korupsi yang masih. Bagi mereka, tak ada waktu untuk memikirkan orang lain. Pendidikan swadaya yang mereka dapatkan sudah lebih dari apapun bagi mereka. adakah yang lebih penting selain cahaya ketika gelap menyelimuti jalanan panjang yang harus dilewati? Saat-saat seperti itu, tentu siapapun tak punya waktu untuk memikirkan siapa yang tengah telanjang di dalam gelap.

“Kami ingin belajar, agar menjadi manusia yang tidak kurang ajar”. Demikian kata-kata mereka yang menusuk relung hati terdalam. Barang kali jika kita menelaah tentang anak-anak ini, akan ada cahaya yang memancar dari jiwa-jiwa mereka.


Bajulmati, hanyalah dusun terpencil yang terdapat di malang selatan. Wilayah hutan yang masih terisolir. Namun demikian, terisolasi tempat bukan berarti terisolasi hak belajar. Anak-anak itu, tak mengerti hal itu. sekali lagi, mereka hanya ingin belajar.
Aku tertegun melihat anak-anak tersebut, sikap polos yang kelak barangkali akan melawan ketidakadilan negeri. Padanya aku berharap, kelak mereka akan menjadi pengabdi yang setia pada negeri, tanpa korupsi sampai mati.

Setiap sore tiba, mereka tengah siap dengan buku yang meski sudah lusuh, tetap memiliki arti yang utuh. Semangatlah yang membuat wajah gelap mereka bercahaya. Senyuman yang mengiringi derap sepeda yang mereka kayuh seperti keinginan jauh yang lebih jauh dari jarak pandang mata. masa depan.
Gemuruh gelombak laut yang menyulut, bebukitan pantai yang menjulang, seperti merangkai mimpi-mimpi anak-anak itu. semua itu adalah bagian dari tempat belajar mereka. dari alam mereka ada, pada alam mereka belajar, dan pada alam pula kelak mereka akan terbenam.

Wilayah bajulmati memang masih tak begitu bercahaya di mata pemerintah, hal itu terlihat dari prasarana yang ada, masih sangat kurang. Pendidikan yang mereka enyam saat ini hanya pendidikan non formal, tapi itu semua tidak mengurangi semangat mereka, mengejar mimpi-mimpi serta masa depan mereka. ada cahaya di jiwa dan mata mereka. meski tangisan tak jarang membelai karena jalan hidup yang menyempit.
Berbaur bersama mereka, seperti berdiri bersama laskar perang. Para pendekar yang siap dengan segala peralatan. Meski musuh lebih tangguh, tapi keyakinan tetap teguh. Itulah yang membuatku terbelalak bangun dari tidur dengan mata terbuka. Masih banyak nasib yang terkurung tirani. Masih banyak semangat yang sayapnya terkekang.

Kemarin sebelum aku meninggalkan mereka, saat mendekati senja. Anak-anak itu mengajakku menaiki bukit. Bukit di pinggir pantai yang berhadapan dengan peraduan terbenamnya matahari. Kala itu, rona merah menyembur memeluk tubuh kami, senyuman mereka mengiringi belaian cahaya yang diiringi deru gelombang pantai yang alami. mereka berteriak, entah apa yang mereka teriakkan. Aku hanya diam saat itu, tak tahu apa yang akan aku teriakkan bersama mereka.
Pelan-pelan aku menangkap suara keras yang bertabrakan dengan angin laut, merekamnya dalam-dalam dan menyimpannya dalam memori jiwa. Aku tak percaya, mereka meneriakkan sebuah adagium yang luar biasa, “man jadda wajada”.

Ah, betapa keras angin laut, betapa gemuruhnya gelombang memukul pantai beserta karang-karang hijau. Betapa perkasanya gunung yang membentang memaku desa ini. Namun sepertinya tak kan pernah bisa mengalahkan keperkasaan dan semangat anak-anak itu.
Sepanjang perjalanan turun dari bukit, aku terus berifikir dan tertegun dengan anak-anak itu. semakin dalam semakin bangga. Namun aku begitu miris, ketika semangat itu masih berkutat dengan labirin hegemoni yang masih sulit disibak. Itulah yang membuatku berbisik dalam reluang jiwa yang terdalam, “Tuhan jagalah anak-anak ini”.

Gelap merayap. Air laut kembali memeluk pantai setelah kepergiannya sesaat. Orang-orang kembali ke peraduan. Singsingan angin malam perlahan menyambut. Tinggallah cahaya jiwa anak-anak itu berterbangan. Aku percaya cahaya itu akan selalu hidup. Siang bersama matahari dan malamnya akan bersama rembulan ataupun bintang-gemintang. Selanjutnya, cahaya mereka, akan bersama hatiku seutuhnya.   
    

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz