Minggu, 15 Desember 2013

Post-hegemoni kapitalis

Istilah “Si kembar”, adalah istilah yang saya dan salah seorang teman saya gunakan untuk menyebutkan toko-toko yang belakangan ini menjamur. Namanya itu diakhiri mart mart. Istilah Si kembar kami gunakan karena persamaan warna (kebayankan berwarna biru kuning) dari toko-toko tersebut. Di samping juga karena tidak terlalu ingin menggunakan istilah tersebut, “takut menjadi promotor gratis kaum kapitalis”, kata salah seorang teman.
Toko si kembar memang memiliki daya tarik tersendiri untuk menggaet pelanggan. Misalnya, dengan memberikan layanan yang ramah terhadap setiap pengunjung, kebersihan tempat berbelanja yang terjaga, juga berbagai undian berhadiah yang ditawarkan. Semua itu pada kelanjutannya berhasil menggaet pelanggan yang melimpah. Bahkan hingga sat ini, sudah tidak sulit untuk menemukan toko-toko tersebut. Di samping itu, orang-orang juga sudah banyak yang terjaring “sihir” si kembar. Sedikit-sedikit, orang-orang menyebut toko tersebut jika ingin membeli sesuatu, terlebih jika ingin berbelanja pada waktu tengah malam.
Sekian banyak kenyamanan yang diberikan si kembar memang wajar membuat pelanggan semakin menjamur. Namun demikian ada beberapa hal yang terkadang lewat dari perhatian kita di balik kenyamanan berbelanja di toko Si kembar.
Saya salah seorang yang pada awal kemunculannya “tergila-gila” dengan si kembar. Jika ingin berbelanja apapun (terlebih keperluan sehari-hari) maka si kembarlah yang menjadi pilihan saya. Semua itu berlangsung cukup lama, sehingga suatu saat saya menyadari hal yang membuat saya tak lagi suka berbelanja di toko si kembar.
Awalnya, yang membuat kesenangan saya luntur terhadap si kembar adalah kajian-kajian tentang post-hegemoni bersama Romo Agus Sunyoto. Hegemoni yang digencarkan kaum kapitalis memang membuat sesak dada. Apalagi jika berbicara kapitalisme dalam pergolakan perekonomian mikro, sungguh memiriskan. Berapa banyak pengusaha-pengusaha kecil yang terpaksa gulung tikar karena kemunculan mereka yang cenderung menggilas pengusaha kecil.
Terlepas dari kajian-kajian yang saya lakukan, saya menemukan sendiri ketidaknyamanan yang jika kita semua mengkajinya dengan teliti juga akan menemukan hal tersebut,
Pertama, Jika anda seorang yang sering berbelanja di si kembar, perhatikanlah harga-harga barang yang anda beli. Lihat dan bandingkan dengan harga di tempat lain (misalnya warung-warung kecil di pinggiran jalan), maka akan ada perbedaan yang mendasar. Ini karena ternyata kita membayar pajak atas barang-barang yang kita beli, sehingga harga-harga barang, meski di labelnya terlihat murah, namun ketika telah melewati kasir, maka ada perubahan harga yang signifikan. Saya rasa anda pasti menyadari ini jika sudah sering berbelanja di sana.
Kedua, kresek putih yang berlogo si kembar, yang bisanya dipakai untuk membungkus barang-barang yang kita beli, itu tidak gratis. Perhatikan struk belanja anda! dan lihat ada hitungan harga untuk setiap kresek (ini salah satu prinsip kapitalis : “tidak ada yang gratis”). Di sisi lain, ketika menerima barang dengan bungkus kresek si kembar, secara tidak langsung kita telah menjadi promotor gratis si kembar. Yakni dengan membawa barang anda ke tempat kerja atau tempat mana saja yang anda kunjungi, disana anda membawa kresek dengan berlogo si kembar. Inilah model promosi gratis yang kita lakukan tanpa ada imbalan apapun dari perusahaan si kembar.
Ketiga, kita sering dijebak dengan si kembar. Yakni dengan menaruh mesin ATM di dalam toko mereka. Hal ini karena setiap orang yang ingin mengambil uang di ATM (yang tempatnya di dalam toko si kembar), secara tidak langsung telah dipaksa untuk berbelanja disana. Karena tentunya kita akan malu jika masuk toko mereka hanya untuk mengambil uang dan keluar begitu saja.

Demikianlah beberapa cekikan yang dilakukan si kembar di balik kenyamanan yang ditawarkannya. Ketiga poin di atas mungkin hanya beberapa hal dari banyaknya kebobrokan yang sebenarnya dibungkus si kembar dalam setiap layanannya. Kita hanya butuh ketelitian dan daya keritis yang tajam untuk mengungkap itu semua. Marilah kita sadar akan kekang hegemoni yang digencarkan kaum kapitalis agar kita tidak ikut menindas para negusaha (pedagang lain) yang belakangan ini sudah banyak yang terkubur karena keganasan si kembar. Ini bukan tentang perlawanan yang subjektif dan karena ketakberdayaan, tapi ini memang karena saya merasakan sendiri ketercekikan di balik kenyamanan berbelanja di toko si kembar. Apakah anda juga merasakan hal yang sama?        

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz