Rabu, 17 April 2013

Masyarakat Baru Islam di Irak dan Persia


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketika rasulullah mendekati gerbang kematiannya, beliau berwasiat kepada para sahabat untuk mengusir kaum musyrik dari tanah arab. Hadits tersebut kemudian menjadi motifasi dan dalil untuk melakukan futuhat. Kemajuan islam pun dengan futuhat-futuhat yang dilakukan cukup pesat. Pada masa khalifah Umar bin khattab, proses penaklukan wilayah di seputar wilayah arab sangat mengagumkan. Bahkan bangsa besar Persia bisa takluk di bawah bendera islam.
Dalam pada itu, ada banyak hal yang menjadi dampak setelah diadakannya futuhat oleh tentara islam, aspek politik, budaya, social dan seluruh bidang kehidupan terkena dampak yang signifikan dengan hal tersebut. seluruh Negara-negara yang bisa ditaklukkan, secara bertahap dan pasti akan mengadopsi budaya, bahasa dan kebiasaan orang arab. Sehingga dengan demikian, proses futuhat, tidak sebatas kegiatan invasi militer, namun juga disana ada proses asimilasi budaya yang memabawa pada nilai-nilai peradaban baru. Sehingga munculnya islam sebagai peradaban besar di dunia merupakan keniscayaan.
Di antara wilayah-wilayah yang diinvasi pemerintah islam pada masa-masa kekhalifahan adalah wilayah Iraq dan Persia. Kedua wilayah yang bertetangga ini memiliki watak yang keras dalam rangka menjaga budaya mereka. adalah iran yang dari sisi cultural kebahasaan bukan serumpun dengan bahasa arab, yakni jika bahasa arab berumpun semit, Persia adalah rumpun bahasa arya. Nilai historis yang berbeda inilah yang membawa peroses penaklukan Persia nantinya cukup sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Melalui makalah ini akan dipaparkan terkait dengan proses penaklukan Negara irak dan Iran oleh pemerintah islam. Seperti apakah langkah dan kesulitan yang dialami oleh tentara islam dam rangka penaklukan kedua wilayah tersebut?
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para penuntut ilmu yang haus ilmu dan pencerahan akan sejarah perkembangan islam. Namun demikian, penulis mohon maaf atas ketersediaan makalah yang masih jauh dari kesempurnaan ini.

Rumusan Masalah
Dari paparan di atas dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses penaklukan Irak dan Persia?
2.      Bagaimana masyarakat baru islam di Irak dan Persia?

Tujuan
1.      Untuk mengetahui proses penaklukan Irak dan Persia.
2.      Untuk mengetahui masyarakat baru islam di Irak dan Persia.
  

PEMBAHASAN
Penaklukan Irak dan Persia oleh Kaum Muslimin
Penaklukan Irak
Secara tehnis, proses penaklukan irak lebih berat dibandingkan dengan tetangganya suriah (syam). Hal tersebut terlihat dari banyaknya pertempuran yang terjadi ketika penaklukan irak. Dalam penaklukan irak, sangat jarang negosiasi berujung perdamaian, selalu dan sangat sering negosiasi berujung pada pertempuran. Sehingga dengan demikian, penaklukan irak lebih bersifat paksaan dari pada negosiasi dalamai (faishol, 1973: 73-74).
Pada tahun 634, Khalid menyerahkan kekuasaannya kepada Al-Mustanna Ibn Haritsah, kepala suku Banu Syaiban, dikarenakan ia melakukan manuver kearah barat dari Hirah. Dan Abu 'Ubaidah bin Mas'ud diangkat sebagai jendral oleh Umar untuk membantu Al-Mutsanna melawan Persia kearah Timur. Sementara itu, pasukan Persia yang dipimpin oleh Rustam melakukan penyerangan dan hampir menghancurkan pasukan arab. Abu 'Ubaidah pun tewas dalam pertempuran tersebut. (Hitti, 2010: 194)
Tanpa rasa takut, Al-Mutsanna membangun serangan baru dan pasukan Persia yang dipimpin oleh Mihrain akhirnya berhasil dikalahkan ditepi sungai Efrat pada tahun 635. Al-Mutsannah meninggal setelah kemenangannya, disebabkan luka yang didapatkan dalam peperangan tersebut.
Setelah meninggalnya Al-Mutsanna, 'Umar mengutus Sa'ad bin Abi Waqqash ke Irak sebagai komandan pasukan bersama 10.000 orang berhadapan dengan Rustam di Qadisiyah yang tidak jauh dari Hirah. Rustam akhirnya terbunuh dan kaum muslim menang. Semua dataran rendah Irak yang subur disebelah barat sungai Tigris terbuka lebar bagi para penakluk.

Penaklukan Persia
Persia merupakan pintu ekspansi yang berimplikasi pada keberhasilan futuhat-futuhat setelahnya yakni di sebelah timur yang kemudian membawa kepada takluknya india[1].  
Sasaran sa'ad (yang pada waktu itu menjadi komandan pasukan) berikutnya adalah Mada'in, ibu kota Persia. Ia bergerak menyebrangi sungai Tigris. Pada bulan Juli 637, Sa'ad melenggang memasuki ibu kota dengan penuh kemenangan karena kota tersebut telah ditinggalkan oleh pasukan dan rajanya. (Hitti, 2010: 195)
Sa'ad diperintahkan berhenti oleh 'Umar, agar tidak terlalu dalam memasuki wilayah Persia. Akan tetapi, persiapan pasukan di Persia untuk merebut kembali Irak memaksa khalifah untuk membatalkan perintahnya yang akhirnya mengizinkan pasukan tersebut untuk maju. (Al-Faruqi, 1998: 248)
Penaklukan dilanjutkan di Jalula, berbatasan dengan dataran tinggi Persia. Disusul pertempuran lain di Mawshil semakin memperparah kekalahan Persia. Pertempuran efektif terakhir berlangsung di Nihawand. Pasukan Islam yang dipimpin oleh keponakan Sa'ad berhasil menghancurkan sisa-sisa pasukan Yazdagird. Khuzistan, Elam, Pars, dan Persepolis berhasil ditaklukan pada tahun 640. Di susul dengan Khurasan, Makran dan Baluchistan.
Pada tahun 651, Yazdagird dibunuh oleh jendralnya sendiri di Marw. Dengan kematiannya, sebuah kerajaan yang memerintah selama 12 abad sudah berakhir. (Hitti, 2010: 197).

Masyrakat baru islam di irak dan Persia
A.      Masyarakat baru islam Irak
Masyarakat irak terbagi menjadi 2 fase pasca penaklukan islam :
1.      Fase Perdamaian : Mayoritas masyarakatnya adalah petani yang menggarap sawah mereka dan tidak mengikuti peperangan
2.      Fase Peperangan : Masyarakatnya sudah bercampur dengan masyarakat persia, serta keturunan mereka. orang-orang persia yang berada di Irak adalah para tentara dan orang-orang yang memiliki pengaruh, yaitu orang-orang yang berusaha untuk menjatuhkan kaum muslimin di Irak[2].
Para petani ini adalah penduduk irak yang tidak berkeinginan untuk melakukan aksi militer. Mereka percaya atas toleransi keislaman yang diperkenalkan. Mereka pun melihat islam sebagai agama perdamaian. Sehingga dalam eksistensinya, mereka memilih tetap bercocok tanam dengan memberikan jizyah kepada pemerintah pusat.
Adapun fase yang kedua adalah ketika orang-orang Persia ikut campur dalam proses penaklukan wilayah irak. Campur tangan Persia inilah yang pada gilirannya menjadi bara pertempuran antara tentara muslim dengan pasukan Persia. Yang pada gilirannya pula membawa Persia takluk kepada pemerintah islam[3].

Pemberlakuan jizyah bagi kafir dzimmah
Telah dijelaskan di muka bahwa bagi kaum musyrik yang memilih berdamai dengan islam, maka terlindung hak-hak mereka untuk hidup dan bekerja di bumi Irak, namun dengan kewajiban membayar jizyah.
Mengenai pemberlakuan jizyah, ada perbedaan pendapat tentang hal tersebut. pada masa pasukan dipimpin kholid dan mutsanna, jizyah berlaku menurut ukuran dan keadaan yang terbebani.. adapun pada masa pasukan dipimpin saad, jizyah dikurangi[4].
Adapun ketentuan jizyah adalah sebagai berikut:
1.      Diberlakukan secara menyeluruh
Pembayaran jizyah berlaku di seluruh daerah futuhat islam
2.      Pembayarannya
Pembayaran jizyah dilakukan setahun sekali.
3.      Berbentuk hadiah
Jizyah pada hal ini dinamakan hadiah, sebagai adopsi dari kebiasaan Persia.
4.      Khirzah
Khirzah merupakan salah satu bentuk jizyah. Khirzah merupakan bagian lebih dalam dari jizyah. Kalu jizyah diberlakukan secara umum, bagi orang-orang tertentu yang memiliki harta kekayaan yang mewajibkan mereka membayar jizyah, sementara khirzah adalah kewajiban wajib bagi setiap kepala untuk memberika upeti kepada pemerintah sebesar: 4 dirham[5].

Sebagaiamana dikemukaakn di muka, bahwa proses penaklukkan irak beralangsung cukup lama, dan menuai konflik yang tidak sedikit. Dengan adanya proses negosiasi secara cultural sainsitif maupun maneuver pasukan yang dilakukan oleh khalifah yang berkuasa (pada saat itu Umar), perlahan islam mulai mendapatkan tempat dan menjadi pedoman kehidupan masyarakat irak.
Dalam proses selanjutnya, terjadi parsialisasi doktrin di Negara irak, sebagai bentuk implikasi dari lahirnya golongan-golongan dalam islam. Di irak, ada dua kubu islam yang mendominasi, yakni syi’ah dan sunni. Dimana syiah menjadi mayoritas dengan prosentase 60%, sementara sisanya adalah kaum sunni dengan prosentase 40 %[6].

B.       Masyarakat baru islam di Persia (Iran)
Persia (sekarang Iran) pada masa kontemporer, menjadi kekuatan baru timur tengah. Keberaniannya menghadapi segala bentuk intimidasi dan hegemoni global cukup menjadi bukti hal tersebut.
Dahulu Persia menjadi sebuah kekuatan yang besar. Historisitas inilah yang membentuk karakter Persia menjadi egara yang tangguh dan tahan ancaman. Karakter yang seperti ini pula yang melatar belakangi begitu sulitnya islam menaklukkan negeri adi daya pada masanya ini.
Jika dibedakan penaklukan irak lebih sulit dari pada penaklukan suriah (sam), maka penaklukan Persia jauh lebih sulit. Salah satu gambaran sulitnya penaklukan Persia adalah, untuk penaklukan pertama, tentara muslim harus melakukan gencatan senjata selam hampir sepuluh tahun.
Menurut Hitty, watak masyarakat Persia yang seperti ini dipengaruhi kuat oleh nilai historisitas yang mereka miliki. Bahwa Negara Persia adalah Negara yang sudah terbiasa hidup damai dan penuh kebebasan, sehingga ketika islam mecoba dan berusaha masuk dengan menaklukkan mereka, islam justru mengalami perlawanan yang dahsyat[7]. Namun demikian, dengan usaha yang sungguh-sungguh tentara muslim, melalui tangan sa’d, islam berhasil menaklukkan Persia.
Selepas penaklukan Persia, islam berkembang dan menjadi corak serta karakter masyarakat Persia. Selama tiga abad pemerintahan bangsa arab , bahasa arab menjadi bahasa resmi dan bahasa pergaulan masyarakat yang berbudaya, dan hingga batas tertentu juga menjadi bahasa tehnis sehari-hari. Namun semangat lama bangsa taklukan itu kembali muncul dan mereka mulai melestarikan bahasa asli mereka yang telah lama terabaikan[8].
Selain itu, Persia banyak berperan dalam gerakan Qaramithah yang selama bertahun-tahun berhasil mengguncang fondasi kekhalifahan. Ia juga terkait erat dengan perkembangan sekte syiah dan munculnya dinasti fatimiyah yang menguasai mesir lebih dari dua abad.
Dalam bidang pengetahuan, masyarakat Persia terkenal dengan kecerdasannya. Beberapa bintang yang paling brilian dalam cakrawala intelektual islam selama tiga abad pertamanya adalah orang-orang Iran yang telah masuk islam.




PENUTUP
Kesimpulan
1.      Proses penaklukan irak dan Persia adalah proses penaklukan yang cukup sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya, adanya nilai-nilai historisitas yang begitu menancap dalam karakter kedua bangsa, terutama bangsa Persia.
2.      Masyarakat baru di kedua wilayah tersebut menunjukkan adanya tingkat peradaban yang lebih tinggi dan unggul. Di irak dan Persia, pasca futuhat menghasilkan generasi-generasi cemerlang yang ahli dalam berbagai macam disiplin keilmuan. Hal ini menunjukkan pengaruh islam dalam proses perkembangan kedua bangsa tersebut sangat kuat dan signifikan.


DAFTAR PUSTAKA
Faishal, Syukri. Al-Mujtamaat al-Islamiyah, fil Qornil Awwal. 1973. Birut: darul ilmi lil malayiin.
Hitty, Philip. K. History Of The Arabs. 2010. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan. 1975. Jakarta: Bulan Bintang
Zuhairi Misrawi. Oase Perdamaian di Tengah Ambisi Perang. Uni Sosial Demokrat. www.unisosdem.org.
www.wikipedia.com


[1] Harun nasution. Pembaharuan dalam islam,sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta. 1975. Hal: 13
[2] Syukri faishal. Al-mujtama’at al-islamiah. Birut. 1973. Hal. 77-78
[3] Philip K Hitty The History Of Arabs. Hal: 194-198
[4] Op.cit. hal 78
[5] Ibid, hal 79-81
[6] Wikipedia.com akses tgl 12 april 2013
[7] Philip K Hitty, The History of arabs. Hal 198
[8] Ibid, hal 198

3 komentar:

retno wulan mengatakan...

mas war'iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii :P

fajri al-muttatsir mengatakan...



👍

fajri al-muttatsir mengatakan...



👍

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz