Sabtu, 19 Juli 2014

Memilih Untuk Indonesia

Pemilihan presiden telah lalu, kini kita menunggu hasil, siapa yang akan memipin bangsa ini lima tahun ke depan. Dari sisa-sisa pesta kemarin, saya masih memikirkan beberapa pristiwa sebelum tanggal 9 juli. Tentang masa-masa kampanye yang penuh warna, mulai dari kampanye yang putih sampai yang hitam serta efuria masyarakat, dari yang pasi sampai yang berlebihan. Banyak orang yang menggunakan cara-cara yang tidak etis seperti memfitnah dan sebagainya, ada pula dengan memberikan data yang benar. Namun demikian kini kita tidak lagi terpaku pada apa yang mereka bicarakan kemarin, namun pada apa yang akan kita hasilkan setelah ini, siapapun yang menjadi presiden pastilah dia merupakan pilihan rakyat indonesia.

Boleh saja hasil quick cont dijadikan euforia untuk membanggakan calon yang diusung, ataupun untuk menambah olok-olokan kepada lawan, tapi keputusan tetaplah pada panitia yang memegang otoritas dalam pemilihan umum. Pada tanggal 22 juli nanti, semua telinga harus siap mendengar, mata mereka harus siap melihat (atau mengalirkan air mata?) Dan yang terpenting hati masing-masing harus siap menerima, agar negeri ini tidak menjadi korban atas hasrat demokrasi yang dibawa secara subjektif.

Saya teringat beberapa pristiwa lain selain kampanye yang terjadi pada hari-hari sebelum pemilihan umum kemarin. Salah satunya adalah beberapa pendapat kiyai yang menjadi tolak ukur dalam suatu komunitas tertentu. Jika tidak salah, 3 hari sebelum hari pemilihan, saya membaca sebuah postingan di facebook yang mengungkapkan tentang hasil istikhoroh seorang kiyai yang cukup masyhur di kalangan organisasi yang cukup besar di negeri ini. Dalam tulisan itu disebutkan hasil istikhoroh sang kiyai, nomer satu itu baik dan nomer dua itu buruk.

Saya tidak mau terjebak dalam fanatisme golongan maupun semangat demokrasi yang kolot. Mengikuti seseorang dalam melakukan pilihan adalah mungkin menciderai prinsip berdemokrasi, maka dari itu saya disini ingin membahas hal tersebut sebagai kajian sosial yang mencoba membaca arah kedepan dari beberapa gerak dan manuver politik yang terjadi di musim pemilu ini. Bagi saya pribadi siapapun yang menang tidak menjadi soal, apakah dia orang yang saya pilih maupun bukan, toh negeri ini tetap akan diperjuangkan.

Satu hal yang kini menjadi bahan kajian saya adalah membicarakan beberapa hasil istikharoh tokoh-tokoh masyarakat yang sering menjadi dongkrak suara dalam pemilu. Dan karena masa pencoblosan sudah berlalu, jadi saya tidak perlu membicarakan efektifitas “ramalan” itu, karena tentu itu tidak akan memberikan dampak apapun. Yang menjadi pertanyaan saya sekarang, bagaimana jadinya jika yang menjadi presiden nanti adalah orang yang menurut sang kiyai dalam hasil istikhorohnya itu buruk?

Tentu tidak jadi masalah jika yang jadi presiden adalah nomer urut yang dinyatakan baik dalam istikhoroh sang kiyai, karena tentulah masyarakat bisa melepas harapan mereka dengan lapang. Tapi bagaimana jadinya jika yang menjadi presiden adalah orang yang tidak baik menurut hasil istikhoroh?

Dalam hal ini, saya meminta dengan hormat dan penuh takzhim kepada kiyai yang bersangkutan untuk mendoakan ulang agar presiden tersebut baik dan bisa melaksanakan amanah dengan baik, karena sesungguhnya hasil pemilihan umum ini bukan pada istikhoroh para kiyai, tapi di tangan masyarakat sendiri. apakah jika calon presiden yang dicap buruk menjadi pemimpin kemudian akan benar-benar memberikan bencana? Siapa yang tahu, seseungguhnya Tuhan pasti memiliki cara sendiri untuk mengatur kehidupan ini.
Saya pribadi kasihan dengan calon presiden nomer urut dua, dia selalu mendapatkan penilaian yang buruk dan diolok-olok sepanjang masa kampanye. Terlebih dia secara ideologi dicap sebagai orang non islam. Sebelumnya, agar saya tidak dikatakan fanatik mendukung calon presiden tertentu, saya katakan bahwa saya pribadi memilih calon presiden nomer urut satu pada tanggal 9 juli kemarin, tapi sekali lagi, ini bukan soal membela pilihan kita, saya sedang mengajak bangsa ini untuk menjaga diri dari dampak negtif pemilihan umum.

“Sesungguhnya negeri kita kini tengah rawan. Selain klaim kemenangan dari kedua belah pihak yang sangat berpotensi menyulut api permusuhan, juga tentang ancaman masa depan yang tidak baik bagi negeri ini jika dipimpin oleh bukan orang yang dipilih oleh para kiyai,” demikian kata salah seorang teman saya membincang situasi politik belakangan kemarin. Pertanyaannya adalah apakah pilihan para kiyai selalu baik untuk bangsa ini? Ingat, presiden dipilih bukan oleh para kiyai tapi oleh seluruh rakyat indonesia.  Dan saya tegaskan, indonesia adalah harga mati, siapapun yang menjadi pemimpin maka tanggung jawab untuk menjalankan roda bangsa ini harus dipikul dengan baik.

Bagaimana pun salah satu calon dipandang buruk untuk memimpin bangsa ini, ketika pemilihan umum menunjuk dia sebagai pemenang, maka seluruh bangsa ini harus menghargai itu, tidak peduli dengan pandangan siapapun. Ini bangsa indonesia bukan agama indonesia atau agama apalah namanya.


Beberapa orang mengatakan di selogan-selogan maupun secara lisan: Indonesia milik Allah! Jika memang benar demikian, kenapa tidak kita biarkan saja Allah mengaturnya dengan cara-Nya sendiri, melalui tangan siapa saja yang Dia hendaki? bukankah Allah memberikan kekuasaan kepada siapapun yang Dia hendaki? sejatinya kebenaran itu hanya di tangan-Nya. Siapapun yang memimpin bangsa ini dia harus berani mengorbankan jiwa dan raganya! Hidup indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz