Minggu, 15 Desember 2013

Ajaran-ajaran kaum asyariah


1.      Tentang sefat-sifat Tuhan.
Alasyari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki dan hal tersebut tidak boleh di artikan secara harfiah, melainkan secara simbolis. Artinya, segala bentuk sifat-sifat yang terkesan memberikan bentuk kepada Ruhan harus diinterpretasikan secara simbolik. Seperti tanganNya, menjadi kekuasaan-Nya.
Menurut asy’ari, sifat-sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi sejauh menyangkut realitasnya (haqiqah) tidak terpisah dari esensi-Nya[1].
2.      Kebebasan dalam berkehendak
Menurut al-asyari Allah adalah pencipta perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya. Hanya Allah lah yang mampu menciptakan segalanya, termasuk keinginan manusia. Arti Tuhan menciptakan perbuatan manusia adalah “Tuhanlah yang menjadi pembuat sebenarnya dari perbuatan-perbuatan manusia”. Dan arti “timbulnya perbuatan-perbuatan dari manusia dengan perantara daya yang diciptakan” adalah “manusia sebenarnya merupakan tempat bagi perbuatan-perbuatan Tuhan[2].
3.      Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
Dalam kedua hal tersebut, al-asyari mengedepankan wahyu dari pada akal, berbeda dengan paham mu’tazilah. Adapun dalam menentukan baik dan buruk , dia berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu  sedangkan mu’tazilah berdasarkan pada akal.
4.      Qadimnya Alquran
Menurut al-asyari, alquran tidak bersifat qodim, hal itu karena meskipun ia terdiri dari kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah. Dengan demikian, asyari lebih menekankan pada pengambilan sikap tengah antara dua aliran yang bertentangan, yakni mu’tazilah dan zahiriah.[3]  
5.      Melihat Allah
Al-asyari tidak sependapat dengan dengan ortodoks ekstrim, terutama zahiriayah, yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di arsy. Selain itu, ia tidak sepakat dengan mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah di akhirat. Al-asyari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan meliihat dapat terjadi manakala Allah sendiri menyebabkan dapat dilihat atau bilamana ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat Nya[4].
6.      Keadilan
Al-asyari berpandangan bahwa Allah pasti bersifat adil. Menurutnya, keadilan Allah bersifat mutlak, karena Dia adalah maha segalanya. Maka tiada keharusan bagi Allah untuk memberikan pahal kepada yang berbuat baik dan dosa bagi yang berbuat jahat. Al-asyari mengartikan keadilan Tuhan dari sisi Dia adalah pemilik mutlak[5].
7.      Kedudukan orang berdosa
Al-asyari berpandangan bahwa seorang yang berbuat dosa tidak menjadi kafir, tapi menjadi fasik karena telah menciderai keimanannya. Dengan demikian, Asyari menolak pandangan Mu’tazilah yang mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar telah menjadi kafir[6]. Menurut Asy’ari, tidak akan pernah hilang keimanan dengan berbuat dosa, tetapi hanya menciderai. Orang seperti itu, di hari kiamat akan masuk neraka, tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa masuk surga dengan kehendak Tuhan.

Referensi
Rozak dan Anwar. Ilmu kalam. 2012. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Nasution, Harun. Teologi islam, Aliran-aliran Sejarah Anlisa Perbandingan. 2010. Jakarta UI Press.




[1] Rozak dan anwar, Ilmu kalam (2012) hal. 121
[2] Nasution. teologi islam, aliran-aliran sejarah analisa perbandingan (2010) hal. 109
[3] Op.cit. hal. 122
[4] Rozak dan anwar, ilmu kalam (2012) hal. 122
[5] Ibid. Hal 122
[6] Ibid. 

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz