Sabtu, 31 Mei 2014

Desakralisasi Psikologi


Terima kasih atas segala hal yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Jika suatu saat nanti aku mampu memberikan yang lebih dari seharusnya, semoga itu bisa menjadikanku orang yang tidak lupa akan hakekat perjalanan kehidupan manusia. Aku sering berpikir bahwasannya air mata tidak pernah mengalir menuju muara yang semu, selalu ada keindahan yang dijanjikan oleh waktu. Bagaimanapun caranya dibentangkan oleh yang menentukan segalanya.

Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mengerti perasaanku, juga untuk menghormati dan menjaga jiwaku agar selalau tenang. Semua orang berhak atasku, membahagiakanku atau bahkan menyakitiku. Tapi itu semua bukan alasan untuk manusia mengatakan bahwa setiap jiwa berhak untuk menjaga perasaannya sendiri dan menyakiti orang lain. karena jika alasan seseorang menyakiti insan yang lain untuk membebaskan keinginan psikologisnya, sungguh dia tidak akan pernah mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Ku berdoa semoga orang yang demikian bisa belajar banyak dari jiwanya sendiri.

Sakralitas psikologi memang menjadi lumrah di dunia pikir manusia. Dia seperti singgahsana yang begitu tinggi dan pantas untuk diperjuangkan meski melalui jalur darah. Inilah yang membuat manusia seringkali mengizinkan dirinya untuk merampas hak orang lain atas nama psikologis. Kita tentu sering mendengar seseorang yang membunuh manusia, dan karena untuk kepentingan pengadilan, tersangka tak jarang melalui tes psikologis. Tujuannya adalah untuk menyelidiki bagaima tingkat kesadaran seseorang dalam berbuat yang tidak baik terhadap saudaranya. Mirisnya, terkadang seorang tersangka menjadi tidak dihukum karena dipandang mengalami gangguan psikologis.

Kasus teranyar mengenai motif psikologis sering kali dijadikan alasan untuk seseorang bebas dari pengadilan adalah kasus penculik bayi Valencia. Saat ini tersangka yang sudah jelas-jelas melakukan perbuatan keji itu, sedang menjalani pemeriksaan psikologis disebabkan beberapa tingkah abnormal yang ia lakukan setelah ditetapkan menjadi tersangka. Kuat dugaan bahwa pelaku sengaja menunjukkan sikap gangguan psikologis karena ingin terbebas dari pisau hukum.

Inilah realitas keilmuan yang masih dipelihara oleh masing-masing manusia, entah karena ingin menghargai keinginan mereka sendiri atau hanya semata sebagai kedok untuk melumrahkan diri dalam menyakiti manusia yang lain? Semua orang bisa saja beralasan apapun untuk berbuat yang menentramkan bagi jiwanya, tapi harus diingat bahwa kebebasan apapun yang dimiliki manusia (kebebasan psikologis) pasti memiliki batas yang menjadi hak orang lain di dalamnya.

Alasan psikologis memang sering sekali menjadi alasan yang sangat kuat untuk mengizinkan seseorang berbuat menyakitkan bagi orang lain atau bahkan yang menyakitkan untuk dirinya sendiri. betapa sering kita mendengar pasien yang diintruksikan untuk berhenti merokok oleh dokter, tidak mau menuruti perintah tersebut karena merasa kepuasan psikologisnya terhalangi. Pernyataannya seperti ini, “bagaiamana saya bisa menekan keinginan saya yang tak jarang berujung depresi?” ujung-ujungnya alasan bahwa kematian pasti terjadi selalu menjadi senjata pamungkas untuk tetap mempertahankan tradisi rokok yang mendarah daging di dalamnya.

Motif psikologis juga sering kali terjadi dalam percintaan. Kadang kala seseorang mencintai seseorang yang padahal dia sudah mengetahui dan menyadari bahwa orang yang dia cintai sudah menjadi miliki orang lain, bahkan tak jarang orang yang menjadi kekasih hati dari orang yang ia cintai itu adalah sahabat sendiri. ketika ditanya kenapa ia tetap melanjutkan perasaannya yang sangat rawan akan menyakiti hati sang sahabat? Dia akan menjawab, “bagaimana saya akan menghalagi diri saya dari hal yang saya senangi?”

Memang seseorang berkewajiban untuk selalu menjaga jiwanya agar selalu tenang, tapi perlu diingat menghargai dan menjaga jiwa orang lain juga merupakan tanggung jawab sebagai manusia terlebih bagi seseorang yang sudah begitu mengerti jiwa manusia. Bayangkan, jika semua manusia saling melepaskan diri dalam kebebasan psikologis mereka. Tak peduli dengan perasaan orang lain, tidak peduli dengan sakit hati yang mungkin dialami oleh orang-orang di sekitarnya, tentu tatanan kehidupan akan rancu, kacau. Maka dengan demikian, setiap orang tentunya harus memiliki kesadaran psikologis untuk tidak hanya mengerti dan menjaga hati sendiri tapi juga ketentraman hati orang lain.



0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz