Minggu, 15 Desember 2013

Fenomena selebrasi sujud pemain bola


Selebrasi merupakan gaya seorang pemain sepak bola ketika habis membuat goal. Ada banyak cara pemain dalam melakukan selebrasi. Semua itu menunjukkan betapa momen menciptakan goal adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua pemain indoenesia (termasuk kiper). Model selebrasi kadang unik dan aneh. Misalnya dengan membuka baju ataupun celana.
Jika kita memperhatikan dan mengkaji, selebrasi seorang pemain tergantung pada latar ideologi atau budaya yang mereka miliki. Pemain yang memiliki keyakinan agama tertentu dan taat, biasa melakukan selebrasi dengan menunjukkan telunjuknya ke langit. Selebrasi ini memiliki filosofi bahwa di menunjukkan posisi Tuhan yang satu dan tinggi. Adapun jika mereka (para pemain) dari latar budaya yang liberar atau tak memiliki agama tertentu maka dia cendrung melakukan selebrasi dengan tingkah yang aneh dan amoral, seperti membuka baju maupun celana. Ada juga pemain yang menggunakan selebrasi membentuk segi tiga di dada dengan tangannya atau dengan membuka baju dan berputar-putar di lapangan setengah telanjang. Ini juga bisa jadi sebuah simbol yang mewakili ideologi maupun latar budayanya.  
Di indonesia, selebrasi yang sedang fenomenal adalah selebrasi sujud di lapangan hijau. Lihatlah jika timnas indonesia bermain kemudian berhasil mencetak goal, kebanyakan pemain mereka menggunakan selebrasi sujud (ini mungkin karena mayoritas pemain indonesia beragama islam). Hal ini menjadi unik jika kita membedakan dengan selebrasi pemain di luar negeri tadi. Namun demikian, meskipun selebrasi sujud mungkin jadi kebanggaan supporter muslim, tapi jika kita mengkaji lebih jauh, ada yang tidak sejalan dengan hal itu.
Sujud, yang dalam tataran keagamaan (agama islam) adalah posisi terpenting dalam gerakan-gerakan solat. Dikatakan dalam sebuah hadits bahwa posisi terdekat antara Tuhan dan hamba adalah ketika sujud. Ini mengindikasikan bahwa sujud di samping sebagai gerakan solat tentulah merupakan hal yang sangat sakral (tempat pertemuan Tuhan dan hamba). Maka bagaimana dengan sujud yang dilakukan di lapangan hijau? Di tengah kerumunan orang yang beraneka ragam dan membawa situasi yang beraneka ragam pula. Pastilah di antara ribuan orang itu datang dari latar agama yang berbeda.
Tulisan ini tidak membahas boleh apa tidaknya melakukan selebrasi sujud, tapi membincang etika dalam selebrasi sujud. Jika berbicara boleh apa tidaknya, mungkin tidak ada masalah, karena pada dasarnya semua tempat di muka bumi ini adalah tempat ibadah. Namun demikian, akan sedikit berbeda ketika kita membincang dari sisi etika.
Pertama, saya ingin membincang terkait dengan tujuan selebrasi seperti itu. Sebenarnya apa yang dihendaki seorang pemain bola ketika menggunakan sujud sebagai lambang kebahagiaannya setelah mencetak goal? Saya sedikit menyangsikan, jika tujuan sujud ditunjukkan untuk sujud syukur misalnya, ada yang tidak singkron. Ritual sujud harus dalam keadaan tertutup semua aurat, juga paling tidak dalam keadaan suci (yang satu ini masih bisa ditolerin) tapi dalam sujud yang dilakukan para pemain yang dimaksudkan, semua pemain tentulah bercelana pendek, dengan kesucian yang tak mungkin bisa dipertahankan selama pertandingan berlangsung. Bayangkan, seseorang yang menggunakan celana pendek, ketika melakukan sujud, maka aurat (paha) hampir dipastikan terlihat.
Kedua, terkait dengan para penonton yang memenuhi stadion permainan. Seharusnya pemain bisa menghargai para penonton yang datang dari latar agama yang berbeda. Misalnya, para penonton dari agama kristen, hindu, dan lainnya. Mungkin akan sedikit kecewa para penonton tersebut ketika euforianya akan terciderai dengan selebrasi yang dilakukan pemain. Dengan demikian, ada kontradiksi sikap yang dialami supporter dari agama lain. Ini sedikit tidak akan mengurangi totalitas fans terhadap pemain bersangkutan.
Ketiga, bagaimana kita bisa mengkhusukkan diri dalam sujud ketika hal demikian dilakukan dalam keadaan berkeringat dan lelah, serta dalam gegap gempita para supporter. Apa mungkin esensi sujud bisa diperoleh?

Terelepas dari ketiga poin yang saya sangsikan itu, mungkin saja selebrasi sujud sebagai simbol ketaatan seorang pemain yang bisa jadi berimplikasi pada semangat sepak bolanya tetap tertahan. Entahlah. Tapi sebaiknya, jika masih menempatkan sujud sebagai sebuah ritual sakral dalam aktifitas keagamaan, mungkin akan lebih baik jika dilakukan di atas sajadah.    

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz