Sabtu, 31 Mei 2014

Wisuda dan Tanggung Jawab Sang Sarjana


Pada saat prosesi wisuda mahasiswa di salah satu kampus di sebuah kota, ada banyak mata yang terhimpun dalam satu ruang. Ada banyak telinga yang merekam beberapa sambutan. Dan ada banyak senyum yang mengembang melambangkan kepuasan dan kebanggaan. Air mata sesekali juga menjadi warna, sebagai bagian dari syukur atau perasaan menggembira yang sangat. Selamat ku ucapkan pada mereka yang mengenakan toga pada hari ini, hari penantian yang menjadi jawaban dari setiap jengkal waktu yang telah dihabiskan selama empat tahun terakhir.

Secara khusus ku ucapkan juga kepada para wisudawan terbaik yang luar biasa pada tahun ini, mereka yang memang pantas mendapatkannya karena kerja keras dan usaha yang tidak kecil. Semoga menjadi berkah dan manfaat.

Sebagai yang ikut dalam prosesi itu, aku melihat banyak pemandangan yang indah. Pemandangan yang belakangan menjadi yang kuelu-elukan di hadapan takdir. Aku teramat bangga, pada diriku, pada mereka yang berhasil mengeukir senyum kebanggaan. Sebagai seorang ayah, tentu aku bangga melihat anakku diwisuda pada kesempatan itu. namun ada satu hal yang membuatku kelu dan terbersit satu pertanyaan, kenapa anakku tidak menjadi yang terbaik?

Pertanyaan tersebut sejenak menjadi penghalang untuk tetap mengukir keceriaan di wajahku. Sejenak selepas acara berlangsung, anakku, perempuan yang anggun itu, menghampiriku dengan wajah yang tak bahagia,
“Ayah maafkan aku”

Segera ku peluk wajahnya yang sayu. Aku merasakan pertanyaan yang mendalam, kenapa anakku tidak bahagia seperti mahasiswa-mahasiswa  yang lain? Sebelum sempat menanyakan hal tersebut, putriku, yang seperti bulan itu, melanjutkan perkataannya,
“Maaf Yah, aku tidak bisa menjadi salah satu yang terbaik.”

Aku kemudian tersenyum sejenak. Ternyata anakku memiliki keinginan yang sama denganku, sama-sama menginginkan yang terbaik. Perlahan satu penjelasan muncul, jika aku mengungkapkan kekecewaanku kepada anakku saat itu, maka tentu itu akan semakin menekan perasaannya. Untuk menghibur dan membahagiakannya, aku kemudian mengembangkan senyum terindah dan memeluknya dengan bangga.
“Bagi ayah, engkau telah menjadi yang terbaik.” Bisikku.

Wajah putriku semakin memerah, kini bukan merasa bersalah tapi merasa sangat bahagia, Sejenak air mata di pipinya mengalir yang tak ingin ku hapus karena itu membuat dia terlihat semakin cantik.
Begitulah yang ku rekam pada hari itu. Aku mungkin bukanlah satu-satunya yang merasakan hal tersebut, ada banyak orang tua yang memang merasa kecewa karena anaknya tidak bisa menjadi yang terbaik. Padahal, untuk menilai anak menjadi yang terbaik bukanlah dengan melihat dari nilai akhir studinya, tapi juga pada keseharian yang berdetak, pada intraksi sosial yang memang menuntut pengamalan ilmu secara kongkrit.

Anakku, Engkau tidak perlu menjadi terbaik dalam prestasi akademikmu, asal engkau menjadi yang terbaik dalam intraksi sosialmu kelak. Tidak apa engkau menjadi lulusan yang biasa saja, karena engkau baru saja selesai di kampus pendidikan yang kecil, akan ada kampus yang lebih besar yang padanya engkau bisa memeperbaiki semuanya, yaitu “Kampus Kehidupan”. Kampus yang tak pernah akan mengukur kemampuanmu dengan data-data angka, tapi sejauh mana engkau bermanfaat bagi umat manusia. Selamat berjuang!

10 Mei 2014

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz