Minggu, 15 Desember 2013

Jancok dan jaring kultural

Istighfar Atas Kebodohan
Kadang kala kita sering terjebak dalam tradisi orang lain. Entah karena mengikut-ngikut atau budaya latah yang dimiliki. Itu semua tak jarang membentuk karakter pada diri seseorang. Banyak contoh untuk hal tersebut, namun dalam tulisan ini, saya ingin membahas salah satu diantaranya. Sejak berdomisili di kota ini, saya mendapatkan banyak hal baru. Suasana baru dan teman baru. Semua itu membentuk sikap maupun pola pikir saya. Dari tradisi hingga bahasa, banyak hal yang mewarnai hidup saya di kota dengan budaya baru ini.
Jancok. Inilah salah satu bahasa yang kemudian menarik perhatian saya. Sejak pertama kali mendengarnya dan kemudian mendapatkan pemahaman yang negatif, saya membenci kata tersebut. Apalagi bahasa tersebut sangat sering dan masyhur dilontarkan, terutama kalangan aktivis (atau mungkin yang lainnya). Pemahaman lebih jauh saya pahami ketika salah seorang budayawan dari Jember mendatangi kampus saya. Seorang yang pendukungnya disebut “Jancokers”. Sempat meguwahkan pola pikir orang tersebut namun dalam naluri saya, bahasa tetap sebagai sebuah perwakilan dari karakter seseorang.
Bagaimanapun saya menilai bahwa kata jancok adalah sesuatu yang negatif, tapi karena komunitas yang saya geluti (sejak saya memasuki beberapa komunitas), saya menjadi terbiasa dengan istilah tersebut. Setelah terbiasa, saya menjadi sering pula menuturkannya. Apalagi jika berkumpul dengan teman-teman komunitas. Sehingga kemudian, saya menjadi orang yang baru dengan karakter orang lain. Saya menjadi orang dengan mulut yang sedikit-sedikit bertutur: jancok. Memanggil maupun dipanggil dengan istilah tersebut menjadi biasa-biasa saja.
Kebiasaan ini berlangsung cukup lama, sehingga saya benar-benar menjadi “pemilik” istilah tersebut. Tapi satu hal yang tak bisa dihilangkan, tabiat saya sebagai seorang yang bukan dari budaya asli tempat ini. Jancok hanyalah bahasa orang lain yang kemudian menjadi bagian yang terserap di tingkah saya. Setiap kali kesadaran saya atas keburukan istilah tersebut mencuat, selalu komunitas membentuk kembali paradigma yang “aneh” namun saya iayakan secara ilmiah.
Katanya, istilah tersebut adalah panggilan keakraban sesama komunitas. Makna denotatif yang ada di dalamnya dibuat-buat menjadi konotatif. Sehingga penggunaan seolah hal yang lumrah, bahkan tidak biasa kiranya jika tidak memanggil dengan istilah tersebut. Saya hanya bisa mangut-mangut dan semakin sering menuturkan istilah tersebut (sekali lagi karena bentukan komunitas).
Hingga suatu saat yang menghantam kepala saya tiba. Saat itu, rasa marah kepada seseorang membuat saya menuturkan istilah itu dengan penuh emosional. JANCOK!!!, dengan nada yang keras dan begitu meyakinkan. Seorang itu lantas pergi membawa raut muka kecewa dan sepertinya juga marah kepada saya.
Saat itu, saya langsung terdiam. Cukup lama. Saya merenungkan apa yang baru saja saya lakukan. Astaghfirullah... sepontan merasa sangat bersalah atas apa yang baru saja saya lakukan. Istilah tersebut ternyata secara proses yang tidak saya sadari menjadi bagian yang cukup dalam dari karakter saya (yang semula hanya ikut-ikut dan mungkin main-main). Segera saya menyadari bahwa istilah itu bukan milik saya. Dia hanya bahasa orang yang dibentuk dalam paradigma saya melalui jaring kultural yang begitu rumit. Tapi disini saya belajar, ternyata budaya latah memang tak patut untuk dipelihara, apalagi dipraktekkan. Saya harus memiliki karakteristik sendiri, dengan bahasa, budaya dan ras yang saya miliki (bukan pinjaman maupun pemberian).
Sejak saat itu, saya meninggalkan istilah itu dari kehidupan saya. Tak pernah lagi ingin menggunakannya. Dia telah menculik saya dari identitas saya yang sesungguhnya. Terserah orang-orang ingin memaknakan istilah itu sebagai apa. Itu adalah bagian dari bahasa mereka, bukan bahasa saya. bagi saya, istilah itu adalah lambang kebobrokan.
Mungkin saya hanya salah satu dari orang luar yang sempat terjebak di jaring kultural daerah ini, dan alhamdulillah berhasil kembali ke posisi sebenarnya. Tapi di sana, masih banyak orang-orang dari berbagai daerah di nusantara ini yang seharusnya mempertahankan identitas budaya daerah mereka, terperangkap dalam jaring kultural daerah ini yang terhampar dalam komunitas-komunitas.
Barangkali itulah salah satu kebodohan yang tak perlu dipelihara. Kebodohan yang sering dianggap kecerdasan karena analisa ilmiah yang “dipaksakan” oleh sebagaian orang. Sebagai seorang yang merasa terjebak dengan istilah itu, saya mengajak kepada semua orang (terutama kepada mereka yang bukan “pemilik” bahasa itu dan terperangkap dalam jaring kultural tradisi komunitas) untuk kembali ke identitas bahasa mereka sendiri, karena bahasa itu akan menentukan karakter seseorang.

_Menuju Gerbang Hijrah_ Jum’at, 27 Dzulhijjah 1434 H.             

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz