Sabtu, 31 Mei 2014

Kiamat

Kiamat itu, bukan ketika bumi sudah penuh oleh populasi manusia yang menyesak. Tapi ketika bumi tidak mampu lagi memenuhi segala kebutuhan manusia yang merakus. Demikianlah yang menjadi kesimpulan saya dengan salah seorang teman saya tadi malam dalam sebuah diskusi kecil. Iyah, kesimpulan ini mengingatkan saya pada salah satu pernyataan seorang filosof terdahulu, “bumi sanggup untuk memenuhi segala kebutuhan manusia, tapi tidak untuk kerakusannya.”

Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak untuk merenungkan sejenak diri kita, apakah kita termasuk orang-orang yang rakus sehingga masing-masing diri memeliki potensi untuk mempercepat hari “menakutkan” itu. Iya, mulai dari diri sendiri, karena terkadang kita seringkali menyaksikan orang lain dulu dan memvonisnya dengan hal negatif sebelum sempat menilai diri untuk tidak terjerumus pada pepatah “semut di seberang lautan terlihat dan gajah di pelupuk mata tidak terlihat.”

Ada banyak manusia dengan ragam yang banyak pula: sikap, tingkah laku dan terutama keinginan. Yang ketiga inilah yang paling banyak mengantarkan manusia untuk menjadi rakus, menjadi yang tidak melihat aturan-aturan. Dan yang selalu membawa ketidak tentraman dan kehancuran yang perlahan. Semoga kita masih menjadi manusia yang peduli dan patuh untuk menjaga ketentraman bumi.

Sejauh ini kita mendapatkan terminologi kiamat sebagai sebuah istilah yang penuh misteri, mitos dan terkadang berbau hal-hal aneh. Ini karena memang peristiwa tersebut tidak memiliki deskripsi yang jelas dari al-Quran maupun hadits nabi. Maka dari itu kemunculan gambaran-gambaran tentang hari kiamat yang sebenarnya besifat asumtif (misalnya dengan terbitnya buku-buku yang membicarakan penyiksaan di kahirat) menjadi dikonsumsi dengan mentah dan menjadi pemahaman yang belum pasti kakuratannya.

Disini saya tidak akan mendeskripsikan hari kiamat dengan deskripsi baru dari saya pribadi (yang pastinya bersifat asumtif), namun hanya ingin membincang tentang diri kita pada saat hari itu terjadi. Tepatnya perkara-perkara yang membuat kita sampai pada hari akhir tersebut. Ini adalah analisis rasional dari tingkah laku manusia sehingga mengantarkan diri mereka dengan perbuatan mereka pada satu ujung yang dalam hal ini kita katakan kiamat.

Sejatinya, kiamat memang pasti terjadi, berdasarkan iman maupun logika. Dalam hal ini saya tidak perlu menjelaskannya secara iman. Maka dari itu penjelasan akan dititik beratkan pada persoalan rasional tingkah manusia.

Yang pertama mari kita saksikan melalui tingkah sosial kita. Belakangan ini jiwa kita begitu sesak dengan kemunculan persoalan-persoalan sosial yang semakin hari semakin aneh, mulai dari pembunuhan, kejahatan seksual (dengan berbagai modelnya), perampokan, penipuan, dan berbagai tingkah sosial negatif lainnya. Fenomena ini tentu membuat siapapun yang masih memiliki hati nurani menjadi miris. Apakah manusia telah meninggalkan sikap toleransinya sehingga lupa pada batasan-batasan kebebasan mereka?

Fenomena kebangkrutan sosial di atas, saya katakan sebagai proses mempercepat hari kiamat. Secara logika, jika kita terus saling membunuh, maka tentu populasi semakin berkurang. Dan jika itu terus terjadi maka masa depan umat manusia akan berakhir. Demikian pula dengan kejahatan seksual, bukankah manusia berkembang biak melalui aktifitas seksual? Jika alat reproduksi mereka telah dihancurkan oleh diri mereka sendiri, maka bagaimana manusia akan berkembang biak? Tentunya kepunahan akan menjadi konsekuensi logis dari hal tersebut.

Selanjutnya kita bisa saksikan dari sisi geografis. Dewasa ini alam terkesan mulai tidak bersahabat dengan manusia (atau sebaliknya, manusia yang tidak mau bersahabat dengan alam?) ini terlihat dari bencana alam yang seperti jamur di musim hujan. Mulai dari gempa bumi, banjir, longsor, serta bencana lainnya. Inilah yang dimaksud dengan kesimpulan diskusi di atas, bahwa bumi sudah tidak mampu memenuhi segala kebutuhan manusia yang merakus.

Berbicara bencana alam, ada bencana yang memang secara geografis tidak bisa dicegah, seperti gunung meletus, angin topan dan lainnya, dan ada pula bencana yang muncul karena kerakusan manusia sendiri, seperti longsor yang dikarenakan penggundulan lahan, banjir karena tingkah manusia yang suka membuang sampah sembarangan. Semua itu seharusnya membuat manusia berfikir lebih jauh dalam mengeksplorasi alam ini.

Memang alam diciptakan untuk manusia, tapi bukan untuk dirusak namun untuk dipelihara, bukan untuk dimiliki seutuhnya, tapi untuk diwariskan kepada anak cucu kelak. Tragisnya yang terjadi dewasa ini, prinsip manusia sudah berbeda, eksplorasi bumi yang besar-besaran mengindikasikan orientasi dimiliki untuk diwariskan berubah menjadi dimiliki untuk dihabiskan. Tentunya ini berbahaya, tidak untuk manusia saja tapi alam semesta.

Dalam sebuah film dokumenter di Kompas TV beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah informasi yang mencengankan. Bahwa bumi kita sudah dikeruk kekayaannya melebihi apa yang bisa dihasilkan olehnya dalam beberapa juta tahun. Misalnya minyak bumi, bahan bakar tersebut dibutuhkan jutaan tahun oleh bumi untuk bisa menghasilkannya, sementara manusia hanya butuh sepuluh tahun untuk menghabiskannya. Ini sungguh kenyataan yang fantastis sekaligus membuat miris, masa depan umat manusia di ujung tanduk, jika tidak segera merubah diri, maka kebinasaan tidak bisa terelakkan lagi.

Saya jadi bertanya, apakah peradaban itu membawa manusia kepada kehancuran? Apakah peradaban itu ketika keinginan manusia lebih jauh dibandingkan kemampuan alam? Atau peradaban itu adalah ketika seluruh hijau menjadi silver sebagai lambang besi? Jika manusai terus berpacu dalam eksplorasi bumi (dalam rangka meninggikan peradaban), sementara bumi semakin lemah untuk menghasilkan apa yang diinginkan manusia, bukankah itu berarti kiamat sudah di depan mata?


Tidak perlu jauh-jauh menunggu matahari terbit dari barat untuk menentukan kiamat akan datang, Dajjal akan turun merusak bumi, atau beberapa indikasi lain yang disebutkan dalam hadits nabi, sekarang lihatlah diri masing-masing, ada banyak dajjal dalam diri kita, ada banyak fenomena yang ganjil di sekitar kita. Kiamat, mungkin besok pagi akan terjadi, atau lusa atau kapankah. Di samping dirahasiakan Tuhan kiamat ada pada diri masing-masing manusia sebagai pemicunya. Meredam kerakusan mungkin menjadi salah satu solusi untuk menundanya. Wallahu a’lam

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz