Kamis, 27 Juni 2013

Menangkal Virus Religionomik*


Sudah hal biasa jika setiap mendekati momen ramadhan maupun hari-hari keagamaan lainnya selalu dibarengi dengan kenaikan harga barang pokok. Perbandingan harga pada hari-hari mendekati perayaan keagamaan dengan hari-hari biasa terkadang sangat mencenangkan, dari 50-100 persen!. Fenomena ini selalu menjadi permasalahan social yang menjadi pemandangan wajar. Namun demikian, kewajaran ini akan menjadi momok yang menakutkan mengingat yang akan menjalankan ibadah pada hari-hari tersebut bukanlah orang-orang yang ekonominya matang, namun juga disana ada kaum-kaum miskin dari golongan ekonomi menengah bawah.

Ramadhan, seolah menjadi hak orang-orang yang berkantong tebal, demikian pula dengan natal dan perayaan lainnya. Entah kenapa kapitalisme seolah muncul pada momen yang seharusnya orang mengukur tingkatan idealitas mereka. hari suci menjadi sasaran empuk untuk pasar kapitalis. Toko-toko, mal-mal semua ramai dikunjungi tatkala hari-hari mendekati hari raya.
Ada cerita lucu yang biasa disampaikan para dai dalam mengisi bulan ramadhan. Jika pada malam pertama ramadhan jamaah pasti ramai mengisi shaf, maka pada malam-malam selanjutnya, shaf-shaf semakin maju (menandakan jamaah berkurang). Ternyata, jamaah tarawih telah berpindah ke pasar-pasar umum di pinggir jalan (biasanya berdekatan dengan masjid).

Di beberapa daerah, tradisi pasar malam menjelang ramadhan sudah merupakan rutinitas. Bahkan cenderung diregulasikan oleh pihak-pihak tertentu. Masyarakat yang mau membuka lapak pakaian diwajibkan mendaftar dengan menyerahkan sejumlah uang. Kadangkala biaya sampai setengah keuntungan setiap hari bagi seorang pedagang. Ada apakah dengan momen-momen suci diatas. Kenapa sakralitas tidak lagi menjadi inti, namun bagaimana momen tersebut dimaksimalkan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya?

“Agama telah dikomoditaskan”. Begitulah kalimat yang sering saya dengar keluar dari mulut seorang budayawan, Romo Agus Sunyoto. Momen-momen keagamaan menjadi ajang pencarian keuntungan bagi sejumlah pihak. Itulah yang kini menjadi warna dalam setiap mendekati ramadhan, papar beliau. Romo Agus mengistilahkan fenomena ini dengan istilah jaman “Religionomik”. Yakni sebuah masa ketika orang-orang menjadikan agama sebagai alat mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Barangkali ajaran-ajaran agama telah menjadi usang dalam dada pemeluknya, sehingga sakralitas hari suci tidak lagi menjadi cermin untuk berkaca akan kualitas di hadapan yang maha kuasa. Keberadaannya bak hanya sebatas lahan jual beli maupun pertarungan antar pengusaha bahan pokok dan pakaian.
Beberapa pekan lagi, kita akan memasuki bulan ramadhan. Di tivi maupun alat komunikasi lainnya, telah banyak diberitakan tentang bahan pokok yang mulai naik. Ini menjadi warna yang ikut mewarnai kegelisahan masyarakat akan naiknya harga BBM. Virus religionomik seperti ini biasa merebah mendekati ramadhan.

Jika berbicara ramadhan, sungguh telah banyak disampaikan oleh para kiai, ustadz dan dai-dai lainnya tentang keutamaan bulan suci ini. Bulan ramadhan adalah bulan introspeksi diri, memperbaiki diri, dan menabung amal kebaikan untuk bekal akhirat. Ramadhan merupakan momen godokan Tuhan agar manusia lebih bersabar dan bisa mengendalikan nafsunya. Serta banyak hal lainnya yang mencakup hikmah dan tujuan melaksanakan ibadah puasa ramadhan.  Kini, kita mulai bertanya, apakah tujuan suci ramadhan masih bisa kita petik tatkala materialisme telah lebih dulu mengekang jiwa.

Mendekati bulan ramadhan, Virus-virus religionomik seperti biasa merebak di masyarakat kita. hal tersebut membuat tujuan utama melaksanakan ibadah menjadi membias dan penuh ketidakjelasan. Persiapan sebelum memasuki bulan suci dengan hal-hal yang bersifat spiritual telah dikalahkan dengan kepentingan-kepentingan duniawi yang berupa persiapan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Jika sudah seperti ini, agama tidak lagi menjadi pendamai seluruh manusia, namun akan membawa kepada momok menyesakkan terutama bagi masyarakat ekonomi menengah bawah. Sejak kapan orientasi agama yang kemerataan dunia dan keselamatan akhirat berubah menjadi kerakusan dunia dan ketidakjelasan akhirat?

Sebelum kita memasuki gerbang ramadhan, marilah kita sejenak merehat diri untuk mempersiapkan diri dengan sikap-sikap spiritualitas keagamaan. Adapun untuk virus religionomik, masing-masing muslim seyogyanya memperhatikan hal-hal antara lain: Pentingya kesadaran regiusitas dalam rangka memfilter arus kapitalisme yang menunggangi kebutuhan-kebutuhan masyarakat dalam beribadah di bulan suci. Misalnya dengan adanya kesadaran para penjual bahan pokok untuk tidak menaikkan harga barang. Bukankah memberi harga murah pada seorang hamba yang beribadah merupakan sedekah? Kesadaran-kesadaran seperti ini penting untuk dilahirkan kembali.

Kedua, sosialisai tentang hakikat menjalankan bulan suci. Dalam hal ini para kiai, ustadz dan lainnya berkewajiban untuk membawa jamaah beribadah secara murni dan tidak terkungkun urusan duniawi berbuka puasa tidak mesti dengan hal-hal yang mewah. Kemudian kita juga bisa memaksimalkan regulasi pemerintah. Pemerintah dalam hal ini harus memantau aktivitas perdagangan maupun jual beli agar tidak semeraut harga jualnya yang sering kali membuat kegelisahan masyarakat dalam menjalankan ibadah. Kadangkala harga daging naik hingga 90%. Angka fantastis ini seharusnya tidak terjadi di bulan suci.

Selain ketiga item di atas, langkah preventif akan virus religionomik harus dilakukan jauh sebelum memasuki momen ramadhan. artinya, kebiasaan untuk mempersiapkan bulan ibadah dengan tindakan-tindakan materil yang sangat bersifat duniawi harus dihilangkan oleh semua umat muslim. Tentunya hal ini sejalan dengan nilai-nilai dalam agama, karena pada hakikatnya tidak ada agama yang mengajarkan kepada keserakahan duniawi.


Virus religionomik telah mendarahdaging terlebih di zaman modern ini, namun bukan berarti kita harus membiarkan diri kita terus tenggelam di dalamnya. Kita harus merubah paradigma kapitalisasi agama atau menjadikan agama sebagai komoditas dengan kemurnian dan ketulusan beribadah. Agama harus dijaga kemurniannya agar keseimbangan kehidupan tetap bisa ditegakkan dengah penuh keharmonisan dan saling menghargai. Alangkah indahnya jika kita memasuki bulan suci dengan semangat tinggi untuk merubah diri, bukan dengan harga tinggi akan kebutuhan-kebutuhan duniawi.           

*malang post, edisi bulan juni 2013

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz