Selasa, 22 Oktober 2013

Konflik Tak Berujung

Analisis Film Valley Of The Wolves Palestine

Film Valley Of The Wolves Palestine (2011) adalah sebuah film yang mendeskripsikan situasi konflik di Palestina. Film tersebut mengangkat tema besar berupa agresifitas Israel dalam pembasmian negara Palestina. Isu yang diangkat dalam film tersebut cukup menarik karena ada beberapa faktor non politik yang diangkat di dalamnya, yang mana hal tersebut jarang kita saksikan dalam pemberitaan media massa.

“Valley Of The Wolves Palestine”, mungkin hanya sebuah deskripsi subjektif terkait konflik di Timur Tengah, namun demikian, munculnya film tersebut bisa kita jadikan refleksi untuk menganalisa konflik timur tengah dengan konfrehensif, yakni dengan memandang dari berbagai aspek yang mungkin saja terjadi.  Misalnya saja, ada faktor ideologi yang ternyata lebih dominan mempengaruhi konflik timur tengah dari pada faktor politik. Pada tulisan ini akan dikemukakan beberapa hal dasar yang bisa diambil sebagai benang merah dalam film tersebut.

Pertama, film “Valley Of The Wolves Palestine” merupakan film yang mencoba melakukan pembelaan kepada negara palestina, itu bisa kita saksikan dalam dialog yang terjadi antara Polat Alemdar sebagai tokoh utama dalam film tersebut dengan tentara Israel yang sedang menjaga gerbang masuk menuju Palestina.
Why have you come to Israel?
I didn’t come to Israel, I come to Palestine.
Dari dialog tersebut dapat kita analisis, bahwa film tersebut mencoba mengangkat nama Palestina yang selama ini sudah dihegemoni habis-habisan oleh negara Israel, bahwa negara Palestinalah yang sebenarnya memiliki tanah di negara tersebut (yang sudah diakui oleh Israel).

Kedua, Sekenario dalam film “Valley Of The Wolves Palestine” juga mendeskripsikan salah satu faktor yang menyebabkan teruncingnya konflik, yakni konflik ideologi. Itu bisa kita saksikan dalam tokoh antagonis Moshe. Dimana tokoh tersebut termotifasi untuk membasmi orang Palestina berdasarkan kitab suci mereka yang menjanjikan tanah untuk mereka. Faktor ideologi inilah yang juga melatari Polat Alemdar sebagai tokoh protagonis yang disebutkan berasal dari Turky untuk berjuang di bumi Palestina.

Dalam film tersebut, ideologi yang dideskripsikan adalah ideologi yahudi (Jewish) yang mana merupakan ideologi orang Israel bertentangan dengan ideologi islam yang menjadi keyakinan mayoritas orang Palestina. Dalam kitab mereka dijelaskan bahwa boleh membunuh orang-orang non yahudi demi tegaknya agama mereka. Disamping itu, faktor historis tanah suci di Palestina juga menjadi salah satu penyebab, meski tak digambarkan secara luas dalam film tersebut. Faktor ideologi inilah yang membuat Moshe begitu dielu-elukan dalam rangka melakukan penahanan dan penyerangan terhadap orang Palestina.

Ketiga, film tersebut menggambarkan nasionalisme orang Palestina terhadap negara mereka. Itu bisa kita saksikan dalam semangat perjuangan orang-orang Palestina yang bergabung bersama Polat dalam rangka menyusun propaganda melawan tentara Israel yang sewenang-wenang. Salah satu contohnya adalah Abdullah yang masih memiliki keluarga besar di Palestina, meskipun pada akhirnya tempat tinggalnya dihancurkan oleh tentara isarael yang kemudian menewaskan anaknya.
Nasionalisme orang palestina tergambar jelas ketika sang nenek dari Ahmed (anaknya Abdullah) merangkak mencari Ahmed yang sudah tertimbun bangunan rumah karena digusur tentara Israel. Dengan luka tembak di dadanya, sang nenek mencari-cari ahmed sang cucu untuk mengetahui keadaannya, apakah ia masih hidup. Ketika mengetahui bahwa cucunya telah tewas dalam timbunan beton itu, dia pun mengatakan dengan penuh kebanggaan,
Rest in peace ahmed...
Dont go, you lie in palestinian soil...

Kalimat yang dikeluarkan sang nenek menunjukkan kebanggaan mereka atas negara Palestina sebagai negara mereka. Dan kematian di atas wilayah mereka dengan mempertahankan diri dari kolonialisme Israel merupakan perjuangan dan kebanggan yang besar. Hal tersebut senada juga dengan salah satu orang Palestina yang memutuskan ikut bergabung dalam timnya Polat untuk melakukan perlawanan terhadap negara Israel. Padahal dia adalah seorang arsitektur yang sudah memiliki pekerjaan di luar negeri.
Ketika dia ditanya tentang kenapa dia tetap memilih tinggal di palestina dengan sejuta teror yang mewarnai, maka dia berkata,
jika aku keluar dari negara ini (palestina) dan orang lain juga seperti itu, maka siapa yang akan mempertahankan tanah ini?”.
Demikianlah nilai nasionalisme yang tergambarkan di dalamnya.


Keempat, film tersebut menunjukkan konflik panjang yang sepertinya sulit akan usai, dan solusi perdamaian begitu rumit dilakukan, tentu saja perlawanan Polat dan rekan-rekannya dalam menghancurkan markas tentara Israel merupakan adegan yang mengemukakan solusi sarat militer. Dan tentunya hal itu tidak akan menyelesaikan permasalahan, tapi akan menimbulkan masalah baru yang lebih luas dan dalam. Akan terjadi permusuhan terus menerus yang disambung oleh anak turunan mereka kelak. Dengan demikian film “Valley Of The Wolves Palestine” merupakan deskripsi konflik timur tengah (Palestina-Israel) dengan tawaran solusi yang cukup ekstrim dan cukup sulit untuk menyelesaikan persoalan sesungguhnya. Namun demikian garapan film tersebut cukup banyak memberikan data dan informasi tentang beberapa faktor non militer yang menyebabkan konflik di palestina teramat sulit untuk diselesaikan.          

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz