Selasa, 22 Oktober 2013

Iman, Taqwa dan Mujahadah

PENDAHULUAN
Latar belakang
Eksistensi manusia di dunia tidak pernah terlepas dari proses intraksi secara vertikal maupun horizontal. Hubungan harmoni antara manusia merupakan kewajiban sebagaimana halnya intraksi dengan Tuhan diutamakan. Keduanya harus seimbang. Hubungan manusia dengan tuhannya pastinya diawali dengan kepercayaan kepada Tuhan. Dalam hal ini agama memiliki konsep iman yang dengannya, seorang hamba bisa melakukan komunikasi dengan Tuhan mereka.

Dalam terminologi tasawuf, ada beberapa tahapan dalam rangka menuju sang khalik. Diantara tahapan pertama yang mesti dilalui oleh seorang hamba adalah iman, takwa dan mujahadah. Ketiga terminologi ini adalah tahapan-tahapan untuk bisa menuju ilahi. Setelah seorang beriman, maka ia dituntut untuk bertakwa, agar nantinya manusia bisa melewati maqam mujahadah yang memang membutuhkan tekad yang kuat serta kesabaran seorang hamba.

Prosesi manusia sebagai mahluk sosial tidak semata-mata harus kabur dengan konsep tasawuf di atas. Karena pada dasarnya, tasawuf adalah sebuah konsep pengetahuan yang membimbing manusia menuju perbaikan intraksi vertikal horizontal. Sehingga mempelajari tasawuf merupakan keniscayaan. Memang secara konsep keilmuan, tasawuf berkutat pada tataran hubungan manusia dengan Tuhan. Namun demikian dalam tataran implementasi, tasawuf memberikan kontribusi nyata dalam perbaikan intraksi manusia, tidak hanya kepada Tuhan tapi juga kepada sesama manusia. Artinya ada implikasi logis yang diciptakan tasawuf dalam membentuk karakter manusia sosialis.

Dalam makalah ini, akan dipaparkan tentang iman, takwa dan mujahadah. Pembahasan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang ketiga terminologi tersebut serta keutamaan dan implikasinya. Kajian dititikberatkan dalam paradigma tasawuf, Sehingga mampu menjadi rujukan para salik maupun para pengkaji ilmu tasawuf dalam rangka meningkatkan pengetahuan maupun kualitas diri. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya. Atas segala kekurangan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.


Rumusan masalah
1.      Bagaimana konsep iman dalam ilmu tasawuf?
2.      Bagaimana penjelasan konsep takwa?
3.      Bagaimana penjelasan konsep mujahadah?
Tujuan
1.      Untuk mengetahui konsep iman dalam ilmu tasawuf
2.      Untuk mengetahui konsep takwa
3.      Untuk mengetahui konsep mujahadah
  

PEMBAHASAN
A.    Iman
Iman secara etimologi berasal dari bahasa arab yang berarti percaya. Iman merupakan hal yang dengannya seorang diakui keislamannya atau eksistensi seseorang pada suatu agama. Terminologi iman dapat kita temukan pada hampir semua agama[1]. Dalam agama islam, iman merupakan hal yang harus dimiliki oleh semua umat islam. Secara terminologi, iman adalah membenarkan segala apa yang dibawa oleh nabi muhammad SAW dari Allah SWT[2].

Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, dengan demikian orang beriman dapat juga disebut sebagai orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip, pandangan dan sikap hidup.

Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota." Aisyah r.a. berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota." Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)”[3].

Iman dalam pengertian sufi adalah sesuatu (Nur atau Cahaya Ilahi) yang masuk ke dalam hati insan yang telah siap menerimanya (karena merasa butuh kepada-Nya). Kesiapan itu ditandai dengan kehendak dan harapan bertemu dengan-Nya (oleh karena itu, insan yang demikian disebut murid, yaitu orang yang ingin bertemu Tuhannya.

Bagi sufi, Nur Ilahi ini haknya memang berada di dalam hati. Sedangkan semua yang lain harus dikeluarkan dari dalam hati (makna tashfiyatul qalbi) sehingga yang senantiasa diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati hanyalah Keberadaan Zat Al-Ghaib Yang Mutlak Wujud-Nya saja. Nur Ilahi ini lalu dirasakan membutir di dalam rasa hati menjadi butiran iman. Mereka yang telah mencapai maqam ini biasa disebut Asysyaththar.
Dengan Nur Ilahi ini, hati seorang sufi menjadi seakan-akan memandang kepada Wajah-Nya (tawajjuh), yaitu merasakan Keberadaan-Nya secara jelas dan nyata dalam rasa hati, di dalam setiap amal dan perbuatannya di mana saja, kapan saja, dan sedang dalam kondisi apa pun. Dengan cara inilah, semua amal dan perbuatannya dapat terhubung erat dan menyatu dengan Tuhannya. Dalam keadaan demikian, Tuhan selalu membuatnya melakukan perbuatan yang dikehendaki-Nya[4].

Lompatan iman
Mereka, para sufi, mengalami pengalaman lompatan iman (yaitu menyatunya ilmu tauhid, takwa, khusyu', ihsan dan ikhlas, dalam rasa hati) dalam pelaksanaan aturan-aturan formal agama yang disampaikan lewat guru (mursyid) kepadanya. Terutama sekali, lompatan iman ini terealisasi dalam hal menegakkan salat untuk mengingat-ingat keberadaan Diri Ilahi (bukan mengingat-ingat arti bacaan salat). Bahkan, bisa dikatakan, lebih kepada mengintai-intai keberadaan Diri-Nya sehingga dirinya (si pelaku shalat) tidak lagi merasa melakukan salat, karena perhatiannya sepenuhnya terserap kepada Diri-Nya. Hanya salat yang demikian saja yang dipastikan dapat mencegah diri dari perbuatan yang keji dan munkar (tanha 'anil fahsya wal munkar)[5].
  
B.     Takwa
Pengertian
Begitu banyak ayat-ayat Al-quran yang menjelaskan tentang keutamaan takwa. Diantaranya, “sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa”. (QS. Al-Hujarat 13). Menurut kebanyakan ulama’ takwa adalah mengerjakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud dengan taqwa adalah seoang hamba yang tidak takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah . Sahal berkata, “Barang siapa yang menginginkan agar taqwanya benar, maka ia harus meninggalkan semua perbuatan dosa. 

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW seraya meminta nasihat, ‘Wahai Nabi Allah, wasiyatilah diriku ‘. Beliau menjawab, “Wajib atasmu bertaqwa kepada Allah karena sesungguhnya taqwa merupakan kumpulan semua kebaikan. Wajib atasmu untuk berjuang karena berjuang adalah ibadah/rahbaniyah orang islam. Dan wajib atasmu untuk selalu ingat kepada Allah karena mengingat Dia adalah cahaya bagimu”[6]

Sedang menurut Thalq bin Habib, yang dimaksud taqwa adalah perilaku taat kepada Allah di atas cahayanya. Diriwayatkan dari Hafs, ia berkata,”Taqwa harus ditanamkan dalam perbuatan yang halal lagi murni, bukan pada yang lain.

Al Washiti mengatakan, “Yang diamksud taqwa adalah orang yang selalu memelihara ketaqwaannya. Orang yang taqwa dapat diperumpamakan seperti Ibnu Sirin. Ketika ia membeli 40 takar minyak samin, seseorang mengeluarkan tikus dari timbangan tersebut. Inbu Sirin bertanya, ‘dari timbangan mana engkau keluarkan tikus tersebut ? pemuda itu menjawab ‘aku tidak tahu’. Setelah itu Ibnu Sirin menuangkan semua minyak ke tanah”. Dalam cerita lain Abu Yazid pernah membeli minyak parfum di kota Hamdzan dan mendapatkan kelabihan. Ketika ia pulang ke kota Bustam, dia melihat dua semut di dalam parfum tersebut. Setelah itu ia kembali ke kota Hamdzan dan meletakkan dua semut itu ke tempat penjual.


keutamaan
Sahal bin Abdullah berpendapat, tak ada seseorangpun yang dapat menolong kecuali Allah, tak ada argumrntasi yang benar kecuali Rasulullah, tak satupun dari modal persiapan kecuali taqwa dan tak satupun amal kebaikan kecuali sabar”.

Menurut Al-Kattani, dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar manusia bertaqwa. Al Jariri berkata, “Barang siapa yang membiarkan keputusan antara manusia dan Allah Ta’ala tanpa dasar taqwa dan pendekatan diri kepada Allah, maka dia tidak akan sampai kepadaNya.”
Nashr Abadzi berkata, “Barang siapa yang selalu bertaqwa, maka dia tidak merasa keberatan meninggalkan dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik agi orang yang bertaqwa apakah mereka tidak memikirkannya”’.(QS. Al-An’am 32)

Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang mampu mewujudkan taqwa, maka hatinya akan dimudahkan oleh Allah untuk berpaling dari kemewahan dunia”. Menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari yang dimaksud taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Ta’ala. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud orang yang taqwa adalah orang ang tidak mengotori jiwa bathin dengan interaksi sosial. Dalam kondisi yang demikian maka orang tersebut akan mengadakan kontak dengan Allah dan dapat berkomunikasi dengan-Nya.

Seorang laki-laki yang bertaqwa dapat dijadikan standar apabila memenuhi tiga hal. Pertama tawakal yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperoleh. Kedua, ridha yang baik dalam hal yang telah diperoleh. Ketiga, sabar yang baik dalam hal yang telah lewat.
Abul Husain Al-Zunjani berkata, barang siapa yang memiliki modal taqwa, maka berbagai ungkapan sifat jelek akan tertolak”.

Ibnu ‘Atha’ berkata, “taqwa terbagi menjadi dua yaitu taqwa lahir dan taqwa bathin. Taqwa lahir adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, sedangkan taqwa bathin adalah niat dan ikhlash”. Pembagian takwa di ini sejalan dengan keterangan al-Ghazala tentang takwa. Dalam hal ini kita bisa melihat paradigma al-ghazali tentang takwa dalam kitab Bidayatul Hidayah. Dalam kitab tersebut, beliau memaparkan bahwa bidayatul hidayah itu adalah zhohiratut taqwa (ketakwaan zahir) dan akhirnya adalah bathinatut taqwa (ketakwaan bathin)[7].

C.    Mujahadah
Mujahadah secara bahasa berarti sungguh-sungguh, berjuang. Artinya, terminologi ini menunjuk kepada kewajiban orang muslim untuk berjuang dalam agamanya, baik secara lahir maupun bathin. Namun demikian, mujahadah dalam terminologi tasawuf lebih condong dalam perjuangan batin, yakni bagaimana berjuang dalam peperangan melawan hawa nafsu. Mengenai pengertian mujahadah, akan dibahas dibawah ini. 
Ta’rif (definisi) mujahadah menurut arti bahasa, syar’i, dan istilah ahli hakikat sebagaimana dimuat dalam kitab Jami’ul Ushul Fil-Auliya, hal 221[8] :
أَمَّاالْمُجَاهَدَةُ فَهيَ فِي اللُّغَةِ الْمُحَارَبَةُ وَفِي الشَّرْعِ مُحَارَبَةُ  أَعْدَآءِ اللهِ , وَفِي اصْطـِلاَحِ أَهْلِ الْحَـقِـيْقَة مُحَــارَبَةُ النَّفـْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَتَحْمِيْلُهَا مَا شَقَّ عَلَيْـهَا ممَّا هُوَ مَطْلـُوْبٌ شَرْعًا . وَقَالَ بَعْضُـهُمْ : الْمُـجَاهَدَةُ مُخَالَـفَةُ النَّفْسِ , وَقَالَ بَعْضُهُمْ : المـُجَاهَدَةُ مَنْعُ النَّفْس عَنِ الْمَـأْلُوْ فَاتِ
“Arti mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut aturan syara’ adalah perang melawan musuh-musuh Alloh, dan menurut istilah ahli hakikat adalah memerangi nafsu amarah bis-suu’  dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai dengan aturan syara’ (agama). Sebagian Ulama mengatakan : "Mujahadah  adalah tidak menuruti kehendak nafsu”, dan ada lagi yang mengatakan: “Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya”.

Dasar-dasar mujahadah
a.       Firman Alloh Ta’ala QS. 5 - Al Maaidah : 35 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوْآ إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( المائدة-35(
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-NYA agar supaya kamu sekalian mendapat keberuntungan.
b.      Firman Alloh Ta’ala : QS. 29 Al Ankabut: 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت : 69 (
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. Q.S. 29 Al-Ankabut : 69.
c.       Hadits Nabi  :
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ اِلَى الجِهَادِ اْلأَكْبَرِ , قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْجِهَادُ اْلأَ كْبَرِ ؟ قَالَ  : جِهَادُ النَّفْسِ )رواه البيهقى عن جابر(
 “Kita baru kembali dari perang kecil akan menghadapi perang besar. Para Shahabat bertanya : wahai Rosulalloh gerangan apakah perang besar itu ? Rosululloh  menjawab: “Perang melawan Nafsu”.
d.      Hadits Nabi  :
 الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. )رَوَاهُ التّرْمِذِى وَالطَّبْرَانى وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ عَنْ فَضَالَةَ بن عُبَيْدٍ ، حسن صحيح(
Orang yang berjihad (bermujahadah) adalah orang yang memerangi nafsunya dalam (pendekatan dirinya kepada) Alloh. (HR At-Tirmidzi, At-Thabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dari Fadlolah bin ‘Ubaid).
Mujahadah dalam paradigma tasawuf merupakan salah satu tahapan menuju ilahi. Mujahadah ditandai dengan usaha keras si murid dalam mensucikan batinnya dari kepentingan-kepentingan dunia. Sehingga dengan demikian, mujahadah membutuhkan keteguhan jiwa, kesabaran, sebagaimana dikatakan Muhammad bin Ibrahim mengutip pernyataan imam al-Ghazali: yang terpenting dari mujahadah adalah tekad yang kuat, karena untuk melawan syahwat harus dengan kesungguhan dan kesabaran[9]. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, imam al-Ghazali memposisikan mujahadah sebagai kunci hidayah[10].
الْمُجَاهَدَةُ مِفْتَاحُ الْهِدَايَةِ لاَمِفْتَاحَ لَهَا سِوَاهَا
Mujahadah adalah kunci (pintu) hidayah, tidak ada kunci hidayah selain mujahadah.

Keutamaan mujahadah
Dari Abu Sa’id Al-Khudri diceritakan bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seutamanya jihad, maka dijawab, ‘Kalimatu haqqin ‘inda sulthaani jaa’ir”. Yang artinya, ‘kalimat yang adil yang disampaikan kepada penguasa yang lalim’”.
Tanpa terasa kedua mata Abu sa’id mengeluarkan air mata.

Syaikh Abul Qasim Al-Qusyaairi berkata, “Saya pernah mendengar Ustadz Abu ‘Ali Addaqaaq berkata,”Barang siapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah,  maka Allah akan memperbaiki bathiniahnya dengan musyahadah. Ketahuilah bahwa seseoang yang dalam awal perjalanannya tidak mengalami mujahadah maka dia tiak akan mendapatkan lilin yang menerangi jalannya”. Dengan demikian, mujahadah adalah kunci untuk menuju muasyahadah.

Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Ustadz Abu ‘Ali Addaqaaq semoga Allah merahmatinya berkata,”Barang siapa dalam permulaannya tidak pernah berdiri, maka pada akhirnya dia tidak akan pernah duduk”.  Beliau juga pernah mengatakan bahwa gerak membawa barokah atau gerak adalah barokah itu sendiri. Gerak lahir menurut beliau mengharuskan timbulnya barokah rahasia.

Menurut Hasan Al-Qazzaz menerangkan bahwa masalah mujahadah ini,, dibangaun atas tiga hal, -hendaknya tidak makan kecuali benar-benar membutuhkan / lapar, -tidak tidur kecuali bnar-benar mengantuk, -dan tidak berbicara kecuali benar-benar terdesak (mengharuskan).

Syaikh Al-Qusyairi  berkata, Saya pernah mendengar Ibrahim bin Adham berkata, “Seseorang idak akan mendapatkan derajat orang-orang salih hingga mampu mengatasi enam rintangan, 1. menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesulitan. 2. menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. 3. mentup pintu istirahat dan membuka pintu perjuangan. 4. menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. 5. mentup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran. 6. menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menjelang kematian”[11].

Seorang yang telah berhasil melewati tahapan mujahadah, maka dia akan digelari mujahidun atau mujahidat. Yakni jiwa-jiwa yang telah kokoh dalam kesungguhan mereka memperjuangkan ajaran-Nya dengan mencurahkan pengorbanan berupa harta benda, jiwa, tenaga, pikiran, waktu dan fisik demi mengharapkan keridhaan, kecintaan, dan perjumpaan-Nya serta kerahmatan bagi seluruh alam semesta raya. Implikasinya, jiwa ini akan senantiasa mendorong kepada menegakkan kebenaran, kesalihan dan kerahmatan-Nya baik dalam diri sendiri maupun orang lain dan lingkungannya[12].  

PENUTUP
Kesimpulan
1.      Iman dalam pengertian sufi adalah sesuatu (Nur atau Cahaya Ilahi) yang masuk ke dalam hati insan yang telah siap menerimanya (karena merasa butuh kepada-Nya). Kesiapan itu ditandai dengan kehendak dan harapan bertemu dengan-Nya (oleh karena itu, insan yang demikian disebut murid, yaitu orang yang berkehendak bertemu Tuhannya.
2.      Takwa adalah sikap kehati-hatian seorang hamba agar terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh agama, serta selalu tunduk pada perintah Allah yang dibawa melalui rasul-Nya yang mulia.
3.      Adapun mujahadah, adalah tahapan dalam konsep tasawuf yang harus dilalui oleh seorang sufi. Mujahadah ditandai dengan tekad kuat si murid untuk menuju Ilahi tanpa mau mengalah terhadap jebakan-jebakan nafsu yang membawa kepada keburukan.



DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin (Juz I). __________ al-Haromain
Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. 2010. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiah
Abdurrahim Manaf. Kitabu as-Sya’adah, fi Tauhidil Ilahiyah._______ Jakarta: Maktabah Sya’diah Putra.
Bakran, Hamdani. Psikologi Kenabian, Memahami Eksistensi Jiwa (Seri 2). 2006. Yogyakarta: Daristy
Muhammad bin Ibrahim. Syarhul Hikam (Juz II).______ Surabaya. Al-Hidayah
Abul Qosim al-Qusyairi. Risalah Qusyairiah (terjemahan). www.risalahqusyairiah.wordpress.com.
http://netlog.wordpress.com



[1] www.wikipedia.com. Akses tanggal 21 september 2013
[2] Abdurrahim Manaf. Kitabu as-Saadah.fi at-Tauhidil Ilahiyah. Maktabah Sya’diah Putra, Jakarta. Tanpa tahun. Hal. 4
[3] Loc. Cit.
[5] Ibid
[6] Risalah Qusyaoriah (terjemahan), www.risalahqusyairiah.wordpress.com. Akses tanggal 22 september 2013
[7] Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. 2010. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiah. Hal. 13-14
[8] www.sufinews.com akses tanggal 22 september 2013
[9] Muhammad bin ibrahim. Syarhul Hikam (al-Hidayah. Surabaya) hal. 56
[10] Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin (juz I) hal. 39
[11] Risalah Qusyairiah (terjemahan), www.risalahqusyairiah.wordpress.com. Akses tanggal 22 september 2013
[12] Hamdani Bakran. Psikologi Kenabian, Memahami Eksistensi Jiwa. 2006. Yogyakarta: Daristy. Hal. 58

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz