Sabtu, 31 Mei 2014

Jaring Kuasa Politik


Belakangan ini, isu politik tengah menjadi trend dan pembicaraan hangat di tempat-tempat perkumpulan masyarakat. Momen tahun politik ini memang telah membawa dominasi politik dalam wacana media, baik cetak, televisi maupun dunia maya. Ini semua membuat nuansa demokrasi semakin terasa menjelang pesta besar bangsa Indonesia pada bulan april nanti. Namun demikian, ada hal negatif yang selanjutnya muncul, kita juga tanpa disadari terbawa dalam paradigma saling mencurigai satu sama lain.

Paradigma saling mencurigai yang saya maksudkan adalah penilaian negatif pada tindakan seseorang yang dianggap bermodus dan memiliki tendensi politik tertentu dalam melakukan sesuatu, meskipun tindakan tersebut adalah suatu yang nyata-nyata baik. Masih segar dalam ingatan kita, kunjungan presiden SBY ke Jombang yang disambut unjuk rasa sekelompok Masyarakat dan Mahasiswa. Demikian pula dengan yang dialami Gita Wirjawan di Medan berupa penolakan dari mahasiswa USU. Dua kejadian tersebut dilatari oleh prasangka, bahwa kunjungan kedua orang tersebut membawa tendensi politik.

Dua contoh kasus di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak kasus serupa yang kini menjamur di negeri kita. Dengan demikian muncul sebuah hipotesa bahwa politik telah menjadikan kita saling mencurigai satu sama lain (terlepas dari kepentingan masing-masing yang pastinya berbeda-beda).  Dan secara tidak langsung politik telah menjadi satu titik awal menuju konflik. Inilah kemudian yang menjadi kekhawatiran, gerak politik yang telah terlanjur mendarah daging dalam proses berpikir masyarakat kita, yang kemudian saya katakan sebagai “jaring kuasa politik”.

Politik yang secara etimologi berarti sopan, beradab,kebijaksanaan, sepertinya kini telah mengalami reduksi makna yang sangat jauh. Dulu politik dimaknakan sebagai media penguasa untuk merealisasikan cita-cita mulianya secara adil dan merata (baca: sejarah politik). Itulah yang bisa kita saksikan dalam sejarah umat manusia dahulu, dan politik pada waktu itu memiliki makna yang luhur dan dipercaya sebagai tata cara dewa untuk menebar keadilan. Aristoteles sendiri menyebut manusia sebagai “mahluk yang berpolitk”, ini karena secara naluri manusia dituntut untuk berpolitik. Menurutnya, politik adalah usaha yang ditempuh masyarakat untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Kini, pemaknaan tentang politik telah menjadi kacau. Politik dilihat sebagai daya upaya yang licik, usaha beberapa orang yang rakus dan hanya mementingkan diri sendiri. pemaknaan inilah yang kemduian membawa kita pada paradigma saling mencurigai satu sama lain. Yang tentunya hal ini akan berdampak tidak baik.

Berapa banyak kegiatan-kegiatan sosial yang nyatanya baik, mendapat cegatan dan pembubaran karena dituduh memiliki unsur politis. Banyak pula orang-orang baik harus terpaksa menjadi orang-orang terhina yang menghuni rutan karena komunikasi politik yang bebeda dengan rezim maupun rival politiknya. Dan pada akhirnya segala hal yang dianggap menggannggu dalam jalur politik, harus rela tersingkir dan bahkan sampai kehilangan nyawa. Contoh kongkrit untuk hal ini adalah pada masa orde baru.

Telah begitu kejamkah politik, sehingga apa yang terlihat baik harus dibungkus dan dipecundangi menjadi buruk? Apakah politik telah begitu jauh meninggalkan nurani manusia yang sesungguhnya secara filosofis?  Atau barangkali kita sendiri yang mempecundangi diri kita dan menjadikan kebaikan sebagai alat untuk memuaskan nafsu dan keinginan kita sendiri?

Tentunya, dibutuhkan pengembalian makna sesungguhnya politik secara materi maupun kesadaran diri. Paradigma saling mencurigai yang dihasilkan perpolitikan kita saat ini tentulah tidak baik untuk keberlanjutan kita sebagai sebuah bangsa yang satu dan demokratis. Harus ada pandangan-pandangan yang mampu menandingi pandangan tersebut, sehingga perbincangan kita di tahun politik ini tidak melulu dimaknakan memiliki tendensi politik yang tak jarang berujung konflik.

Kaum intelektual dalam hal ini harus memainkan perannya. Melakukan kajian-kajian komprehensif tentang politik merupakan hal penting dalam rangka mengawali redefinisi terhadap politik. Dan yang terpenting kesadaran akan komunikasi politik yang lebih baik harus menjadi ruh dalam semangat tahun politik ini. Apa yang dicita-citakan seluruh bangsa indonesia sebenarnya akan bisa diraih melalui momen politik ini, tentunya jika momen ini bisa berjalan sesuai dengan nilai-nilai luhur dalam berdemokrasi.

Kita harus belajar dari kejadian-kejadian anarkis yang tak jarang terjadi di daerah-daerah bangsa indonesia karena pemilu kepala daerah, juga pada pelaku-pelaku politik (politisi) yang sering menjual kepala rakyatnya untuk kepentingan diri sendiri. semua ini harus kita jadikan refleksi dalam rangka membangun masyarakat yang sadar akan politik yang sesungguhnya. Tidak bisa dipungkiri, banyak dari kalangan masyarakat kita yang telah alergi dengan kata “politik’, ini merupakan dampak dari politisi yang ceroboh dan tidak bisa menunaikan amanat mereka dengan baik.

Meminjam teori Hans Kelsen tentang politik, yang mana dia membagi definisi politik menjadi dua, secara etik dan teknik, maka secara tehnis, untuk melepas jaring kuasa politik dalam paradigma kita dewasa ini, pemerintah dan masyarakat bisa melakukan perannya masing-masing menurut kapasitas dan orientasi mereka. Pemerintah tentunya harus melakukan reshufle terhadap politisi yang sudah jelas melanggar amanat rakyat dan bangsanya. Sangsi secara hukum maupun sosial harus diterapkan dengan efektif. Ini dikarenakan persepsi negatif tentang politik didasari pada realitas politisi yang licik.

Adapun masyarakat umum, melepas jaring kuasa politik harus dilakukan secara kultural dengan cara membincang tentang makna politik yang sesungguhnya, mengetahui filosofinya dan mampu berpolitik secara sehat dalam kehidupan sehari-harinya. Paling tidak, jika tidak sempat mengkajinya secara intelektual, masyarakat mampu menginternalisasikannya dalam kehidupan sebenarnya. Usaha dari dua sisi ini, jika dilakukan secara intensif, maka tentunya perpolitikan yang sehat bukanlah hanya sebatas mimpi, demikian pula hasil politik kita akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Momen tahun politik ini adalah momen yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Jika kesadaran pemerintah dan masyarakat seperti diatas tidak dilaksanakan dengan segera, maka kita akan senantiasa terkungkung dalam jaring kuasa politik yang seiring waktu akan terus memenjara kita secara paradigmatik dan menenggelamkan kita dalam konflik. 

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz