Rabu, 17 April 2013

Aswaja, Manusia Dan Pembangunan



Term Ahlussunnah wal Jamaah sebenarnya merupakan kelangsungan desain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaurrosyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab Mu’tazilah pada abad ke 11 H.

Aswaja sebenarnya merupakan terminilogi yang terkesan diperbutkan oleh sekte-sekte yang tersebar banyak dalam islam. Hal ini dikarenakan karena klaim kebenaran dari masing-masing sekte. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, disebutkan bahwa islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Ahlussunnah. Dengan demikian seluruh kelompok-kelompok dalam islam menamakan diri mereka Ahlussunnah.

Terlepas dari klaim tersebut, istilah Ahlussunnah yang sejatinya adalah kelompok generasi sahabat itu sendiri, generasi terbaik ummat ini yakni generasi yang ma ana fihi wa ashabi.
Kemunculan aliran ahlussunah secara aliran teologi, tokoh utamanya adalah Ahmad Ibnu Hanbal (780 - 855 M) yang kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Taimiyah (w. 729 H).

Dalam perkembangannya, sejarawan membagi Ahlussunnah ke dalam 2 bagian yang mana hal itu dilihat dari fase dan ciri doktrinnya, yaitu, ahlussunah salafiyah dan khalafiyah. Kedua tokoh yang disebutkan di atas adalah tokoh Salaf sementara yang kedua, tokohnya adalah Imam al Asyari dan al Maturidi[1].
Ahlusunnah wal jamaah adalah paham yang selalu merujuk kepada kitab Allah, sabda rasulullah dan ijtihad sahabat[2].  

Seiring perekembangan zaman tentunya polemik-polimik kehidupan juga semakin banyak. Hal ini membawa manusia dalam sebuah keharusan untuk melakukan dinamisasi keilmuan maupun keagamaan.
Islam sebagai agama yang sempurna dan ditujukan untuk seluruh alam (rahmatan lil alamin) tentunya harus bisa menampung persoalan-persoalan hidup pemeluknya. Hal ini menjadi kegelisahan akademis seorang tokoh pemikir muda NU dahulu yaitu Said Agil Syiroj untuk mengkaji paham Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi pegangan NU.
Yang menjadi pertanyaan, Aswaja dalam NU maupun PMII apakah sebagai madzhab atau Manhajul fikr?

Aswaja sebagai manhaj al-fikr
Melihat dari latar cultural dan politik sejarah kelahiran Aswaja, beserta ruang lingkup yang ada di dalamnya. Terminologi Aswaja yang sebagaimana yang kita pegangi selama ini, sehingga tidak jarang memunculkan paradigma Jumud (stagnan), kaku, dan ekslusif atau bahkan menganggap sebagai sebuah madzhab dan ideology yang qoth’i.

Hal ini telah dibahas oleh banyak pemikir NU, dan pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa aswaja dalam Nahdlatul Ulama, bukanlah sebagai madzhab melainkan sebagai manhajul fikr atau dalam istilahnya KH. Abdul Muchit Muzadi adalah haluan bermadzhab (bermadzhab manhaji).

Ada 4 konsep dalam paradigma NU terkait manhjul fikr[3],
1.      Tawassuth dan I’tidal
Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjungjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama. NU dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tathorruf (ekstrim).
2.      Tasammuh
Sikap toleran terhadap perbedaan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebuadayaan
3.      Tawazun
Sikap seimbang dalam berkhidmah, menyerasikan kepada Allah SWT, khidmah kepada manusia, serta dalam lingkungan kehidupannya.
4.      Amar ma’ruf nahi mungkar
Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong terhadap perbuatan baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan memudahkan nilai-nilai kehidupan.

Dengan demikian Ahlussunnah wal jamaah kekinian adalah kelompok atau golongan yang syariat keagamaannya merujuk pada Rasulullah, sahabat dan ulama’-ulama’ yang sudah memiliki kompeten dalam bidangnya dalam menetapkan sebuah hukum.

Insan Aswaja menuju pembangunan sejati.
Setelah mengetahui aswaja sebagai manhajul fikr, tentunya tugas kader PMII harus bisa mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsekuensi dari tujuan organisasi ini sendiri.
Dalam rangka mengawal pembangunan di Indonesia, kader PMII, yang dalam hal ini adalah Insan aswaja, harus bisa bersikap dan berjuang sebagaimana manhajul fikr yang telah menjadi landasan dalam organisasi. Dalam hal ini insan aswaja dituntut untuk menjadi pejuang dalam meperjuangkan hak-hak masyarakat yang terzholimi pemimpin mereka. Artinya, kader harus bisa menjadi penengah antara masyarakat dan pemimpin guna mengawal kebijakan-kebijakan Negara agar memihak kepada rakyat.
Hal ini tentunya bukan tugas mudah, namun membutuhkan tekad juang yang keras dan ketaqwaan yang mendalam. Kondisi Indonesia yang belakangan ini banyak dikuasai oleh kaum kapitalis internasional menyebabkan tugas ini begitu rumit. Oleh sebab itu kader dituntut untuk tetap memantau perjalanan yang dipenuhi polemik-polemik kehidupan yang semakin konfleks. tentunya dengan mengaplikasikan empat konsep tadi. Di sini konsep taadul yang paling dibutuhkan.

Demikian pula jika kita menyaksikan bangsa Indonesia yang memilki ragam budaya, membutuhkan bagaimana berintraksi dengan baik agar tidak terjadi benturan antara budaya satu dengan yang lainnya. Yang membuat miris dewasa ini adalah sering terjadinya tawuran antara satu daerah dengan daerah lainnya yang tidak jarang menyangkut masalah budaya. Pun jua demikian dengan mahasiswa maupun siswa yang lebih suka taur dari pada belajar. Hal ini dibutuhkan solusi kongkrit untuk mengakhirinya. Penanaman pendidikan karakter salah satu cara bagaimana menghentikan laju anarkisme ini, juga bagaimana sikap tasammuh bisa ditularkan kepada mereka agar mampu menahan diri dari berbuat demikian. Di sinilah peran insan aswaja untuk melerai konflik-konflik yang terjadi. Hal yang demikian juga menyangkut konflik-konflik keagamaan.

Setelah insan aswaja mampu melerai konflik yang menjamur dengan konsep-konsep tadi, barulah pembangunan sejati dapat terwujud dalam kesinambungan yang indah. Selama manusia-manusia tidak mampu bersikap adil, toleran dan menyeimbangkan hak dan kewajiban, selama itu pula kedamaian dan pembangunan sejati tak akan pernah terwujud.

Inilah Insan Aswaja, manusia yang akan mengawal laju kehidupan dengan memperhatikan bubungan dengan Tuhan dan manusia serta terhadap alam semesta. Yang akan mengawal pembanguan Indonesia dengan islam indonesianya. Dengan demikian akan terbentuklah pembangunan sejati, yakni pembangunan yang bersih dari kepentingan-kepentingan golongan dan KKN. Semoga!.


[1] Abdul Rozak dan Rosihan Anwar (Ilmu Kalam) hal 109-131.
[2] Lihat abdul muchith muzadi (Mengenal Nahdlatul ulama’) hal, 21-23
[3] Ibid, hal 27

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz